Dua | Arloji

1525 Kata
"Es teh dua, nasi campur pakai ayam goremg tepung dua." Viona langsung mencatat dan berjalan menuju Mbak Ruth yang segera menyiapkan pesanan. Dua piring ia taruh di samping. Mengisinya dengan dua centong nasi, tumis kol tahu, sambal goreng tempe dan ayam goreng. Tak lupa sesendok kecil sambal trasi. Siap dua piring, Viona mengantarkan ke pelanggan sepasang suami istri. Di belakang sana, Agus sudah lebih dulu menyiapkan dan mengantar dua gelas es teh manis. Melirik jam dinding, sudah pukul delapan malam. Setengah jam lagi mereka tutup. Ruth yang merupakan anak pemilik warung nasi campur aneka macam sayur dan lauk sudah mulai memberesi beberapa sayur dan lauk tersisa. Viona membantu. Ia angkat baskom berisi sayur tumis kangkung dan tumis kol tahu ke dalam. Hari ini hanya menyisakan dua sayur. Selebihnya sudah habis, bahkan sambal goreng tempe yang dipesan dua pelanggan terakhir warung Acil Uthi. "Gus, bawa lauk-lauk ke dalem," perintah Ruth pada Agus yang tugas membuat minuman sudah selesai. Ia bantu sekalian Viona dan Ruth. Begitu beres, Viona ke dapur mengantar piring kotor sisa pelanggan terakhir yang kini tengah membayar. Ada Acil May yang tengah mencuci dan merapikan peralatan makan di tempatnya. Semua orang membersihkan dagangan hari ini. Hingga pukul sembilan, Ruth meminta Agus, Acil May dan Viona pulang. Warung tutup, dan esok siap beroperasi lagi. Warung Nasi Mbak Dar, adalah warung tempatnya bekerja. Pemiliknya berasal dari Jawa dan merantau, mengadu nasib di tanah Borneo belasan tahun lalu. Sudah punya cabang juga, dan tetap mampu bersaing dengah warung lainnya. Alasan ia betah bekerja di sini adalah, banyak pegawainya juga berasal dari tanah Jawa terutama bagian timur. Jadi ia merasa punya keluarga dan tak canggung harus berbahasa daerahnya sendiri. *** Mengendarai sepeda motor bekas yang ia beli setahun lalu, Viona menuju kos-kosannya. Dari warung ia menyeberang dan melalui gang masuk rumah-rumah bangsalan kayu dan beton warga. Kosnya berada di ujung gang, dengan dua lantai dan delapan kamar. Kos bawah untuk laki-laki dan lantai atas untuk perempuan serta keluarga. Kamar Viona berada di lantai atas, tengah nomor dua dari depan. Kos miliknya memang campur, tapi terbilang lebih murah dan aman. Bagian bawah memang dihuni lelaki, tapi kebanyakan pekerja di tambang atau swalayan. Satu kamar bisa dihuni dua orang. Mereka tak ribut, atau mengganggu kenyamanan antar penghuni. Mungkin karena ada penghuni keluarga yang punya anak kecil. Jikalau ada yang hendak menginap, akan diajak masuk agar tak mengganggu privasi masing-masing. Lepas ganti baju, ia mandi. Badannya lengket karena keringat. Kerja di warung makan memang resiko berpeluh. Jalan ke sana ke mari, ke dapur bolak-balik. Pendingin warung hanya kipas angin sementara cuaca Samarinda terbilang terik. Tanah berpijak mengandung batu bara. Hal tersebut yang membuat meski ada hutan hijau di beberapa bagian, masih saja terasa terik menyengat. Melihat kamar mandi sedang ada orang, Vio berdiri diam menunggu. Suara pintu dari salah satu kamar lantai atas terbuka. Memperlihatkan seorang laki-laki keluar diikuti perempuan muda menggendong anak sekitar usia satu tahun setengah. Vio tahu perempuan tersebut. Tetangga kos lantai atas yang tinggal bersama anak dan suaminya. Tapi, seorang laki-laki yang baru keluar dari kamar tersebut tampak asing. Mengabaikan, karena ia mendengar pintu kamar mandi di depannya berderak terbuka. Wajah laki-laki asing menyembul. Vio heran, harusnya kos laki-laki ada di bawah tapi kenapa sampai ke lantai atas? Wajah laki-laki itu datar, bahkan saat mempersilakan Vio masuk. "Maaf lama. Silahkan." Vio masuk dan segera mengunci pintu. Begitu meletakkan gayung, matanya menangkap sesuatu. Ada jam tangan tertinggal. Ia ambil dan membuka pintu. Berharap orang yang baru saja dari kamar mandi tadi masih berada di kos. Kakinya melangkah keluar, turun ke kos bawah yang tiga kamarnya tutup tanpa ada tanda kehidupan. Satu kamar terbuka, ia masuk. Di ambang pintu ia mencari orang yang ditemuinya tadi tapi tak ada. Hanya ada satu laki-laki yang tengah membuka nasi bungkus dan hendak makan. "Eh, maaf. Tapi, Om tahu siapa yang punya jam tangan ini?" tunjuk Vio. Laki-laki yang Vio kenal bekerja di tambang batu bara itu mengangguk. "Nggak. Coba tanya kamar lain." Vio menoleh ke sekeliling. "Kamar lain tutup. Tapi kayaknya tadi ada cowok ke kamar mandi atas. Belum pernah lihat, dan kayaknya bukan kos sini. Kamar lain tutup." Laki-laki bernama Ruga itu mengernyit. Tampak berpikir. "Tadi ada orang dateng. Kayakya temen orang atas. Coba kamu lihat depan, masih ada nggak mobilnya." Vio mengangguk. Ia setengah berlari ke depan. Mobil yang dimaksud Ruga memang ada, tapi sedang berjalan meninggalkan pelataran kos. Percuma saja Vio berteriak, apalagi sudah malam. Bisa-bisa membuat warga ikut panik. Ia putuskan masuk ke kamar Ruga. Pria usia akhir tiga puluahan itu asyik mengunyah. "Apa lagi? Ketemu?" Vio menggeleng. "Udah keburu pergi." "Pakek aja. Orang kaya mana peduli jamnya ketinggalan. Palingan beli lagi daripada nyari." Vio manyun. Benar juga sih. Ia lihat jam dalam genggamannya. Terlihat mewah, dan ia perkirakan harganya punya nol enam digit. Atau bisa lebih mungkin. "Tadi Om Ruga bilang dia temennya siapa?" "Andi. Katanya dia sakit. Denger dari istrinya pas belanja tadi pagi. Coba tanya Andi sana, siapa tahu kenal." *** Andi bilang, teman yang datang tadi adalah bosnya di tempat kerja. Seorang mandor pekerja bangunan yang menaungi para pekerja borongan. Sudah dua hari Andi sakit karena kecelakaan sepulang kerja. Bosnya datang memberikan gaji. Namun melihat jam yang diperlihatkan oleh Vio. Andi yakin bukan milik mandornya. Kemungkinan milik teman mandor. Andi tak begitu mengenal, tapi ia coba tanyakan ke mandor. Hari ini Vio datang ke perumahan mewah bergaya villa. Setelah mendapatkan nomer Andi, ia pun janjian. Viona menunggu sambil bermain di ponsel. "Vin?" Viona menoleh. Ia dapati Andi, tetangga kosnya datang menghampiri. "Eh, Om. Maaf ganggu." "Iya nggak papa. Jadi gimana? Kamu mau ngembalikan jamnya?" "Iya. Tapi lewat Om saja ya. Aku kan nggak kenal. Cuma perantara saja." Andi mengangguk-angguk. "Ya, nggak masalah. Kemarin sudah aku tanyakan, ternyata jam itu punya teman bosku. Dia juga pemilik perumahan kayak gini tapi di seberang. Daerah Sungai Pinang." "Oh. Ya udah, pokoknya lewat Om saja." "Kenapa nggak kasihkan sendiri aja sih. Orangnya biasa ke sini kalau sore kayak gini. Kamu tunggu saja sebentar. Lebih enak kasih langsung. Siapa tahu kamu dapat persenan buat jasa menemukan," canda Andi yang dibalas Vio dengan gelengan. Vio menyerahkan jam tangan mahal di dalam tas. Andi menyerahkannya lalu pamit. "Nggak ah, sama Om aja. Aku tadi cuma izin bentar. Lama-lama di sini nanti Mbak Dar marah. Pelanggan keburu rame, Agus juga jadi kerepotan. Mbak Dar adalah pemilik warung tempatnya bekerja. Orangnya sudah usia lima puluhan, tapi karena sudah menjadi ikonik nama warung, jadilah tetap dipanggil Mbak. Secepatnya ia melajukan motor untuk kembali ke tempat kerjanya. Ia tadi izin sebentar pada untuk mengantarkan barang. Untung jam makan siang sudah lewat, jadi pelanggan tak begitu ramai. Ia jadi tak begitu terburu-buru. Setiba di warung, ia langsung menuju dapur belakang. Bertanya pada Acil May apa yang bisa ia bantu. Di depan hanya ada satu pelanggan sedang makan di tempat. "Bawa piring yang kering aja ke rak. Habis ini bakal ada cucian dari depan." Vio mengangguk. Ia langsung mengerjakan tugasnya lagi. Hingga tak terasa senja menyapa, gelap menyelimuti dan jam kerja berakhir. Viona dan pekerja lainnya pamit segera pulang. Baru saja duduk di motor, sebuah mobil menghampiri. Vio kira ada pelanggan di toko sebelah dan ia sedang menghalangi. Nyatanya, seorang perempuan anggun dengan wajah pucat yang sepertinya pucat tengah membuka kaca dan menyapanya. "Viona ya?" Vio yang merasa tak kenal dengan perempuan tersebut hanya mengangguk bingung. "Ya?" Perempuan di dalam mobil tersenyum lalu membuka pintu. Kamu bisa masuk sebentar? Saya sedang tidak enak badan, tidak bisa keluar dan jalan ke tempat kamu." Viona melirik sekeliling. Ia khawatir, mengingat ia akan diajak masuk ke dalam mobil yang tak ia kenal. "Nama saya Adel. Tenang, saya bukan orang jahat kok. Saya hanya ingin ngobrol. Saya lihat kamu juga sudah selesai bekerja. Dan tenang juga, di sini banyak orang kalau kamu khawatir saya berbuat yang tidak baik." Viona garuk-garuk kepala. Ia tolehkan sekitar. Jalanan masih rame, dan jika dia diculik misalnya ... masih bisa berteriak. Apalagi ia masih berada di lingkungan warung tempat kerjanya. Mengangguk, Viona pun mencabut kunci motor dan masuk ke dalam mobil. Begitu masuk, Viona merasa dingin akibat AC yang dinyalakan berbanding terbalik dengan keadaan tempat kerjanya yang gerah. Warung makan dengan atap asbes, dan kipas angin dua biji yang tak ada sejuk-sejuknya. Belum lagi saat di dapur, rasanya sudah jangan dibayangkan. Bak musim kemarau sedang membakar batu bata di kampung. Panas, pengap, gerah, dan tak bisa dipungkiri akan deras keringat. Rasa panas dari kobaran api kompor, udara di dapur yang kurang bisa bergerak bebas karena luasnya tak seberapa, bercampur bau tumisan cabai yang membikin hidung gatal hendak bersin. Irisan bawang merah yang membuat menangis. Semua bercampur jadi satu. Begitu masuk mobil, udara sejuk dan wangi dari pengharum mobil seketika membuatnya nyaman. Begitu suara perempuan di sebelahnya terdengar, rasa nyaman barusan berubah menjadi sedikit mencekam. Ia tak tahu apa arti senyiman perempuan asing dengan wajah agak pucat. "Kamu sudah makan?" Viona hanya mengangguk. "Sudah tadi di warung sama temen-temen." Padahal tadi yang dimaksud Viona adalah siang. Makan nasi, sambal goreng tempe dan tumis kangkung serta telur dadar seperempat sebagai jatah semua karyawan. Sore hingga malam ia belum makan lagi. "Nggak papa. Kita cari makan saja. Kalau kenyang, kamu boleh minum saja." Viona hanya bisa mengangguk pasrah. ____
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN