Reine meniti jalan kembali ke akar tanaman tempat dia bersembunyi sebelum. Ralat, dia mencoba. Tolong garis bawahi kata bahwa dia mencoba. Hutan ini lebat dengan banyak pohon dengan batang yang sama besar. Warna hijau beserta lumut dibawahnya nyaris sama sepanjang mata memandang. Setiap belokan dan tikungan hanya seperti cerminan dari ruas-ruas pohon lain. Tidak ada jalan setapak untuk memudahkannya.
Gadis itu tahu berlari sendirian untuk menyesatkan monster bukanlah ide yang bagus. Ide spontannya itu lebih seperti ide bunu*h diri. Dia tidak mengerti arah, tidak mengerti dari posisi mana mereka masuk tadi. Jalanan hutan semuanya sama. Kecuali beberapa tanaman kecil yang rusak oleh kaki kecoak besar tadi saat makhluk itu melewatinya. Tapi menavigasi arahnya kembali akan menjadi pekerjaan yang melelahkan.
Reine bukan orang yang gampang menyerah. Memang benar tadi dia berlari tanpa arah dan menginginkan kakinya sejauh mungkin dari posisi Yoyo. Tapi demi apapun dia akan mencari cara kembali ke posisi Yoyo hanya untuk menemukan anak itu lagi dalam keadaan selamat tanpa terluka sedikitpun.
"Belok di sini. Yap belok sini." gumamnya melihat pohon setinggi pinggangnya mungkin, kini sudah patah dan kelihatan sangat baru.
Reine berharap adrenalinnya belum hilang jadi dia tidak merasa sesakit ini. Dia terus memegang tangan kanannya agar tidak terlalu banyak bergerak. Jika saja dia pakai rok yang lebih panjang, mungkin dia berani merobeknya untuk dijadikan arm sling sementara. Reine hanya bisa terus menahan rasa sakit ini sampai dia bisa keluar dari sini. Itu pun jika dia bisa keluar dengan selamat.
Hutan ini terasa tidak benar. Terlalu hening untuk setipe hutan heterogen. Tidak ada suara jangkrik atau serangga hutan yang lain. Bukan berarti dia sering pergi ke hutan selama hidupnya. Malah sebaliknya, dia sangat jarang. Pengalamannya masuk hutan hanya bisa dihitung jari. Karena terakhir kali dia ke hutan saat dia masih SMP. Hutannya pun tipe bumi perkemahan, jadi terkontrol dan aman.
Reine tidak suka kalau firasatnya mulai muncul dan membuat pikirannya semakin tidak fokus. Dia berusaha menekan rasa paniknya. Dia takut dengan keheningan di hutan ini malah menjadi tanda kalau ada sesuatu yang lebih berbahaya yang sedang mengintai. Jadi dia mempercepat langkah. Dia tidak berlari karena akan membuat kepanikannya tinggi. Jika bertemu sesuatu yang tidak terduga lagi, dia malah akan cepat lelah dan mati.
'Mati. Apa aku bisa mati lagi di dunia ini?'
Reine akhirnya menemukan suatu jejak. Kumpulan patahan pohon kecil lain dengan arah yang berbeda darinya. Gadis itu mengikutinya sambil terus berdoa akan keselamatan Yoyo. Dengan fokusnya untuk segera sampai ke ujung jejak, tidak dia sadari kalau ada yang mengikutinya.
Jantung Reine bertalu saat dia kembali menemukan monster serangga dari jarak jauh. Antena serangga itu mencoba meraba-raba celah batu berlumut yang membentuk gua kecil. Celah itu terlalu besar untuk kepala serangga masuk. Tapi antena menjijikan itu berusaha menggapai isi dalamnya.
Reine kembali merasakan ketakutan di tubuhnya. Dia membayangkan dirinya terpojok oleh serangga paling ditakutinya. Jangankan sebesar ini, ukuran sekecil nimfa saja dia sudah gemetar takut. Reine menggigit bibir sambil memandang sekeliling. Dia bisa saja membuat kecoak itu mengejarnya lagi. Tapi kali kedua belum tentu dia akan seberuntung yang pertama.
Matanya menangkap kayu panjang dari patahan pohon yang mungkin diinjak monster itu. Ujungnya tidak terlalu runting untuk senjata. Tapi kayunya mungkin sedikit berguna. Reine mengetatkan gigi mencoba mengangkatnya. Tidak seringan yang dia inginkan. Namun masih bisa dipakai satu tangan. Lagi mata Reine mencari tempat tinggi untuk berdiri. Ada kumpulan batu tinggi tidak jauh dari celah batu yang dijaga monster.
'Kalau aku bisa membalik tubuh monster itu. Selama tidak ada yang membantunya berdiri, makhluk itu tidak akan bisa apa-apa lagi.'
Secara teori, serangga jika sudah terbalik akan mati dengan sendirinya. Apalagi tipe serangga oval pipih yang ruas kakinya tersambung dari tengah badan semua.
'Kalau aku harus mati lagi hari ini, tolong izinkan aku membunuh kecoak ini dahulu. Tolong izinkan Yoyo bebas.'
Reine menyeret tubuhnya ke arah tumpukan batu besar. Dia harus mendaki batu itu untuk ke puncak. Untungnya bukan memanjat. Tidak mungkin dia memanjat dengan satu tangan sambil memegang tongkat kayu panjang.
"Hei kecoak! Aku di sini!" dia teriak sekeras mungkin.
Kecoak itu tidak langsung berbalik ke arahnya. Jadi Reine berteriak lagi sambil menghentak-hentak kakinya. Kecoak biasanya tertarik dengan getaran.
"Kemari! Kemari sebelah sini!"
Monster itu akhirnya berbalik. Antenanya bergerak liar. Reine menahan napas sambil menggenggam tongkatnya erat. Kecoa itu datang ke arahnya dengan cepat. Jantung Reine begitu bising saat makhluk itu ada di depannya. Dengan kekuatan penuh dari ketakutannya dia mendorong kepala kecoak itu.
"AAAAAAAAAA!" teriak.
Kecoa itu mendorongnya. Tapi Reine menguatkan kaki dan mendorong serangga itu lebih keras. Adrenalin dan ketakutan menambah kekuatannya. Serangga itu jatuh ke belakang. Dia jatuh tapi tidak terlentang.
"Sial!"
Reine sudah tahu keberuntungannya akan habis di kali kedua. Dia melompat dari atas batu dan berlari. Tapi sayang posisinya yang sejak awal terlalu dekat membuat antena serangga itu berhasil menyelengkat kakinya. Reine menjerit. Dia yakin lututnya bermasalah ini dengan begitu kerasnya terbentur lantai batu dibawahnya.
Reine mencoba merangkak sambil terisak. Satu tangannya yang berfungsi hanya mampu membuat jarak kecil. Reine menangis saat dia merasakan bau busuk dari mulut makhluk menjijikan itu tepat di atas kepalanya. Dia tetap memaksa menyeret badan walau tau akhirnya. Kecoak itu mengangkat kepalanya dan menukik untuk mengambil mangsa. Namun tiba-tiba, kecoak itu hilang.
Suara sriek mengerikan keluar dari mulut monster yang beberapa detik sebelumnya ingin memakan Reine. Gadis itu menoleh. Matanya melongo horor melihat ada serangga besar lain yang mencapit kecoak tadi. Ukurannya bahkan lebih besar dan mengerikan dari pengejarnya. Seluruh badannya hitam dengan kaki tipe kelas arachnida yang mirip dengan kalajengking. Capit besar di depannya benar-benar sama dengan kalajengking. Tapi di ujung belakang tubuhnya bukan sengat yang melingkar. Namun sebuah ekor panjang seperti cambuk. Makhluk ini memakan kecoak dengan brutal.
'Astaga. Apalagi ini?'
Sudah habis memakan kecoak. Makhluk seperti kalajengking itu menggeser badannya ke arah Reine, seakan menyadari ada manusia di situ. Reine kali ini memaksa tubuhnya berdiri. Dia jatuh tanpa bisa menggerakkan kaki. Serangga itu berjalan mendekat. Reine sudah tertelungkup pasrah dengan air mata penuh. Dia memejamkan mata saat serangga besar itu mendekat. Ada angin kecil dan suara tap-tap kaki serangga melewati atas kepalanya. Lalu lama-lama suara itu menjauh. Reine membuka matanya untuk melihat ekor cambung makhluk mirip kalajengking itu melewatinya. Serangga besar itu tidak melihatnya lagi dan semakin masuk ke hutan.
Reine menangis keras. Serangga itu menyelamatkannya. Serangga itu benar-benar pergi meninggalkannya. Dia selamat.
Tangannya yang hijau bercampur tanah dan lumut dia usapkan ke pipi. Reine mencoba duduk. Tapi kakinya tidak mau berkompromi. Setelah berusaha dengan erangan keras beberapa kali, akhirnya Reine menyerah.
"Meow!"
Ah suara Yoyo yang khawatir. Anak itu masih hidup dan baik-baik saja. Reine ingin menenangkannya. Tapi dia yakin dalam kondisinya seperti ini, dia sama sekali tidak memberikan ketenangan apa-apa. Reine lelah, sakit dan tidak bisa bergerak. Bolehkan dia pura-pura mati saja.
Mungkin karena semua energi dari adrenalin tadi sudah habis, matanya menggelap. Dia masih mendengar suara teriakan Yoyo. Tapi lantai dingin hutan membuatnya nyaman. Dia ingin tidur saja sekarang. Dalam kegelapan pandangannya dia melihat sosok kucing kecil calico yang mengeong keras padanya.
"Milko..."