Satu | Prolog

1710 Kata
Jam menunjukkan pukul empat dini hari. Viona sudah selesai mandi. Ia akan kembali tiduran, untuk membalas pesan dari teman kerjanya dulu di warung. Agus namanya. Sama-sama perantau, dan hidup sendirian. Semenjak ia menikah dan hidup mapan di rumah mewah, Agus jadi sering berkabar. Telpon, pesan pribadi. Tak seperti saat mereka bekerja di tempat yang sama. Mungkin karena dulu selalu bertatap muka, sementara sekarang hanya lewat media. Setelah membalas pesan semalam, Viona merasa haus. Masih begitu pagi dan orang di rumah ini jelas masih terlelap. Ia pun keluar kamar dan berjalan pelan menuruni tangga menuju dapur yang ada di lantai bawah. Ngomong-ngomong kamarnya berada di lantai atas. Satu lantai yang memang dikhususkan untuk kamar, tempat istirahat. Ada empat kamar di lantai atas. Satu kamar untuk Derik dan Adel, lalu satu kamar untuk dirinya. Dua kamar lain dipergunakan sebagai kamar tamu. Sementara kamar pembantu ada di lantai bawah. Begitu keluar kamar, sayup ia dengar suara. Dalam keheningan, jelas suara itu begitu nyata. Ia toleh ke samping, pada pintu kamar Derik. Benar, suaranya dari sana. Ia mendekat, padahal niatnya hendak turun tangga. Suara itu makin jelas. Viona menempelkan telinga di daun pintu. Seketika matanya membelalak dan tangannya menutup mulut. Jantungnya bertalu, dengan kaki lemas dibuatnya. "Gerakkan terus." "Tidak! Jangan berhenti." "Sayang...." "Lebih dalam lagi. Cepat! Lebih cepat, Derik!" "Sayang...." "Katakan hanya aku milikmu." "Aku milikmu." "Keluarkan sekarang!" Lalu suara jeritan Adel membahana tak henti. Suara desahan datang bersahutan. Baik Derik maupun Adel. Dan beberapa detik kemudian, senyap. Viona hanya bisa terpaku. Demi apa ia menguping kegiatan suami istri di kamar sebelahnya? Ah, lebih tepatnya kegiatan suaminya dengan istri pertama. Rasanya masih aneh, ia memilik suami. Meski ia hanyalah istri kedua. Bukan yang utama, hanya bayangan, tak begitu dipedulikan, dan keberadaannya mungkin tak telihat oleh pemilik rumah. Jadi istri kedua, semoga memang pilihan Viona yang tak ia sesali. Karena ia sudah terlanjur punya predikat tersebut. Padahal ia juga ingin merasakan. Bagaimana rasanya diperhatikan, disayang, dianggap, dan melayani suaminya. Padahal Derij adalah suami sahnya, tapi ia belum pernah melakukan tugasnya sebagai istri. Sudah seminggu sejak pernikahannya. Tetap saja, ia tak dianggap ada di rumah ini. Hari-harinya hanya berteman Nek Piah, panggilan pembantu rumah tangga yang memang usianya sudah tua namun pekerjaannya gesit dan rapi. "Ah, rasa iri lagi-lagi datang. Padahal aku saja masih takut berhadapan dengan Mas Derik." Viona bermonolog lirih. Derik, suaminya memang kelihatan dingin dan kaku. Tak banyak bicara, tak banyak komentar, dan tak sering berada di rumah. Hanya malam datang dan pagi berangkat kerja lagi. Sudah seminggu ini melihat rutinitas Derik di rumah. Ia pergoki seperti ini pun juga sudah tiga kali dalam seminggu. Pertama dulu saat ia baru datang di rumah ini. Dengan keadaan asing, ia malah disuguhi adegan ranjang pemilik rumah di dapur. Kala itu Derik baru datang dari kampungnya, dan malamnya langsung melepas rindu dengan Adel. Bukan dengannya yang berstatus pengantin baru. Ah, sudahlah. Ia juga punya perjanjian dengan Derik. Lagipula ia juga masih takut dan sungkan di keluarga ini. Biarlah hari-hari Viona dijalani seperti air. Mengalir begitu saja. Sebagai istri kedua. *** Saat remaja, Viona pernah bercita-cita. Ia akan menjadi putri dari seorang pangeran baik hati. Mencintainya dengan tulus. Mengajaknya hidup bersama dalam ikatan pernikahan. Ia akan menikah dengan nuansa kebun. Sejuk, lepas, hangat, dan penuh kebahagiaan. Pangerannya akan menunggangi kuda putih. Menyematkan cincin berkilau. Diiringi tepuk tangan kedua orang tuanya. Ia sah menjadi istri. Dicium keningnya, diajaknya berdansa, menyalami tamu undangan sambil berpelukan hangat, tak lupa menghabiskan malam indah dan panas di ranjang besar sebuah hotel bintang lima. Semua keinginannya dipenuhi sang suami. Bergelung nyaman di dalam selimut sambil menatap bintang yang terlihat dari jendela besar kamar hotelnya. Menyeduh minuman hangat agar malam panasnya makin b*******h. Lalu seperti dalam novel dewasa yang ia baca milik temannya SMP, ia akan melalui malam penuh jeritan dan desahan. Menerjang badai, merengkuh gelombang, bergeliat dalam keringat, memaduk dua kulit yang saling dan akan terus bergesekan. Diakhiri lolongan panjang kepuasan dan menghabiskan sisa malam dalam dekapan. Sungguh romantis, erotis, dan tak realistis. Khayalannya tak menjadi kenyataan. Ia hanya jadi istri bayangan. Duduk makan berjauhan dengan suaminya, tidur sendirian di kamar, tak ada pesan selamat tidur, aku berangkat, semoga harimu menyenangkan, atau hal kecil seperti memasang dasi. Semu hanya impian semu. Ia hanya bayangan dari wanita yang terlihat cantik meski sakit-sakitan. Ia hanya bayangan, dari hutang sang Ayah yang ia lunasi karena setuju menikah. Ia hanya bayangan dari impian masa kecil yang semu belaka. Tak ada yang nyata. Satu-satunya hal nyata adalah ia punya buku nikah bahwa ia dinyatakan sebagai seorang istri dan punya suami yang bernama Derik, duduk di seberang meja sambil menyuapi istri pertama, dan tinggal di rumah yang sama dengan suaminya. Selebihnya ... hanya bayangan saja. "Hari ini aku pulang malam lagi." Viona melirik kala Derik menoleh pada Adel saat mengatakan barusan. Jelas saja, pesan itu bukan ditujukan untuknya. Tak mungkin Derik akan pamit pulang terlambat padanya. "Oke. Tak masalah. Jaga kesehatan, jangan sampai sakit." Lalu Adel tersenyum dan mengusap mesra pipi Derik. "Baik. Kamu juga. Jangan lupa minum obatnya." "Tentu saja." "Kita melakukannya terlalu banyak. Hari ini istirahatlah." Adel menangkup pipi Derik. "Aku senang. Terima kasih sudah selalu memuaskanku. Kamu tak pernah mengecewakanku. Bagaimana jika nanti kamu pulang lembur, kita melakukannya lagi?" "Sayang, istirahatlah." Jika sudah begitu, Adel mengalah. Ia akan diam. Sementara Viona hampir tersedak karena obrolan suami istri di depannya. Membahas rencana kegiatan ranjang di meja makan. Tak lama kemudian Derik pamit dari meja makan. Mengecup Adel dan dibalas sebaliknya. Viona hanya bisa menatap dalam diam. Rasa iri mengisi relung hati. Tapi ia bisa apa. Minta hal apa lagi selain pelunasan hutang? Tak dijadikan pembantu saja ia harusnya bersyukur. Adel memperlakukannya sebagai anggota keluarga. Tak diperkenankan nyapu, cuci, masak, bahkan menyiram taman. Padahal Viona biasa melakukannya sejak kecil. Akan jadi aneh kala ia hanya diam dilayani, apalagi oleh seorang yang lebih tua darinya. "Aku ke kamar dulu ya, ambil obat. Makan saja jangan sungkan. Nanti biar Nenek yang bereskan." Viona mengangguk sambil tersenyum kala Adel melambai pamit ke kamar. Tiap selesai sarapan Adel memang memiliki jadwal minum obat. Ia akan ke kamar, di mana obat-obatnya tersedia. Sambil istirahat, dan selebihnya hanya keluar untuk bersantai di ruang tengah sambil membaca berita di ponsel, belanja, atau keluar bertemu teman-teman arisannya. "Iya, Mbak." Sepeninggal Adel, Viona melirik piringnya yang sudah habis. Ia lirik juga lauk ayam goreng yang jarang sekali ia beli sebagai menu makan selama tinggal di kos. Ia ambil satu dan melahapnya. Mumpung ada, dan tidak ada orang. Jadi orang kaya kadang ada enak dan tidaknya. *** Derik, pemilik bisnis properti yang membangun perumahan berkonsep vila di kota Samarinda itu tampak frustrasi. Ia ingin segera pulang, dan menghabiskan malam dengan istrinya. Sudah tiga hari ini ia lembur karena ada masalah di salah satu perumahan yang ia bangun. Warga sekitar tampak tak suka lingkungannya dilewati truk besar yang setiap hari dan berisik. Belum lagi sebagian warga memiliki lahan yang berdekatan dengan rumahnya. Tak mau diakui menjadi milik perumahan. Sudah lewat tengah malam, ketika ia sampai di rumah. Adel istrinya pasti sudah tidur. Ia bergerak menaiki tangga hendak ke kamar. Begitu sampai di undakan tengah, bayangan seseorang membuatnya mendongak. Viona, istri keduanya. Istri yang ia tak merasa dimiliki. Kalau bukan karena menuruti keinginan gila istrinya, ia mana mau menikah lagi. Dengan perempuan asing yang cuma ia temui sekali karena mengembalikan jam tangannya. "Baru pulang, Mas?" Derik hanya berdeham saja. Ia tak banyak bicara, atau malah memang sering mengabaikan jika diajak bicara Viona. Ia belum terbiasa. Lagipula ia juga tak suka akrab dengan orang lain, kecuali jika berurusan bisnis. Ah, pernikahannya juga bisnis. Viona memanggilnya Mas. Tidak seperti Adel yang memanggil namanya langsung. Mungkin karena ia dan Adel teman sebaya sejak kecil, sementara Viona masih muda. Tak masalah, asal istri keduanya itu tak membuat masalah saja. Mau dipanggil apa pun Derik menerima. "Oh. Selamat istirahat kalau begitu." Lalu Viona lekas menuruni tangga menuju dapur. Ia kehausan di tengah malam, dan hendak mengambil minum di bawah. Meski diabaikan tak hanya sekali dua kali, Viona tetap saja menyapa Derik. Bagaimanapun juga ia adalah istri. Tugasnya memperlakukan suami dengan baik. Entah dibalas dengan hal serupa atau tidak, Viona hanya bisa bersabar. Ia berharap meski hanya jadi istri bayangan, setidaknya suati saat Derik bisa memperhatikannya juga. Tak perlu dicintai laki-laki itu. Karena kebaikan Derik membayarkan hutang keluarganya, sudah cukup. Ia tak bisa dan tak pantas berharap lebih akan dicintai laki-laki itu. Berjalan ke dapur, ia ambil minuman dingin dari lemari es. Menegukanya setengah gelas lalu mengisinya lagi hingga penuh. Ia akan membawa gelas berisi air dingin penuh itu ke kamar. Jadi ia tak perlu turun lagi jika haus. Sejak berada di rumah Derik dan memiliki kamar ber AC, ia sering terbangun malam karena merasa tenggorokannya kering. Begitu masuk kamar yang melewati kamar Derik, Viona hanya menoleh sekilas. Kamar pasangan suami istri itu tampak senyap. Ia lanjutkan berjalan ke kamarnya yang tepat berada di sebelah. Masuk, lalu meletakkan gelas di nakas. Menatap jam dinding. Pukul satu dini hari. Ia ingin kembali tidur, tapi sepertinya akan sulit. Ia putuskan membuka ponsel dan berselancar ke situs komik online. Membaca beberapa cerita yang sudah menjadi favoritnya. Hingga tak terasa sudah pukul tiga. Matanya lelah menatap ponsel terus. Meletakkan lalu tidur. Jarum jam terus berdetak, mengantarkan Viona dalam alam mimpi. *** Mungkin ia hanya gadis biasa. Punya pekerjaan yang biasa-biasa saja. Dari keluarga juga biasa. Wajay juga biasa saja menurutnya. Tak ada yang istimewa. Tapi entah kenap, ia punya mimpi luar biasa. Bahwa nantinya ia akan menjadi orang yang sukse. Membahagiakan ayahnya yang sebatang kara, membangunkan rumah dan toko untuk ayahnya berjualan lagi. Memiliki keluarga utuh yang bahagia. Suami yang mencintainya. Istri yang disayang suami dan anak. Serta anak-anak yang lucu dan menggemaskan. Terasa menyenangkan bukan, bagi isi kepala gadis biasa dari kampung. Nyatanya, ia sekarang bukan sedang bermimpi. Ia tinggal di rumah mewah, bertingkah. Segala yang ia perlukan ada. Punya suami, ayahnya tak punya hutang. Hanya saja ... ini semua bukan miliknya. Ia merasa asing, tak kenal, tak terjamah, dan tak merasa semuanya nyata. Karena yang ia dapatkan semua hanya mimpi. Mimpi yang terasa menakutkan. Bagaimana jika ia kehilangan mimpi indah sejenak ini. Tentang kontrak pernikahannya. Tentang suami yang ia miliki, tentang rumah yang ia tinggali, juga tentang status yang ia sandang saat ini. Setelah ia bangun dari mimpi, ia harus apa. Kenyataannya pasti akan lebih sulit lagi. ____
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN