Derik tak tahu kenapa gadis kecil di depannya ini selalu saja berhasil menggodanya. Lihatlah wajahnya yang tengah mengerang karena jarinya sedikit bermain di tengah-tengah pusatnya. Ia melepas jarinya hingga gadis itu terengah. "Mas, Mas. Jangan." Senyuman Derik di sudut bibir membuat Viona berharap permintaannya akan segera dikabulkan. Derik menggodanya terus menerus tanpa membiarkannya mengeluarkan gejolak. Begitu hendak mencapai puncak, Derik selalu berhenti. Baik jari maupun lidahnya. "Tidak sekarang." Derik menyatukan kedua kaki Viona yang tadi terbuka. Lalu mengangkat p****t hingga Viona balik badan tengkurap. "Angkat." Viona menurut begitu Derik menuntun lututnya yang kini tertekuk menjadi tumpuan. Derik membuka kedua kaki agar melebar. Belahan dengan lubat berkerut manis itu

