Bab 10 - Sad

1783 Kata
"Adiknya Owi?" Keesokan harinya Reine bicara dengan nenek. Dia menceritakan apa yang dituturkan Owi sebelum mereka mengucapkan selamat malam. Nenek mendengarnya dalam diam dan penuh perhatian. Setelah selesai mendengar cerita, raut wajah nenek berubah sedih. "Nenek sendiri belum pernah mendengar langsung dari Owi. Dek Reine pasti sangat baik dalam berinteraksi dengan anak-anak sampai mereka nyaman menceritakan masa lalunya." Reine tersipu malu. "Ti... tidak juga nek. Reine hanya menemani dan mendengarkannya saja. Cerita atau tidak cerita, itu tergantung pada mereka. Nenek jangan membuatku malu." Nenek tersenyum kecil melihat reaksi Reine. Gadis muda itu sangat tidak tahan dengan pujian, walaupun pujian kecil. Sedikit saja dipuji, pipi gadis itu langsung semerah tomat. Nenek Leala mungkin baru sebentar mengenal Reine. Tapi di matanya Reine sangat baik, perhatian, dan lembut juga membuat nyaman. Wajar baginya anak-anak cepat beradaptasi dengannya bahkan sampai berani bercerita. Benar-benar pantas untuk mendapat pujian bukan? "Owi hampir satu tahun di sini. Dia datang sudah dalam wujud anak kecilnya yang sekarang. Kemungkinan dia meninggal saat berumur sekitar tiga atau empat bulan." jelasnya. "Dengan umur sangat muda dan bisa mengingat masa hidupnya di sana, itu sangat luar biasa. Biasanya anak-anak akan melupakan masa lalunya. Apalagi jika itu berhubungan dengan hal yang tidak menyenangkan." "Apa ada hubungannya dengan kemampuan sihirnya?" "Mungkin." Nenek mengelap tangannya yang selesai mencuci piring. "Mungkin juga tidak. Bisa saja anak lainnya yang tidak punya sihir signifikan seperti Owi mengingat masa lalunya. Jadi otaknya tetap menyimpan ingatan itu dan suatu saat membawanya ke permukaan." Alis Reine berkerut. Penjelasan nenek masuk akal. Hal-hal yang berhubungan dengan ingatan dan trauma sangat rumit untuk dijelaskan. Reine semakin merasa penasaran dengan sistem dunia ini. Jika mereka bisa membawa ingatan dari masanya di dunia, apakah itu akan berpengaruh pada kepribadian mereka sekarang? Owi dan Yoyo adalah anak dengan dua kasus berbeda. Owi bisa mengingat masa lalunya dan bereaksi dengan baik. Dia masih bisa tertawa di saat jam bermain. Tapi dia bisa melamun dan merasa melankolis. Dia bisa bercerita dengan tenang semalam. Tidak terlarut dengan kesedihan dan masih bisa memiliki harapan. Sedangkan Yoyo, anak itu menjadi pendiam dan tertutup. Sangat berhati-hati pada orang lain. Dia mengisolasi diri dari yang lain untuk melindungi dirinya sendiri. Setidaknya sekarang ada kemajuan saat Reine mencoba menarik perhatiannya. Jika dia bisa memberikan kepercayaannya pada orang lain, rasa percaya itu pasti sangat besar. Jika sampai ada yang menyalah gunakan kepercayaan itu, perasaan anak itu bisa hancur. Reine harus bisa menjaga kepercayaannya. "Kalau begitu nek, apa bisa kita mencari adiknya Owi? Mereka pasti sudah lebih dulu ada di dunia ini." Nenek menghela napas berat. "Begini nak. Sejujurnya untuk mencari ini anak siapa, saudara siapa, atau kerabat siapa itu pekerjaan sulit. Bukan tidak mungkin, tapi sangat sulit. Apa adiknya Owi punya nama saat berada di dunia manusia? Apa dia punya ciri-ciri khusus? Apa dia tahu umur berapa dan sebesar apa saat mereka meninggal? Jujur saja Reine, ditempat ini saja ada ratusan anak yang tidak punya nama saat mereka tiba. Banyak diantaranya berwarna sama. Bahkan kadang nenek pun sulit membedakannya saat mereka masih bayi. Belum lagi saat sudah berubah menjadi manusia, yang terlihat warna bulunya hanya telinga dan ekor mereka. Nenek tidak ingin mengecilkan hatimu. Tapi kau mengerti maksud nenek kan?" Bahwa pencarian hanya akan menjadi tindakan melelahkan dan sia-sia tidak diucapkan langsung oleh nenek. Tapi Reine dapat memahaminya. Mencari seseorang tanpa nama dan ciri-ciri hanya akan membuat dia lelah. Bahkan jika bertemu seseorang yang mirip pun belum tentu benar mereka bersaudara. 'Berarti pencarian Milko pun mungkin akan sama.' batinnya sedih. 'Dia menemuiku di mimpi terakhirku untuk mengucapkan salam perpisahan. Apa jika aku terus mencarinya sekarang, aku malah akan mengusik ketenangannya? Bagaimana jika dia tidak mau mengingat masa di dunia manusia? Tidak mau mengingatku yang pernah merawatnya sebentar? Mungkin dia juga benci padaku karena tidak bisa merawatnya dengan baik. Jika semua ingatan pahit itu dilupakan Milko, bukankah akan lebih baik untuknya menikmati dunia ini?' Reine tidak bisa menahan rasa sedih di hati. Pembicaraan ini seakan menyadarkannya akan kemungkinan lain di dunia ini. Kucing-kucing ini hidup untuk mendapatkan hal yang lebih baik. Kehidupan yang lebih baik dari pada di dunia manusia. Mereka bisa menikmati kehidupan tanpa beban ingatan di dunia lain. Mungkin ada beberapa yang ingat. Tapi Reine yakin itu bisa menjadi memori lama yang tertimbun di kenangan. "Reine?" Suara nenek terdengar prihatin. Reine diam cukup lama dan menunduk. Dia tidak sadar jika air matanya sudah mengalir. Reine tertawa kecil dan mengusapnya dengan tangan. Sayangnya air mata itu tidak langsung mengering dan malah bertambah. "Ah, nek. Aku lupa harus mencuci pakaian. Aku... aku akan ke sana sekarang." "Reine!" Reine dengan cepat pergi keluar dari dapur. Tidak ingin menunjukan kesedihan ini dihadapan nenek. Meskipun dia tahu nenek tidak akan mengoloknya karena menangis, tapi dia tidak bisa. Nenek pasti akan berpikir jika kata-katanya telah menyakiti Reine. Padahal kenyataannya pembicaraan ini telah membuka kebenaran yang selama ini Reine hindari. Bahwa sesungguhnya pencarian Milko tidak akan membuahkan hasil. ............................................................................................................................ Yoyo sedang menggelindingkan mainannya yoyonya. Dia masih juga tidak berani memainkannya dengan tangan seperti yang diajari oleh Reine. Hari ini matahari sedang bagus dan awan-awan merah muda sangat lucu di langit. Anak-anak diperbolehkan bermain di taman samping Catyzokan. Yoyo seperti duduk sendiri di salah satu bangku duduk taman yang terbuat dari batu. Dia menatap anak-anak lain yang berlari-larian bermain petak jongkok. Ada beberapa yang bermain pasir juga perosotan. Yoyo hanya diam sambil menggoyang-goyangkan kakinya menunggu seseorang. "Yoyo sendirian?" Yoyo terlonjak saat mendengar suara orang lain. Dia menengok ke kanan dan menemukan anak perempuan berambut pirang yang jarang berinteraksi dengannya. Anak populer yang selalu dikerubungi anak lainnya. Yoyo menggenggam mainannya erat. Dia sudah berpikir untuk pindah dari sana. "Hei tunggu! Owi tidak bermaksud menakuti Yoyo." Yoyo tetap berjalan cepat. Tapi Owi melompat kehadapannya untuk menghentikan. Yoyo menggigit pipi dalamnya. Dia berbelok ke arah lain. "Yoyo, Owi hanya ingin bertanya. Apa Yoyo lihat Kak Reine?" Yoyo menghentikan langkahnya dan menoleh sedikit. Di kepalanya dia bingung kenapa Owi bertanya padanya. Mungkin ada sesuatu dari ekspresi Yoyo yang membuat Owi berkata cepat. "Owi tidak melihat Kak Reine dari tadi. Owi pikir Yoyo tahu karena Kak Reine suka menemani Yoyo." Yoyo mengerjapkan mata. Dia juga sempat berpikiran hal yang sama. Biasanya Kak Reine akan mengawasi mereka bermain karena hari ini tidak ada ibu kucing yang mengawas. Kak Reine tidak mendekatinya jadi Yoyo pikir dia bersama yang lain. Tapi saat memandang sekeliling, tidak ada Kak Reine di taman. Owi terlihat menunggu jawabannya. Yoyo hanya menggeleng tidak tahu. Bahu Owi langsung turun kecewa. Hal yang tidak biasa dilihat dari anak sehiperaktif Owi. "Owi pikir Yoyo tahu. Owi mau minta izin main ke gedung bayi lagi." Hal ini menarik perhatian Yoyo. Setahu Yoyo ada peraturan untuk anak besar tidak boleh ke gedung bayi. Lalu kenapa Owi mau ke sana? Tapi tadi Owi berkata 'lagi', berarti dia sudah pernah ke sana. "Baiklah, Owi main saja. Bye bye Yoyo." Owi melompat-lompat ringan dalam langkahnya seperti tidak ada yang terjadi. Dia juga mengeluarkan mainan kertas yang dia terbangkan dengan sihirnya. Rasa tegang di badan Yoyo sudah reda. Sekarang dia kembali melihat mainan yoyo ditangannya. Hari ini Kak Reine tidak mengajaknya bermain, mungkin dia sibuk dengan hal lain. Mungkin juga dia bosan. Yoyo akhirnya memilih kembali ke gedung utama untuk minum, walaupun ada pancuran air minum di taman. Rumah utama sepi dari anak-anak. Biasanya anak-anak senang jika sudah diberi kesempatan main keluar. Bagi yang introvert pun mereka menggunakan kesempatan ini untuk menikmati udara luar dengan duduk di gazebo terbuka. Yoyo tadinya hanya ingin menikmati matahari karena kata nenek matahari bagus untuk pertumbuhan. Tetap saja main sendiri tidak seru. Dia sering ingin bersembunyi saja di kamar untuk tidur lebih. Lagian energinya tidak sebesar energi anak-anak lain yang harus dihabiskan agar mereka lelah. Yoyo mengambil gelas kayunya. Tidak menggunakan beling agar kalau jatuh ke lantai tidak pecah. Yoyo menekan mesin dispenser dan menunggu air keluar. Dia meneguk air dingin hingga suara glukgluk terdengar. Yoyo meletakkan gelasnya di meja. Dia ingin pergi ke ruang baca untuk melihat buku bergambar. Suara isak tangis membuat telinga kucingnya bergerak. Suara tangis perempuan. Yoyo tentu tidak mengenal kuntilanak di dunia manusia. Jikapun pernah melihat, dia mungkin tidak akan berpikir ke sana. Ini masih terlalu siang untuk ada kuntilanak yang datang. Yoyo biar pendiam juga tetap punya rasa penasaran seekor kucing. Jadi dia mencari arah datangnya suara itu. Arahnya ternyata dari ruang baca. Semakin dekat suara isak tangis itu terdengar seperti di tahan. Seperti saat kau ingin berhenti menangis tapi terlalu sakit untuk mencoba, jadi kau membekap mulutmu sendiri untuk menahannya. Di antara lorong rak buku, ada seseorang yang duduk bersembunyi di pojok. Yoyo tentu mengenalinya. Satu-satunya manusia lain selain nenek di sini. Yoyo berjinjit untuk mendekat. Dia mengintip di balik rak. Ini pertama kalinya dia melihat Kak Reine menangis. Biasanya kakak cantik itu akan selalu tersenyum dan berkata lembut. Wajah menangisnya membuat hati Yoyo tidak nyaman. Anak kecil itu menggigit bibir. Dia sedang berpikir apa yang harus dilakukan. Tidak ada nenek di sini untuk dimintai pertolongan. Mungkin dia harus mencari nenek untuk membantu. Tapi dia tidak ingin meninggalkan Kak Reine sendirian di tempat sepi ini. Karena sendirian di tempat sepi rasanya tidak enak. Yoyo menggaruk hidungnya. Anak itu melirik lagi ke arah Reine yang masih tidak menyadari kehadirannya. Yoyo kemudian melihat lagi ke tangannya yang masih memegang mainan. Sedikit keberanian muncul di dadanya. "Meow." Yoyo mendekati Reine perlahan. Kaki kecilnya nyaris tidak bersuara. Tapi karena Yoyo mengeong, Reine jadi menaikkan wajahnya dari lipatan tangan. "Oh, halo Yoyo." Reine buru-buru mengelap wajahnya dengan tangan. Suaranya sedikit parau dan tidak stabil. "Meow." Yoyo sekarang berada di depannya, mengeluskan kepalanya seakan dia kucing biasa dan tidak dalam wujud manusia. "Ah, Kakak tidak apa-apa. Ini cuma kelilipan biasa." Tidak ada yang akan percaya apalagi dengan Reine yang sedikit-sedikit menarik ingus. "Meow." Yoyo berjinjit, bermaksud menjilat wajah Reine yang basah. Kucing biasanya tidak senang menjilat manusia. Itu pekerjaan anjing. Tapi Yoyo rasa itu adalah hal yang tepat untuk dilakukan sekarang. Sekali jilatan, rasa asin aneh menyebar di lidahnya. "Hei, hei! Sudah." Reine mendorong kecil. Yoyo cemberut masih merasa tidak puas. Dia naik ke paha Reine tanpa ancang-ancang. Reine segera memegang pinggangnya. Yoyo masih berusaha menjilat pipinya. "Oke... oke aku mengerti. Sudah Yoyo, sudah. Ini geli." Lidah kucing tetaplah lidah kucing yang kasar. Rasanya agak geli-geli aneh dijilat seperti ini. Karena Yoyo masih tidak berhenti, Reine akhirnya menarik badan kecil Yoyo untuk dipeluk. Bau kayu manis semerbak dari sela-sela rambutnya. Reine mengusap kepala anak itu sayang. "Terima kasih sudah menghiburku Yoyo. Kamu anak baik." Telinga kucing Yoyo berkedut sedikit. Tapi ekornya belang abunya bergerak senang. Pujian ringan ini disukainya. "Sebentar saja. Biarkan kakak seperti ini." bisik Reine lirih. Yoyo kembali mengeluskan kepalanya ke dagu Reine memberi persetujuan. Yoyo tidak masalah jika Kak Reine yang memeluknya. Pelukan Kak Reine hangat dan menenangkan. Mereka diam seperti itu untuk waktu yang agak lama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN