Derik membimbing Viona dengan memegangi kepala. Kepala Viona maju mundur, dengan mata memandang ke arah Derik di atasnya, berganti memejam sebentar. Ia takut salah, atau giginya malah menyakiti milik Derik. Rahangnya pegal, tapi Derik menikmati. Viona tak bisa begitu saja melepasnya. Ia tahu harus balaa budi. Derik sudah membuatnya terlena, kini giliran ia memuaskan suaminya. "Lebih cepat!" Derik mendorong kepala Viona agar gadis itu bergerak lebih cepat, lebih dalam, hingga sensasi nikmat menjalar ke sekujur tubuh. Tak bisa dibiarkan. Jika semakin lama, dirinya akan tumpah saat ini juga di mulut Viona. Ia tidak bisa. Ia harus mengeluarkannya dengan benar. Ia tak ingin Viona yang amatir malah tersedak cairannya. Melihat cara Viona yang masih canggung, pasti dia akan kaget jika mendapati

