Danan datang dengan membawa seekor kambing hutan.
Ketika mereka berdua sedang membuat api unggun muncullah seorang pria dari arah hutan sambil menancapkan trisula yang ia bawa pada tanah di pinggiran sungai.
"Siapapun yang berani merusak hutan haruslah bertanggung jawab" Ucap pria itu.
"Wahai ki sanak, Siapakah namamu dan apa tujuanmu?" Tanya Danan yang sedang duduk di samping Taka.
"Namaku adalah Astra dan Aku adalah penjaga Hutan ini" Jawab ia dengan penuh kegagahan.
"Baiklah kita sudahi dulu perbincangan ini mari kita makan bersama" Ucap Taka mengajak Astra untuk makan.
Astra kemudian mencabut Trisulanya lalu memutarnya selang beberapa saat air sungai memancar ke arah Taka, Danan.
"Taka awas ia bukanlah orang sembarangan" Ucap Danan sambil menghindari serangan itu.
Taka mengambil Pedangnya lalu menahan serangan air itu, sedangkan Danan melompat ke arah dahan pohon lalu mengarahkan panahnya ke arah Astra.
"Aku tidak akan melakukan ini jika kau sebelumnya meminta izin" Ucap Astra sambil terus memutarkan trisula di atas kepalanya.
"Baiklah jika ini mau mu" Ucap Danan yang kemudian menembakan anak panahnya ke arah trisula Astra.
Trisula itupun terlempar ke tanah dan air yang tadi menyerang Taka langsung jatuh ke bawah.
"Taka giliranmu" Teriak Danan di dahan pohon.
Taka lalu berlari ke arah Astra sesampainya di depan Astra ia langsung mengarahkan pedangnya ke arah Astra.
"Ini adalah akhirmu" Ucap Taka dengan wajah nada mengancam.
Astra hanya diam tidak menjawab.
"Namun aku nampaknya melihat impian yang kuat di hatimu" Lanjut Taka sambil menurunkan pedangnya.
"Aku sudah kalah, Bunuhlah aku" Jawab Astra yang kemudian duduk di depan Taka.
"Sebenarnya apa tujuanmu?" Tanya Taka.
"Aku ingin menemukan Trisula Nusantara selain itu aku ingin membuat peta Nusantara dan membuat buku Resep Masakan Nusantara" Jawab Astra.
"Tujuanmu hebat ayo ikut dengan kami" Jawab Taka sambil mengarahkan tangannya ke arah Astra.
"Kau ajak orang yang hendak membunuhmu?" Ucap Danan di belakang Taka.
"Tenanglah aku yakin ia tidak begitu" Jawab Taka yang kemudian berjalan kembali ke arah hasil buruan Danan.
"Sebagai permintaan maaf aku akan membuatkan masakan untukmu" Ucap Astra yang berdiri di depan danan.
Danan sambil menunjukan wajah tidak terima terhadap apa yang dilakukan Taka namun ia sadar ia harus menghormati pendapat Taka.
Astra hanya tersenyum sambil berjalan mengikuti Taka.
Selesai makan mereka langsung melanjutkan perjalanan ke arah yang Astra tunjukkan.
Mereka berjalan ke arah timur hingga sampai di sebuah gerbang desa.
"Ini adalah desaku, Ayo ikut aku kita akan pergi ke tempat aku tinggal" Ucap Astra di sebelah kiri Taka.
Desa itu layaknya seperti desa pada umumnya toko saling berhadap-hadapan.
Namun ketika beberapa langkah melewati gerbang desa mereka di kejutkan dengan sebuah kursi yang terlempar ke arah jalan dari arah toko sebelah kanan.
*suara Kaca pecah terkena Kursi*
Kemudian muncul seorang pria paruh baya berjalan ke belakang dengan penuh rasa ketakutan yang diikuti dengan seorang pria memegang pedang.
"Ampun...Ampun aku akan membayarnya sore nanti. Hari ini belum ada pelanggan" Ucap Pria itu.
"Berisik kau. Sudah seminggu kau belum bayar iuran!!" Ucap pria yang memegang pedang dengan nada tinggi.
"Ini adalah hari terakhirmu disini kakek tua!!" Teriak dia sambil mengayunkan pedangnya ke arah orang itu.
Namun pedang itu tiba-tiba terlempar akibat terkena panah DananJaya.
Dengan spontan pria itu langsung melihat ke arah darimana anak panah itu berasal.
"Tak kusangka si pengecut Astra telah kembali. Apakah kau sudah mendapatkan pusaka yang Tuanku cari?" Ucap pria lalu ia tertawa.
"Aku akan melaporkan ini pada bos" Ucap pria di sampingnya yang kemudian berlari menjauhinya.
Ketika Taka hendak melangkah Astra memberhentikannya.
"Biarkan aku saja yang melakukan ini" Ucap Astra sambil mengambil trisula yang ia simpan di punggungnya.
"Berani sekali kau" Ucap pria itu yang kemudian berlari ke arah mereka bertiga.
Ketika Astra hendak menyerang tiba-tiba pria itu terjatuh karena panah dari Danan.
"Sudah cukup gayanya kau lambat sekali" Ucap Danan.
Sedangkan para warga yang melihat kejadian itu termasuk orang yang tadi hendak di bunuh oleh pria itu hanya ketakutan.
"Astra kenapa kau melakukan ini?" Ucap salah seorang warga dari pintu tokonya.
"Kau membahayakan nyawa kami Astra" Ucap warga lain.
"Sebaiknya kita harus pergi ke rumah kakekku" Ucap Astra yang pergi dari sana.
Sesampainya di sebuah rumah.
"Astra akhirnya kau pulang. Ayo masuk" sambut seorang pria yang berdiri di depan rumah kemudian mengajak masuk Taka, Danan, Astra.
"Ayo...Ayo duduk" Ucap orang itu.
Merekapun duduk di kursi ruang tamu.
"Ini adalah kepala desa sebut saja pak kades dan pak kades ini adalah 2 orang pengembara" Ucap Astra.
"Yang ini Taka" Astra menunjuk ke arah Taka.
"Dan yang ini Danan" Astra menunjuk ke arah Danan.
Tiba tiba ketika mereka sedang berbicara seseorang mengetuk pintu.
"Pak kades..Pak kades" ucap pria yang mengetuk pintu dengan suara tergesa-gesa.
Pak kades lalu membuka pintu.
"Tenang..Tenang ada apa?" Tanya pak kades kepada pria itu.
"Astra telah kembali dan mengacau di gerbang desa hasilnya kelompok Aswa Membakar sebagian toko" Ucap Pria itu.
"Baiklah kita akan mencari jalan tengahnya" Jawab Pak kades.
Astra, Danan serta Taka langsung berdiri dan berjalan ke arah pintu.
"Tenang pak ini adalah ulahku dan aku siap bertanggung jawab" Ucap Astra sambil menepuk pundak pak kades.
Setelah mereka bertiga pergi menjauh pak kades serta seorang warga mengikutinya.
Sesampainya di pusat desa sudah terjadi kebakaran.
Seorang dari kelompok Aswa melihat mereka bertiga.
"Hey itu Astra" teriak salah seorang dari kelompok aswa yang sedang membuat kekacauan.
"Urusan ini kita selesaikan di tempat lain" Jawab Astra.
"Baiklah esok hari kau harus datang ke markas aswa jika kau tidak datang maka kau tidak akan pernah melihat kakekmu lagi." Jawab salah seorang dari kelompok itu.
"Baiklah" Jawab Astra.
Kelompok Aswa lalu pergi dari kekacauan itu sedangkan Astra, Danan, dan Taka dibantu para warga mencoba memadamkan api yang telah membakar beberapa toko.
Malam hari
Rumah kepala desa.
"Pak sebenarnya apa yang terjadi dengan kakek?" Tanya Astra.
"Minggu lalu kau dianggap gagal Astra dan kakekmu menyerahkan dirinya sebagai jaminan apabila esok kau tidak datang kakekmu akan di eksekusi sebagai contoh dari para penunggak pajak" Jawab Pak Kades.
"Sebenarnya siapa mereka ini?" Tanya Taka.
"Mereka adalah sekumpulan perampok yang memiliki nilai buronan diatas 50ribu golden Nusantara, Mereka sudah lebih dari 2 Tahun berada di desa ini" Jawab Pak kades.
"Kenapa kalian tidak melawannya?" Tanya Danan.
"Itu sama saja bunuh diri kelompok ini memiliki 4 orang terkuat yaitu ketuanya bernama jansen serta 3 orang lainnya" Jawab pak kades.
"Jika kita tidak bisa mengalahkannya kita tidak bisa berpetualangan, ini adalah rintangan untuk kita" Ucap Taka dengan wajah sedikit serius.
Setelah perbincangan itu mereka pun langsung tidur di tempat yang telah di sediakan oleh pak kepala desa.