Bab 1. Pertunangan yang gagal
Rumah kediaman Col telah dihiasi dengan pernak-pernik pesta. Undangan telah disebar kesemua kolega keluarga kaya itu. Ya, semua telah siap untuk menyambut ulang tahun Bethany Col yang kedua puluh lima sekaligus menjadi acara pertunangannya dengan Clark kekasihnya.
Beth saat ini tengah mempercantik dirinya dengan mengenakan gaun putih sederhana, milik mendiang ibunya.
Wajahnya dia make-up dengan gaya flawless yang membuatnya semakin cantik. Ia juga melepas kacamata besar yang selalu bertengger di hidungnya yang mancung.
Beth betul-betul sempurna, malam ini dan siap menyambut pesta.
Senyumnya merekah saat melewati para tamu undangan di halaman belakang keluarga Col. Mereka tampak terpesona dengan Beth, sang pemilik pesta.
Dia mengangguk ramah pada para undangan seraya sedikit membungkukan badan, membuatnya tampak seperti putri bangsawan dari kerajaan jaman dahulu.
Di depan sana tampak sang calon suami yang tengah menunggunya bersama papa, mama dan adik tirinya. Mereka juga tampak bahagia menyambut kedatangan Beth.
Hanya saja Beth tertegun dengan riasan dan gaya pakaian adik tirinya yang justru lebih heboh dari dirinya. “Lihatlah, siapa yang punya pesta di sini. Mengapa Lizy berpakaian seperti itu, sangat mencolok sekali,” kata Beth dalam hati.
Meskipun ada keengganan dalam benaknya, Beth tetap memantabkan langkah menuju panggung acara.
“Kakak!” sapa Liz sambil mengangkat gelas anggurnya. Senyumnya sangat lebar, memancarkan ketulusan sang adik saat memberi ucapan selamat pada Beth.
“Hai, adik. Kamu siap menyambut pesta ini.” Dia memeluk Liz dengan sayang.
“Tentu saja. Aku telah menunggu momen ini sangat…lama.” Senyum licik terukir di wajahnya, namun Beth tidak bisa melihat hal itu.
Keduanya saling menepuk pelan punggung masing-masing sebelum mengurai pelukan. Wajah Liz berubah menjadi ramah, seolah dialah orang yang paling bahagia di ulang tahun kakak tirinya itu.
Semua orang focus ke panggung acara, melihat Clark yang tengah bersimpuh di depan Beth sambil membuka kotak beludru berwarna biru yang berisikan cincin bertatahkan berlian.
Beth kembali tersenyum bahagia, dia bersiap untuk mengangguk saat Clark berucap,”Lizzy, maukah kamu menikah denganku?”
Beth terkejut,”Clark, apakah kamu sedang bercanda?” tubuhnya mulai bergetar karena emosi.
Lizzy langsung berdiri di dekat Beth,”tentu Clark, aku mau menjadi istrimu.”
“Apa kamu gila, Liz!” dia menoleh ke arah Clark,”tolong jelaskan padaku, kalau kamu sedang bercanda,” tatapnya memelas.
Tiba-tiba Clark berdiri seraya tertawa lebar,”tidak Beth, aku serius. Liz lebih baik darimu.”
Beth menggelengkan kepalanya berulangkali,”tidak…tidak mungkin.”
“Apanya yang tidak mungkin Beth? Adikmu itu lebih sexy darimu. Kamu tahu dia bahkan telah menyerahkan diri padaku.”
“Kamu…kalian,” toleh Beth pada keduanya,”kalian gila!”
“Dia lebih cantik dan terkenal darimu, Beth. Tidak heran kalau Clark memilihnya,” timpal Hannah Col, mama tiri Beth.
“Ya, adikmu itu lebih baik darimu, Beth,” tambah Andreas Col, sang papa kandung.
“Pa, apa yang salah denganmu! Mengapa kamu berkata seperti itu!” katanya sambil mencengkeram ujung dress-nya.
Para undangan yang ada di halaman itu langsung melihat Beth dengan pandangaan mencemooh,”apa benar yang dikatakan Tuan Andreas. Mengapa dia berkata seperti itu. Bukankah Bethany adalah anak kandungnya?”
Bisik-bisik kembali terdengar. Kata-kata yang mereka lontarkan membuat Beth semakin sesak napas. “Jadi…selama ini Papa sudah tahu kalau Clark dan Lizzy menjalin hubungan di belakangku.”
“Lalu apa? Memang itu kenyataannya,” jawab Andreas mencemooh.
“Oh, kakakku sayang. Seharusnya kamu bisa menjaga pasanganmu, bukannya malah menyalahkan orang lain. Lihat penampilanmu itu, sangat-sangat menyedihkan.” Ejek Lizzy seraya tertawa lebar, mengangkat gelas minumannya ke arah para undangan. Seolah bangga dengan banyak orang yang mendukungnya.
Beth memegang kepalanya yang serasa mau meledak. Air mata mengalir deras di pipinya. “Kalian semua sudah gila!” Dia berlari meninggalkan halaman tempat pesta diadakan.
Berjalan tak tentu arah, yang dia tahu keinginannya hanya satu, menghilangkan rasa sakit yang semakin menggerogoti jiwanya.
Batin dan pikiran Beth terasa kosong. Dia bergumam di sepanjang jalan yang dilaluinya. Kewarasan seolah tercerabut dari jiwanya.
“Hei, apa yang terjadi dengannya? Apakah dia gila?” tanya orang-orang yang berpapasan dengannya. Ada yang menatapnya dengan iba, tak sedikit pula yang menatapnya dengan ejekan.
Lengkap sudah penderitaan Beth, dia yang semula hanya ingin meraih kebahagiaan dengan kekasihnya semenjak SMA, malah justru mendapati pengkhianatan orang-orang terdekatnya.
Ingin rasanya Beth, menyusul mamanya ke alam baka. Mungkin di sana dia akan menemukan kebahagiaan sejatinya setelah bertahun-tahun hidup tersiksa di tengah-tengah orang yang mengaku keluarganya.
Beth duduk di pinggir jalan sambil menyembunyikan kepalanya di kedua lututnya.
“Apa salahku, Tuhan. Mengapa sakit sekali di dalam sini?” dia memukul dadanya yang terasa sakit.
Jalanan mulai sepi, saat Beth melihat ke sekeliling. Lampu-lampu yang ada di sana mulai bersinar, pertanda malam telah tiba.
Beth mengusap matanya sambil berjalan lurus menuju Club Skyhigh yang tak jauh dari sana. “Persetan dengan Clark!”
“Damn…Lizzy. Aku kira kamu betul-betul mencintaiku sebagai kakak, ternyata kamu lebih jahat dari ibumu!”
Cuitan nakal terdengar dari sisi jalan saat Beth menuju Club. “Hei cantik, godain kita dong!” seru beberapa pemuda dari pinggir jalan.
Beth melihat mereka, pikirannya mulai goyah. Pelan-pelan kakinya berbalik arah. Dia ingin membalaskan dendam cintanya dengan meniduri salah satu pemuda di sana.
Walau dia kehilangan sesuatu yang dia jaga selama bertahun-tahun malam ini, setidaknya Beth bisa merasakan kesenangan atas derita sakit hati yang ia rasakan.
Senyuman lebar dia layangkan pada pemuda yang paling tampan di sana. Dan orang itu pun bersiap menyambutnya.
“Ayo majulah Dude, tampaknya dia menyukaimu. Lumayanlah buat penghangat di malam yang sangat dingin ini,” terdengar suara penyemangat dari salah satu teman pemuda itu.
Bahkan ada yang sedikit mendorong punggungnya. Pemuda itu mengusap wajahnya yang sedikit kaku. Dia merentangkan kedua tangannya, bersiap menyambut Beth.
“Hei cantik, mau pergi menghabiskan malam bersamaku.”
“Tentu saja tampan.” Dia menjatuhkan tubuhnya dalam pelukan pemuda itu. “Maukah kamu berjanji satu hal padaku?” pintanya seraya mengedipkan mata indahnya.
Ya, mata hazel Beth tampak sangat cantik saat ditimpa sinar rembulan. Pupilnya tampak berpendar kebiru-biruan.
Pemuda itu semakin terpesona. Dia hendak mengajak Beth menjauh dari teman-temannya. Ia yang semula berjanji membagi Beth dengan mereka, menjadikan keserakahannya muncul, untuk menikmati gadis yang sangat cantik bak boneka porselen ini buat dirinya sendiri.
Senyum simpul terukir di bibirnya. Dia mendekatkan diri ke telinga Beth, berharap hembusan hangat dari mulutnya mampu membangkitkan gairah gadis yang sangat cantik itu.
Beth bergidig geli, gairah mulai menguasai hati dan pikirannya. Suaranya pun mulai mendesah,”aku belum mendengar janjimu,” rengeknya pelan. Kedua tangannya dilingkarkan di leher pemuda itu.
“Heem. Apa itu?” sudut matanya melihat teman-temannya yang tampak memberikan tanda semangat tanpa mengucapkan kata-kata.
Pikiran gilanya mulai muncul. Dia sudah membayangkan malam panas yang akan dihabiskannya bersama Beth. Gegas dia menggendong tubuh Beth, menuju motornya yang terparkir di sisi jalan yang lain.