Tak ada yang tahu, selain dirinya sendiri, bahwa sekitar dua bulan lalu, Renata benar-benar dilecehkan oleh seseorang yang tak diketahui identitasnya. Lelaki berhati iblis yang dan benar-benar manusia keji yang memanfaatkan keadaan saat Renata tak sadarkan diri. Meski dengan imbalan uang sepuluh juta. Namun, sepuluh juta bukanlah uang yang banyak untuk sebuah harga keperawanan yang sudah dia jaga selama dua puluh dua tahun.
Meratapi nasibnya kini, Renata terdiam di sudut kamar mandi. Merasa wanita paling hina, saat hasil tes kehamilan menunjukkan bahwa dia positif hamil. Renata hamil tanpa suami, bahkan tidak mengetahui siapa yang telah menidurinya. Dengan tubuh yang masih gemetaran, dia bangkit dan mencoba berdiri. Sekujur tubuhnya lemas seketika. Renata ingin menepis dan tidak mempercayai ini, tapi ini nyata.
Ingin mengumpat apa yang dia alami saat ini, sama saja dia seperti dia memaki takdir, dan itu tidak boleh dilakukan. Renata masih belum bisa memastikan, bagaimana dia menghadapi kehamilan ini. Terbesit rencana untuk menggugurkan, tapi itu hanyalah pilihan terakhir. Renata sadar, meski tanpa dia ketahui siapa ayah dari janin yang dikandungnya, calon bayi di dalam rahimnya adalah darah dagingnya sendiri.
“Lama banget sih?!” seseorang menggerutu saat dia baru saja keluar dari toilet wanita di gedung kantornya. Tanpa menghiraukan wanita itu, dia berjalan dengan langkah yang gemetar. Bagaimana nasibnya jika orang-orang di perusahaan tempat dia bekerja, tahu bahwa dia sedang hamil.
“Kamu menangis, Re?” Leo, salah satu rekannya bertanya, saat berpapasan dengannya di pintu masuk ruangan. “Re?!” merasa wanita itu mengabaikannya, Leo mencekal lengan Renata secara paksa. “Siapa yang bikin kamu begini? Bilang padaku!” titahnya.
Renata menggeleng, “Aku lagi nggak enak badan.” Ucap Renata pelan, sambil menepis tangan Leo yang masih betah memegang lengannya. Leo peduli? Jelas saja,sebab lelaki bernama Leonardo Arga Wibisono itu sudah menaruh hati padanya sejak satu tahun lalu. Lelaki yang pantang menyerah mengejar Renata, tapi sayang wanita itu hanya menganggapnya tak lebih dari teman.
“Cerita, Re. Aku tau kamu lagi nggak baik-baik aja, kakimu pernah terkilir, jatuh dari tangga, tapi kau nggak nangis. Sekarang, hanya karena kamu kurang fit, kamu nangis?” Leo menarik Renata, menjauh dari pintu masuk ruangan.
Ditanya demikian, Renata semakin tak bisa menyembunyikan tangisnya, air matanya berjatuhan semakin banyak, bahkan sempat menarik perhatian orang-orang yang melintas.
***
Mencuri waktu sebentar, saat jam kerja berlangsung, Leo dan Renata memilih kantin perusahaan sebagai tempat mereka bertatap muka. Renata akhirnya mau di bujuk, dan merasa membutuhkan Leo sebagai tempat dia bercerita. Memang, rasanya terlalu sakit jika harus menyimpan semuanya sendirian, Renata tidak sekuat dan setegar itu. Belum lagi, entah bagaimana nanti dia menghadapi ibu dan adiknya.
Mengambil napas dalam, dan menenangkan diri sejenak sebelum bercerita, Renata menyeruput lemon tea dingin di hadapannya. “Aku harap, setelah aku menceritakan semuanya ke kamu, kamu nggak bakal menganggap aku sebagai wanita murahan.” Wanita itu mengingatkan Leo.
Leo hanya mengangguk, meski dia belum tahu pasti ke mana arah pembicaraan ini. Yang dia inginkan hanyalah membantu Renata, jika dia mampu. “Pasti, aku tau gimana kamu, Re. Kita sudah lama saling mengenal, dan w************n bukan julukan yang tepat buat kamu.”
“Aku hamil,”ucap Meira pelan. Wanita itu bahkan hanya mampu menerangkan dua kata, lalu dia menopang kepalanya dengan kedua tangan. Renata saat ini, benar-benar terlihat frustasi. Terbayang wajah ibunya saat ini, bagaimana kecewanya wanita paruh baya itu terhadapnya. Selama ini, ibu selalu percaya dan menjadikannya sebagai contoh untuk adik-adiknya, tapi, kenyataan berkata lain.
“Kamu, serius?” tatapan kekecewaan menjurus dari mata Leo, pada Renata. Hamil? Tentu melalui sebuah proses besar, dan dengan siapa Renata melewati proses itu? Batin Leo bertanya-tanya, dengan hatinya yang berkecamuk. Tapi, kenyataan ini tetap tidak membuat perasaannya memudar pada Renata.
“Ya, dua bulan lalu ... pulang dari kantor, aku dicopet orang di depan halte, mungkin karena syok dan kondisiku sedang kurang baik, aku pingsan di sana. Aku benar-benar nggak sadar apa yang terjadi, dan terbangun sudah di rumah sakit. Salah satu Perawat yang bertugas di sana, mengatakan kalau ada seseorang yang membawaku ke rumah sakit, dan menitipkan uang sepuluh juta di dalam amplop…” Renata diam, rasanya tak sanggup meneruskan kalimatnya. Dia menangis sejadi-jadinya.
Leo menyentuh pundak Renata, memaki dan mengumpat dalam hati, siapa lelaki yang tega melakukan itu padanya. “Ini semua salah aku,” sesal Leo.
Renata mengusap air matanya, beruntung, saat itu keadaan kantin sedang sepi, hingga tak ada yang memperhatikan mereka. “Kenapa bisa jadi salahmu, Leo? Enggak sama sekali-“
“Aku nggak bisa melindungi kamu, harusnya aku selalu memaksamu supaya kita bisa pulang bareng. Tapi, kamu selalu menolak.” Leo menyentuh pipi Renata yang masih basah. “Aku akan bertanggung jawab untuk itu.” tegasnya.
Renata tercengang, “Nggak perlu sampai segitunya, Leo. Aku hanya butuh teman bercerita, bukan berarti kamu harus melakukan sejauh itu. Kamu nggak perlu bertanggung jawab untuk tindakan yang nggak kamu lakukan.”
“Aku cinta kamu.” ucap Leo tanpa ragu. “Berapa kali aku harus bilang, Re?”
“Tapi, aku nggak pantas buat kamu. Maaf, aku nggak bisa balas perasaanmu.” Renata sendiri tidak bisa mengerti, kenapa dia tak bisa menerima lelaki sebaik Leo. Bahkan di saat keadaannya seperti ini, lelaki itu masih bersikeras ingin bersamanya.
“Jadi, apa yang akan kamu lakukan dengan janin itu? Menggugurkannya? Menurutku, itu bukan pilihan yang tepat.” Saran Leo, sebagai penyuka anak kecil, Leo takkan membiarkan Renata melakukan itu. “Izinkan aku, jadi ayahnya-“
“Leo!” hentak Renata. “Jangan ucapkan itu lagi…” lirih wanita itu. Membuatnya benar-benar heran, mengapa Leo terlalu menginginkannya, padahal sudah berkali-kali dia menolak. “Aku akan ikuti saran kamu, dan nggak akan menggugurkan janin ini.” Renata menyentuh perutnya yang masih rata.
“Kamu benar-benar keras kepala, Re. Meski aku kecewa sama kamu, tapi, aku siap membantumu kapan saja.” Leo menyentuh punggung tangan Renata dengan lembut. Kali ini, Renata membiarkannya, dia juga merasa bersalah jika selalu menolak kebaikan Leo. Tapi, untuk kali ini, dia takkan membiarkan Leo berbuat terlalu jauh untuknya.
Renata mengangguk, “Ya, sebelum perutku membesar, aku akan resign dari perusahaan ini.”
“Kamu yakin?” tanya Leo, semakin iba dengan Renata.
“Aku yakin, nggak mungkin aku bertahan, dan perusahaan juga pasti akan menindaklanjuti jika ada karyawannya yang hamil di luar nikah, kan?”
Leo mengangguk, karena hal yang dikatakan Renata, benar adanya. “Atau kita buat pengaduan ke polisi bahwa kamu, telah diperkosa oleh-“
“Nggak usah Leo, nggak perlu…” Renata menolak, dengan nada halus. Sesak di dadanya kembali terasa. “Aku sudah menerima takdir ini, aku mengambil hikmah dari kejadian ini, aku akan punya anak, di saat banyak wanita di luar sana yang sudah menikah, namun belum dikaruniai. Sementara aku, dengan mudahnya Tuhan mengirimkan dia ke dalam rahimku.” Renata tersenyum tipis.
“Kamu wanita hebat yang selalu berpikir dewasa, beruntungnya dia memiliki ibu sebaik kamu.”Puji Leo padanya.