Ada banyak hal yang tidak Reine ketahui tentang dunia ini. Tentang dunia bernama Nekoroyaume. Dia terlalu asik menikmati rutinitasnya di Catyzokan. Terlalu terlena dengan kenormalan di sana sehingga tidak bertanya terlalu banyak. Sekarang Reine menyesali hal itu.
Tidak pernah ada dalam mimpi buruknya Reine bertemu makhluk seperti ini. Makhluk besar berwarna hitam dan coklat berwujud oval pipih. Sepasang mata khas serangga, antena panjang dan tiga pasang kaki berbulu dan bersiku layaknya kaki belalang. Dia familiar dengan makhluk ini di dunianya. Tapi tidak pernah dia bayangkan akan sampai sebesar ini.
Wajah Reine pucat dengan mata melebar hampir keluar. Kakinya gemetar merespon ketakutannya. Saat hidungnya menangkap bau yang dikeluarkan makhluk berantena itu, rasa mual menyergapnya. Baunya benar-benar mengerikan.
"Ke... ke... kecoak?!"
Reine berteriak takut dan segera menggendong Yoyo. Dia membawanya berlari ke arah berlawanan. Makhluk yang ternyata kecoak raksasa itu sialnya mengikuti Reine yang berlari. Dengan tubuh selebar lima meter dan tinggi lebih dari tiga meter, serangga menjijikan itu berjalan dengan kaki-kaki tipis berambutnya. Jalan setapak dilibasnya. Tumbuhan mirip ilalang di kiri kanannya langsung terlibas dan rusak.
'Ya Tuhan, Ya Tuhan, Tolong aku. Tolong aku.' batinnya panik.
Suara kres kres kres yang cepat membuat jantung Reine semakin terpacu. Makhluk itu besar dan tetap bisa bergerak cepat. Ladang di kanan kiri langsung hancur diinjaknya. Reine hanya bisa terus memacu larinya sampai kakinya panas.
"Meow!"
Yoyo menaikkan suara. Genggamannya mengerat digendongan Reine. Gadis itu tahu Yoyo sedang memperingatinya. Jantung gadis muda itu semakin takut. Bunyi kres kres kres yang sama datang dengan cepat dari arah lain.
'Tidak.'
Makhluk yang sama dengan yang mengejarnya muncul dari sisi depan menghadang jalan. Reine refleks membelokkan larinya ke kanan. Kedua kecoak besar itu saling bertabrakan. Masing-masing mengeluarkan cairan berbau busuk dari mulut mereka. Cairan itu jatuh ke ladang. Daun-daun hijau yang terkena tetesannya berubah kuning layu.
Reine masih berlari. Tidak ada jalan setapak lagi di depannya. Dia masuk ke rimbunan ilalang-ilalang tinggi layaknya thumbelina yang bersembunyi di antara tanaman.
Daun-daun ilalang itu bertekstur kasar. Saking kasarnya membuat luka gores di kulit terbuka dan sobekan di baju. Reine berusaha menutupi tubuh Yoyo dengan tangannya agar dia tidak tergores. Jalanan semakin sesak dan kakinya mulai sakit. Tapi tidak mungkin dia berhenti sekarang.
Suara kres kres kres datang lagi dari belakang. Kepala Reine mencoba mencari jalan keluar tapi sangat lambat untuk berpikir. Ketakutannya membuat otaknya kacau. Hanya ada suara lari dan lari yang berteriak di sana.
"Meow!"
Yoyo berteriak lagi. Kecoak-kecoak raksasa itu masih mengejarnya. Reine semakin mempercepat langkah di tempat sempit itu. Hingga ketakutannya terjadi, dia jatuh terselengkat tanaman yang merunduk.
Reine hanya punya waktu sepersekian detik untuk memiringkan tubuhnya agar tidak jatuh menimpa Yoyo. Bahu dan seluruh lengan kanannya membentur tanah lebih dahulu. Sikunya yang menahan beban terbentur keras. Rasa nyeri menjalar cepat ke bagian atas tubuhnya. Sendi dan ototnya berdenyut seakan habis disetrum listrik. Dia yakin bahunya bergeser.
Reine sempat kehilangan kendali tubuhnya atas rasa sakit luar biasa itu. Dia mengetatkan gigi memaksa syarafnya bekerja. Suara detak jantungnya terdengar begitu keras diantara rasa nyeri yang melumpuhkan.
Yoyo bisa bangun dan duduk. Rambut-rambut ekornya berdiri karena takut. Suara kres-kres sudah dekat. Reine bisa melihat antena makhluk itu.
Reine bangun memaksa diri. Kakinya sakit tapi tidak keseleo. Dia menarik Yoyo dengan satu tangan. Tangan kanannya tergantung tak berdaya.
"Keluar dari ladang. Kita harus keluar dari ladang."
Diantara sakit dan panik Reine memaksa bergerak. Bunyi kres dan bau busuk terlalu dekat. Bulu tengkuknya berdiri merasakan firasat buruk. Reine menarik Yoyo merunduk di kumpulan ilalang rimbun yang terjalin kusut. Bunyi semburan air bersama bau busuk muncul tidak lama mereka merunduk. Ilalang-ilalang hijau langsung berubah warna menjadi warna sakit.
Reine dan Yoyo selamat dari cairan busuk itu. Tempat mereka berlindung cukup tebal jalinan daunnya. Tapi mereka tidak bisa diam lama. Mereka harus segera pindah. Daun-daun di atas kepala mereka mulai rusak. Satu semburan lagi, mereka yang akan kena.
"Ayo!"
Mereka kembali berlari tanpa arah. Semakin menyelam di kedalaman ladang ilalang tinggi. Reine benar-benar berharap mereka bisa keluar dari ladang ilalang ini. Tempat yang tidak dibutakan oleh jarak pandang tanaman hijau.
Yoyo hampir terjatuh membuat Reine menggendongnya lagi dengan tangan baiknya. Reine merunduk sambil bermanuver di antara ilalang besar. Suara kres kres datang lagi dari arah lain.
'Kumohon, kumohon jalan keluar.'
Ilalang-ilalang tebal mulai menipis. Dia berharap ini benar jalan keluar. Reine menyeka daun besar terakhir dengan kepalanya yang berdenging. Adrenalin sedikit menyamarkan rasa sakit di bagian atas tubuhnya. Keluar dari ilalang, bau lembab pohon eucalyptus menyerbu. Reine tidak memikirkan apapun selain menjauh dari ladang.
Reine berlari masuk ke hutan. Pohon-pohon berbatang besar dan lebar tersusun rapi. Lantainya ditutup semak-semak dan lumut tipis. Bau lembab segar lebih terasa di sini.
Yoyo masih mengeong gelisah digendongannya. Dengan posisi ini, Yoyo dapat melihat jelas ke belakang. Kedua monster raksasa itu masih mengejar mereka. kali ini tanpa halangan ilalang-ilalang tinggi, gerakan mereka semakin cepat.
Reine melihat deretan pohon berakar besar yang menyembul ke atas tanah. Dia berbelok, melompat lalu menyelipkan diri ke kumpulan akar itu. Bajunya tersangkut di bagian punggung. Reine memaksakan lepas hingga kainnya robek.
Salah satu kecoa besar hampir menyambarnya. Kepalanya tertahan akar-akar besar yang terjalin terlalu rapat. Reine melepaskan Yoyo dan mendorong tubuh anak itu untuk sedalam mungkin berlindung ke pojok. Dia memasang badan menutupi tubuh Yoyo. Matanya penuh dengan rasa takut saat serangga titan itu membenturnya kepalanya.
Reine menahan napas saat kepala besar itu mundur sedikit. Bau busuk cairan makhluk itu menusuk indera penciumannya. Reine tahu makhluk itu pasti mencoba menyemburkan untuk menghancurkan akar.
"Kenapa makhluk itu terus mengejar kita?"
Dia tidak bermaksud untuk menyuarakannya. Tapi ternyata gumamannya di dengar oleh Yoyo. Anak itu mengeong untuk menjawab.
"Ssshh, kita harus keluar saat makhluk itu sibuk."
Reine melepaskan tas selempangnya. Dia memendekan talinya dan memakaikannya pada Yoyo. Anak itu bingung dengan wajah ketakutan.
"Meow?"
Reine menggigit bibir. Tangannya gemetar sementara yang satu masih tidak bisa diangkat.
"Yoyo, aku akan mengalihkan perhatian makhluk itu." suara Reine sedikit bergetar di bagian akhir. "Kau harus menyelinap dan pergi dari sini."
"Meow!" nadanya seperti protes.
"Yoyo..." Reine meremas bahu anak itu. "Kau harus kembali ke rumah nenek dan minta pertolongan. Jangan memaksa ke rumah Mama Chio walau kau tau jalannya atau kau merasa rumahnya lebih dekat dari sini. Kau harus pergi ke Catyzokan."
Yoyo menggelengkan kepalanya keras. Dia menggenggam tangan Reine yang ada di bahunya. Wajah panik dan takutnya menyakiti hati Reine. Yoyo pernah trauma di dunia manusia. Dengan kejadian hari ini, traumanya bisa bertambah. Reine tidak ingin melakukannya, tapi dia harus jika ingin Yoyo selamat.
"Yoyo kakak mohon. Kita tidak punya waktu."
Suara semburan air dan cess yang keras membuat Reine berjengit. Dia yakin sebentar lagi pertahanan akar itu segera hancur.
"Yoyo... kakak mohon."
Suara benturan kembali terdengar. Reine menggertakan gigi.
"Lari dan jangan melihat ke belakang."
Yoyo masih menggeleng.
"Yoyo!"
Reine benci melakukan ini. Reine benci harus membentak anak yang stres dan panik.
"Kau harus pergi jika ingin mencari pertolongan!"
Bukan pilihan kata yang bagus. Tapi Reine berpikir ini satu-satunya cara untuk membuatnya pergi. Air mata yang turun di pipi anak itu membuat napas Reine tercekat. Hatinya terasa diremas.
Suara brak keras membuat Reine mendorong Yoyo ke sudut. Yoyo terjengkang. Reine dengan cepat menyeret tubuhnya ke celah akar lainnya. Dia keluar dan mengambil napas. Tangannya gemetar saat dia mengambil ranting yang berserakan. Dengan sekuat tenaga dia melemparkannya ke kepalanya antena itu.
"Woi kecoak besar! Aku di sini!"
Kepala hitam itu seakan mendengar panggilannya langsung memutar badan. Reine berlari sekencang dia bisa. Kecoak itu mengejar Reine.
'Bergerak! Lebih cepat! Lebih jauh!'
Reine memacu dirinya sendiri. Tanah hutan lebih licin dan tidak rata. Tapi memiliki lebih banyak tempat untuk menyelipkan tubuh dan berlindung. Mata Reine bergerak ke sana kemari mencari sesuatu yang bisa melawan serangga besar ini. Sesuatu yang dapat dia akali untuk menghentikan pengejarnya.
'Pasti ada. Ku mohon sesuatu. Ku mohon apapun.'
Paru-parunya sudah terasa nyeri dipaksa terus memompa okigen. Kakinya berdenyut sakit. Bahu dan seluruh lengannya berteriak untuk berhenti bergerak. Reine hampir saja berbelok ke arah lain saat dia melihat sesuatu. Batang besar tajam.
Batang besar pohon tumbang. Sisi patahan pohonnya masih memiliki bentuk-bentuk runcing yang tajam. Reine melebarkan larinya. Dia menuju ke sana.
Reine tidak lagi melihat ke belakang. Serangga itu masih bergerak dalam kecepatan konstan. Bunyi ckis ckis dari mulut serangga itu dan langkah berisiknya dia jadikan patokan. Reine
membuat jaraknya tidak terlalu jauh dari pengejarnya juga tidak terlalu dekat untuk diraih.
Sampai di tempat yang dia lihat. Reine melompat melemparkan diri ke samping kiri. Tubuhnya langsung berguling di tanah basah berlumur. Kecoak itu tidak tahu kalau gadis itu akan bergerak ke samping. Jadi dia langsung menabrak patahan kayu-kayu tajam itu dengan kecepatan konstan tanpa bisa memberhentikan diri.
Bunyi ckes seperti cairan dari balon berisi air namun dengan air yang kental dan lengket membahana. Bunyi sriek kencang keluar dari sungutnya. Patahan kayu menembus bagian kepala diantara mata juga sedikit pangkal atas tubuh yang lunak. Kaki-kaki serangga itu masih bergerak-gerak termasuk antena yang panjang dan liar. Serangga itu ingin melepaskan diri tapi tidak bisa.
Reine menahan napas. Dia melompat bangun untuk memberi jarak sejauh mungkin. Dia menunggu sambil menahan ancang-ancang lari, memastikan kecoak itu akan tetap di situ tanpa bisa langsung melepaskan diri. Bulu kuduk Reine meremang melihat gerakan serangga itu yang berusaha mendorong tubuhnya keluar dari tusukan itu. Serangga itu mengeluarkan suara jeritan. Lalu dia diam.
Reine yakin kecoak titan di depannya belum mati. Dia hanya berpura-pura mati agar Reine lengah. Kecoak adalah salah satu serangga dengan kekuatan survival tinggi. Makhluk itu masih bisa hidup selama seminggu tanpa kepala.
Gadis itu memegang lengannya yang luar biasa semakin sakit setelah tadi berguling.
'Satu, hanya satu. Di mana yang satu lagi?'
Matanya menatap sekeliling dari atas ke bawah, kanan ke kiri. Dia mencoba menajamkan pendengarannya di hutan besar ini. Tidak ada suara apapun yang mencurigakan di dekatnya.
'Harusnya masih ada satu lagi.' batinnya cemas. 'Oh tidak. Yoyo!'