“ Nes, udah tidur?” tanya Septi yang masuk ke dalam kamar putrinya untuk mengecek keadaannya. “ Dikit lagi, bu...” jawab Ines dengan suara sengau. “ Kamu kenapa, nak? Ada yang sakit? Mau ke dokter aja?” tanya Septi dengan khawatir. Ia bahkan membawa Bibi untuk tidur bersamanya agar tidak membuat Ines kewalahan karena harus menjaga gerak tubuhnya. “ Nggak, bu… Nggak usah…” jawab Ines yang air matanya semakin deras. “ Sabar ya, Nes… Nanti kalau lukanya udah kering, pasti udah enakan. Udah minum obatnya kan?” Ines mengangguk dan sesekali mengusap air matanya yang entah mengapa tak juga ingin berhenti mengalir. “ Sakit, bu…” isak Ines yang sepertinya tidak sedang berbicara soal lukanya saat ini. “ Ya kalau luka emang sakit, Nes… Sabar aja ya…” hibur Septi yang tahu betul jika putrinya

