Waktu terus bergulir, bulan demi bulan berlalu, kini kehamilan Renata sudah memasuki usia empat bulan. Sebisa mungkin dia menutupi dari keluarganya, dengan cara memakai pakaian yang longgar. Dia termasuk wanita yang beruntung ketika kehamilannya tak terlalu rewel, hingga mengalami mual dan muntah layaknya wanita hamil pada umumnya. Namun, tak bisa di pungkiri, perubahan bentuk tubuh Renata terlihat jelas, karena dia mengalami kenaikan berat badan yang lumayan drastis. Renata juga rutin memeriksa kandungannya secara diam-diam, di rumah sakit yang jauh dari rumahnya, agar tak ada seorangpun yang mengenalnya.
“Diet dong Re, kamu gemukan. Nanti gimana kalau Leo kabur dan cari perempuan lain?” ibunya mengingatkan. Saat ini, mereka sedang sarapan bertiga, Renata, ibunya dan adiknya.
“Ya biarkan saja Bu, Leo kan bukan siapa-siapanya aku,” sangkal Renata. Dia sibuk mengunyah nasi goreng buatan ibunya yang kala itu terasa sangat nikmat. Nafsu makannya pun bertambah pesat, Renata tak bisa menahan rasa laparnya. Terkadang, dia membawa bekal untuk dia makan di jam kerja, sebelum jam istirahat tiba.
“Kamu tuh aneh banget ya sebulan belakangan ini, kok maunya makan melulu. Biasanya sarapan saja, kamu nggak sempat. Makan malam juga kalau nggak capek. Tapi akhir-akhir ini—“
“Bu, aku pamit dulu ya. Hampir telat,” ucap Renata memotong kalimat ibunya. Lalu dia meraih tasnya, memakainya di bahu seperti biasa. Melangkah keluar rumah, sambil membawa sepotong biskuit yang baru saja dia ambil dari toples kue. Bu Indri hanya geleng-geleng kepala saja melihatnya.
***
Renata sudah bisa bertahan sejauh ini, dia sangat bersyukur. Hamil tanpa sosok suami memang berat, tapi buktinya, dia bisa melewatinya hingga usia kehamilannya empat bulan. Tak jarang, Renata menangis di malam hari, memikirkan nasibnya ke depan. Mampukah dia memberi kehidupan yang layak pada anak ini? Bagaimana dia harus menjawabnya jika si anak mempertanyakan sosok ayah? Renata berpikir keras, sambil bersandar pada jendela bus yang sedang dia tumpangi. Dia tersenyum, mengusap perutnya yang mulai terasa besar. Namun ada satu hal yang masih menjadi beban pikirannya sampai detik ini, yaitu bagaimana dia harus menghadapi ibunya. Wanita yang selalu mempercayainya, menyayanginya sepenuh hati. Renata menggeleng, bukan saatnya untuk memikirkan itu. Setidaknya, dia merasa masih punya waktu barang sebulan lagi, sebelum perutnya semakin membesar dan kehamilannya diketahui.
Kamu harus sehat, dan tetap kuat, mama sayang dan cinta sama kamu, bahkan sebelum kita bertemu. Suara hati Renata.
Renata sadar, saat usia kehamilannya bertambah, dia harus bersiap. Bersiap untuk hal yang lebih besar lagi, yaitu melahirkan. Hal yang paling dia takutkan, namun harus dia hadapi. Tak hanya itu, Renata juga sudah mempersiapkan banyak hal untuk resign dari perusahaan, termasuk tabungan, dan sangat berharap perusahaan akan memberinya pesangon, meski dia baru bekerja selama satu tahun.
“Pagi, bumil.”
Renata terlonjak kaget saat mendengar sapaan seseorang, yang menyebutnya dengan sebutan bumil. Wanita itu menoleh, bersyukur itu adalah Leo. Satu-satunya orang di perusahaan ini, yang mengetahui kehamilannya dan satu-satunya orang yang memahami keadaannya.
“Pagi, om Leo,” sahut Renata tak kalah ramah. Lelaki baik yang selalu menenangkan, tapi kenapa Renata tak bisa mengizinkan Leo masuk ke hatinya, walau hanya sedikit saja. Terkadang, saat sudah berpikir terlalu jauh, terlintas di pikirannya untuk menerima saja tawaran Leo, menikah dengannya, agar hidupnya ada yang menjamin. Namun seketika, Renata harus membuang jauh-jauh pikiran itu. Dia merasa tidak pantas untuk menerima Leo demi kebaikannya saja, sementara dia tak bisa membalas cintanya.
“Siang ini, mau makan apa? Om Mau traktirin keponakan Om.” Leo bercanda, ya meski Renata menolaknya untuk menjadi ayah dari bayi yang dikandungnya, tapi Leo diizinkan oleh Renata untuk menganggap si calon bayi itu sebagai keponakannya.
“Enaknya makan apa ya?” Renata menirukan suara anak kecil, seolah-olah anaknya di dalam sana yang sedang berbicara. Kini, mereka sedang berjalan menuju ruangan. Kedekatan mereka sudah diketahui oleh sebagian orang di perusahaan. Bahkan, banyak dari mereka yang menganggap bahwa mereka adalah sepasang kekasih, namun nyatanya tidak.
“Nanti kamu kabarin ya, mau makan apa dan di mana.” Ucap Leo , sedikit berbisik karena sebentar lagi, mereka akan tiba di ruangan.
Renata mengangguk, “Terima kasih banyak Leo, aku merasa bersyukur punya teman sebaik kamu.” Renata tersenyum haru, lalu mereka berpisah, menuju meja masing-masing.
***
Malam hari, Renata merasakan tidak nyaman pada perutnya, tidurnya serba salah. Berulang kali dia mengubah posisinya, namun tak menemukan posisi yang pas. Sesekali, Renata merasakan mual. Baru pertama kali dia merasakan hal seperti ini saat hamil. Wanita itu duduk di tepian ranjang, sambil melawan kantuk. Renata tak mampu lagi menahan gejolak begitu mengganggu di perutnya hingga memaksanya keluar kamar untuk menuju kamar mandi.
Hoek Hoek
Meski Renata sudah berusaha menahan agar tak menimbulkan suara, namun usahanya sia-sia.
“Kenapa kamu, Re?” ibu muncul tepat di belakang Renata, saat wanita itu sedang fokus memuntahkan isi perutnya. Dia belum mampu menoleh, apalagi menjawab.
Bu Indri membantu Renata dengan mengusap-ngusap punggung putri sulungnya itu. “Kayaknya masuk angin, Bu. Tadi siang telat makan,” jelas Renata.
Mata Bu Indri tertuju pada gundukan di perut Renata yang tercetak jelas di balik tanktop ketat yang sedang dia kenakan saat ini. Renata bahkan tak menyadari itu. Terkadang Renata merasa kegerahan hingga mengharuskannya mengenakan pakaian serba terbuka seperti itu saat tidur. Mata Bu Indri kian menajam, menatapnya. “Itu, apa di perutmu?
Sontak wanita itu menutupi perutnya dengan kedua tangannya. “Aku—“ tenggorokan Renata tercekat, lidahnya kelu, tak tega menatap wajah ibunya. Lantas dia berlutut, tak peduli dengan lantai kamar mandi yang basah. “Maafin aku, Bu…” lirih Renata, tangisnya berangsur datang, sampai akhirnya dia terisak. “Aku hamil.” Renata akhirnya mengaku, meski dia tahu akibatnya.
“ANAK SIAPA?!” hentak Bu Indri, tanpa sadar menendang Renata dengan lututnya, sampai dia terjungkal ke belakang. “Ya ampun, Re… maafin Ibu.” Ucap wanita itu penuh penyesalan, saat Renata tak lagi membuka matanya.
Malam ini, Renata berakhir tidur di ruang rawat klinik. Meski kecewa dan marah pada sang anak yang tak bisa menjaga dirinya dengan baik, Bu Indri tetap erharap Renata dan bayinya baik-baik saja. Dokter mengatakan Renata dan kandungannya, baik-baik saja, wanita itu hanya syok. Dia tak bisa mengalami kejadian yang mengejutkan hingga akhirnya pingsan. Sama seperti saat dia kecopetan beberapa bulan lalu.
Dengan air mata yang masih berderai, Bu Indri membelai kepala Renata yang kini terlihat begitu lemah. Penyesalannya datang, saat Bu Indri merasa tak bisa menahan emosi hingga mengakibatkan Renata harus mengalami ini.