Tujuh Belas | Menahan Suara

1018 Kata

Viona tak bisa berpikir lagi. Derik sudah membuatnya hilang arah. Setiap sentuhannya membuat Viona tak bisa berkutik. Ia menggeliat, meremas sprei, hingga menaik-naikkan pinggulnya kala Derik masih saja membuatnya basah di bawah sana dengan lidah dan jari. Laki-laki itu suka sekali menyiksa Viona. Namum Viona pun menikmatinya. Ia jeritkan kepuasan kedua kalinya kala gelombang menerjang dan rasa hangat meleleh di paha. Dengan mata sayu, ia terengah dan menggapai d**a Derik yang mendekat. Semakin dekat, hingga leher Viona menjadi sasaran berikutnya. Leher Viona yang berkeringat membuat Derik semakin menjilat dan menggigitinya. Tak ayal Viona mendesah. Belum lagi tanhan Derik bergerilya di dadanya. Pucuknya tegak, keras, dan sensitif. Bergantian dari leher ke pucuknya. Ke leher lagi, mere

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN