Bab 3. Tampan, maukah kamu menikah denganku

1008 Kata
“Kamu tahu, di mana kita sekarang?” Logan merapikan anak rambut Beth yang menutupi dahinya. Bau tubuh wanita di depannya ini sangat menggoda, membuatnya ingin segera membawanya pergi dari sana. Hasrat Logan begitu mendesak,”tidak biasanya aku seperti ini. Apa yang terjadi? Apakah dia memang ditakdirkan untukku?” katanya dalam hati. “Em, tidak-tidak. Aku harus yakin dulu kalau dia bukanlah seorang wanita yang mengincar hartaku saja.” “Apa yang kamu katakan tampan? Kamu mau kan menikahiku?” Beth mengedipkan mata birunya. Lagi-lagi Logan sangat terpesona. “Hei,” diguncangnya tubuh Beth. “Kamu sadar dengan permintaanmu?” “Tentu saja.” Beth semakin menyembunyikan diri dalam pelukan Logan. “Aku hanya ingin menikah denganmu.” “Kamu yakin Beth.” Logan meletakan dagunya di atas kepala Beth, sementara satu tangannya yang terbebas mengelus punggung gadis itu. “Sangat…sangat yakin,” ujarnya sambil tertawa geli. Logan semakin tertegun, pandangannya pun semakin mengabur. Malam di club yang penuh cahaya itu, ikut mendukung penderitaan Logan. Dia sebenarnya sudah sangat lama mengabaikan perasaannya terhadap wanita. Semenjak putusnya hubungan terakhir dengan Gladys, cinta pertama sekaligus tunangannya. Kejadian itu sudah berpuluh-puluh tahun yang lalu, saat Logan masih berusia tujuh belas tahun. Masih naif-naifnya. Dia baru saja mengenal indahnya dunia cinta pertama. Gladys, anak rekan bisnis papanya. Penuh semangat dan ceria seperti dirinya. Hingga keluarga Logan yang bisnisnya baru berkembang, mengalami kebangkrutan. Sampai menjual semua property yang mereka punya, untuk menutupi hutang usaha. Logan bukan lagi seorang pemuda kaya yang sangat diidolakan para gadis. Mama-mama sosialita teman-teman ibunya juga tidak menginginkan Logan sebagai menantunya. Akhirnya Gladys juga melakukan hal yang sama. Dia pikir gadis itu berbeda. Sikapnya yang manis, manja dan penuh perhatian padanya saat mereka berkencan, membuat Logan semakin mantab menambatkan hatinya. Namun saat Logan hendak mengutarakan niat untuk menikah di usia muda, semuanya hancur berantakan. Malam itu, Logan baru saja turun dari taksi, tepat di depan halaman rumah mewah keluarga Gladys. Logan merasa heran, mengapa rumah itu sangat ramai,”tidak seperti biasanya.” Tapi Logan tetap memantabkan hati, berbekal buket bunga sederhana dan cincin emas yang ada di sakunya. Walau dia sadar benda-benda itu terlalu sederhana, tidak sebanding dengan barang-barang yang ia berikan saat bertunangan dulu. Tapi apa mau dikata, keluarganya bangkrut sekarang. “Aku harap, Gladys mau menjadi istriku. Dengan begitu, aku akan semakin semangat saat melanjutkan kuliah nanti. Aku bisa mencari pekerjaan sampingan setelah kuliah agar bisa menghidupi Gladys.” Rencana di otak Logan kembali tersusun. Dia sudah membayangkan punya bayi mungil sebagai hasil dari cinta mereka. Gladys menunggunya di apartemen yang mereka sewa sambil merajut baju-baju mungil milik bayinya. Sedangkan Logan akan langsung bekerja sampingan sesudah pulang kuliah. Saat dia kembali ke apartemen, dirinya akan membawakan buah dan kue coklat kegemaran Gladys. “Anakku pasti akan sehat. Kalau dia laki-laki akan tampan sepertiku. Jika dia perempuan, akan cantik seperti ibunya,” pikirnya seraya menyugar rambutnya ke belakang. Lamunan Logan terhenti saat suara klakson mobil terdengar keras dari balik punggungnya. “Hei, mingggir b******k!” bentakan itu membuat Logan terkejut, terjatuh ke taman bunga yang ada di halaman depan keluarga Gladys. Kacamata besar Logan terjatuh, membuat pandangannya sedikit mengabur. Dari kejauhan dia tidak bisa melihat pemilik mobil yang hampir menyerempetnya itu. Dia menghela napas panjang saat tahu ditubuhnya penuh dengan duri-duri mawar yang menancap. Bunga itu kegemaran Gladys dan mamanya. Logan mencabuti duri dari tubuhnya. Merapikan setelannya yang kusut dan sedikit basah. Setelah memakai kembali kaca matanya, dia menghirup udara sebanyak mungkin. Berusaha mengisi dadanya yang terasa sesak. Meskipun sakit hati, Logan tetap membulatkan niat, memasuki pintu utama. Pelayan penyambut tamu di dekat pintu, hanya mengangguk padanya. Mempersilahkan Logan untuk masuk. Mulut Logan terbuka dan menutup kembali,” ada acara apa di dalam?” pertanyaan itu yang hendak dia ucapkan pada sang pelayan. “Silahkan masuk Tuan Logan. Langsung saja ke halaman belakang,” ujar sang pelayan. “Apakah Gladys ada di sana?” “Tentu saja Tuan. Semua keluarga ada di sana.” “Heem.” Baru satu langkah, tiba-tiba Logan menoleh ke belakang. “Mengapa banyak orang di sana?” “Ini hari yang sangat istimewa. Apakah Tuan Logan lupa, hari ini hari apa?” jawab pelayan itu, lengkap dengan senyum lebarnya. Logan kebingungan, tapi sudut matanya melihat kue besar dari arah dapur yang didorong juru masak pribadi keluarga menuju pintu penghubung taman. Dia tidak bisa melihat dekorasi di atas cake tersebut, gegara kacamatanya yang berembun. “Ah, ya. Aku lupa kalau hari ini Gladys berulang tahun,” serunya. “Nah, Tuan Logan sudah ingat sekarang. Baguslah, silahkan masuk. Mereka pasti sangat mengharapkan kedatanganmu, sebagai tunangan yang punya acara.” Lagi-lagi pelayan itu tersenyum ramah. “Baiklah-baiklah,” jawabnya sambil merapikan letak dasinya yang miring. “Em, Tuan Logan.” Pelayan itu mendekatinya. “Iya.” Logan sedikit menunduk saat pelayan laki-laki itu mencabuti duri-duri mawar yang tertinggal di punggungnya. “Sebagai laki-laki yang masih muda dan tampan, anda tidak boleh terlihat berantakan di hadapan nona muda.” Dia mengambil sapu tangan dari saku celana. Lalu membersihkan lengan jas Logan. “Apa yang terjadi Tuan?” “Terjatuh saat ada mobil undangan yang hampir menyerempetku. Dan aku terjatuh di taman bunga depan,” jawabnya dengan nada bergetar. “Tuan tahu, siapa orang itu?” “Tidak. Pandanganku sedikit mengabur gegara kacamataku yang terjatuh. Hanya warnanya saja yang kelihatan.” “Sudah rapi.” Pelayan itu menjauh dari Logan. “Ouh dengar, lebih baik Tuan segera ke taman belakang. Acara akan segera dimulai. Jangan sampai anda ketinggalan keseruannya.” “Baiklah. Terimakasih. Aku tidak akan melupakanmu.” Logan memberikan kartu namanya. “Ingatlah untuk menghubungiku.” “Terima kasih Tuan Logan. Semoga hari anda menyenangkan.” Dia bergegas menuju pintu penghubung taman belakang. Di sana tampak kerumunan para pelayan yang hendak mengantarkan makanan. Trolly-trolly yang penuh dengan hidangan berbaris rapi dari pintu dapur hingga jalan kecil menuju ke sana. Logan tidak bisa melewatinya, Dia harus menunggu hingga trolly itu bergerak. Lagi-lagi kesabarannnya diuji. “Tidak apa-apa, asalkan aku bisa melamar Galdys malam ini. Semua kesulitan tadi akan tampak sepadan bagiku,” ujarnya dalam hati.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN