"Tapi bahasan cermin ini membuatku jadi ingin bertanya. Kalau cermin bisa mempengaruhi energi, apakah aku yang orang biasa nih juga bisa merasakan pengaruhnya?"
"Tadi kau sendiri kan yang bilang punya perasaan tidak enak saat di sana. Itu berarti kau sudah langsung merasakan pengaruhnya." jawab Leonio singkat.
"Sebenarnya begini Reine. Setiap makhluk itu punya energi. Mau yang memiliki sihir atau yang tidak, semuanya pasti punya energi." Carmen menjelaskan. "Manusia, binatang, tumbuhan, segala sesuatu yang ada di alam memiliki energi. Tidak terbatas pada orang yang punya sihir saja." dia membelokan mobil. "Jadi bukan berarti karena kau tidak punya energi. Semua orang memilikinya. Hanya saja mungkin yang dapat kau rasakan hanya energi baik dan energi buruk. Saat orang merasakan energi baik, biasanya yang orang akan cenderung lebih bersemangat, pikiran cerah, dan lebih punya motivasi untuk melakukan sesuatu. Kalau yang dirasakan energi buruk, kau akan merasa lemas, waswas, takut, tidak bertenaga."
Reine mengangguk mengerti.
"Apa yang kau rasakan saat melihat cermin tadi?"
"Jujur saja, aku melihat cermin-cermin tua itu aku memang takut. Aku tidak tahu apa ada hubungannya dengan energi. Tapi di duniaku ada film horor yang menggunakan cermin sebagai semacam tempat tinggal untuk hantunya. Jadi selama cermin itu ada keturunan pemilik cermin bisa memanggil hantunya keluar. Mungkin rasa takutku tadi lebih karena teringat film horor itu."
"Hantu dari cermin?"
"Iya, film itu sangat terkenal waktu aku masih kecil. Cermin yang digunakan ya cermin-cermin tua seperti yang ada di hotel tadi. Cermin besar yang banyak ukiran, ada bentuk-bentuk kepala binatang atau pewayangan. Makanya tadi pas melihat itu di lorong, bawaannya takut. Tapi itu cerita fiksi sih. Harusnya aku tidak terlalu mempercayainya."
Leonio bergumam. "Bukan bermaksud menakutimu. Tapi hal seperti itu bisa dilakukan di sini."
Reine langsung menoleh cepat ke arahnya. Dia membuat ekspresi horor. Leonio sampai risih melihatnya.
"Maksudmu di sini ada hantu yang bisa keluar dari cermin?"
Reine tidak bisa bayangkan betapa mengerikannya hal seperti itu. Dulu saat dia nonton film saja sudah terbayang-bayang sampai tidur. Bahkan selama beberapa minggu, cermin besar yang ada di kamarnya dia tutupi kain kalau tidak digunakan.
"Tidak spesifik hantu. Tapi hal yang mirip seperti itu bisa." Leonio menjawab serius. "Ada teknik untuk mengubah cermin menjadi ruang penyimpanan. Mantranya dapat diberikan saat cermin masih mentahan yang belum diolah atau saat cermin selesai dibuat. Di zaman dahulu ada satu klan yang khusus mengajari seni sihir macam ini. Mereka sangat terkenal sebelum seni ini dianggap sebagai sihir berbahaya."
"Oh aku tahu itu. Guruku pernah bercerita padaku. Klan Mira bukan?"
"Benar. Klan itu sempat berada dalam masa jayanya saat pengguna kantong travel sihir belum diproduksi massal seperti sekarang. Cermin yang digunakan bisa cermin-cermin kantong biasa yang sebesaran telapak tangan. Para wanita menyukainya karena mereka bisa menggunakannya sebagai cermin biasa juga dapat menyimpan barang-barang kecil di sana."
"Permasalahannya kalau cermin itu pecah, barang yang di simpan di dalam tidak bisa dikeluarkan." tambah Carmen. "Makanya di masa itu orang-orang suka membawa tas leher kecil dari benang wol agar cerminnya tidak pecah karena terduduki."
Reine mencoba membayangkannya. Tapi keren juga kalau punya benda seperti itu. Multifungsi untuk orang-orang ribet sepertinya yang suka bawa banyak barang.
"Itu terdengar keren. Lalu kenapa dianggap berbahaya?"
"Ada orang yang menyalahgunakan fungsinya. Seseorang menggunakan cermin yang sudah diberi mantra untuk memenjarakan orang lain di dalamnya. Dia memecahkan cerminnya agar orang itu tidak bisa keluar. Dalam cerita, orang yang terjebak di dunia cermin itu berusaha keluar dengan mencari cermin-cermin yang terhubung keluar. Namun orang-orang mengira dia hantu yang bergentayangan. Saat seorang master cermin sihir berhasil mengeluarkannya, orang itu sudah sangat pucat seperti mayat dan mengalami gangguan mental. Dia tidak menjelaskan apa yang dia lihat di dalam. Tapi banyak orang berspekulasi kalau dia melihat dunia lain di sana. Dunia yang berbanding terbalik dengan dunia ini."
"Lalu pelaku yang menjebaknya?"
"Tidak berhasil ditangkap karena setiap ditanya siapa yang menjebak dia di cermin, orang itu selalu mengatakan nama-nama orang yang sudah meninggal. Karena hal itu orang-orang menganggapnya gila."
"Bagaimana kalau di dunia cermin orang-orang itu malah masih hidup?" tanya Reine. Siapa tahu hal seperti itu ada di dunia yang tidak mereka ketahui.
"Itu teori yang sama dengan yang guruku katakan. Secara teori cermin memiliki dua sifat saat bertemu energi. Pertama energi yang bertemu dengan cermin akan dipantulkan apabila objek yang berada di depannya tidak berdiam jangka waktu yang lama. Kedua energi akan diserap oleh cermin. Hal ini bisa terjadi saat satu buah cermin bertemu terus menerus dengan energi yang sama atau terpapar energi yang besar dalam jangka waktu lama. Jangka waktu lama bukan berarti kita harus terus menerus menghadap cermin. Tapi juga termasuk saat satu cermin konsisten digunakan terus menerus. Energi yang diserap ini akan mewujudkan visualisasi di dunia cermin. Kemungkinan yang dilihat korban adalah hasil visualisasi ini jadi dia bisa melihat orang-orang yang sudah meninggal. Sisa energi di saat hidup terakumulasi di sana jadi tetap ada wujudnya. Tapi karena cermin membuat pantulannya terbalik, maka di sisi dunia cermin, sifat orangnya berkebalikan dengan yang ada di dunia ini."
Reine mendengarkannya jadi merinding sendiri. Terperangkap di tempat asing dan bertemu orang-orang yang kau tahu sudah meninggal. Sudah begitu kepribadian mereka berbanding terbalik dengan yang kau kenal selama ini. Benar-benar mimpi buruk.
"Sangat disayangkan pelakunya tidak tertangkap. Tapi bukan karena kasus itu yang membuat seni cermin sihir dilarang. Kasus itu hanya membuat raja di masa tersebut mengeluarkan peraturan untuk cermin sihir tidak boleh lebih besar dari siku orang dewasa. Lebih dari itu pembuat dan pemakainya akan di penjara."
Tuan Guardian mengangguk membenarkan. Kasus orang yang terperangkap di cermin tidak langsung menyurutkan permintaan pasar akan cermin sihir untuk penyimpanan. Malah menimbulkan rasa penasaran yang tinggi terhadap dunia dibalik cermin. Demi mengontrol agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan, pemerintah mengeluarkan peraturan itu.
"Beberapa tahun setelah itu baru cermin sihir dilarang penggunaannya. Kau tahu karena apa?"
"Enn..."
"Aku tahu-tahu!"
"Ssstt, Tuan Guardian tidak boleh menjawab."
"Karena ada insiden lagi?" Leonio menggeleng. "Karena keluarga korban ingin balas dendam?" masih juga gelengan yang dia dapat.
"Karena kucing jahat." Milko menjawab.
"Uh oh! Keluarga kucing iblis." Reine berteriak.
"Aih, Milko pintar sekali." puji Leonio
"Hei, aku yang menjawab kenapa Milko yang dipuji."
Carmen memberi Milko sekotak s**u. "Untuk anak pintar yang bisa menjawab." Milko langsung bertepuk tangan senang.
"Aku tidak dapat? Upuy ah." rengek Reine.
"Habisnya kalau Milko tidak memberi petunjuk, kau tidak akan tahu kan." Carmen terkekeh saat Reine membuang wajah karena ngambek. Dia mengeluarkan sesuatu dari jubahnya. "Aku tidak punya s**u kotak lagi. Aku hanya punya permen."
Dengan senang Reine menerimanya. "Terima kasih."
"Harusnya kau tidak berikan. Dia akan makin hiper." komen Tuan Hunter.
"Hei, aku tidak begitu."
"Cermin sihir dilarang peredarannya lagi setelah Bong Hui membuat cermin pemisah roh. Cermin itu memakan lima korban dan menjadi cermin sihir paling berbahaya yang pernah dibuat."
"Lima? Aku dengar dua belas orang yang meninggal." kata Carmen.
"Kau dapat sumber dari mana?"
"Guruku, dari mana lagi kalau tidak darinya."
"Yang aku tahu, lima orang yang menjadi korban adalah orang-orang dari kuil utara. Satu orang penjaga pilar utara di masa itu dan empat pelayannya."
"Kalau versi yang guruku ceritakan ada tambahan tiga orang dari perguruan sihir gelap kumbang hitam, satu orang master cermin, dan sisanya teman-teman Bong Hui yang bertentangan dengannya." Carmen menggaruk hidungnya. "Di masa itu Bong Hui dikenal sebagai pelajar yang suka menimba ilmu ke guru manapun yang dia temukan. Dia bisa mempelajari teknik rumit pembuatan cermin sihir dan melakukan improvisasi adalah suatu pencapaian tinggi. Seandainya saja bukan digunakan untuk membunuh."
Reine sudah mendengar sedikit tentang Bong Hui. Seseorang yang ambisius menjadi kuat. Namun kecewa karena lawannya sudah meninggal sebelum dia bertarung untuk menunjukan kekuatannya. Pembuat Kristal Nekomata itu dikenal seorang prodigi yang pintar di masanya. Memang sangat disayangkan kalau benda-benda buatannya dipakai untuk membunuh. Kalau saja tuan ksatria yang ingin dia lawan masih hidup, dia pasti tidak akan selinglung itu.
"Tapi cermin itu sungguh bisa memisahkan roh dari tubuh seseorang? Jadi rohnya keluar dari badan?"
"Aku tidak pernah melihatnya langsung. Tapi dari catatan yang pernah aku baca ada dua teori. Ada yang bilang yang diambil cermin itu kesadarannya jadi korbannya tidak bisa sadar lagi karena titik kesadarannya diambil. Ada yang bilang rohnya benar-benar keluar dan tersedot masuk ke dalam cermin. Kalau mengingat teori energi yang sebelumnya bahwa cermin menyerap energi, aku akan lebih memilih teori pertama. Karena ada titik-titik di tubuh manusia yang mempengaruhi kesadaran. Jika titik itu dirusak, manusia sudah tidak akan lagi sadar."
"Kenapa tidak teori yang kedua?"
"Karena jiwa itu punya pelindung. Raga ini sebagai benteng pertahanan paling kuat yang dimiliki jiwa. Untuk mengeluarkannya tidak semudah mesin penyedot debu bekerja."
Reine masih tidak mengerti. "Tapi dia prodigi kan? Bukankah seharusnya bisa."
"Tuan Hunter, Anda tidak bisa menjelaskannya seperti itu." Carmen menggerakkan tangannya. "Misalnya begini ya, raga itu ibaratkan sebuah botol air. Rohnya kita bayangkan sebagai air yang ada di dalamnya. Nah untuk mengeluarkan air ini kita tidak bisa hanya dengan meletakkan botol itu di depan cermin kan? Kalau tidak membuka tutup botolnya kan tidak ada yang keluar. Hal itu juga sama dengan roh. Roh tidak bisa dikeluarkan begitu saja tanpa membuka tutup botolnya atau membuat lubang pada dinding botolnya. Kalau kau meletakan dirimu di depan cermin, roh mu tidak akan langsung tersedot masuk. Berbeda dengan energi yang ada di tubuh. Energi masih bisa ditarik masuk tergantung cermin sihirnya." jelas Carmen.
"Ah, aku sepertinya mengerti. Jadi selama raganya tidak rusak, jiwa kita juga tidak akan bisa ditarik."
"Tepat." Carmen mengangguk. "Tapi dalam legenda, orang-orang bilang korbannya hanya melihat pantulan cermin dan jiwanya langsung hilang. Aneh memang. Tapi namanya juga legenda. Teori tadi juga hanya teori. Tidak ada yang melihat cara kerja cermin itu kecuali korban."
"Korbannya juga sudah lama meninggal." tambah Tuan Hunter.
"Betul." Carmen mengibaskan tangan. "Tidak ada saksi yang melihat kejadian sebenarnya. Makanya legendanya jadi berbeda-beda tiap daerah." Dia melihat sesuatu di depan. "Ngomong-ngomong, aku rasa ada hotel di depan. Mau berhenti di sana?"
"Asal tidak hotel yang seram lagi aku oke."