Bab 5 - Catyzokan

1966 Kata
Apa yang dimaksud nenek dengan memasak tidaklah sama dengan memasak yang biasa Reine lakukan. Semua bahan yang digunakan adalah dari ikan. Tidak ada sayuran di dalamnya. Ikan-ikan segar yang masih mentah dibersihkan sisiknya dan dikeluarkan isi perutnya. Lalu digiling di mesin sebelum dipindahkan ke dalam panci besar untuk dimasak menjadi bubur. Bubur ikan tanpa nasi dan rempah-rempah. "Nek, apa di sini tidak ada nasi sama sekali?" "Sebenarnya ada. Tapi beras sangat mahal di sini karena harus impor dari luar. Kalau mau karbohidrat, nenek biasanya makan soup dengan roti. Harga roti lebih murah. Lumayan mengenyangkan perut." Well, susah membayangkan hidup tanpa nasi. Sebagai orang Depok yang terbiasa hidup dengan nasi dan lauk pauk lengkap, perkataan nenek membuatnya horor. Bagaimana bisa Reine hidup tanpa nasi! "Makan dengan roti? Bagaimana rasanya? Tunggu dulu nek, berarti di sini tidak ada seperti makan nasi dengan ikan asin dan sambal pete?" Nenek Leala tertawa mendengar. "Anak muda. Kau lucu sekali. Nenek tidak tahu ada makanan seperti itu. Dari manapun kamu berasal sebelumnya pasti makanan yang kau sebutkan tadi sangat enak. Lagipula nenek sudah lama sekali pergi dari dunia manusia. Nenek tidak yakin di zaman nenek ada makanan seperti itu. Rasa soup dengan roti enak kok, karena pakai roti asin atau tawar. Kalau roti yang manis baru tidak enak.7" Reine meringis mendengar jawaban nenek. Padahal itu makanan enak. Ah bukan untuk makan malam sih. Tapi itu makanan yang sangat enak untuk dimakan siang hari. Selain nasi padang tentunya. "Nek, apa semua makanan di sini bahan dasarnya ikan?" katanya sambil memotong kecil-kecil daging ikan yang sudah di fillet. Katanya akan ditumis. "Ada daging sapi dan kambing. Tapi umumnya anak kecil di sini suka ikan karena lebih mudah dikunyah. Yang tidak ada hanya daging unggas." "Kenapa Nek? Karena unggas mahal juga?" "Bukan, karena unggas dunia tetangga." jawab nenek. "Kita tidak mungkin makan daging mereka. Bisa perang nanti." "Gi..gimana? Dunia tetangga?" Reine pikir hanya tempat ini yang aneh. Tapi kalau nenek bilang seperti itu berarti ada dunia lain yang aneh juga. Apa itu berarti banyak sekali dunia di semesta ini? Nenek Leala bergumam. "Mn dunia tetangga.  The Bird Realm,  dunia para manusia burung dan sejenisnya, Toriroyaume. Mereka sangat sensitif dengan Nekoroyaume. Makanya tidak ada daging unggas untuk dimakan di dunia ini." Tiba-tiba Reine ingin pingsan mendengarnya. Apa tempat ini bisa lebih aneh lagi? Bahkan dalam imajinasinya dia tidak pernah bermimpi ada dunia seperti itu. "Nek, jangan bilang ada dunia manusia anjing juga?" tebaknya. "Oh, tidak salah sih. Tapi bukan dunia manusia anjing namanya. Dunia manusia serigala, Ookamiyaome. Para klan anjing tergabung di sana. Dunia itu cukup jauh. Jadi tidak berbatasan langsung dengan Nekoroyaume." Reine hanya mengangguk-angguk sebagai respon. Kepalanya masih memikirkan seberapa banyaknya dunia yang ada di semesta ini. Apa ini sungguh nyata atau hanya sebuah mimpi panjang belaka? Apapun itu untuk saat ini Reine harus menerima dirinya berada di dunia lain. "Nek, apa di sini semua orang... um kucing bisa menggunakan sihir? Seperti Monez yang badannya bisa sangat besar itu dan Owi tadi?" "Secara dasar untuk berubah wujud, semua manusia kucing bisa melakukannya. Mereka akan belajar melakukannya di sekolah. Tapi ada juga penyihir secara spesifik. Biasanya anak yang memiliki bakat sihir akan masuk ke akademi sihir atau berguru kepada Master Sihir untuk menjadi Mage. Mereka yang tidak memiliki kemampuan sihir besar akan menjadi penduduk biasa. Owi adalah salah satu anak yang sudah menunjukan bakat sihir. Jika dia ingin mengembangkan kemampuannya lebih dalam, dia bisa masuk ke sekolah sihir." "Jadi tidak semua orang bisa sihir." "Ya benar. Hanya segelintir saja yang bisa sihir. Keberadaan mereka sangat dilindungi. Karena untuk seorang manusia kucing bisa mencapai tingkat Mage membutuhkan waktu ratusan tahun." 'Wow, terdengar seperti dalam novel-novel kultivasi. Luar biasa!' batin Reine berbinar. 'Aku jadi penasaran sihir seperti apa saja yang ada di sini. Apakah akan seperti di game-game?' "Kalau mereka dilindungi, apakah itu berarti mereka punya hak istimewa sendiri? Seperti bisa terbang dan berpindah tempat tanpa surat izin khusus atau masuk militer khusus kerajaan? Nenek bilang di sini ada kerajaan kan. Ah atau mungkin mereka mendapat keistimewaan sosial seperti tidak perlu membayar pajak atau bisa makan di mana pun tanpa membayar?" "Pelan-pelan nak, kau bertanya banyak sekali." kekeh nenek. "Hak istimewa hm. Nenek tidak tahu yang seperti itu. Tapi ada beberapa kasus mereka bisa masuk ke daerah terlarang. Apa itu termasuk hak istimewa?" "Oh uh, saya rasa itu bisa." Mereka bicara banyak hal hingga semua makanan matang. Jam makan malam masih dua jam lagi. Nenek Leala mengajak Reineke tempat lain sebelum menyiapkan makan malam. "Kita akan ke mana Nek?" Rumah itu ternyata besar dan panjang. Padahal dari luar terlihat kecil. Sekarang mereka bahkan berjalan di lorong panjang. Mereka tiba di ujung lorong dan keluar dari pintu. Ada jalan sambung dengan pijakan batu yang di susun ala taman-taman kota. Jalan itu menuju sebuah rumah kayu lagi di belakang rumah. Reine bisa melihat ada dua rumah di belakang Catyzokan. Jarak satu dengan lainnya cukup jauh, mungkin sekitar tiga ratus meter. Nenek Leala mengajaknya ke rumah di sebelah kanan. "Kita ke tempat bayi." Rumah yang mereka datangi berbeda dengan rumah sebelumnya. Dindingnya tidak dipenuhi kayu. Lebih seperti dinding rumah ala-ala perumahan. Catnya berwarna pastel biru dan kuning. Lantainya ditutupi karpet bayi hangat. Nenek Leala menyuruhnya mengganti alas kaki dengan slipper dalam rumah. Dia juga di suruh cuci tangan di westafel yang tersedia di pintu masuk. "Bayi sangat sensitif. Jadi mereka dipisahkan dari anak-anak yang lebih besar. Nenek di sini berusaha menerapkan kebersihan. Jadi kalau main ke sini jangan lupa cuci tangan dulu di tempat tadi." Reine diajak semakin ke dalam. Beberapa dinding ditempel gambar lukisan lucu-lucu. Seperti berada di taman kanak-kanak. Ada pagar rendah pelindung anak-anak agar tidak merangkak keluar. Reine terkejut melihat apa yang ada di sana. Bayi yang nenek maksud ternyata bayi kucing. Benar-benar asli bayi kucing! Dalam pikiran Reine sebelumnya dia akan melihat bayi manusia bertelinga kucing. Tapi tidak! Semua yang ada di sini adalah bayi kucing. Bayi berbulu yang besarnya hanya sekepalan tangan. "Ba... ba... wah. Saya pikir bayinya. Saya pikir..." Nenek Leala tertawa. "Ah kamu lucu sekali nak. Sudah lama nenek tidak melihat ekspresi kaget seperti itu. Never get old for this." Nenek begitu lepas tertawa sampai keriputnya semakin berkerut. "Jadi bayi-bayi di sini memang masih berbentuk sama seperti wujud aslinya di dunia manusia. Nanti sekitar umur dua atau tiga bulan, mereka akan mulai berubah menjadi manusia kucing." Reine tidak berhenti merasa takjub dengan keanehan dunia ini. "Berubah sendiri?" "Iya berubah sendiri. Nanti kalau sudah berubah jadi manusia, akan dipindahkan dari sini ke gedung yang satu lagi sampai bisa berjalan dengan dua kaki. Kalau sudah lancar, mereka bisa pindah ke rumah utama." jelasnya. "Ayo jangan lama-lama, kita ke dapur untuk bikin susu." ajaknya. Selesai membuat s**u, mereka meletakkannya di sebuah alat. Bentuknya mirip seperti pipa besar yang panjang. Di sisi pipa-pipa itu ada ujung karet seperti dot anak bayi. Nenek bilang untuk yang sudah mengerti waktu makan, bayi-bayi itu akan berjalan sendiri ke pipa s**u itu. Tapi buat yang belum, akan satu persatu disusui. "Nenek melakukan semua ini sendiri?" "Tentu tidak. Tenaga Nenek tidak sebanyak itu untuk mengurus seluruh tempat ini sendirian. Selalu ada yang membantu. Terutama para ibu-ibu kucing yang sedang punya bayi dan tidak sibuk. Kadang nenek minta bantuan kepada anak yang lebih besar untuk membantu. Sebentar lagi mereka juga akan datang." Benar kata Nenek, tidak lama ada sekitar lima manusia kucing wanita yang datang. Mereka sangat cantik. Salah satu diantaranya ada Monez. Reine mengangguk kecil sebagai salam. Pasukan ibu kucing ini menyambutnya dengan hangat. "Oh ini warga baru itu. Ya ampun muda sekali. Berapa umurmu?" "Benar-benar sangat muda. Aku baru pertama kali melihat manusia semuda dirimu di kota ini. Lihat dadamu kecil sekali. Apa semua manusia muda memiliki d**a sekecil ini?" "Kau punya wajah yang manis. Oh pipimu seperti bakpau. Bisa beri tahu aku apa skin care mu?" "Hei, apa kau sudah menikah? Sepertinya belum. Mau ku kenalkan pada saudaraku. Dia tampan dan punya bulu yang lebat." Oh Reine pusing diberondong pertanyaan seperti ini oleh ibu-ibu. Apa tadi dia bilang? Tampan dan berbulu lebat? Pipi Reine memerah. "Sudah- sudah. Jangan bully dia. Ayo Reine, ikut nenek siapkan makan malam." Nenek menariknya dari rombongan ibu-ibu tadi. Reine sangat bersyukur dia tidak harus menjawab semua pertanyaan memalukan itu. Mereka kembali ke dapur di rumah utama dan menempatkan makanan di piring-piring. Nenek membunyikan bel tanda makan malam. Anak-anak langsung menyerbu ke dalam ruang makan. Anak-anak kucing itu lucu sekali saat makan. Beberapa ada yang masih makan berantakan jadi nenek mengambil lap dan mengelap wajah anak itu. Reine merasa tidak enak makan tanpa nenek, jadi dia ikut sibuk membantu anak-anak makan. Selesai anak-anak makan, nenek memukul gelas dengan sendok hingga berbunyi cling-cling-cling. Anak-anak dengan rapi melihat ke arahnya. "Anak-anakku yang manis. Hari ini kita kedatangan warga baru. Beberapa dari kalian sudah melihatnya tadi siang. Jadi sekarang saatnya kita berkenalan." Nenek menyuruhnya berdiri untuk memperkenalkan diri. Saat dia melakukannya, Reine merasa dia kembali berada di dalam kelas penuh audiens. Tangannya tiba-tiba terasa berkeringat dan dia gugup. Anak-anak ini begitu fokus menunggunya berbicara. Reine berdehem pelan. "Halo semuanya, nama saya Reine Liem. Panggil saja Kak Reine. Salam kenal semuanya." "Ayo ucapkan salam pada Kak Reine. Katakan halo Kak Reine!" ujar Nenek. "Halo Kak Reine." Oh mereka seperti anak taman kanak-kanak, lucu sekali. Reine jadi gemas. "Kak Reine akan tinggal dengan kita di sini. Jadi baik-baik ya sama Kak Reine." "Iya Nek!" jawab mereka kompak. Dengan posisi di depan meja makan Reine bisa melihat ada satu yang tidak menjawab Nenek. Yoyo si anak kucing kecil yang sejak awal ditemuinya, terlihat diam saja memandang mangkok kosongnya. Reine jadi penasaran. Tapi dia akan menyimpannya untuk saat ini. Selesai anak-anak keluar dari ruang makan, Reine dan Nenek Leala baru bisa makan. "Kau seharusnya makan saja tadi bersama anak-anak. Tidak perlu menungguku makan." "Itu tidak sopan nek. Mana berani saya seperti itu." Reine diberi soup ikan dengan roti asin sebagai teman makannya. Rasanya aneh sih. Tapi masih dalam kategori oke dimakan. Reine tidak berani komentar. Hari ini nenek pasti sudah lelah memasak, masa dia harus komentar lagi. Tidak tahu diri namanya. Reine membantu nenek cuci piring. Piring bekas makan mereka sangat banyak sekali. Ada satu anak kucing yang ikut bantu nenek, namanya Mimi. Dia punya rambut hitam dengan telinga dan ekor putih. Nenek bilang Mimi suka main air. Jadi anak itu sering bantu nenek mencuci piring dan baju. "Kamu bisa tidur di sini. Maaf ruangannya kecil dan belum ada kasur. Nenek ada bed cover bisa buat dipakai sebagai alas." "Ah, tidak apa-apa nek. Seperti ini juga Reine sangat berterima kasih. Reine biasa tidur di karpet kok kalau di rumah. Bukan masalah besar." "Mungkin baru dua atau tiga hari baru ada kasur lagi. Kita kehabisan stok di sini." katanya sambil menyerahkan bed cover dan bantal. "Terima kasih banyak nek." Nenek menggeleng kecil. Dia mengelus rambut Reine. Gestur ini membuat Reine diam. Dia tidak ingat pernah dielus rambutnya oleh orang tuanya. Mungkin saat dia masih kecil. Tapi dia sudah lupa kapan terakhir kali mendapatnya. Ternyata rasanya sangat hangat. "Tidur yang nyenyak ya. Selamat malam Reine." "Malam juga nek." balasnya hangat. Reine berbaring beralaskan bed cover. Matanya menerawang langit-langit kayu. Dia menatap langit gelap diluar. Ada kerlipan bintang dengan bentuk rasi bintang lucu. Rasi bintang itu mirip sekali seperti tulang ikan dengan kepala dan ekornya. Tidak mungkin itu rasi bintang Pisces. "Apa aku akan baik-baik saja di sini?" Reine menghela napas. Semua keanehan ini masih sulit diterima. Walau dunia ini terlihat magical, tetap saja perasaan tidak berada di tempat yang benar masih membayangi. Reine memandang tangannya yang dia julurkan ke atas, seakan ingin menggapai langit-langit. "Tapi aku sudah mati kan di duniaku." gumamnya sedih. Reine tersenyum sendu mengingatnya. Dia menarik selimut dan tidur miring ke kanan. Menutup mata, dia berdoa semoga orang tuanya di dunia sana baik-baik saja dan juga... "Xiao Cing, Chimmy, dan Mommy kucing. Maaf meninggalkan kalian semua." ujarnya menitikkan air mata. "Maaf."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN