Leonio berjalan melewati Xion. Dia tidak mau menanggapi pertanyaan mage dari Klan Gi itu. Sudah jelas pemuda itu melihat dia bertarung. Kalau tidak percaya ya sudah.
"Hei! Hei, kenapa kau tidak menjawabku!"
Perubahan sikap ini terlalu signifikan. Padahal beberapa saat yang lalu, Xion termasuk ke dalam orang yang tidak banyak bicara. Leonio bahkan berpikir anak muda ini akan bertindak lebih dulu daripada bersuara. Kenapa sekarang jadi banyak bicara setelah terikat tadi? Pakai teriak-teriak lagi.
Leonio mau mengabaikannya saja. Tapi tangannya malah ditangkap. Dia itu mantan pasukan militer. Jadi saat ada orang asing menangkap tangannya, refleks pertama yang tubuhnya lakukan adalah memelintirnya. Dia bahkan membanting Xion ke tanah. Mata hunter itu membola saat tersadar apa yang dia lakukan. Kucing bertelinga abu-abu itu tidak ada keinginan untuk membanting Tuan Muda Gi.
"Argh! Kenapa kau lakukan itu padaku?"
"Maaf." katanya pelan.
Hunter itu bersungguh-sungguh. Dia memang kesal pada orang ini. Namun tidak ada keinginan untuk membanting tubuhnya. Refleks tubuhnya terlalu spontan memang. Agak membahayakan orang lain kadang-kadang.
Dia membantunya berdiri. Setelah itu buru-buru melepaskan tangannya. Dalam langkah cepat dia melompat ke atap rumah untuk kembali ke tempat yang lainnya. Xion yang masih kesal buru-buru mengikuti.
Mereka tiba di depan rumah Nyonya Ko lagi. Banyak tubuh-tubuh bergelimpangan. Carmen membuat diagram magis besar. Leonio tahu untuk apa dia melakukannya. Carmen sedang mengecek semua orang memastikan mereka masih hidup. Dia juga mempelajari teknik yang sama dari guru sihirnya dulu. Pada keadaan terjadi bencana besar, hal ini sangat efektif untuk memastikan korban. Muncul lingkaran di masing-masing kepala. Jika menyala hijau berarti hidup. Kalau merah berarti mati. Sejauh ini dia tidak menemukan warna merah.
"Kakak tinggi!"
Milko menubruk tubuhnya. Leonio langsung membungkuk mengecek anak itu. Milko sedikit pucat mungkin karena takut. Selebihnya tidak ada luka di tubuhnya.
"Kau tidak apa-apa?"
"Un. Reine dan Kakak senyum jaga Milko. Biru-biru juga."
Leonio tidak mengomentari panggilan baru yang ditujukan pada Nona Muda Kedua Gi. Gadis muda itu sibuk menatap Tuan Guardian yang sibuk dengan pandangan yang... ah sudahlah. Dia berharap orang seperti itu tidak mempengaruhi otak polos Milko. Bisa bahaya.
"Kau tidak apa?" Reine bertanya.
"Nona Liem. Anda terluka."
Leonio menatap luka cakar di tangan gadis itu. Cakar orang-orang tadi sangat tajam ternyata. Jaket musim dingin bahkan bisa dirobeknya.
"Ini hanya luka kecil."
"Kalau Anda ingat orang yang kita lawan tadi sudah terkena sihir jahat. Kita tidak boleh menyepelekan setiap luka yang ada. Goresan kecil sekalipun. Kita tidak tahu ada dampak negatif atau tidak terhadap tubuh." katanya penuh keseriusan.
Reine tentu takut. Dia menelan ludah takut. Dia mengizinkan Tuan Hunter memeriksa tangannya. Leonio mengirimkan energi spiritual ke lukanya. Melihat tidak ada reaksi negatif dia mengangguk.
"Apa ada lagi?"
"Uh... ada di kakiku." wajah Reine memerah melihat hunter itu langsung berjongkok. "Bi.. bisakah kita melakukannya di ruang tertutup."
Demi kupu-kupu kertasnya Owi, Reine itu pake rok. Memangnya dia tidak degdegan diperiksa laki-laki seperti ini. Di tempat umum lagi.
"Ke mobil."
"Un." angguk Reine cepat.
"Hei! Berhenti mengabaikanku!" Xion menghadang Leonio. "Kau Lord Iris Sabre?"
Hunter itu memberikan ekspresi wajah yang bilang 'apa kau bodoh?' tanpa menjawab verbal pertanyaan Xion.
"Lo... Lord Iris Sabre?!" kali ini suara Duxie yang berteriak.
Demi Dewa Adalard! Ada apa dengan semua kucing yang ditemuinya? Kenapa setiap mereka tahu kalau dia mempunyai saber ungu, semuanya kaget dan tidak percaya? Atau yang lebih parah, mencegatnya tidak boleh pergi sampai mendapat tanda tangannya. Sekarang tipe yang manakah dua orang keturunan Gi ini?
Leonio tidak mau tahu dan tidak mau peduli. Dia ingin pergi hidup tenang tanpa orang-orang aneh ini. Dia hanya seorang hunter biasa.
"Kakak, kau tidak salah?"
"Aku lihat dia menarik pedang itu. Bukan pedang, itu saber. Dia menghancurkan benda sihir jahat dengan saber besar bercahaya ungu."
"Cahaya ungu itu... dari... dari Lord Iris Sabre!"
Astaga i***t ini. Leonio sedang berusaha sabar. Prioritasnya sekarang mengecek luka Nona Liem, memastikan tidak ada kutukan yang menempel padanya. Leonio melirik pada Tuan Guardian. Mage berlesung pipi itu malah menertawakannya di belakang kedua pewaris Gi ini. Sialan!
"Kau masih muda?"
Pertanyaan yang terlalu sering ditanyakan. Oke kali ini Leonio punya keinginan untuk membanting orang di depannya. Sayang mereka cukup berjarak darinya.
"Kenapa memangnya? Ada masalah dengan itu? Tuan Hunter memang Lord Iris Sabre Tuan. Masih muda dan segar. Tapi dia sangat hebat. Kau lihat sendiri semua zombie ini berjatuhan karena kekuatannya."
Gadis ini makin membesar-besarkan api. Kenapa manusia ini jadi ikut-ikutan? Tidak bisakah dia diam dan tenang.
"Mohon minggir. Saya mau mengecek luka Nona ini di sana."
"Lord Iris Sabre, kenapa kau bisa bersamanya? Bersama wanita ini?" geram Xion.
"Kenapa kalian seperti punya masalah denganku? Memangnya apa yang kulakukan pada kalian?"
"Kau penyebab kekacauan di dunia ini! Kau pembawa sial!"
"Enak saja bicara. Jaga ucapan Anda Tuan. Aku bukan pembuat kekacauan. Bukan juga pembawa sial. Aku tidak terima kalian menuduhku yang tidak -tidak. Jika kalian ingin menuduh, kalian harus punya bukti."
"Kau menyebabkan guru kami terbunuh!"
"Memangnya siapa guru kalian!"
"Ehem Reine. Mereka berdua pewaris utama dari Klan Gi." bisik Carmen. Laki-laki itu sudah pindah ke samping Reine lagi.
Reine tentu terkejut. Dia tentu mengingat Klan Gi yang kata rumor orang-orang membenci dirinya. Tapi dia mengubah kembali ekspresinya menjadi kesal. Dia mencondongkan badan.
"Aku turut berduka atas apa yang terjadi dengan guru kalian. Tapi asal kalian tahu saja, saat guru kalian kecelakaan, aku sedang bedrest karena operasi lutut. Aku harus operasi karena insiden dengan monster kecoak di hutan Gerdinlix. Aku bahkan tidak bisa berjalan selama dua bulan karena itu. Bagaimana aku bisa berbuat jahat pada kalian? Tolong pakai logika kalian dan berhenti percaya dengan gosip!"
Reine masih belum selesai ternyata. "Kalau aku ingin membunuh orang, satu -satunya orang yang ingin kubunuh adalah yang membuat kekacauan di festival lentera. Jadi Nenek Leala tidak sekarat dan semua orang tidak menyalahkanku atas masalah yang tidak kumengerti! Jadi berhenti menatapku seolah aku penjahatnya!"
Tuan Guardian sampai bertepuk tangan. Dia salut Reine bisa berdiri di atas kakinya dan menghadapi kedua orang ini tanpa rasa takut. Sudah seharusnya orang yang benar melakukan hal ini. Jika memang tidak bersalah, jangan takut untuk menghadapi orang lain.
"Sudah selaesai? Sekarang kita cek lukamu."
Leonio menarik pundak Reine untuk berjalan bersamanya. Mereka menerobos dua orang itu. Milko berjalan cepat mengikuti. Paling terakhir Carmen. Tuan Guardian memberi hormat pada kedua keturunan Gi.
"Maaf merepotkan Anda. Tapi jika para warga terbangun saat Anda masih di sini, tolong jelaskan pada mereka apa yang terjadi. Saya permisi."
"Hei!"
Keempat orang itu masuk mobil. Kali ini Carmen mengusir Leonio dari kemudi dan menyuruhnya duduk di belakang. Sekalian mengecek kaki Reine. Milko jadi duduk di depan bersamanya. Carmen menyalakan mesin dan tancap gas untuk keluar dari desa. Meninggalkan kedua orang yang berteriak kesal pada mereka.
..............................................................................................................................
"Bersyukurlah tidak ada kutukan aneh yang menempel padamu."
"Benarkah? Jadi aman kan?"
"Kau hanya perlu memberikan antiseptik dan mengobatinya seperti biasa."
Reine berterima kasih. Dia merasa lega. Segera dia mengeluarkan perangkat obat dari tas ajaibnya dan mulai membersihkan lukanya.
"Reine, tolong kau cek kaki Tuan Hunter juga. Aku rasa kakinya belum sepenuhnya sembuh. Dia kesulitan bergerak tadi." kata Carmen.
"Eh benarkah? Kenapa kau tidak bilang? Sini!"
"Tidak perlu. Aku tidak apa-apa."
"Jangan pura-pura. Kau harus menjaga kesehatanmu. Kalau kau sakit ya bilang sakit. Tidak perlu sok-sokan kuat. Ingat kata Earl Centaurea. Kakimu itu cuma satu. Kalau rusak, tidak ada spare part-nya."
Leonio memutar bola matanya. Tapi akhirnya dia membiarkan kakinya diperiksa. Reine memintanya melepaskan sepatu bootsnya. Dia menggulung celana hingga bagian betisnya terlihat. Reine harus menyalakan lampu mobil agar terlihat jelas. Warna biru bercampur ungu menghiasi daerah pergelangan kaki. Ada beberapa luka baret besar yang mungkin bekas tersangkut pedal waktu itu.
"Bengkak." Reine menekannya merasakan bagian menonjol. "Sakit?"
"..."
Tuan Hunter tidak membuat perubahan pada wajahnya. Mungkin toleransi rasa sakitnya tinggi. Mungkin juga gengsinya tinggi tidak ingin memperlihatkan rasa sakit.
"Satu lagi juga lihat."
Tanpa banyak omong dia membuka sepatu lainnya. Kakinya tidak separah yang satunya. Namun sama biru memar. Reine berdecak kesal. Dia mengelap kedua kaki itu sebelum mengompresnya dengan kompres dingin. Sengaja menekannya keras.
"Biar kulakukan sendiri."
"Ih biar sini. Lagian kau bandel sekali. Lihat ini dua-duanya memar begini. Kalau tahu sejak tadi, tidak akan kuizinkan kau menyetir."
Leonio merebut kompress dinginnya. "Kenapa lagi harus minta izin darimu. Kaki juga kaki milikku. Aduh."
Reine memukul lengan hunter itu keras. "Agar kakimu tidak semakin parah. Diam!"
Mereka saling berebut alat kompress. Reine bahkan tidak sungkan untuk mencubit lengan Leonio dengan keras. Hunter itu menangkap tangan Reine agar gadis itu berhenti melakukan tidak kekerasan. Carmen yang menjadi supir cuma bisa geleng-geleng kepala sambil tertawa kecil. Sungguh dua orang yang sangat akrab. Milko menoleh khawatir melihat kedua orang itu berkelahi di kursi belakang.
"Abaikan mereka Milko. Mereka sedang bercanda. Nanti kalau lelah juga diam."
"Bercanda?" ulang Milko bingung. Kedua orang di belakangnya lebih terlihat sedang berkelahi dengan tangan. Reine juga terus menggerutu marah-marah sejak tadi.
"Hn." Carmen meyakinkannya dengan senyum. "Kalau Milko mengantuk tidur saja. Perjalanan kita masih panjang."
Milko mengangguk. Duduk di depan sangat berbeda dengan duduk di kursi tengah. Melihat jalanan putih di depan semakin membuatnya mengantuk. Dia mencoba mencari sandaran enak. Saat suara-suara di belakang berhenti, anak kucing itu sudah mendengkur halus.