"Karena Yoyo tidak bisa berbicara seperti anak-anak kucing lainnya."
Tubuh Reine langsung kaku mendengarnya. Matanya membesar dengan rasa tidak percaya. Rasa dingin dan takut langsung menjalar ke punggungnya. Kalimat yang diucapkan nenek Leala terasa sulit untuk dia cerna.
"Ti.. tidak bisa bicara. Dia bisu?"
Hanya kata itu yang terpikir olehnya. Reine masih memandang Nenek tidak percaya. Matanya takut tapi juga mencari-cari kebenaran lain di sana.
"Ah bukan yang seperti itu. Yoyo bisa bicara. Tapi tidak dalam bahasa manusia. Dia bicara dengan cara mengeong."
"Oh."
Perlahan Reine ingat saat pertama kali dia gedung itu. Dia mendengar suara mengeong dan wajah anak kecil di depan wajahnya. Reine tidak terlalu memperdulikannya dan lebih kaget dengan telinga dan ekor yang ada pada anak itu.
"Yoyo tidak bisa bahasa manusia tapi dia bisa mengeong. Eh tapi kan kucing mengeong Nek? Apa kucing lain tidak bisa menangkap arti suaranya? Tapi bukankah mereka semua pada dasarnya kucing? Aku tidak mengerti."
Nenek tersenyum melihat Reine dalam mode bingungnya.
"Pelan-pelan nak. Kau bertanya banyak sekali berentet seperti kereta." Nenek mengelus halaman buku yang sedang dipegangnya. "Hm, mungkin nenek harus menjelaskan ini dari awal. Jadi begini, setiap bayi kucing yang datang ke sini mereka masih dalam bentuk kucing. Mereka berkomunikasi dengan mengeong dan kosa kata mereka tidak banyak. Hampir sama dengan bayi manusia. Saat bayi-bayi ini telah berubah menjadi bayi manusia, mereka akan mulai belajar bahasa manusia. Mereka bisa mengeong dan berkomunikasi dengan itu. Tapi semakin besar keperluan untuk berbicara dengan mengeong akan semakin berkurang. Mereka akan berkomunikasi dengan bahasa manusia dalam interaksi sehari-hari jadi tak ada keperluan untuk menggunakan bahasa dasar itu."
"Kalau begitu mereka tetap bisa mengerti kan."
"Seharusnya." ujar Nenek sedikit sedih. "Kasus Yoyo agak berbeda. Dia tidak bisa bahasa manusia. Aku membantunya belajar, tapi dia terlihat kesulitan mengartikulasikannya. Dia mengerti yang kita bicarakan. Tapi tidak bisa membalas kata-kata kita. Nenek sudah membawanya ke dokter. Kata dokter kemungkinan sebelum Yoyo mati, dia pernah terkena penyakit berat atau trauma yang menyulitkan dia untuk berbicara. Masalahnya bukan pada jaringan saraf tubuhnya. Tapi lebih kepada psikisnya. Kemungkinan dia masih merasa belum aman hingga dia tidak bisa berbicara normal."
Reine merasa kasihan. Di dunianya memang tidak semua orang menyayangi kucing jalanan. Jika sakit atau trauma yang Yoyo alami di masanya hidup di dunia menyebabkan ini. Reine hanya bisa berharap ada cara untuk menyembuhkannya di sini.
"Nenek juga mencoba membawa Yoyo kepada ibu kucing yang biasa menangani bayi. Biasanya induk kucing akan mengerti arti mengeong bayi. Tapi ibu kucing itu mengatakan ucapan Yoyo sulit untuk dimengerti oleh mereka. Seperti seorang manusia yang berusaha menggunakan bahasa kucing tapi tidak memiliki arti apapun selain mengeluarkan suara yang membuat iritasi telinga." jelasnya sambil membuat wajah lucu.
Nenek pasti merasa geli sendiri mendengar penjelasan itu dari para ibu kucing. Dia dulu juga kadang suka mencoba mengeong untuk menangkap perhatian kucing yang dia temui. Tidak dia sangka kalau suaranya hanya berarti noise yang membuat iritasi telinga dipandangan kucing-kucing itu.
"Tapi... hanya satu kata yang benar-benar jelas di terima telinga mereka."
"Apa itu nek?" entah mengapa ekspresi nenek membuat jantung Reine berdetak kencang dengan takut.
"Tolong."
.....................................................
Pagi selalu datang dengan cepat. Reine menjalankan rutinitas barunya seperti biasa. Bantu Nenek di dapur, pergi ke gedung bayi mengecek persediaan s**u, membereskan cucian baju dan lainnya. Dia bekerja hampir autopilot dan terkesan normal di luar. Padahal pikirannya dipenuhi dengan pembicaraan dengan nenek semalam.
'Yoyo tidak bisa bicara. Biasanya di tempatku dulu orang yang tidak bisa bicara sementara disebabkan karena trauma. Oh apa itu sebabnya dia agak takut jika berhadapan denganku?' batinnya. 'Pasti ada sesuatu yang bisa kulakukan. Jika dia terus takut kepadaku aku...'
Lamunannya buyar saat mendengar suara nenek.
"Reine"
"Iya, Nek."
"Ada apa? Kau banyak diam hari ini."
"Aku hanya kepikiran Yoyo."
Nenek membuat ekspresi mengerti. Dia lalu memberinya sebuah mainan. Reine menatap mainan ditangannya, lalu menatap ke nenek lagi dengan bingung.
"Apa kau bisa memainkannya?"
"Aku rasa bisa sedikit. Apa nenek menyuruhku memainkan ini dengannya?"
Nenek mengangguk kecil. "Kau tahu nak. Yoyo tidak pernah benar-benar memainkan mainan itu sejak pertama kali dia mendapatkannya. Nenek pikir mungkin Yoyo tidak tahu caranya dan hanya suka bentuknya saja."
Dari perkataan nenek itu otak Reine bekerja. Dia menjadi bersemangat.
"Terima kasih nek. Aku akan coba bermain dengannya."
Reine pergi dengan cepat meninggalkan tempat cucian. Dia sepertinya lupa kalau cuciannya belum selesai. Nenek hanya menggelengkan kepalanya.
Anak-anak bermain di ruang main seperti biasa. Ada seorang ibu kucing yang mengawasi mereka sambil membuat rajutan. Reine melihat sekeliling mencari anak berambut coklat yang biasa duduk sendiri jauh dengan lainnya. Tentu saja dia sangat mencolok.
Reine hampir saja berlari ke sana sebelum teringat bahwa anak ini tidak akan baik jika dikagetkan. Jadi dia berjalan pelan mendekatinya. Dia menghentikan langkah dan menahan napas saat Yoyo merasakan kedatangannya. Mata bulat itu menatapnya waspada. Tidak mau semakin menakutinya, Reine memperlihatkan tangannya.
"Hai, kakak juga punya mainan yang sama dengan Yoyo. Lihat! Lihat!"
Reine mencoba memainkannya, masih dengan posisinya yang berjarak hampir satu meter dengannya. Dia menggulung tali benda itu. Mengaitkan satu ujung tali dengan jarinya. Lalu melemparkannya ke bawah. Mainan yoyo kayu berputar cepat sebelum dihentak untuk kembali ke atas.
Oh well, Reine tidak ingat bermain yoyo segampang ini. Rasanya dulu dia payah dengan yang seperti ini. Reine melirik dek Yoyo yang masih melihat tangannya. Jadi dia kembali melemparkan yoyo kebawah dan menarik lagi ke atas.
"Bagaimana hebat?" tanyanya dengan senyum.
Yoyo melihat ke arah wajahnya.
"Kita bisa bermain bersama. Bagaimana? Mau bermain sama kakak?" Reine bertanya penuh harap.
Yoyo melihat mainan ditangannya yang hampir selalu dia pegang. Dia terlihat berpikir. Bibirnya digigit, sebelum dia memutuskan berdiri dan pergi dari sana. Wajah penuh harap Reine langsung luntur kecewa.
Reine menarik napas menelan kekecewaan.
"Baiklah tidak apa-apa. Aku harus bersabar." katanya sambil menepuk-nepuk d**a*.
Reine punya kebiasaan baru sekarang. Dia akan memainkan yoyo di manapun dia berada. Saat di ruang bermain anak. Saat menemani anak-anak bermain di taman. Saat sedang menunggu cucian sampai selesai menjemurnya. Reine bisa merasakan kalau ada yang selalu memperhatikannya ketika dia memainkan benda silinder kayu tersebut. Mata anak kucing berwarna hijau milik Yoyo.
Yoyo si anak kucing masih sering bersembunyi dibalik tembok atau sofa saat melihatnya bermain. Hal itu terlihat lucu di mata Reine karena ekor dan telinga Yoyo akan terlihat menyembul seperti apapun dia sembunyi-sembunyi.
Hari ini Reine ingin memperlihatkan trik baru. Dia bekerja keras menyempurnakannya semalam sambil menghapal Nekorogrif. Dia ingin menunjukkan trik ini ke Yoyo.
Reine menunggu sampai semua anak sibuk dengan permainannya sendiri. Winwin sudah tak lagi mengganggunya dengan memperlihatkan gambar kreasinya. Anak itu asik bermain krayon di buku gambar besar. Reine mengeluarkan yoyo mainannya. Matanya melirik kanan kiri memastikan posisi Yoyo kucing. Dia mulai memainkan yoyonya seperti biasa. Merasa Yoyo sudah fokus melihatnya, dia melakukan gerakan melemparkan yoyo kebawah dengan tali jauh tanpa langsung menariknya lagi ke atas. Mainannya berputar di tempat. Kemudian dengan cepat mengambil titik tengah tali dengan tangannya. Melemparkan yoyo ke atas dan mengait tali atas dengan satu jari. Sementara telapak tangan dibawah yang membuka lebar. Tali yoyo membentuk segitiga sedangkan yoyonya sendiri masih berputar di tengah. Reine mendengar suara kaget dari posisi anak itu bersembunyi.
Saat dirasa putarannya hampir habis, Reine membuka formasi tangan dan kembali menghentaknya ke tangannya. Benda itu tergulung rapi ke posisi awal. Reine ingin menangis lega, triknya berhasil.
'oke sekali lagi.'
Reine mengulang gerakan sama. Kali ini dengan lebih tenang. Gerakannya lebih lancar dari pada yang awal. Saat mencoba melemparkan ketiga kali, dia melihat kaki kecil berada di depannya. Reine tidak mengatakan apa-apa. Dia melakukan trik yang sama. Saat posisi kembali segitiga, Reine menunjukannya pada Yoyo. Anak itu takjub dengan mata yang besar melihat yoyo kecil yang masih berputar di tengah segitiga itu.
"Mau belajar?"
Reine menggigit pipi dalamnya. Semoga kali ini Yoyo tidak kabur lagi karena takut. Reine merasa harapannya tinggi saat anak itu mengeluarkan mainan lalu mengulurkannya pada Reine.
"Boleh?"
Anak itu mengangguk. Reine menunjukkan caranya menggulung yoyo dan menyuruhnya mengaitkan ujung tali di jari. Anak kucing itu menggeleng. Dia malah kembali menyodorkan mainannya ke Reine.
'Eh, aku tidak mengerti. Kenapa?'
Yoyo cemberut saat melihat wajah Reine yang bingung. Dia bukan ingin diajari. Yoyo membuka mulut, lalu menutupnya lagi saat ingat dia tidak bisa bicara. Mengeong akan membuatnya jadi pusat perhatian jika melakukanya di sini. Yoyo mendorong mainannya ke tangan Reine. Hampir saja jatuh kalau Reine tidak langsung memegangnya.
'Mungkinkah? Mungkinkah Yoyo ingin aku memainkannya?'
Reine meletakkan mainannya. Dia mengambil milik Yoyo dan menggulungnya. Anak itu masih memperhatikan dan seperti menunggu. Saat tidak mendengar protes apa-apa, Reine memutuskan memainkannya, melakukan trik yang sama dengan yang tadi. Mata Yoyo semakin besar dan berkilau. Dia bertepuk tangan.
'Oh ya ampun. Dia kelihatan senang.'
Reine memainkannya beberapa kali sebelum mengembalikannya. Dia berjongkok kemudian mengelus rambut Yoyo.
"Kau senang?"
Yoyo mengangguk malu.
"Mau belajar?"
Dia diam lagi. Raut wajahnya yang sulit membuat Reine iba. Sepertinya dia tahu apa masalahnya. Anak ini tidak berani mencoba.
"Tidak apa-apa. Kakak tidak memaksa." Reine memutar otak lagi. " Bagaimana kalau main ular tangga? Yoyo tahu permainan itu?"
Yoyo mengangguk kecil.
"Ayo!"