Hari Minggu adalah hari yang paling dinanti oleh Lingga. Anak 9 tahun tersebut memeluk erat pinggang sang ibu. Kepala yang terbungkus helm warna putih itu menoleh ke samping.
“Buma, Bapak Tama pintar naik motor?” tanya Lingga ingin tahu. Dia tidak punya banyak ingatan tentang bapaknya.
“Apa?” Runa yang sedang mengendarai kendaraan roda duanya itu melirik sang putra dari spion. Dia mendengar Lingga berbicara, namun tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh sang putra.
Lingga mengerutkan bibir. Anak itu cemberut. Dia merasa sudah bicara dengan suara yang keras. Tapi ternyata bumanya masih tidak mendengar. “Nanti saja!” teriak Lingga merasa percuma kalau harus mengulang pertanyaannya. Nanti saja kalau mereka sudah sampai, dia akan bertanya.
Lingga tersenyum mengingat tempat yang akan mereka datangi. Satu tempat kesukaannya yang tidak sering bisa ia datangi karena bumanya sangat sibuk. Dua tangan kecilnya memeluk lebih erat perut sang ibu. Senyumnya mengembang lebih lebar.
Runa hanya bisa mengernyit seraya melirik sekali lagi ke arah spion, saat merasakan belitan tangan putranya mengerat. Beberapa detik selanjutnya, Runa tersenyum tipis. Berpikir sang putra pasti sedang sangat antusias karena mereka akan pergi ke mall. Lebih tepatnya ke tempat bermain.
Runa masih ingat sebahagia apa putranya itu ketika ia mengatakan ingin mengajaknya ke time zone. Lingga bahkan sampai melompat-lompat sambil berteriak kegirangan, lalu berlari mencari budenya untuk memberitahu bahwa ia akan pergi ke time zone.
Hampir satu jam perjalanan, akhirnya tempat tujuan mereka terlihat. Runa memperhatikan jalanan di belakangnya dari spion sambil menekan lampu sein. Begitu melihat kondisi jalan aman, wanita itu memutar kemudi. Membawa kendaraan roda duanya berbelok ke arah halaman mall.
Runa menghentikan motor sesaat untuk mengambil kertas parkir, lalu kembali melajukan kendaraannya.
Lingga sudah menarik kepalanya ke belakang. Tangannya tak lagi melingkar di perut ibunya. Kini ia hanya berpegangan pada sisi jaket sang ibu. Anak itu menoleh ke kanan kiri. Melihat tempat yang disukainya kini berada di depan mata.
Runa menghentikan laju sepeda motornya. Wanita itu dengan cepat menahan tangan Lingga yang sudah akan turun dari boncengan motor. “Sebentar,” pintanya. Ia mematikan mesin motor, kemudian menurunkan standar samping. Ia memegangi tangan sang putra ketika putranya itu turun.
Setelah itu, Runa turun dari atas motor. Melepas helm nya terlebih dahulu, sebelum kemudian melepas helm putranya. Bukan tanpa alasan ia melepas helm sang putra terakhir. Ia khawatir putranya akan langsung berlari lebih dulu.
Dan tebakan Runa tidak salah. Karena ia tahu, ia memegang tangan putranya hingga Lingga tidak bisa berlari.
Runa tertawa melihat sang putra menatapnya dengan bibir cemberut. “Ya sudah ... ayo, kita masuk,” ajaknya, membuat sang putra kegirangan. Bahkan saat berjalan, Lingga tampak begitu gembira. Anak itu menggerak-gerakkan genggaman tangan mereka.
Lingga menoleh lalu mendongak. “Nanti Lingga boleh main banyak, Buma?” tanya Lingga meminta izin sang ibu terlebih dahulu. Dia tahu tidak boleh sesuka hati karena ibunya susah payah mencari uang.
Budenya sering memberitahu bagaimana bumanya harus bekerja keras supaya ia bisa tetap sekolah, bisa tetap makan tanpa kekurangan. Karena itu ia sangat menyayangi bumanya.
“Boleh. Yang penting nanti sebelum dzuhur harus selesai.”
“Hmmm.” Kepala Lingga mengangguk keras. Dia tahu, dia harus sholat. Di sekolah pun dia juga sholat bersama teman-temannya semua.
Kedua ibu dan anak itu masuk ke dalam mall.
“Wah ….” Lingga senang sekali. “Kesana, Buma.” Lingga menarik tangan sang ibu. Anak itu sudah tidak sabar untuk bisa segera tiba di tempat permainan. Lingga menarik tangan ibunya lebih kuat. Memaksa sang ibu untuk mempercepat ayunan kakinya.
Sambil berjalan, Lingga terus menarik tangan ibunya hingga mereka mencapai bagian bawah eskalator.
Lingga berhenti berjalan. Menoleh ke arah sang buma. Runa yang paham langsung memegang tangan sang putra lebih erat. Runa kemudian mulai menghitung. “Satu … dua … tiga.” Mereka berdua melangkah bersama naik ke anak tangga eskalator. Runa menahan tangan sang putra saat tubuh putranya sedikit goyah.
Sama seperti ketika hendak menaiki eskalator, saat turun pun Runa memberi aba-aba hitungan hingga tiga, lalu Lingga meloncat ke lantai. Anak itu tertawa setelah berhasil melewatinya.
Tawa Lingga membuat sang buma tersenyum. Keduanya kemudian melanjutkan ayunan kaki. Berpindah ke eskalator lainnya dan melakukan hal yang sama. Sampai kemudian mereka tiba di tempat favorit semua anak-anak.
Time Zone!
Lingga langsung meminta uang, kemudian berlari ke arah kasir. Runa membiarkan. Hanya memperhatikan dari tempatnya berdiri. Dia memang selalu mengajarkan Lingga untuk berani berinteraksi dengan orang lain.
Runa tersenyum melihat sang putra sedang berbicara dengan kasir untuk menukar uang dengan koin bermain.
“Eh ….” Dengan cepat Runa menoleh lalu membungkuk, membantu seorang anak yang terjatuh setelah menabraknya. “Kamu tidak apa-apa, Sayang? Maafin Tante, ya? Tante pasti menghalangi jalanmu.”
“Tidak apa-apa. Rain saja yang tadi berlari tanpa melihat kanan kiri. Dia buru-buru ingin membeli koin. Maaf.” Suara lembut seorang perempuan terdengar.
Runa menoleh. Mengedip melihat seorang wanita cantik yang kini tersenyum padanya. Wanita cantik itu mengayun langkah ke arahnya.
“Rain,” panggil wanita cantik itu pada sang putra. Sepasang matanya menatap lurus putranya.
“Maaf, Onty. Rain kurang hati-hati.”
Runa menurunkan pandangan matanya. Takjub mendengar apa yang baru saja anak kecil bernama Rain itu meminta maaf padanya. Tidak hanya mulutnya yang mengucap kata maaf, anak itu bahkan sedikit membungkuk. Runa tersenyum. Refleks, tangan kanannya terangkat–mengusap rambut gondrong sang anak kecil.
“Anak pintar. Tidak apa-apa, Sayang. Jadi, namamu Rain ya?" Melihat anggukan kepala anak kecil di depannya, Runa membelah kembali sepasang bibirnya. "Rain mau beli koin?” tanya Runa yang langsung mendapat anggukan kepala dari si anak berambut gondrong.
“Buma!” panggil Lingga, berlari menghampiri sang ibu. Dengan kening mengernyit, Lingga menatap anak kecil yang kepalanya baru saja diusap oleh ibunya. Menghentikan ayunan kaki di sebelah anak asing itu, Lingga mengedip.
“Hai, aku Rain.”
Lingga menatap uluran tangan di depannya. Detik kemudian, anak itu menggulir bola mata ke atas. Dua anak itu untuk beberapa saat saling bertatapan.
“Kita main bareng, yuk?”
Lingga kembali mengerjap. Dia tidak terbiasa mendapatkan teman begitu cepat. Melihat anak di depannya tersenyum, Lingga menarik garis bibirnya lalu mengangguk. Lingga meraih uluran tangan di depannya.
“Namaku Kalingga. Kamu panggil aku Lingga aja.”