Hari baru datang dengan cepat membawa hawa dingin embun pagi. Reine membuka mata dan menemukan langit-langit tidak familiar di depannya. Bukan triplek putih dengan tempelan bintang-bintang bercahaya yang ada di kamarnya. Tapi deretan kayu gelap dengan beberapa sarang laba-laba yang menempel.
Reine sempat panik beberapa saat. Dia duduk terlalu cepat membuat punggungnya meringis protes. Bed cover yang menjadi alasnya sudah berantakan karena posisinya tidur. Sebagian dari kulit tangannya tercetak tekstur karpet yang dia tiduri. Reine diam sejenak mencoba mencari ingatan terakhirnya.
Catyzokan, Nekoroyaume.
"Bukan mimpi." bisiknya pada diri sendiri.
Setelah memastikan kalau dia masih hidup dan memakai pakaian yang sama dari hari sebelumnya, Reine akhirnya bergerak. Dia membereskan peralatan tidurnya. Bed cover dia lipat dengan rapi. Lalu meletakkannya di sudut ruangan. Kemudian dia keluar untuk mencari nenek. Untungnya nenek berada di dapur. Bisa pusing Reine kalau harus mencarinya ke segala tempat.
"Pagi nek."
"Oh kau sudah bangun Nak. Bagaimana tidurmu semalam?"
"Aku tidur dengan nyenyak nek. Seperti orang mati." jawabnya ceria.
Nenek tidak perlu tahu kalau Reine tidur karena kelelahan menangis. Dia menangisi orang yang ditinggalkannya di dunia sana. Dia juga menangisi kucing-kucingnya yang tidak bisa dia lihat lagi. Reine berharap ibunya tidak membuat anak-anak berbulu itu.
"Nenek sedang masak ya?"
"Iya, sebentar lagi selesai."
"Aku bangun kesiangan ya nek."katanya malu.
"Tidak, tidak. Nenek hanya terbiasa bangun sangat pagi untuk menyiapkan semua ini. Lebih baik kau mandi dulu. Nenek yakin tidak melihatmu ke kamar mandi sama sekali dari kemarin."
"Um baiklah. Tapi apa ada pakaian yang bisa ku pinjam?"
"Oh bodohnya aku tidak memikirkan hal itu. Nenek lupa kalau kau tidak bawa apa-apa ke sini. Ayo, ayo ada beberapa baju yang mungkin sesuai ukuran tubuhmu."
Nenek Leala membawa Reine ke sebuah ruangan yang penuh dengan baju-baju. Reine takjub melihat begitu banyak rak-rak dan lemari baju anak kecil. Semuanya di susun rapi tergantung warna. Nenek mengajak dia ke lemari besar berisi baju-baju yang lebih besar.
"Nek, apa nenek semua yang mengerjakan ini?"
"Tidak, ada yang lain yang melipat dan menyetrika baju. Nenek hanya membantu beberapa. Sangat melelahkan kalau mengerjakan semuanya sendiri. Apalagi menyusunnya dengan rapi seperti ini. Nenek tidak sesabar itu untuk melakukannya." ujarnya sambil mengibaskan tangan.
Nenek memberinya beberapa dress pendek, baju kaos dan rok. Katanya kalau celana bayak yang bolong di belakang untuk ekor. Kecuali kalau Reine mau menggunakannya, silakan saja.
Hal melegakan saat melihat kamar mandi normal. Airnya bahkan terlihat normal bening transparan. Bukan apa-apa, dia hanya takut airnya bakan berwarna-warni seperti langit.
"Sungguh kemarin seharian aku tidak memikirkan kamar mandi. Tapi aku juga merasa tidak perlu ke kamar mandi. Oh air ini segar sekali seperti mandi di gunung."
Kebiasaan buruk di kamar mandi adalah otaknya akan memiliki banyak ide. Dalam kasus ini otaknya memiliki banyak pertanyaan. Hal yang ingin dia tanyakan tapi belum sempat dia utarakan. Isinya seperti sebuah daftar panjang belanjaan. Kadang ide unik untuk mendesain gambar juga muncul dari sini. Sampai sekarang dia tidak tahu sihir macam apa yang ada di kamar mandi yang bisa membuatnya berpikir banyak hal.
"Ada berapa musim di dunia ini? Apa akan sama seperti di dunia manusia? Apa ada musim hujan dan musim kemarau atau empat musim seperti di luar negeri? Hei bahkan aku tak bisa menyebutnya luar negeri lagi sekarang. Apa di sini ada pusat perbelanjaan, bioskop atau taman hiburan? atau akan seperti di cerita Harry Potter yang menggunakan latar Inggris di zaman dulu? Hmm, tapi aku sejauh ini melihat lampu jadi mungkin tidak sama."
Reine takut dia akan terlalu lama di kamar mandi karena melakukan seribu satu pertanyaan pada dirinya sendiri. Jadi dia keluar dan langsung memakai baju yang dipinjamnya. Dress warna biru muda dengan kerah biru yang pendeknya selutut lebih sedikit. Panjang lengannya hanya sepertiga lengan. Terlihat lucu sekali. Berterima kasihlah karena di rumah ini masih ada set dalaman wanita. Astaga dia tidak bisa bayangkan harus bagaimana kalau tidak ada itu.
"Aku terlihat seperti anggota girlband Korea." ujarnya dengan senyum. Dia kemudian mencari Nenek Leala untuk membantunya.
Ruang makan sudah ramai. Anak-anak ini sangat lucu berusaha makan dengan mata setengah terbuka. Ada beberapa yang hampir menjatuhkan kepalanya ke mangkuk makanan karena dia masih mengantuk. Reine membantu sebisanya agar anak-anak itu makan dengan benar. Reine anak tunggal, jadi tidak punya adik di rumah. Tapi dia suka anak kecil. Semoga yang dia lakukan tidak salah. Dia hanya mengikuti insting keibuan(?) miliknya.
'Aku anak tunggal dan aku mati lebih dulu dari orang tuaku. Mereka pasti sangat sedih.'
Reine masih tidak bisa melepaskan kenyataan kalau dia sudah mati. Dia hanya berharap ayah ibunya tidak terlalu larut dalam kesedihan. Sekarang dia berharap dia punya adik agar bisa menemani orang tuanya. Sayang itu tidak akan pernah terjadi.
"Reine, makanlah dulu. Nanti kita ke gedung bayi untuk membuat s**u. Jangan sampai kau belum makan."
"Iya Nek."
Kembali ke gedung bayi membuat dia sangat bersemangat. Mereka sangat kecil dan tidur bergerombol mencari kehangatan. Reine bernostalgia merawat bayi-bayi kucing seperti di rumahnya. Dia membersihkan kotoran, mengganti alas, dan mengelap bayi yang bulunya kotor. Ibu-ibu kucing datang lagi. Tapi beberapa diantaranya bukan orang yang dia temui kemarin.
"Kita punya jadwal untuk datang. Jadi semua orang bisa tetap mengerjakan pekerjaan mereka." kata salah satu ibu kucing.
Reine mendapat informasi banyak seperti apa yang terjadi jika mereka punya bayi sendiri. Ibu kucing yang diajaknya bicara menjawab pada umumnya mereka akan mengurusnya sendiri di rumah. Tapi ada beberapa yang menitipkannya di Catyzokan karena pekerjaan. Tempat ini menjadi semacam penitipan anak.
"Kau sangat telaten Nona. Aku nyaris menganggap kau seorang ibu."
"Haha, Anda bisa saja. Saya hanya punya sedikit pengalaman."
"Tapi kau memancarkan aura keibuan."
Wajah Reine merona mendengarnya. Setidaknya rombongan ini tidak bertanya hal-hal memalukan seperti rombongan semalam. Pertanyaan aneh seperti kenapa dadanya kecil dan apakah dia punya suami.
"Nek, apa nenek punya buku yang bisa aku baca? Aku ingin tahu banyak hal tentang dunia ini. Buku pelajaran atau buku cerita tidak masalah. Apapun itu yang bisa aku baca."
"Nenek rasa kau belum bisa membaca buku apapun untuk saat ini."
"Eh kenapa nek?"
"Karena tulisan di dunia ini tidak menggunakan alpabet."
Reine membolakan matanya. Oke itu sesuatu yang harusnya dia prediksikan. Dia terdampar di dunia aneh. Pasti apapun isinya akan berbeda dengan yang ada saat dia hidup di dunia manusia. Termasuk bahasa dan tulisannya. Tapi selama berada di sini dia bisa berbicara normal dengan yang lainnya. Orang lain pun mengerti bahasanya. Jadi dia berpikir kalau tempat ini tidak ada bedanya.
Nenek menarik satu buku dari rak di dekat tempatnya duduk. Sampul buku itu menunjukan gambar-gambar ceria untuk anak-anak, mungkin buku cerita bergambar. Tapi saat dibuka isinya, tulisan penjelasan dibawahanya sama sekali tidak bisa Reine mengerti. Tulisan itu terdiri dari berbagai macam garis, lingkaran dan segitiga yang di berderet dengan beberapa garis menyertainya. Ada juga gambar-gambar kecil diantara tulisan.
"Ini namanya Nekorogrif. Terdiri dari huruf, simbol dan gambar. Kamu harus belajar ini dulu sebelum bisa membaca buku di sini. Ada juga bahasa khusus kucing namanya Nekolangue. Biasa dipakai saat acara-acara penting atau saat melakukan ritual. Ini juga bahasa yang harus dipelajari oleh anak-anak kucing yang ingin menjadi Mage."
Oh wow, selalu ada hal yang membuat Reine terkejut di sini. Kucing punya bahasa sendiri ternyata. Kejutan apalagi yang akan menantinya nanti semakin lama dia tinggal di sini. Apa seperti kucing punya sayap? Itu akan absurd sekali.
"Nenek bisa mengajariku? Jika aku akan tinggal terus di sini, aku harus bisa bahasa sini." katanya bersemangat. "Aku janji akan menjadi murid yang baik dan tidak menyusahkan. Aku akan berusaha mempelajarinya dengan cepat."
"Tentu saja nenek akan mengajarkannya. Tidak perlu buru-buru dalam melakukan apapun. Nanti jika kau cepat hapal, akan lebih cepat juga lupa. Yang terpenting kau memahaminya dan terus berlatih memakainya. Jadi tidak akan pernah lupa. Mengerti nak?"
"Mengerti Nek! Crystal clear!"
Nenek mengelus kepalanya sayang membuat senyum Reine merekah. Hati Reine menghangat tapi juga sedih karena teringat neneknya sendiri di dunia sana. Nenek Reine mungkin tidak mengelus kepalanya seperti ini. Tapi dia punya pelukan yang sangat hangat. Reine rindu padanya.
"Sekarang bantu nenek membungkus bibit-bibit ini. Kita akan bawa anak-anak belajar berkebun."
"Oke."