Bab 4. Malam yang panjang

1096 Kata
Tiba giliran Logan muda untuk memasuki halaman acara. Saat trolly-trolly makanan sudah didorong para pelayan menuju taman nan luas itu. Di sana tampak sangat ramai dengan para tamu undangan. Di tengah kebun terdapat meja panjang yang sangat besar, penuh dengan hidangan yang sangat lezat dan mahal. Pandangan Logan terpaku pada salah satu dekorasi yang terbuat dari es. “Hei siapa yang akan menikah?” Pahatan es itu menunjukan sepasang pengantin yang sedang berciuman. Laki-lakinya memakai tuksedo dan wanitanya bergaun pengantin dengan memegang buket bunga. Tiara wanitanya sangat berkilauan, ada hiasan-hiasan kecil yang terbuat dari lampu di atas kepalanya. “Oh, mungkin tante Gladys yang sudah lama bertunangan itu, akan menikah hari ini,” pikirnya. Logan sangat terpesona, tanpa sadar dia berjalan sambil tetap menganggumi hiasan es itu. Hingga langkah kakinya terhenti, tepat saat dia hampir mencapai tempat kedua orang tuanya berada. “Baiklah para tamu undangan sekalian. Kita sambut calon pengantin kita….George dan Gladys!” suara pembawa acara menggema di taman itu, membuat Logan terpaku. “Pe…pengantin!” mata Logan melotot, mulutnya terganga. Bunga yang dipegangnya pun terjatuh. Tubuhnya langsung lemas. Tak ada yang menyadari keadaan Logan karena dia langsung menyembunyikan diri di balik pilar. Napasnya mulai sesak, tenggorokannya tercekat. Dia melonggarkan dasinya yang terasa mencekik. Logan meraih minuman dari nampan yang berjalan di dekatnya. “Hei…,” kata pelayan itu dengan ekspresi aneh. Tapi dia tidak berhenti, hanya menggelengkan kepala lalu melanjutkan hantarannya ke tengah taman. Logan sadar, tidak semua pelayan di tempat ini, mengenalnya. Terlalu banyak orang di sana. Dia yakin dirinya hanyalah sosok yang tidak penting. Tidak ingin bertambah sakit, Logan berlari dari sana. “Tuan Logan,” sapa pelayan penjaga pintu dengan ramah. “Apakah acaranya berjalan dengan baik?” “Iya, sangat baik.” Jawabnya sambil mengerucutkan bibir. “Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” pelayan itu melihat raut muka Logan yang penuh dengan kekecewaan. Dengan penuh perhatian, dia meraih lengan Logan, membawanya ke ruang kecil yang ada di sana. Itu adalah tempat dia beristirahat saat sudah tidak ada tamu yang harus disambutnya. Maklumlah usianya sudah sangat tua. Untung saja sang majikan, orang tua Gladys penuh pengertian. “Apa yang terjadi Tuan Logan?” dia memberikan segelas air putih pada pemuda yang tampak pias itu. “Me…mereka menikah?” jawabnya dengan susah payah. “Iya, kita harus menikah. Kamu mau kan, menikah denganku tampan.” Suara Beth terdengar sangat jelas, membuat Logan kembali ke alam sadarnya. “Baiklah, asal kamu tidak akan menyesal nantinya.” “Tentu saja tidak,” jawab Beth dengan muka memerah. Logan langsung menggendong Beth, keluar dari club Skyhigh. Dia membawanya menuju gereja yang tidak jauh dari sana. Diketuknya bangunan samping yang ada di gereja itu, tempat pendetanya tinggal, setelah menurunkan tubuh Beth. “Siapa yang mengganggu tidurku!” teriakan dari dalam terdengar. “Apakah kalian tidak tahu, jam berapa sekarang!” “Aku Logan Benneth, buka pintunya sekarang kalau tidak ingin kuratakan bangunan jelek ini dengan tanah!” “Ouh, sialan!” Broody mengacak-acak rambutnya, seolah baru bangun dari tidur. Dia tidak ingin Logan tahu, kalau dirinya baru saja dari ruang baca. “Pasti omelannya akan lebih panjang dan lebar. Budek telingaku mendengar cacian pria arogan ini. Belum lagi kalau mulai mengungkit-ungkit jasa lamanya. Broody…siapa yang menyekolahkanmu di perguruan tinggi ilmu agama, hingga kamu menjadi pendeta sukses seperti sekarang. Apa kamu tidak ingat dulu, saat kamu mengemis-ngemis padaku, minta dihapuskan identitas lamamu.” Dia bergidig ngeri. “Dari seorang penjahat kejam menjadi pemuka agama yang terkenal.” Ekpresi wajah Logan yang penuh dengan hinaan seolah berada di mukanya, sekarang. Hingga dia kembali berjingkat karena kaget. “Iya sebentar!” jawabnya. Dibukanya pintu sambil berpura-pura menguap. “Ada apa Benneth?” “Tsk, baru bangun kamu. Pendeta macam apa yang tidurnya di sore hari. Bagaimana kalau ada umatmu yang ingin berkeluh kesah.” “Tuh, benar kan. Belum apa-apa sudah ngomel tidak karuan,” gerutunya. “Ngomong apa kamu. Cepat buka pintunya lebar-lebar agar aku bisa membawanya ke dalam.” Broody melihat seorang wanita cantik yang sedang menempelkan badannya di d**a Logan. Dia berdecak kesal. “Siapa lagi itu. Kamu masih belum tobat juga Logan.” “Sudah, jangan cerewet. Kamu mau bantu atau tidak.” “Aku bantu,” dibukanya pintu dengan lebar. Logan meletakan Beth di atas sofa yang ada di ruang tamu. Wanita muda itu langsung terkekeh, memindai seisi ruangan. “Apakah dia yang akan menikahkan kita, tampan.” Tangan Beth bergerak ke atas dan ke bawah, seolah tidak mau lepas dari Logan. “Apa!” Broody terbeliak sempurna. Mulut Logan langsung mengerucut. “Tenanglah Beth.” Logan memeluk wanita itu setelah memberi peringatan pada Broody melalui gerakan matanya. “Dia yang akan menikahkan kita, kan.” Beth kembali bertanya. “Iya, dia yang akan menikahkan kita.” “Baiklah. Ayo nikahkan aku dengan pria tampan itu.” Beth melihat penuh harap pada Broody. “Nona, kamu sedang mabuk. Seorang yang mabuk tidak bisa dinikahkan,” perjelas Broody. “Aku tidak mabuk, Pak pendeta.” Dia menatap Broody dengan matanya yang bercahaya, persis anak kucing yang sedang merayu majikannya agar diijinkan mengacak-acak seisi rumah. “Tidak. Tunggulah sampai besok saat kesadaranmu sudah kembali. Aku akan menikahkan kalian.” “Tampan, bantu aku.” Beth menoleh ke arah Logan yang sedang berdiri sambil memegangi kepalanya. Dia menyugar rambutnya dengan kasar,”Broody, ingat dari mana asalmu,” katanya dengan suara rendah. “Logan, jangan gila kamu. Wanita ini sedang tidak sadar. Pernikahan kalian tidak syah.” “Aku tidak perduli. Aku juga butuh pernikahan ini.” “Apa maksudmu?” dia mendekatkan wajahnya pada Logan. Keduanya tangannya terlipat di d**a. Sorot matanya penuh dengan ancaman. “Hahaha. Aku tidak takut dengan ancaman kecoak macam kamu,” hinanya. “Apa perlu kuingatkan lagi dari mana kamu berasal.” “Cih, tidak perlu.” Broody menoleh ke arah lain sambil mendengkus. “Baguslah. Kalau begitu nikahkan kami segera.” “Apa tidak lebih baik menunggu besok, Logan.” “Tidak. Aku harus kembali ke Nevada untuk kampanye,” kekeuhnya. “Jadi pernikahan ini hanya untuk politik saja.” “Broody, sejak kapan kamu menanyakan permintaanku.” Logan melotot pada pendeta di depannya itu. “Ya…ya. Aku tahu Tuan Logan yang tidak terbantahkan.” Dia mengedigkan kedua bahunya. “Aku harus selalu menuruti semua keinginanmu, walau bertentangan dengan kewarasanku sebagai seorang pemuka agama.” “Haish. Jangan menggerutu seperti itu. Toh permintaanku hanya sepeleh, tidak memintamu untuk membunuh seseorang, kan,” jawabnya dengan enteng. Kalau sudah seperti ini, Broody hanya bisa menggerutu di belakang Logan. “Dia pikir pernikahan itu seperti mainan. Tsk dasar Logan sinting.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN