"Jadi gurumu tidak ada di Desa Gorgon. Aku kira kalian lama di rumah itu karena sudah bertemu dengan gurumu atau setidaknya bicara dengan kenalannya. Ternyata malah ketemu masalah lain. Orang-orang itu bagaimana mereka tahu kita akan ke sana sih." gerutu Reine.
Carmen baru menjelaskan penyebab mereka lama di rumah itu.
"Sepertinya ada mata-mata yang terus memperhatikan gerak-gerik kita. Aku juga tidak menyangka perjalanan ini sampai bocor ke Keluarga Gi." Carmen bernapas lembut. "Mereka sangat kurang kerjaan."
Reine mengangguk setuju. Dia sendiri tidak mengerti jalan pikiran musuh dalam bayangan ini. Kalau memang benar ingin menghentikan mereka, kenapa mesti repot mengirimkan orang lain? Kenapa tidak langsung muncul saja di depan mereka dan bertarung? Ini sudah repot mengadu domba, bikin kekacauan di desa kecil. Terus orang-orang desa diubah menjadi zombie. Sebenarnya apa sih maunya?
"Lalu ke mana kita sekarang akan pergi?" Reine bertanya.
Sepanjang malam mereka mengikuti jalan panjang ini. Hanya Carmen saja yang sadar. Dia menyetir tanpa berhenti untuk istirahat. Sementara Tuan Hunter menyerah pada rasa kantuk dan memanfaatkan keberadaannya yang duduk di kursi belakang. Dia tidur begitu pulas. Sampai tidak merasakan jalanan rusak yang mereka lewati. Tuan Hunter pasti sangat lelah. Untung laki-laki itu tidak ngorok. Kalau ngorok, Reine akan menjadikannya bahan bully. Biar saja dia jahat. Hunter itu juga jahat dan menyebalkan. Tampangnya saja sok keren. Tapi kalau berhadpan dengan Reine, dia membuat kesal.
"Guruku sudah pergi sebelum festival lentera diadakan. Berdasarkan percakapan yang kulihat di ingatan Nyonya Ko, guruku pergi ke daerah tanpa salju."
"Eh, daerah tanpa salju? Memang ada ya?" bingung Reine. "Aku masih tidak mengerti geografis di Nekoroyaume dan sistem pembagian iklimnya."
Carmen tersenyum sambil menatapnya dari kaca spion.
"Tentu saja ada. Aku tidak tahu banyak tentang dunia manusia. Tapi kalau dari pelajaran yang aku dapat, secara geografis dunia Nekoroyaume dan dunia manusia tidak berbeda jauh. Kau sudah melihat hutan, gunung dan dataran rendah. Kau juga akan melihat ada gurun dan laut."
"Ah iya aku ingat. Nenek Leala pernah mengatakan hal seperti itu. Apa laut di sini juga berwarna biru? Aku ingin melihatnya. Sudah lama sekali aku tidak melihat laut." katanya dengan antusias.
Carmen terkekeh kecil. "Mungkin nanti kita bisa melihatnya. Di musim dingin begini memang daerah pantai tidak terkena salju. Kalau pertanyaanmu tentang warna laut, aku bisa katakan tidak semua laut berwarna biru. Ada yang berwarna merah muda airnya."
"Merah muda? Ya ampun, bagaimana bisa? Apa itu karena banyak cinta yang mengalir di sana?"
Perkataan konyol Reine membuat tawa Carmen meledak.
"Aduh Nona kau membuat perutku sakit. Tidak seperti itu. Warna airnya menjadi merah muda karena ada ganggang merah dalam jumlah besar yang hidup di sana." Carmen menjelaskan. "Kalau banyak cinta, yang ada nanti airnya putih kental dong."
Reine berpikir dulu lama tidak mengerti kenapa jadi putih. Saat dia menyadari ke mana arah pembicaraan mereka, dia menendang jok mobil tempat Carmen duduk.
"Ih Upuy menyebalkan. Itu menjijikan tahu! Kenapa kau malah berpikir ke arah situ. Aku sama sekali tidak ada maksud bercanda soal s... se."
"Ssssttt, ada anak kecil."
"Heh! Kau yang mulai!"
Suara berisik mereka membuat Tuan Hunter terbangun. Dia menutup telinganya dengan menaikan jubahnya. Masih ingin tidur lagi rupanya. Carmen memberikan gestur untuk tidak berisik dengan menempelkan jari ke bibirnya. Kucing yang baru dibangunkan dari tidur bisa jadi sangat galak. Apalagi Tuan Hunter yang biasa saja sudah galak.
"Psst, kau belum menjawab pertanyaanku. Kita akan ke mana?"
"Lihat saja nanti."
.............................................................................................................................................
Sekitar enam jam kemudian mereka akhirnya berhenti untuk istirahat. Carmen memberhentikan mobil di sebuah hotel kecil. Tempat itu memiliki banyak cermin yang membuat Reine takut. Cermin-cermin di pasang di kanan kiri dengan bentuk bermacam-macam. Mungkin kalau orang biasa akan merasa senang melihat cermin. Bisa berfoto atau sekedar merapikan penampilan. Tapi dia berbeda. Dia meriding.
Cermin-cermin di dinding hotel memiliki bingkai dengan ukiran yang menimbulkan kesan antik. Beberapa bahkan terlihat sudah sangat tua. Kacanya sudah buram agak kekuningan. Ada ukiran kepala naga, kepala elang, kepala ular dan lainnya di tiap cermin.
"Kita benar mau menginap di sini?" tanya dia ragu.
"Kenapa?"
"Uh, ini agak menyeramkan tidak sih." Reine mengusap tengkuknya. "Kalian tidak merasa aneh apa dengan cermin-cermin ini?"
"Mau dibatalkan? Kalau mau batal, kita masih bisa cari tempat lain." Carmen bertanya dengan tenang.
"Aku tidak bermaksud membatalkannya."
"Jika kau punya firasat tidak enak katakan saja. Belajar dari kejadian sebelumnya, kalau sudah punya firasat tidak enak sebaiknya mundur saja. Kemarin saat kita masuk Desa Gorgon dan melewati ular besar yang diawetkan, aku juga punya firasat buruk. Karena tidak mau yang lain panik, aku malah tidak berani mengatakannya. Saat firasatku terbukti, keadaan sudah kacau."
Carmen menatapnya lembut. "Katakan saja Reine jika ada yang tidak enak. Perjalanan kita masih jauh loh. Hari belum terlalu gelap untuk mencari tempat lain.
Reine menggigit bibir. Masalah dia bukan tentang firasat buruk. Dia hanya tidak nyaman dengan banyak cermin antik ini. Semua gara-gara film horor kuntilanak yang dia tonton sewaktu kecil. Masih terbayang jelas tembang dan adegan horor makhluk mistis itu keluar dari cermin tua.
"Bukan, bukan firasat buruk sih. Aku hanya tidak nyaman melihat cermin-cermin ini." jawabnya jujur.
"Takut?"
"Iya." dengan suara kecil.
"Carmen dan Leonio bertatapan. Mereka melakukan silent communication. Tempat ini sebenarnya sudah nyaman. Belum tentu mereka dapat menemukan tempat istirahat yang sepantar dengan harga yang sama. Namun demi menghindari kejadian tidak menyenangkan. Mereka sepakat membatalkan pesanan kamar. Karena uang sudah masuk, pembayaran mereka tidak bisa dibatalkan.
"Eh, tapi..."
"Sudah kita pergi."
"Tapi... tapi kalian sudah bayar. Tahu begitu kita menginap saja di sana." gerutu Reine.
Dia tidak menyangka dua laki-laki dihadapannya terlihat santai. Uang yang bisa dipakai untuk yang lain jadi melayang. Tetap saja seharusnya mereka mengembalikannya sekian persen. Dasar hotel nakal.
"Bisnis sedang tidak baik. Jangan terlalu dipikirkan masalah uang. Kita punya lebih dari cukup. Hotel itu sudah tua dan jarang ada yang wisata. Jadi biarkan saja." kata Leonio.
"Anggaplah sebagai amalan perbuatan baik. Kalau terlalu perhitungan, ujung-ujungnya akan menyakiti diri sendiri. Kalau sudah merasa tidak nyaman di sana ya tinggalkan. Daripada niat mau istirahat, malah tidak bisa tidur."
Benar sih yang dikatakan Upuy. Reine pasti akan kepikiran cermin-cermin di sepanjang lorong. Rasa waswas akan membuatnya tidak enak tidur. Sama saja tidak istirahat.
"Tapi sebenarnya meletakkan cermin sebanyak itu di satu lorong juga tidak bagus."
"Benar." Carmen mengangguk. "Cermin itu menarik energi positif. Jika dalam jumlah banyak malah akan menimbulkan energi negatif. Aku tidak tahu pemilik hotel penganut aliran apa sampai meletakkan cermin tua sepanjang lorong. Aku rasa keputusan pergi dari sana adalah keputusan yang bagus."
"Menarik energi positif? Jadi tidak boleh ada cermin begitu?"
"Dalam pelajaran ilmu sihir, cermin dapat digunakan sebagai alat sihir. Fungsinya yang memantulkan bayangan membuatnya dapat mempengaruhi energi. Cermin bisa menjadi pengarah energi baik atau energi buruk. Penempatannya mempengaruhi. Misalnya seperti tadi, sepanjang lorong ada cermin yang saling berhadapan. Penempatan seperti itu tidak disarankan karena akan mengacaukan energi dalam ruangan. Hasilnya akan menimbulkan energi negatif."
"Itu terdengar seperti feng shui."
"Oh manusia juga tahu ya. Bisa dibilang kami menggunakan ilmu itu untuk menempatkan cermin."
Reine cemberut. "Ribet sekali hidup kalian."
Tanpa mereka sadari, mereka baru saja terlepas dari kejadian buruk yang dapat menimpa mereka jika menginap di hotel tadi.