Viona mengerjap, kala hajatnya mendesak. Mengucek mata, ia dapati dirinya tengah ada di kamar, berselimut tebal dan membungkus seluruh tubuh. Ingatannya melayang pada kejadian beberapa jam lalu. Ah, rasanya badan Viona remuk. Saat ia bergerak, selangkangannya perih. Mencoba duduk dan menyibak selimut, ia dapati bercak darah di sprei. Terenggut sudah kesuciannya oleh suaminya sendiri. Ia telisik lagi tubuhnya. Bibir yang dengan tanpa malu mengecup dan tak puas dilumat Derik. Leher yang rasa perihnya masih terasa. Derik menggigit dan menjilatinya hingga ia meringis. Turun ke buah ranum. Puncaknya masih menegang, mungkin karena udara dingin dan ia sedang tak mengenakan apa-apa. Mengingat bagaimana rakusnya Derik memelintir, mengecup, menjilat hingga mengisap membuat Viona tanpa sadar tersen

