Waktu makan malam masih dua jam lagi. Reine dan nenek sudah selesai membuat makan malam. Makan malam hari ini ada ikan bakar dan nugget ikan. Reine iseng membuatnya karena melihat tepung panir di dapur.
"Nek, Reine mau bantu di gedung bayi ya."
"Iya."
Reine berjalan lorong menuju gedung bayi. Hari menuju malam membuat langit berwarna lembayung yang cantik. Reine melihat kupu-kupu kertas berwarna putih berterbangan dengan apik di bawah langit sore. Mengikuti arah kupu-kupu itu, dia bertemu dengan Owi.
Owi si anak kucing berambut pirang dengan telinga dan ekor oranye. Reine bisa membayangkan wujud kucingnya adalah ginger cat. Kucing yang seluruh tubuhnya berwarna oranye atau sebutan umumnya kucing oren. Sejauh ini yang sangat terlihat memiliki bakat menyihir hanya dia dan satu anak lagi.
Reine memperhatikan Owi yang duduk melamun di bangku taman. Mata coklatnya menatap kupu-kupu yang dia terbangkan tapi tidak fokus. Wajahnya agak sendu, sangat tidak cocok dengannya yang bisa ceria.
"Hayooo, kecil-kecil lamunin apa sih sendiri di sini?" katanya dengan nada jenaka.
Owi yang kaget sedikit melompat dari bangku. Kupu-kupu kertas yang disihirnya langsung jatuh.
"Kak Reine...! Owi kan kaget."
Owi mengembungkan pipinya lucu.
"Kenapa sih anak cantik yang satu ini melamun?"
"Tidak kok. Owi tidak melamun." sanggahnya.
Reine melihatnya sangsi. Tapi dia tidak mau terlalu memaksakan. Jadi Reine mencubit pipi gembil Owi sampai yang punya memerah.
"Dari pada sendirian di sini, ayo ikut kakak."
"Ke mana?"
"Kita lihat dedek dedek bayi?"
"Bolehkah?"
"Bolehlah. Siapa bilang tidak boleh."
"Tapi nenek bilang Owi gak boleh ke sana."
Reine bergumam. Seingatnya tidak ada peraturan melarang anak-anak ke gedung bayi.
"Kenapa memangnya tidak boleh?"
"Kata nenek, bayi sensitif jadi tidak boleh."
"Oh, apa nenek tidak memperbolehkan Owi main sihir bersama bayi?"
"Un." jawabnya mengangguk.
Reine mencoba menimbang mana yang lebih baik. Dia bisa saja mengantar Owi kembali ke rumah utama. Tapi dari posisi ini akan lebih dekat ke gedung bayi. Lagipula Owi terlihat sedang bersedih. Tidak enak meninggalkannya sendiri.
"Bagaimana kalau begini. Owi ikut Kak Reine ke gedung bayi. Tapi di sana Owi tidak boleh pakai sihir, harus cuci tangan dengan bersih dan tidak boleh jauh dari Kak Reine. Nanti Owi bisa bantu kakak buat s**u di sana, mau?"
Mendengar kata s**u wajah Owi berbinar.
"s**u! Owi mau!"
"Nanti Owi kakak buatkan s**u. Tapi setelah selesai bikin s**u untuk bayi. Oke?"
"Oke!"
Mereka berdua bersama-sama pergi ke gedung bayi. Reine membantu Owi mencuci tangan di depan pintu masuk gedung bayi. Suara-suara bayi kucing yang sedang bermain terdengar dari dalam. Owi yang penasaran hampir saja berlari ke dalam setelah mengganti slipper ruangan. Untung Reine sigap dan langsung menangkapnya.
"Ayo mau ke mana? Katanya mau apa tadi?"
"Buat susu."
"Dan..."
"Tidak boleh jauh dari Kak Reine."
"Pintar." sambil mengusap hidung mungil Owi.
"Ayo ikut Kakak."
Owi termasuk anak golongan umur sembilan tahun. Karena itu Reine tidak memberikannya pekerjaan sulit. Dia hanya menyuruhnya mengaduk s**u. Walaupun terlihat mudah, semangat Owi membuat susunya tumpah. Owi langsung menunduk takut dimarahi.
"Tidak apa-apa. Kali ini pelan-pelan ya mengaduknya. Seperti ini."
Owi mengikuti contoh. Tapi gerakannya terlalu pelan khawatir ada tumpah setetes pun. Reine jadi gemas melihatnya. Daripada memperbaiki gerakan Owi, Reine memiliki untuk memujinya. Ekor Owi bergerak senang.
"Wah."
Owi melongo saat melihat bayi-bayi kucing. Reine mengajari cara memegang bayi kucing. Dia menaruh bayi kucing berumur satu bulan berbulu belang abu-abu. Owi memegangnya dengan dua tangan.
"Jangan terlalu keras ya. Nanti sakit dedek bayinya. Di sayang ya dedeknya."
"Wah, kecil sekali." katanya sambil mengelus bayi, menikmati bulu-bulu halus disepanjang tubuh si kecil.
"Iya, dulu kamu juga sekecil ini."
"Benarkah? Owi sekecil ini?"
"Tentu saja. Semua anak akan lahir sekecil ini sebelum menjadi sebesar Owi."
Owi membentuk mulutnya seperti huruf O. Dia mengangguk-ngangguk mengerti. Rambut pirangnya melompat-lompat lucu.
Saat ibu-ibu masuk, mereka masih di sana. Owi bertepuk tangan senang ketika melihat bayi-bayi mungil itu minum s**u dari pipa yang di sediakan. Bayi-bayi penuh semangat itu menjadi kalem.
"Halo Owi, membantu Kak Reine?" Monez datang malam ini. Dia memegang satu bayi yang agak sulit minum jika tidak dipegang.
"Un, Owi buat susu." katanya ceria.
"Oh, pintarnya. Owi sudah besar ya."
"Un, Owi sembilan tahun." katanya senang dengan menunjukkan lima jari di kedua tangan.
Reine tertawa kecil dan membetulkannya agar jumlahnya sembilan.
"Hebat. Owi sangat hebat dan pintar."
"Ah kalian di sini rupanya." Nenek Leala datang. "Ayo Owi kita makan malam."
"Owi mau susu."
"Aha, um nek. Reine tadi menjanjikan Owi susu." jelasnya malu.
"Baiklah. Tapi setelah makan malam ya."
Owi bersorak gembira, membangunkan beberapa bayi yang sempat tertidur setelah minum s**u. Suara tangisan membahana.
"Oopsie." kikiknya.
"Oopsie indeed."
.............................................
"Kak Reine."
Reine mengantar Owi ke kamarnya. Karena mereka makan paling terakhir, jadi banyak anak lain yang sudah duluan tertidur. Reine membantunya menggosok gigi dan mencuci kaki. Mereka ada di kamar Owi. Satu kamar berisi empat anak. Anak-anak lainnya sudah memejamkan mata.
"Iya Owi."
Mereka bicara sambil berbisik.
"Nenek bilang kita semua pernah hidup di dunia manusia. Apa Kak Reine ingat saat berada di sana?"
Reine duduk dipinggir tempat tidur kecil Owi.
"Iya, kakak ingat."
"Seperti apa di sana?"
"Hmm, tidak jauh berbeda dengan di sini. Langitnya berwarna biru dengan awan-awan putih yang mengumpal. Awan tidak berwarna-warni seperti di sini. Tumbuhan berwarna hijau, tapi ada juga yang warna lain. Yang tidak ada di sana hanya anak-anak manis dengan telinga kucing lucu seperti ini." Jelasnya dengan suara lucu sambil mengelus telinga Owi.
"Geli kak." sambil berusaha menjauhkan tangan Reine. "Di sana apa kakak punya adik?"
"Kakak tidak punya. Kakak anak satu-satunya. Tapi kakak punya tiga adik kucing manis. Mungkin jika mereka ada di sini, mereka akan sebesar Owi."
"Kenapa mereka tidak di sini?"
Reine bergumam.
"Salah satu adik kucing kakak, meninggal lebih dulu dari kakak. Jadi mungkin ada di sini atau di Catyzokan lain. Dua lagi tidak bisa di sini, karena mereka masih di dunia sana."
"Kenapa tidak diajak ke sini?"
"Belum saatnya mereka ke sini. Jadi kakak tidak bisa mengajaknya ke sini."
Reine tidak mengerti kenapa mereka membicarakan hal melankolis seperti ini. Dia jadi rindu Xiao Cing, Chimmy dan Milko.
"Owi ingat dulu Owi punya adik. Dua adik. Owi dan adik suka main bareng, minum s**u bareng, tidur bareng. Semuanya Owi bareng adik."
Reine mendengarkan dengan sabar sekaligus penasaran. Bisa dibilang ini kali pertama ada anak yang bercerita ingatan mereka di saat masih di dunia manusia.
"Tapi tempat Owi sering hujan. Terus banyak kucing besar yang galak. Mama Owi suka ngusir tapi mereka tetep nakal. Terus mata adik Owi jadi besar. Adik bilang sakit, gatal. Tapi mama jilat, mata adik Owi tetap gak bisa buka. gak sembuh juga. terus adik tidur sampai lamaaa sekali. Mama Owi bangunin, tapi adik gak bangun-bangun."
Reine bergumam dalam hati. Dia mengerti apa yang dialami Owi. Adiknya terkena konjungtivitis. Penyakit umum mata bengkak yang disebabkan bakteri. Bisa jadi juga penyakit yang lebih parah seperti tumor mata. Jika mata anak kucing itu sampai membesar dan menonjol keluar.
Reine pernah melihat salah satu anak kucing tetangganya mengalami itu. Reine sempat membersihkannya dengan cairan NaCL dan salep oxytetracycline hci. Sayangnya karena sudah terlalu parah, anak kucing itu tetap tidak bertahan lama.
"Berarti adik kamu sudah dibawa pulang sama Dewi Kucing ke sini."
"Jadi adiknya Owi di sini?"
"Hn, kakak tidak tahu. Mungkin saja dia di sini."
"Owi ingin bertemu. Jadi tidak cuma Owi yang main terbang-terbangan bola atau kupu-kupu kertas. Owi kangen adik."
Hatinya Reine berdenyut. Anak yang malam.
"Bagaimana kalau kita berdoa, semoga Owi dan adik Owi bisa bertemu."
" Jadi nanti bisa main sama Owi?"
"Iya. Sekarang pejamkan mata dan berdoa."
"Dewi Kucing yang baik. Owi ingin bertemu dengan adik Owi lagi. Ingin main-main lagi bareng adik-adik. Please."
Reine tersenyum sendu. Dia mengusap rambut Owi dan memperbaiki selimutnya. Dia mengucapkan selamat malam dan meredupkan lampu.
"Malam Owi, mimpi indah."