Menjadi Korban
Jakarta, 2017
Sambil menatap kendaraan lalu lalang di jalanan, Renata tengah duduk di halte, menunggu kendaraan sesuai jurusan yang menuju ke alamat rumahnya. Kali ini, suasana halte lebih sepi dari biasanya, entah apa sebabnya. Namun Renata tak sendirian, ada dua orang yang bernasib sama sepertinya, juga sedang menunggu bus.
Gadis berusia dua puluh dua tahun itu berkhayal, andai nasib yang lebih baik berpihak kepadanya, dia pasti tak perlu menunggu lama seperti ini, untuk bisa tiba di rumah, andai dia memiliki kendaraan. Tapi, Renata kembali harus bersyukur, saat nasibnya kini lebih baik dari beberapa tahun belakangan. Dia sudah memiliki pekerjaan tetap, dengan gaji cukup untuk membiayai hidupnya, ibunya serta adik-adiknya, itu adalah hal yang patut dia syukuri baik-baik.
Mobil, atau paling tidak motor, adalah benda bergerak yang sangat ingin dia miliki saat ini, namun lagi-lagi, dia harus mengalah, ketika mementingkan biaya pendidikan dua adiknya. Tabungannya yang sudah tersisihkan dengan baik, pasti akan dipergunakan untuk itu.
Meski terlahir sebagai seorang perempuan, tapi Renata harus sekuat laki-laki, karena dia adalah anak pertama yang menjadi penopang kehidupan keluarganya setelah ditinggal Ayah untuk selama-lamanya. Beruntung, Ayah sempat memberikannya pendidikan yang layak sampai dia sarjana, hingga dia bisa memanfaatkan ijazahnya untuk mengadu nasib di kota besar ini.
Dari kejauhan, sudah terlihat sebuah bus yang akan Renata tumpangi. Seperti itu saja, dia sudah terlihat amat bahagia, itu artinya setengah jam lagi dia bisa sampai di rumah, bisa mandi, lalu istirahat sebelum memulai rutinitas esok hari yang melelahkan.
Renata melangkahkan kaki, sebelum bus tiba di hadapannya. Tas selempang dia sangkutkan di bahunya seperti biasa, namun tiba-tiba Renata terhempas jatuh telentang, bersamaan dengan tasnya yang diraih paksa oleh seseorang lalu dibawa lari sekencang mungkin.
“Copet!!” teriak Renata frustasi, dia ingin mengejar, namun tidak memungkinkan karena heels dan rok span yang dikenakannya. Renata menoleh ke kiri dan kanan, bahkan orang-orang hanya terlihat sibuk sendiri tanpa ada yang bersedia menolong atau setidaknya membantunya berdiri. Renata pasrah, di sinilah dia merasakan titik terendah dalam hidupnya. sisa uang untuk biaya operasionalnya selama dua minggu sebelum menerima gaji, semua ada di dalam tas itu, ponsel, dompet, bahkan buku rekening dan semua kartu-kartu penting, ada di sana.
Renata menangis sejadi-jadinya, menangisi nasibnya yang seolah jarang sekali berpihak baik kepadanya, dia meraung-raung di tengah trotoar, tanpa peduli orang-orang di sekitar maupun yang melintas di jalan, sedang memperhatikannya.
Tak kuasa menahan sedih, kesal, dan emosi dalam waktu yang bersamaan, pandangan Renata tiba-tiba kabur, dan mulai menggelap, tubuhnya semakin melemah dan, akhirnya dia pingsan di pinggir jalan.
~
Renata membuka matanya dengan sangat hati-hati, kepalanya terasa berat, seperti ada yang menghujam, hingga dia kesulitan membuka matanya.
Ini di mana? Gumamnya, saat dia menatap plafon sebuah ruangan yang cukup asing baginya. Yang dia ingat terakhir kali dia sedang berjalan menuju bus, dan…
“Suster, siapa yang bawa saya ke sini?” dia bertanya pada seorang perawat yang sedang melintas.
“Ibu pingsan di pinggir jalan, seseorang yang membawa Ibu ke sini, bagaimana? sudah enakan, Bu?” tanya perawat dengan ramah, membantu Renata untuk duduk.
Renata merintih, kesakitan, saat dia mencoba duduk. Merasakan perih, dan teramat nyeri di bagian intimnya. Tak pernah dia merasakan ini sebelumnya, dia pun terkejut. Ada apa dengannya?
“Saya mau pulang, Suster. Saya nggak bisa lama-lama di sini, saya habis kecopetan dan nggak punya uang untuk biaya rumah sakit.” jelas Renata, dadanya kembali terasa nyeri, sangat sakit mengingat kejadian yang menimpanya sore ini.
“Tenang saja Bu, semuanya sudah beres. Bahkan seseorang itu, menitipkan ini…” perawat itu mengeluarkan sebuah amplop berwarna putih dari dalam saku pakaian dinasnya.
“Ini, apa, suster?”
“Saya juga nggak tau, Bu. Ini dititipkan untuk Ibu. Saya tinggal ya Bu.”
“Suster, sebentar.” Renata mencekal tangan perawat itu, sebelum benar-benar pergi meninggalkannya.
“Ya Bu, ada yang bisa saya bantu, lagi?”
“Siapa yang bawa saya ke sini? apa boleh saya tau orangnya?” ucapnya dengan suara terbata, karena masih menahan sakit di bagian bawahnya. Ini aneh, apa yang terjadi padanya saat dia kehilangan kesadaran?
“Seorang laki-laki berpenampilan bagus dan berpakaian sangat rapi, Bu. Tapi, beliau nggak bersedia menyebut namanya.” jelas perawat itu. Renata mengangguk pasrah, sambil memejamkan matanya.
Tidak berani membuka, Renata hanya memandang amplop putih yang sedang dipegangnya. Hatinya bertanya-tanya, ketakutan juga menerpa. Meski dia sudah bisa menebak isi dari amplop ini adalah, sesuatu yang sangat dia butuhkan, uang.
Ya, benar. Pada akhirnya Renata memberanikan diri membuka amplop itu, isinya seratus lembar uang merah.
“Sepuluh juta? siapa yang rela ngasih uang sebanyak ini secara cuma-cuma?” Renata langsung keringat dingin, takut uang ini salah alamat, dia pun mencari sesuatu yang bisa menjadi petunjuk, siapa tahu ada catatan atau memo, tapi, nihil.
~
Terlambat pulang ke rumah tanpa memberi kabar, pasti menjadi pertanyaan bagi sang ibu. Wajar saja, ini sudah hampir pukul sepuluh. Biasanya Renata tiba di rumah sekitar jam enam, atau bisa lebih cepat. Tapi saat ini, dia sudah terlambat beberapa jam. Renata tiba di rumah dalam keadaan yang mengakibatkan banyak pertanyaan dari ibu dan adik-adiknya. apalagi, dia tidak membawa tasnya, juga sebagian blouse putihnya kotor.
“Kak Re, kenapa?” tanya Dita, si gadis belia berusia empat belas tahun. “Kakak kecelakaan?” Dita mengusap lengan sang kakak.
Renata menggeleng, “Kakak kecopetan waktu mau masuk dalam bus, semuanya hilang termasuk dompet dan hape.” jelas Renata dengan suara lemah.
“Ya ampun…” ibu yang sedang berada di dapur langsung menuju ruang tamu. “Yang penting kamunya, nggak kenapa-kenapa, kan?”
“Tadi Rere pingsan Bu, setelah kecopetan. Rasanya sedih, kesal dan lemas banget apalagi belum makan siang.” Dita membantu kakaknya untuk duduk di sofa mereka yang sudah usang bentuknya. “Minum dulu, Kak!” titah Dita sambil menyerahkan air mineral kemasan gelas.
“Makasih, kakak nggak apa-apa kok. Tapi, nggak tau, siapa yang nolongin dan bawa ke rumah sakit, semua biayanya sudah di tanggung, dan orang itu juga menitip ini.” Renata mengeluarkan amplop putih dari saku blouse yang dia pakai.
“Kak, sebentar, ini, kenapa kok sepertinya lebam?” Dita menunjuk pada leher Renata, di sana ada tanda merah kebiruan.
“Memangnya kenapa?” Renata tak menyadari itu sama sekali. Dia mencoba berdiri, untuk bercermin, kebetulan ada cermin di ruang tamu rumah mereka yang sempit itu.
Dia pun tercengang melihat sebagian lehernya, lalu dengan jemari yang gemetar, membuka dua kancing blousenya, dan keadaan sebagian dadanya, ternyata lebih parah. Dengan perasaan tak karuan, dia gemetaran. Merasa telah terjadi sesuatu yang tak lazim padanya. Siapa yang tega melakukan ini padanya? kepada siapa, dia harus menuntut pertanggungjawaban atas perbuatan keji ini? Dia sudah menjadi korban.