Angin terasa menghembus wajahnya. Tubuhnya bergoyang naik turun, tapi juga terasa ringan. Matanya sedikit terbuka melihat pemandangan blur warna hijau dan cokelat. Pipinya merasakan benda keras, namun juga empuk dan hangat. Tidak seperti batu hutan yang dingin. Aroma daun mint tercium di inderanya. Dia kembali menutup matanya yang lelah. Kembali ke kegelapan.
Reine melihat gelap di matanya. Tapi seperti alarm badan kebanyakan, dia bisa merasakan dirinya diminta bangun oleh tubuh. Sebelum membuka mata, Reine bisa mendengar suara sayup-sayup pembicaraan orang lain. Mereka seperti saling berbisik, jadi tidak jelas apa yang dibicarakan. Mereka juga seperti tidak menggunakan bahasa manusia.
Alis Reine bertaut merasa terganggu. Memang tubuhnya menyuruh bangun, tapi matanya terasa berat. Dia coba menggerakan jari-jari tangan. Hal yang membuatnya panik saat tangan kanannya terasa sesak dan tebal seperti dibungkus sesuatu. Jadi dia coba berguling ke kiri seperti ingin memeluk guling. Tapi kaki kirinya tidak mau digerakan. Semakin panik, dia membuka mata dengan paksa.
"Ssshh, tenang Reine. Kau aman di sini. Kau aman."
Wajah nenek masuk ke jalur pandangnya. Dia merasakan dinginnya kain kompres di dahinya. Tangan keriput nenek mendorongnya untuk tetap berbaring. Sekelebat ingatan terakhirnya kembali muncul dengan cepat. Reine membuka mulut untuk bertanya. Dia merasa tenggorokannya sakit dan sangat kering. Bibirnya pun sangat kering.
"Tenang ya. Ini minum pelan-pelan."
Nenek menopang punggungnya untuk sedikit terangkat tapi tidak membantunya ke posisi duduk. Jadi dia minum dengan setengah tiduran membuat air tumpah sebagian ke sisi-sisi wajahnya. Dia meneguk air sejuk ini seperti orang yang terkena kekeringan.
"Yoyo..."
"Ada. Dia tidur di sofa."
Nenek menggeser sedikit badannya agar Reine dapat melihat. Yoyo tidur dengan berselimut kain biru toska bergambar ikan. Dia kelihatan sangat lelah.
"Oke sudah tenang. Sekarang biarkan dokter Frans dan Dokter Je memeriksamu."
Seakan dipanggil, dua dokter itu maju ke tempat Reine berbaring. Nenek Leala mundur dan duduk di kursi lain. Dokter Frans maju lebih dulu. Dia terlihat seperti pria berumur lima puluh tahun dengan kumis tebal dan tahi lalat di alis kanan. Dia tidak memiliki telinga kucing apalagi ekor. Sementara Dokter Je terlihat lebih muda. Mungkin sekitar tiga puluh atau empat puluh tahunan. Dia memiliki telinga dan ekor putih yang mengembang , mengingatkan Reine akan ekor kucing anggora.
"Halo Nona Liem. Izinkan kami memeriksa Anda. Saya dokter hewan sebenarnya. Tapi karena saya manusia biasa jadi dipanggil kesini. Ini teman saya Dokter Je. Beliau dokter spesialis orthopedi. Kami akan memeriksa Anda jadi kami mohon kerjasamanya. Sebagian luka luar yang terlihat sudah kami tangani. Tapi kami tetap butuh menanyakan beberapa pertanyaan. Tolong jawab bagian mana yang sakit agar tidak ada yang terlewat. Apa Nona bisa melakukannya?"
Reine mengangguk pelan. Dokter Je sebenarnya yang lebih banyak bertanya. Dia yang lebih tahu tentang masalah tulang, sendi dan saraf otot. Dokter Frans akan membantu menggambarkan bagian tubuh mana yang dimaksud jika berada pada tubuh kucing.
"Jumlah tulang manusia lebih sedikit dari pada jumlah tulang kucing. 244 untuk tulang kucing dan 206 untuk manusia. Walau dalam bentuk manusia kucing sekalipun, struktur tulangnya berbeda. Dokter Je ingin memastikan treatment penyembuhan yang tepat agar tidak ada komplikasi setelahnya." jelas Dokter Frans.
"Saya tetap butuh hasil rontgen seluruh tubuh. Anda bilang Anda jatuh menimpa bahu kanan. Saya khawatir tidak hanya bergeser saja, tapi ada saraf yang kejepit. Juga memastikan tempurung lutut Anda tidak memunculkan retakan parah yang bisa menimbulkan tulang baru jika salah pengobatan." ujar Dokter Je serius.
Reine menelan ludah. Kedengarannya sangat mengerikan. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak merinding. Sesuatu yang berhubungan dengan tulang dan saraf selalu membuatnya ngilu. Sekarang terjadi padanya, rasa ngilunya jadi tiga kali lipat.
"Bebat itu untuk membuat tulang Anda tidak terlalu banyak bergeser sampai kita bisa membawa Anda ke rumah sakit. Tolong jangan dibuat stres. Anda akan semakin parah kalau merasa stres."
Kedua dokter itu izin pamit setelah memberikan obat penahan rasa sakit pada Reine. Dokter Je berjanji padanya untuk segera membawa Reine ke rumah sakit. Nenek mengantar mereka keluar. Tidak lama nenek kembali dengan mangkuk bubur di tangan.
"Makanlah sedikit sebelum tidur lagi. Sebenarnya ada satu orang lagi yang ingin bertemu. Tapi nenek memintanya untuk datang besok saja setelah kau istirahat."
"Kalau memang penting, tidak apa-apa nek suruh masuk saja sekarang." oh Reine ingin sekali menyelesaikan semuanya sekarang.
"Reine... ini sudah jam sembilan malam. Sudah saatnya istirahat." Nenek kembali duduk di samping tempat tidur. "Ayo nenek suapi."
Nenek tidak bicara lagi sampai dia selesai makan. Reine sendiri harus berterimakasih pada nenek atas pengertiannya jadi dia bisa tidur lebih awal.
..............................................
Hari baru datang, Reine bangun sesuai alarm tubuhnya. Sayang tidak ada yang bisa dia lakukan selain menatap langit-langit kayu. Rasa nyeri di bahu dan lututnya samar-samar terasa. Mungkin karena bebatannya kuat.
Nenek datang untuk membantunya mengelap badan dan makan. Reine merasa sedih karena merepotkan beliau. Nenek terus meyakinkan bahwa dia tidak apa-apa dan sudah biasa. Tetap saja rasa bersalah di hati Reine tidak hilang.
"Seharusnya nenek yang meminta maaf padamu. Karena kau pergi tanpa ditemani siapa pun yang tahu daerah ini."
Yoyo tidak dianggap karena dia anak kecil. Mereka terus berdebat siapa yang paling bersalah sampai akhirnya Reine mengalihkan pembicaraan.
"Kalau tidak salah semalam nenek bilang ada yang ingin bertemu denganku?"
"Oh ya ampun. Nenek lupa. Terima kasih sudah mengingatkan. Akan nenek panggilkan dia ke sini."
"Siapa nek?"
Nenek Leala tersenyum. "Penyelamatmu."
Reine sedikit terkejut mendengarnya. Dia sempat berpikir Mama Chio atau pemilik ladang. Tapi tidak dengan penyelamatnya.
'Tentu saja. Jika aku berada di sini, pasti ada orang yang menyelamatkanku dan membawaku kemari."
Reine jadi tidak tenang. Dia hanya bisa mengetuk-ngetuk jari tangan kirinya yang bisa bergerak. Dia tiba-tiba merasa gugup. Padahal hanya akan bertemu dengan penyelamatnya.
'Oke Reine. Pertama kau harus ucapkan terima kasih. Lalu...'
Seorang laki-laki masuk ke dalam ruangan tempat dia beristirahat. Tubuhnya tinggi, mungkin seratus delapan puluh lima sentimeter. Bahunya lebar dengan tubuh tegap. Dia punya mata tajam, hidung mancung dan bibir tipis tanpa senyuman. Matanya hijau terang, terlihat semakin bersinar dengan rambut abu-abu gelapnya. Ada dua telinga kucing berwarna sama dengan rambutnya. Reine tertegun sejenak. Kucing ini sangat tampan.
"Silakan masuk nak. Silakan." ajak Nenek.
Laki-laki itu mengangguk tipis. Dia berjalan maju dan mengambil kursi yang kosong. Lalu duduk dengan kaki terbuka. Aroma mint tipis menguar dari tubuhnya. Matanya meneliti Reine hingga membuat gadis itu malu.
"Uh tuan. Terima kasih sudah menolong saya dan Yoyo kemarin."
"Kemarin?" tanyanya bingung.
Nenek berdehem. "Reine, kau tidak sadarkan diri selama dua hari."
"Dua hari!" rasa kagetnya membuat bahunya nyeri. "Aku pikir aku..."
"Itu tidak penting." kata pria itu melambaikan tangan. "Ceritakan saja bagaimana kau bisa berada di hutan itu dengan banyak luka." suaranya tegas dan dalam. "Aku tidak bisa bicara dengan bocah calico itu karena yang kudengar dari suaranya hanya mengeong minta tolong."
'Oh' batin Reine dalam hati kasihan pada Yoyo. ' Anak itu tidak bisa bahasa lain selain mengeong minta tolong.'
"Sebelum saya bercerita, boleh saya tahu siapa Anda? Saya Reine Liem. Masih baru di sini dan tidak banyak tahu soal orang-orang di sini."
Reine penasaran karena dari gaya berpakaian orang ini yang seperti akan perang, tapi tidak benar-benar perang. Maksudnya dengan celana cargo khaki dengan banyak kantong beserta sabuk tebal dengan selipan senjata. Kaos hitam dan jaket hitam ala indiana jones. Melihat sekilas saja Reine yakin dia bukan orang sembarangan.
"Orang-orang banyak membuat nama untukku. Tapi aku lebih suka dipanggil Leonio."
Reine langsung menarik napas kaget. Dia kembali melihat laki-laki di depannya dengan lebih intens. Ada satu Leonio yang dia kenal saat di dunia manusia. Kucing abu-abu sejenis anggora yang menjadi kucing jalanan karena dibuang pemiliknya. Mungkinkah dia sama.
Reine ingin bertanya lebih. Tapi dia melirik Nenek yang ada di sampingnya. Kembali teringat pembicaraan beberapa hari lalu tentang adik Owi. Reine jadi menelan lagi pertanyaannya.
"Kalau begitu aku akan mulai cerita."
Leonio memintanya tidak meninggalkan detail apapun. Jadi Reine keluarkan semuanya. Tentang ladang aneh, peringatan Yoyo dan kemunculan dua monster itu. Tentang usahanya berlari dari kejaran dua makhluk menjijikan hingga dia masuk ke hutan. Bagaimana dia menyesatkan yang satunya dan kembali untuk mencari Yoyo karena satu monster lagi tidak ada. Lalu bagaimana dia mengalihkan perhatian yang satu lagi di area penuh batu besar. Bagaimana serangga lain muncul dan memakan kecoak itu lalu meninggalkannya tanpa menyentuhnya.
Sepanjang cerita Nenek hanya bisa menatap penuh rasa takut, khawatir dan sedih. Tapi dia juga memuji keberanian Reine yang berusaha melawannya walau dia takut. Dalam hati nenek berterima kasih atas kebaikan Dewi Kucing yang masih melindungi kedua anggota keluarganya. Anggota keluarga Catyzokan.
Leonio semakin mengerutkan dahi. Dia takjub dengan keberanian gadis kecil ini. Tapi pikirannya terus memproses seluruh kejadian dengan rasa waswas. Saat diakhir cerita Leonio mengangguk kecil mengenai serangga besar lain mirip kalajengking.
"Serangga yang kau maksud itu namanya ketonggeng atau kalajengking cambuk. Makhluk itu tidak berbahaya untuk manusia walau bentuknya yang mengerikan. Mereka musuh alami kecoak. Kau sangat beruntung."
Reine tidak bisa mengiyakan karena masih terbayang wujudnya.
"Monster itu muncul tiba-tiba dan terus mengejarmu?"
"Iya, mengejar kami berdua."
"Seharusnya Kecoak titan tidak bisa muncul dan bersembunyi di ladang ilalang. Ladang itu terlalu gersang. Mereka biasanya mencari tempat yang lebih lembab untuk menetap."
Reine langsung merinding. Secara logika memang kecoak suka tempat lembab.
"Mungkinkah aslinya bukan dari sana?"
"Bisa jadi." Leonio bergumam. "Aku perlu menyelidikinya jika ingin dapat jawaban yang pasti." pria itu menggosok pelipisnya. "Aku akan melaporkan ini pada istana. Kejadian ini terlalu mencurigakan untuk dikatakan sebagai insiden."
"Istana?" bingung Reine.
"Tuan hunter, apa kondisi sedang baik-baik saja?" tanya nenek pelan.
Leonio menyandarkan tubuhnya di kursi. Tangan bersidekap, matanya melihat langit-langit seakan memikirkan apa yang harus dia ucapkan.
"Sulit untuk mengatakan ya dan tidak." ujarnya ragu. "Kami para hunter diberi amanat dari istana untuk mengawasi daerah-daerah yang tidak terjangkau militer. Aku sendiri bukan berasal dari Prefektur ini. Aku dipanggil ke sini karena hunter daerah Gerdinlix banyak yang kewalahan dengan permintaan yang ada."
"Separah itu?" cemas nenek.
Pembicaraan ini membuat Reine bingung. Pertama dia baru tahu kalau ada pekerjaan bernama Hunter. Kedua dia baru tahu kalau istana benar ada. Dia hanya tahu dari cerita nenek dan tidak menganggapnya benar ada. Ketiga, rasanya selama ini tidak ada masalah di sini. Kalau sampai hunter dari prefektur lain harus datang ke sini, bukankah berarti ada sesuatu yang gawat.
'Mungkin karena nenek tidak membiarkan mereka memasang tv di sini. Aku jadi tidak tahu kondisi dunia ini. Tapi nenek kelihatan sangat tahu apa yang terjadi.' batinnya cemberut.
"Sudah ku katakan aku tidak bisa bilang ya dan tidak. Aku hanya bisa bilang untuk berhati-hati."
"Ah, nenek mengerti."
"Kalau tidak ada lagi detail yang perlu aku tahu, aku akan pergi sekarang. Aku perlu mengecek sekali lagi tempat kalian dikejar sebelum membuat laporan ke istana."
"Sudah tidak ada lagi dariku. Aku berterima kasih sekali lagi kau sudah menolongku."
Leonio hanya mengangguk sedikit lalu pergi. Nenek mengantarnya keluar.
"Dia tidak sopan." gerutu Reine saat hunter itu sudah menghilang bersama nenek. "Tapi ganteng." kikiknya.
...........................................................
"Hanya dia saja yang muncul kali ini?" tanya Leonio
"Iya. Setelah seratus tahun lamanya." jawab nenek.
Leonio masih tidak tersenyum. "Umurku belum selama itu di dunia ini nek." helanya. "Dia sudah di registrasi?"
"Sudah. Nenek sudah meregistrasinya."
"Itu mempermudah pekerjaanku."
Leonio memasangkan kembali tas dan pedangnya. Sistem laporan ke istana agak menyebalkan karena membutuhkan berbagai macam data. Nenek memberinya satu tas penuh makanan.
"Tuan hunter tidak ingin memberitahuku sesuatu mengingat ditempatku ada manusia baru?"
"Kami para hunter hanya tahu Raja sedang tidak tenang. Aku yakin tidak hanya hunter yang disebar, para Mage juga."
"Pertanda buruk."
"Tidak ada sesuatu yang baik selama dua tahun ini." gerutunya.
"Kita hanya bisa menunggu kalau begitu."
Leonio bergumam. Dia keluar dari Catyzokan setelah berpamitan. Nenek menutup pintu untuk kembali ke dalam.