Bab 2. Berubah pikiran

1155 Kata
Setelah mendudukan Beth di boncengan, motor pun digeber pemuda asing itu menuju tengah kota, di iringi umpatan dari teman-temannya. “Sialan kau Jeremy! Aku doakan terkena HIV baru tahu rasa!” Pemuda itu menunjukan jari tengahnya,”f**k you!” “Huuh, dasar gila!” jawab mereka bersamaan. “Aah, sudahlah. Kita cari wanita di club madam Elize saja!” salah satu dari pemuda itu berbicara. Akhirnya gerombolan anak-anak muda yang ada di sana pun langsung menuju motor masing-masing. Raungan dari motor trail para pemuda pun terdengar nyaring di malam yang sunyi itu. Tepat di pertigaan tengah kota, motor yang dikendarai Beth dengan Jeremy itu berhenti. Memberi jalan pada kendaraan lain yang melintas. Saat lampu sudah menjadi hijau, Jeremy langsung tancap gas agar segera sampai di hotel yang dia maksud. Pikiran kotornya sudah sangat-sangat menguasai. Ditambah jari jemari lentik Beth yang tidak bisa diam, selalu mengelus-elus d**a bidangnya. “Kamu sduah tidak sabaran, heum?” dipegangnya gerakan tangan Beth, dengan tangan kirinya. Beth terkekeh geli,”kamu juga sama kan?” “Hei hentikan. Aku tidak mau jatuh!” teriaknya saat jemari Beth semakin bergerak ke bawah. “Aku tidak mau,” ucapnya sambil sedikit menggoyangkan badan. “Kamu mau melakukannya di sini,” tawarnya lagi. Dilihatnya di sisi jalan tampak sepi. Kebetulan tempat itu sedikit jauh dari keramaian. “Boleh,” jawab Beth dengan terkekeh geli. “Baiklah, kamu yang memaksa. Ingat itu.” Pemuda itu memperlambat jalan motornya. Tepat saat dia mengubah gigi motornya, sebuah mobil tiba-tiba melintas. Lampu mobil itu sangat terang. Karena kaget Jeremy tidak bisa menguasai laju motornya, lalu terpelanting ke kiri. Untung saja, Beth terjatuh di gundukan pasir, sehingga tidak ada luka di tubuhnya. Naas dengan Jeremy, yang justru terpelanting di tanah yang sedikit keras, hingga dia tidak sadarkan diri dengan posisi tengkurap. Beth menghampiri pemuda itu, menyentuh tubuhnya dengan ujung sepatu. “Hei bangun. Mau dilanjutkan tidak, kencan kita.” Tak ada jawaban. Dia mengerucutkan bibirnya,”heem, dasar lemah!” Tak ambil pusing dengan apa yang terjadi, Beth merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Menepuk-nepuk dressnya yang terkena debu. Dia pun berjalan meninggalkan pemuda yang pingsan itu. Tak terpikirkan sedikitpun di benak Beth untuk sekedar meminta bantuan pada orang yang sesekali melintas agar membawa Jeremy ke rumah sakit. “Aku sendiri lagi banyak masalah. Buat apalagi membantu dia,” gerutunya. Dengan langkah ragu-ragu, Beth berjalan menuju jalan raya. Walau sesekali dia masih menoleh ke belakang, berharap calon kencannya itu terbangun. Tapi nihil. Akhirnya Beth betul-betul menjauh dari sana. Menuruti langkah kakinya hingga tanpa sadar dia sudah berdiri di kembali di depan pintu masuk club Skyhigh. “Wow, pasti sangat menyenangkan kalau menghabiskan malam panjang ini dengan sedikit minuman,” katanya pada diri sendiri. Club tampak sepi, hanya ada beberapa pengunjung di lantai dua. Beth hanya melihat dengan sudut ekor matanya ke atas sebentar, sebelum akhirnya memutuskan duduk di bar seorang diri. Dia memesan minuman pada sang bartender perempuan, yang melayaninya dengan senang hati. Saat lagi-lagi Beth mengeluarkan kartu bank-nya. “Persetan dengan laki-laki.” Tawa terdengar dari mulutnya yang mulai sering cegukan. “Persetan dengan cinta.” Disodorkan gelasnya lagi dan lagi pada sang bartender. “Tambah lagi minumannya.” “Nona, kamu sudah sangat mabuk. Apa perlu kutelepon keluargamu?” tanya sang bartender. “Keluarga…hahaha. Mereka juga sama…” “Sama?” tanya sang bartender dengan ekpresi kebingungan. “Tambah lagi minumannya,” perintahnya lagi. “Nona…,” peringat bartender dengan suara rendah. Dia mulai kesal. “Sini mendekatlah. Aku akan menceritakan sebuah rahasia besar padamu.” Jari telunjuk Beth bergerak-gerak, memberi tanda pada sang bartender agar mendekat. Saat bartender itu memasang telinganya di dekat wajah Beth, tiba-tiba suara cegukan terdengar dengan keras. Bartender itu pun menjauh dengan muka masam. “Ayo tambah lagi minumannya,” kata Beth. “Ini sudah larut malam Nona. Di mana anda tinggal?” “Kamu mau mengantarkanku?” “Tentu saja. Nanti ada salah satu pelayan yang akan mengantarkan anda pulang.” “Emm, tidak -tidak.” Tolak Beth yang susah payah menyangga badannya. Punggungnya dia sandarkan pada sandaran kursi. “Nona…,” kata bartender itu. “Baiklah-baiklah.” Beth melambaikan tangannya ke atas. “Aku akan pulang kalau kamu tambahkan lagi minumanku.” “Janji?” bartender itu menunjukan telunjuknya. “Janji,” jawab Beth disusul dengan tawanya. Ternyata Beth hanya membual, dia tetap minta tambahan minuman sambil meracau. “Kamu tahu, aku akan menikah dengan laki-laki yang pertama masuk ke bar-mu ini.” Bartender itu hanya bergumam dengan wajah yang masam. Satu tangannya bersiap memberi tanda pada pelayan pria yang ada di sudut ruangan, agar membawa Beth pergi. “Apa yang kamu bicarakan, Peter?” suara pria tiba-tiba terdengar dari belakang Beth. Terbeliak dengan air muka senang,”lihatlah…aku akan menikah dengannya sesuai janjiku,” kata Beth pada sang bartender, yang hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan gadis yang tampak mabuk berat itu. “Logan, kamu harus menikah, agar terhindar dari gossip lelaki buaya.” Suara dari balik telepon terdengar. “Apa maksudmu, Peter?” Kamu kira gampang mencari seorang istri.” “Itu bagus untuk kampanyemu, Logan. Ingat kamu harus bisa menikah dalam waktu dekat ini. Usahakan sebelum kita memasuki Gedung parlemen.” Dengusan terdengar dari mulut Logan. “Shit.” “Hei, kamu masih ingin menjadi gubernur wilayah, kan.” Desak Peter. “Baiklah-baiklah. Kita lihat apa yang bisa aku lakukan,” jawabnya dengan jengkel. Beth merapikan dressnya dengan tangan. Lalu dia memegang rambutnya yang sedikit berantakan. Mengikat rambutnya lagi dengan rapi, Beth mulai berjalan ke arah Logan. Pandangannya yang mulai mengabur gegara minum terlalu banyak, membuat Beth berjalan dengan sempoyongan. Saat sudah hampir dekat, Beth tanpa sengaja disenggol salah satu pelayan bar yang tengah mengantarkan pesanan salah satu pengunjung. Dia pun terselip, hendak jatuh. Untung saja tubuhnya ditangkap oleh Logan. “Hei tampan, namaku Beth. Maukah kamu menikah denganku,” pintanya dengan muka memerah, dielusnya d**a bidang milik Logan. Logan yang juga mulai mabuk hanya membeliakan mata. Di depannya Beth tampak sangat mempesona. “Kamu yakin mau menikah denganku.” “Tentu saja.” “Tapi aku bukan siapa-siapa. Aku hanya seorang pengusaha yang bangkrut.” Perjelas Logan tentang keadaan dirinya. “Aku tidak perduli. Aku hanya ingin menikah denganmu.” “Kamu mau tinggal denganku di rumah yang sederhana. Makan apa adanya dan…” Logan mendekatkan bibirnya,”hidup miskin denganku.” Napas hangat Logan membuat Beth tercekat. Dadanya bergemuruh oleh rasa yang tidak bisa diungkapkan. “Aku rasa…aku sangat mencintaimu tampan. Maukah kamu menikah denganku?” Logan tidak bisa menahan dirinya lagi. Dia mencium bibir Beth dengan sepenuh hati. Keduanya berciuman sangat lama. “Apa ini artinya kita sudah menikah?” tanya Beth saat keduanya melepas tautan bibirnya. “Dia sangat memaksa sekali. Apakah gadis ini tahu siapa aku sebenarnya? Jangan-jangan dia mengincar hartaku saja, seperti wanita yang lainnya,” pikir Logan. Dia tidak segera memberi jawaban pasti. Matanya hanya memandang lurus, tepat ke manik mata Beth. Seolah berusaha menyelami ketulusan hati gadis itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN