“Zal, kamu sudah jemput Sasti?” Ratih dari seberang telepon, dengan suara panik, menunggu jawaban Rizal. “Lho, kan sama Mba Siti? Emang Mbak Siti belum jemput?” Rizal balik bertanya. “Ini juga Mbak Siti yang barusan telpon, nanya. Katanya Sasti sudah dijemput bundanya.” Rizal mendesah, seraya melirik Desti yang masih berdiri di hadapannya, dengan menyedekapkan tangannya. Hari itu, Rizal terpaksa bertemu dengan Desti untuk terakhir kalinya, penyerahan semua aset perusahaan. Dia sudah tak mau terlibat lagi. Semakin cepat tidak berhubungan dengan mantannya itu, urusan semakin baik. Rizal mendapatkan bagian salah satu kantor cabang di luar kota, namun dia menolak. Karena, mengurus kantor cabang dengan masih menginduk pada keluarga Desti, sama saja masih terus berhubungan dengan mantan

