Rizal melangkah lemas dari pintu pengadilan. Dia tak sanggup membayar pengacara mahal, sebagaimana yang keluarga istrinya lakukan. Ratih yang mengikuti dari belakang, segera mensejajarkan langkah dan menggamit tangan pria itu. “Mas, mereka nggak ngambil Sasti dari kita. Kamu tetap bisa menjenguk Sasti kapan saja kamu mau.” Ratih berusaha menghibur saat mereka sudah duduk di jok mobil. Rizal menghela nafas. Tubuh tegapnya lalu menyadar pada sandaran jok. “Kamu belum pernah punya anak. Kamu belum bisa memahami bagaimana perasaan seorang ayah dipisahkan dari anak yang dicintainya. Kamu nggak bisa merasakan kekhawatiranku bagaimana Sasti akan dididik oleh ibu seperti Desti.” Lelaki itu lalu memukul kemudi dengan tangan kanannya dengan kesal. Ratih terdiam. Rizal benar. Dia belum pernah pu

