Reine menghela napas dalam berkali-kali, membuat suara menyebalkan bagi yang mendengarnya. Jika saja ibunya berada di sini, ibunya pasti menceramahinya untuk berhenti melakukan itu. Sesuatu yang familiar dengan hal sangat tidak berhubungan.
"Kau menghela napas seperti itu, rezekimu nanti akan hilang."
Sampai sekarang Reine masih tidak menemukan korelasi antara napas da rezeki. Bernapas ya bernapas saja. Kesal ya kesal. Sedih ya tunjukan. Lelah ya sudahlah. Tidak ada hubungan dengan rezeki.
Reine bukan tidak takut kehilangan rezeki. Dia hanya dalam kondisi emosional yang agak rapuh. Setelah cukup menangis, dia merenungkan banyak hal. Termasuk cara dia bersikap.
Reine menyayangkan dirinya yang kelepasan menangis. Perkataan nenek bukan sesuatu yang perlu dia tangisi. Karena semua yang nenek katakan ada benarnya. Seharusnya dia berpikir rasional dari pada terbawa emosi.
Sekarang dia lelah bahkan untuk sekedar tersenyum. Emosi hatinya masih tipis dan goyah. Jika bertemu anak-anak, dia takut akan mempengaruhi mood mereka. Anak-anak biasanya peka dengan suasana hati orang dewasa. Kecuali kalau mereka tidak peduli.
Reine hampir melamun saat membuat sup. Nenek melihat ekspresi wajah Reine dengan khawatir. Dia mungkin merasa bersalah telah menyinggung hal sensitif seperti itu.
"Reine..."
"Iya Nek."
"Nenek minta maaf."
Reine menggeleng. "Nenek tidak salah apa-apa."
"Reine..."
Gadis dua puluh lima tahun itu kembali menghela napas. Kali ini wajahnya sedikit basah oleh uap air. Tapi sorot matanya masih sedih.
"Aku tidak apa-apa nek. Bisakah kita tidak membahasa ini dulu?"
'membahas hal sensitif yang berhubungan dengan kemungkinan aku tak akan pernah bertemu anak kucingku lagi atau kucing-kucing lainnya yang pernah ku kenal. Kenyataan bahwa apa yang kuharapkan percuma. Bahwa aku hanya berpegang pada angan-angan yang sia-sia. Pada kesedihan yang masih seperti luka di d**a dan tidak bisa disembuhkan.'
"Jika itu yang Reine inginkan." jawab nenek.
Reine hanya bergumam sebagai jawaban. Tangannya kembali sibuk memasukan bahan-bahan. Kenyataan bahwa apa yang dia masukan ke panci itu sebagian besar umbi-umbian tanpa ada rempah-rempah di dalamnya membuat Reine berpikir bagaimana sup ikan ini masih enak tanpa rempah-rempah.
Jam makan malam tiba, anak-anak masuk ruang makan dengan ceria. Reine berusah bersikap seceria mungkin seperti biasa. Dia membantu anak-anak makan sambil sedikit menyuap makanan ke mulutnya. Owi bahkan bersikap manis dengan ikut menyuapinya.
Malamnya anak-anak kembali ke kamar masing-masing dengan teratur. Kadang Reine masih bingung kenapa kucing-kucing ini tidak menjadi makhluk nocturnal di malam hari dan memilih tidur selayaknya manusia. Sebenarnya peraturan dunia ini seperti apa? Reine masih belum bisa menemukan kejelasannya selama dia belum lancar membaca tulisan dunia ini.
Reine berbaring miring menghadap tembok. Matanya masih terbuka dan belum mengantuk walau hatinya lelah. Pikirannya masih ke mana-mana. Bergulir kembali ke masa-masa dia masih berada di dunianya. Hari pertama dia membantu kucing melahirkan. Hari pertama dia memberanikan diri memegang bayi kucing yang matanya belum terbuka. Konon katanya bayi kucing yang baru-baru lahir tidak boleh disentuh tangan manusia. Karena takut induk kucingnya tidak mau lagi mengurus anaknya setelah dipegang manusia. Tapi untungnya induk kucing itu, "Mommy" sebutan yang diberikan Reine padanya, tidak menelantarkan bayinya setelah Reine memegangnya, Mungkin karena Mommy sudah hapal bau Reine.
Tiga bayi kucing mungil yang belum membuka mata bisa dia tangkup di tangannya. Dia ingat saat mereka mulai mencoba berjalan dengan kaki gemetar. Saat mereka memanjat gorden jendela hingga gordennya rusak. Diantara tiga anak kucing itu hanya Milko yang tidak pernah sampai ke atas. Milko selalu menyerah di tengah jalan. Milko yang akan berteriak memanggilnya saat dia ketakutan untuk naik ataupun turun.
Reine memejamkan matanya. Dia seharusnya tidak mempersulit diri dengan ini. Mengingat masa lalu yang tidak akan bisa dia kembalikan. Reine mencoba merilekskan tubuhnya untuk tidur. Suara kenop pintu dibuka membuat dia membalikkan badan.
"Yoyo?"
Anak kucing dengan piyama coklat menyembulkan kepala ke dalam ruangannya. Wajahnya terlihat agak pucat walau dalam keremangan malam. Yoyo mengintipnya dan tidak bergerak lebh jauh selain membuka pintu. Mungkin dia menunggu izin dari pemilik ruangan.
"Apa Yoyo bermimpi buruk?"
Yoyo hanya mengerutkan alisnya tidak mengangguk atau menggeleng. Reine menganggap itu sebagai jawaban ya. Jadi gadis itu mengajaknya masuk ke kamar.
"Mau tidur di sini sama Kakak?"
Yoyo mengangguk yakin. Reine membuka selimutnya dan mempersilakan Yoyo naik ke tempat tidurnya. Hari ini Yoyo telah membantunya meredakan tangisan. Sudah sepantasnya Reine menenangkannya saat dia takut dengan mimpi buruk.
Anak kucing itu menyusupkan tubuhnya dipelukan Reine, menduselkan kepalanya ke dagu. Tangan Reine melingkar ke punggung anak itu untuk mengelusnya. Dia tidak pernah tidur dengan orang lain biar anak kecil sekalipun. Tapi detak jantung Yoyo, detak jantung kucing yang sangat cepat itu terasa aneh ditangannya. Tubuhnya hangat menenangkan. Reine tersenyum tipis mengingat sesuatu. Dia memilih mengelus kepala anak itu sayang sampai dia tertidur. Setidaknya dengan begini pikirannya tidak penuh dengan masa lalu yang membuatnya sedih.
........................................................................................................................
Ada banyak hal yang belum diketahui Reine sejak datang di dunia kucing. Selain karena dia hampir setiap hari sibuk membantu nenek di Catyzokan. Dia juga hampir tidak pernah berjalan keluar kecuali ke taman. Sudah begitu tidak ada yang mengajaknya berkeliling. Jadi ketika nenek mengatakan membutuhkan bantuan untuk mengantarkan sesuatu, Reine dengan semangat mencalonkan diri.
"Ini obat untuk sakit flu dan radang. Ingatkan Mama Chio untuk meminumnya setelah makan. Wanita itu sering sakit tapi tidak pernah mau ke dokter sendiri. Jadi nenek memberinya obat. Reine yakin bisa mengantarnya? Rumahnya lumayan jauh."
"Tenang saja nek. Aku harus belajar untuk mengenali daerah ini. Aku belum berpergian jauh selama ini. Nenek sudah membuatkanku peta. Nanti berjalan pelan-pelan pasti juga sampai."
Seandainya Reine bisa meminjam ponsel nenek yang memiliki GPS pasti akan lebih menenangkan. Tapi sayangnya ponsel itu satu-satunya alat penghubung di sini dan suka berdering menandakan panggilan masuk. Kebanyakan isinya orang-orang berkepentingan yang hanya bisa nenek pegang. Reine masih tidak yakin orang berkepentingan seperti apa selain dua dokter hewan, satu dari departemen s**u dan satu dari departemen makanan yang sering menghubungi nenek. Tapi karena nenek bilang mereka orang penting ya Reine terima saja.
"Ajak Yoyo ya. Dia tahu jalannya ke sana. Nenek pernah mengajaknya beberapa kali sebelum kau datang ke sini."
"Memangnya tidak apa-apa nek?"
"Oh dia akan baik-baik saja. Malah dia pasti akan sangat senang. Yoyo anak yang pintar. Dia sudah hapal jalannya. Tapi nenek tidak berani memintanya sendirian ke sana. Yoyo masih terlalu kecil."
Reine bukan meragukan kemampuan Yoyo. Dia hanya tidak pernah melihatnya melakukan aktivitas lain selain duduk dan memegang mainannya. Tapi jika dipikir lagi, berjalan sendiri tidak akan menyenangkan. Setidaknya kalau ada Yoyo, dia ada teman agar dia tidak nyasar sendirian.
"Baik nek. Kalau begitu aku akan pergi dengan Yoyo."
.............................................................................
Reine bersenandung kecil sambil berjalan. Di sisinya Yoyo berjalan dengan membawa kantong kecil berisi kue. Langkahnya ringan dan bahunya rileks. Reine senang melihatnya. Anak ini selalu tegang dan waspada jika di Catyzokan. Sekarang dia bahkan bisa tersenyum menikmati pemandangan.
"Oke sekarang ke arah mana?"
Yoyo menunjukan arah kanan di persimpangan. Tidak ada keraguan dalam wajahnya membuat Reine tenang. Dia akan berikan kepercayaan penuh pada Yoyo. Walau nanti mereka tersasar, Reine tidak akan marah.
Jalan yang mereka lalui adalah jalan-jalan besar. Samping kanan kirinya ditumbuhi ladang hasil kerja keras warga di sini. Ladang dengan tumbuhan berbatang lunak. Ada yang mirip rumput ilalang tapi sangat tinggi. Nenek sudah mengatakan kalau mereka akan melewati kebun dengan tumbuhan tinggi dan harus berhati-hati di sana.
"Daerah seperti ini mengingatkanku pada perkebunan tebu. Tanamannya tidak sekasar tebu, tapi tingginya nyaris sama." gumamnya.
Sampai di plang dengan tulisan Nekorogrif berbunyi "Bumi Hijau" mengharuskan mereka berbelok ke kiri untuk melewati jalan setapak. Mereka meninggalkan jalan besar dan mengikuti peta. Di samping kiri kanan masih tumbuh tanaman mirip ilalang yang setinggi tebu.
"Rumah Mama Chio jauh ternyata. Yoyo, istirahat dulu yuk." ajaknya saat menemukan rumah pengintai sederhana di jalur setapak.
Reine duduk mengintirahatkan kaki. Dia memberi botol minum kepada anak asuhnya yang langsung diterima dengan senyum. Matahari sudah tinggi membuat kepala pusing. Yoyo telah selesai minum lalu mengembalikan botol ke Reine. Gadis itu menyimpannya di tas bersama obat. Dia memijat kakinya sedikit saat bunyi kresek-kresek terdengar.
Awalnya Reine mengabaikannya dengan berpikir itu angin. Tapi reaksi gelisah Yoyo membuatnya ikut tidak tenang. Telinga Yoyo bergerak-gerak dan ekornya naik.
"Yoyo ayo."
Reine menarik Yoyo untuk melanjutkan perjalanan. Suara kresek sudah tidak ada. Namun rasa waspada Yoyo semakin meningkat. Reine tidak tahu apa yang anak itu rasakan. Gadis itu mempercepat langkah dengan niat agar cepat sampai. Tiba-tiba dari arah kiri kebun ilalang, Reine merasa ada yang datang dengan cepat. Genggaman tangannya pada Yoyo semakin kuat.
"Ayo!"
Reine semakin melangkah cepat. Hampir seperti menyeret anak di sampingnya. Kebun ini masih sangat panjang tanpa jeda. Suara kresek-kresek sudah berhenti tapi rasa tidak nyaman di hati masih ada. Reine berdebat dalam hati untuk menggendong Yoyo dan berlari. Sangat berbahaya tentunya karena jalanan ini kecil.
Baru Reine membungkuk ingin menggendong Yoyo, saat sesuatu yang besar menyergapnya dari samping kiri. Sangat besar, benar-benar besar dan menakutkan. Makhluk yang akan membuat Reine bermimpi buruk setelah hari ini. Reine tak bisa menahan diri untuk tidak berteriak.
"AAAaaaaa!"