Bab 14. Kecurigaan

1213 Kata
Nakula dan Sadewa. Dua anak kembar Malaka Hutama dan Kanaya putri itu memiliki tugas masing-masing. Jika Kala diberikan tugas untuk mengurus bisnis perhotelan, maka Dewa mendapatkan tugas untuk mengembangkan usaha furniture yang masih bertahan menjadi yang paling besar di Indonesia sejauh ini. Kakak laki-laki yang pertama, Naka–memilih mengurus bisnisnya sendiri yang tidak hanya berkembang di satu usaha saja. Kakaknya yang satu itu berhasil membangun usaha sendiri dari enol tanpa bantuan dana dari keluarga. Bukan karena orang tua mereka tidak mau membantu, namun Naka memiliki ceritanya sendiri hingga akhirnya berdiri dengan kaki sendiri. Apakah Dewa iri dengan keberhasilan kakaknya? Jujur saja iya. Dia juga ingin berhasil dengan usaha sendiri hingga kebanggaan itu patut tertanam di dalam hatinya. Namun, apa boleh buat. Jika semua anak-anak Hutama mementingkan ego, siapa nantinya yang akan meneruskan usaha keluarga, sementara papa mereka sudah semakin tua. Jika ia lebih banyak mengurus marketing perusahan furniture papanya, maka adiknya, Juna lah yang mengurus produksinya. Pabrik furniture itu berlokasi di sebuah kawasan industri di kota Semarang. Sementara ia berkantor di Jakarta. Ia yang sering bepergian untuk menemui para pembeli maupun calon pembeli. 'Tok! Tok!' Dewa mendorong pintu setelah mendengar suara Kala dari dalam ruangan. Waktu istirahat. Ia sengaja datang ke hotel untuk makan siang bersama sang kembaran di kantor kembarannya tersebut. “Elody kemana?” tanya Dewa saat tidak melihat iparnya yang satu itu. Istri Kala, sekaligus wakil direktur hotel yang menggantikan posisi Mutiara–adik mereka, setelah Tara mengundurkan diri. “Ketemu mamanya.” “Oh ….” Dewa menutup pintu sebelum melanjutkan ayunan kaki ke arah sang kembaran yang masih belum meninggalkan meja kerjanya. Bahkan Kala masih terlihat sibuk dengan pekerjaannya. Kala tampak sedang menandatangani dokumen. Kala mengangkat kepala. Tangan kanannya kini sudah berhenti bergerak. Suami Elody itu memperhatikan pergerakan Dewa. “Ada apa? Tumben ngajak makan bareng? Jingga kemana?” tanya beruntun Kala. Dewa berdecak. Pria itu mengusap pipi yang tiba-tiba gatal. Ayunan kakinya berhenti di depan meja kebesaran Kala. Dewa menarik punggung kursi. Menarik langkah ke depan, sebelum menurunkan p*ntat ke atas kursi dengan busa empuk. “Kenapa memangnya kalau ngajakin makan saudara sendiri?” bukannya menjawab pertanyaan Kala, Dewa justru bertanya balik. “Trus, kok lo nggak ajak mas Naka sekalian?” balas tanya Kala. Alis pria itu sudah terangkat. Sepasang matanya menatap lebih lekat sang saudara kembar. Perasaannya mengatakan, kedatangan Dewa memiliki alasan lain, bukan hanya sekedar makan siang bersama. “Ada masalah apa? Tidak perlu berbelit-belit. Kita pernah berada di rahim mama di waktu yang sama. Sedikit banyak gue bisa tahu apa yang ada di dalam kepala lo.” “Gue benci berbagi rahim mama sama lo,” kesal Dewa yang mulai memakai panggilan non formal. Ia kesal karena Kala sering bisa menebak apa yang sedang terjadi padanya. Kala mendesah. Pria itu menghempas punggung ke belakang. “Lo mau protes sama Tuhan? Mau bilang lebih baik lo berbagi rahim sama mas Naka, atau Juna?” Sepasang mata Dewa terbuka lebih lebar selama dua detik. Bukan itu juga yang ia inginkan. Lagi pula, mana berani dia protes pada Tuhan. Bisa-bisa langsung di azab, gawat kan. Dia belum menikah. Belum merasakan yang namanya nikmat dunia, batin Dewa. Sesaat kemudian sepasang mata pria itu mengedip, lalu tarikan napas dalam ia lakukan. Telapak tangan yang berada di atas paha mengepal, kemudian diremas-remas oleh sang pemilik ketika mengingat apa yang dikatakan oleh Jingga saat bertemu dengan orang tuanya. “Anaknya ganteng. Sebelas dua belas sama Rain, loh.” Lalu kejadian semasa masih muda melintas begitu saja. Satu kesalahan terbesar yang pernah ia lakukan, yang sudah ia kubur selama sepuluh tahun terakhir. Tidak mungkin. Dewa menampik pemikiran yang baru saja muncul. Sudah jelas perempuan itu punya suami. Lalu, pria itu merasa kesulitan hanya untuk menelan salivanya sendiri. “Ada hubungannya dengan Aruna dan anaknya?” “Sh*t,” umpat Dewa begitu mendengar apa yang dikatakan oleh kembarannya. Ini yang dia benci. Kala selalu saja bisa menebak apa yang ada di dalam pikirannya. Apa yang sedang membuatnya gundah. Melihat reaksi sang saudara kembar, Kala tertawa. “Lo rasain, kan?” katanya. Dia pun kesal setiap kali Dewa bisa merasakan apa yang sedang ia rasakan. Bahkan setiap kali ia memadu kasih bersama istrinya, ada rasa khawatir jangan-jangan Dewa juga merasakan apa yang ia rasakan. Untungnya untuk masalah yang satu itu jawabannya tidak. Secara terang-terangan ia pernah bertanya pada Dewa. Yah … itu kalau Dewa tidak berbohong saat menjawab pertanyaannya. Sialan memang. Rasanya kesal sekali ketika apa yang kita rasakan tampak seperti buku yang terbuka lebar di depan orang lain. "Sialan lo. Kenapa lo nggak kasih tahu gue kalau lo ketemu mereka?" Dewa menatap kesal Kala. Kala berhenti tertawa. Ekspresi wajah pria itu kini sudah berubah serius. “Trus kenapa? Apa sekarang lo mulai berpikir Lingga itu anak elo?” tanpa basa-basi Kala langsung bertanya. Kala tidak merasa perlu menjawab pertanyaan Dewa. Dan pertanyaan yang dilontarkan oleh Kala, berhasil membuat Dewa menegang. Ekspresi wajah Dewa mengeras. Katupan rahangnya ditekan keras oleh sang pemilik. Bola mata Dewa bergerak-gerak, namun tidak meninggalkan sepasang manik sang kembaran yang masih terpaut dengannya. Rasanya Dewa mulai kesulitan memasukkan oksigen untuk mengembangkan paru-paru yang sudah mengempis. Kala mendesah. “Gue juga sebenarnya penasaran. Anak itu tampan, Wak. Waktu gue lihat dia, gue ingat Rain. Mungkin dia lebih tua dari Rain.” Kala yang sebelumnya duduk menyandar itu kini menarik punggung ke depan, lalu membawa dua tangan ke atas meja. Kala mengikis jarak yang terbentang dengan sang kembaran karena meja kerja yang cukup lebar. “Sepuluh tahun lalu. Di pesta itu, kalian berdua menghilang. Kemana? Perasaan gue waktu itu tidak karuan. Gue nggak ngelakuin apapun, tapi, gue keringetan, Wak.” Dewa menahan sepasang matanya untuk tidak lari dari tatapan tajam sang kembaran. “Lo nggak bikin masalah kan, waktu itu?” Kala menatap semakin lekat sepasang mata sang kembaran. Dewa menekan-nekan katupan rahangnya. Kedutan sampai terlihat di sekitar rahang pria itu. Kejadian 10 tahun lalu mulai berputar di depan matanya seperti sebuah film. Membuat jantungnya berdegup berkali lipat lebih cepat. Hening …. Dua orang yang terikat darah itu sama-sama diam dengan pemikiran yang berbeda. Kala menatap sang kembaran lebih dalam lagi. Gelagat sang kembaran membuatnya waswas seketika. Apalagi setelah beberapa waktu terlewat dan Dewa masih diam. Sebagai kembaran yang seperti memiliki ikatan lebih kuat dibanding dengan saudara-saudaranya yang lain, Kala merasakan sesuatu sudah terjadi. Dadanya berdesir. Rasa waswas itu semakin besar. Sementara Dewa merasakan kepalanya seperti akan pecah sebentar lagi. Film yang tergambar di depan matanya tidak mau berhenti. Bahkan setelah ia berusaha untuk mengusirnya, gambaran itu masih tampak nyata di depan matanya. Dewa mengepal telapak tangannya kuat-kuat. Rasa takut itu muncul. Bagaimana kalau benar ia ada hubungan dengan anak itu. Susah payah Dewa menelan salivanya. Membelah sepasang bibirnya, pria itu berkata. “Dia jelas punya suami. Anak itu jelas anak laki-laki itu.” Meskipun mengatakan kalimat itu, namun ada satu sisi hatinya yang berusaha menolak. Mengolok dirinya karena tidak mau mengakui apa yang terjadi 10 tahun lalu. Dewa mengeraskan hatinya. Kejadian 10 tahun lalu akan ia bawa sampai mati. Ia sudah menganggapnya sebagai sebuah kesalahan setelah Runa mencampakkan dirinya. Baginya, itu hanya masa lalu dan selamanya akan tetap menjadi masa lalu. Tidak akan mempengaruhi masa depannya. Kala menggelengkan kepala. “Lo … lo dalam masalah, Wak. Kalau sampai lo salah nempatin benih lo … lo bakalan …. TAMAT!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN