Bab 83 - Carmen and His Thought

1587 Kata
Nyonya tabib mengerutkan kening dalam. Dari semua pasiennya yang dibawa Earl Centaurea di malam itu, orang di depannya yang paling membuatnya tidak nyaman. Orang ini memiliki luka paling parah dibanding yang lain. Sambungan bahu dan pangkal lengan atasnya longgar dan bergeser terlalu jauh. Dia bahkan harus melakukan operasi agar bisa mengembalikan posisi tangan laki-laki ini seperti semula. Sebagai seorang tenaga medis, dia memprediksikan akan butuh waktu paling tidak satu bulan sampai tangannya bisa digunakan. Tapi yang dia lihat di depannya terlalu mencengangkan. Tangan laki-laki ini bukan hanya sudah sembuh. Seluruh jaringan saraf dan ototnya kembali menyatu dengan sempurna. Hanya dalam satu malam lukanya sembuh. Selama karirnya menjadi tabib, baru kali ini dia melihat yang seperti ini. Bahkan Tuannya sendiri yang termasuk dalam Seven Flowers Knights tidak memiliki kemampuan ini. Roh Pedang Cornflower Blue memang sangat cepat bila mengobati luka yang disebabkan sihir. Tapi luka biasa yang bukan karena sihir membutuhkan beberapa hari untuk sembuh total. Hell! Bahkan Lord Iris Sabre yang katanya terkuat di antara Seven Flowers Knights saja masih bisa bengkak dan memar. Terakhir dia cek bengkaknya masih belum sembuh. Tapi orang di depannya ini sudah bisa duduk sambil tersenyum ke arahnya. "Apa ada yang salah Nyonya?" Laki-laki di depannya memang sangat tampan. Bahkan jika digambarkan seperti ada aura ketenangan sendiri menguar darinya. Namun tabib Mansion Centaurea tidak merasa senang dengan senyuman itu. Dia malah merasa tidak tenang. "Anda sudah sembuh." katanya pelan. "Tidak ada masalah Tuan. Saya hanya merasa terkejut. Seharusnya cedera ini baru sembuh dalam tiga puluh hari." "Kalau begitu saya beruntung cedera saya telah sembuh. Terima kasih tabib telah mengobati saya." Nyonya tabib masih ingin menanyakan hal lain. Tapi dia membatalkannya. Tugasnya sudah selesai di sini. Dia tidak perlu tahu terlalu dalam tentang pasiennya. Sekalipun dia penasaran, hal itu hanya akan membuang waktu. Maka dia membereskan barang-barangnya dan pergi keluar. Carmen tersenyum saat Nyonya tabib berjalan keluar. Ketika pintu tertutup, senyumnya luntur. Kepalanya bergerak ke samping, ke arah keranjang kecil berisi barang-barangnya. Sebuah vas bunga berisi cornflower blue berada di sampingnya. Dengan melihat itu saja dia sudah tahu dia sudah tahu berada di mana. Walau tabib senior tadi tidak mengatakan apapun tentang di mana dia di rawat. Cornflower blue adalah signature milik Earl Centaurea. Sama halnya dengan bunga Iris Sibirica yang menjadi signature Lord Iris Sabre. Mage muda itu berdiri. Dia merenggangkan tubuhnya. Sedikit memutar bahunya yang kaku bekas operasi. Jahitannya sudah dilepas tanpa meninggalkan darah. Butuh paling tidak dua jam sampai bekas jahitan menutup. Carmen berjalan ke arah meja. Dia tahu orang yang menolong mereka pasti memeriksa barangnya. Mereka tidak akan menemukan apa-apa karena dia tidak menyimpan benda berharga di sini. Apalagi tanda pengenal perguruan, dia tidak punya. Senyuman tipis dia sunggingkan begitu melihat toples-toples kuenya tidak berkurang. Dia membuka satu dan memakannya. Kue memang mood boster yang terbaik. Satu persatu perangkat miliknya dia simpan kembali ke jubahnya. Setelah pakaiannya rapi, dia keluar. Dia bisa merasakan ada orang lain di ruangan sebelahnya. Melangkah ringan dia masuk ke dalam begitu saja. "Pernah dengar ucapan ketuk pintu sebelum masuk?" suara gerutuan orang di tempat tidur. Carmen menggigit bibirnya tanpa sadar menahan suara. Kalau di dengar dari nada suara Tuan Hunter, orang itu sedang iritasi akan sesuatu. Hal seperti itu wajar mengingat sifat Tuan Hunter yang mudah marah dan kesal. Mereka memang baru sebentar mengenal. Tapi interaksi Tuan Hunter dengan Reine sudah cukup membuat Carmen tahu karakternya. Setidaknya orang ini masih baik dan lembut pada anak kecil. "Maaf Tuan Hunter. Saya tidak akan mengulanginya." Tuan Hunter langsung membuka mata. Mungkin tadi dia sedang dalam mode meditasi walau tidak berada dalam posisi lotus. Kakinya pasti terluka. Carmen menangkap keanehan. Saat di Zenkoi, Carmen membuatnya babak belur. Tuan hunter langsung sembuh setelah beberapa jam istirahat. Mungkin kali ini lukanya sangat parah sampai tidak langsung sembuh. Tuan hunter masih menatapnya aneh tanpa membuka suara. Matanya seperti menelisik Carmen yang berdiri di depan pintu. Mulai dari wajahnya hingga bahunya. Tangan kanan Carmen yang seharusnya menggunakan sling kini terjuntai bebas. Tidak dibebat atau dipakaikan sesuatu yang menandakan dia habis operasi. Mage itu tertawa garing. Dia mengelus tengkuknya tidak nyaman. "Um, aku sudah sembuh jadi aku keluar mencari yang lain. Tuan Hunter, bagaimana dengan keadaanmu?" Tuan Hunter tidak langsung menjawab. Matanya bergeser ke arah lain. "Buruk." Carmen tidak menekankannya untuk menjelaskan. Dia hanya mengalihkan perhatian agar Tuan itu berhenti menatapnya aneh. Tatapan mata Leonio itu tajam serasa menusuk jiwanya. Terlalu tidak nyaman jika lama-lama ditatap. "Kau sungguh sudah sembuh?" Oh, tuan hunter masih penasaran juga ternyata. Dia pasti mendengar tentang kondisinya yang hampir kehilangan satu tangan. Carmen berjalan mendekat. Dia mengangkat tangannya ke wajah Leonio sambil menggerakan jari-jarinya. "Masih kaku sedikit. Tapi sudah menyatu dengan baik. Mau melihatnya?" Carmen bergerak untuk membuka jubahnya seakan ingin buka baju. "Tidak usah." "Tidak apa-apa. Aku tahu kau penasaran. Jahitannya masih ada. Tapi sudah tidak sakit." bajunya turun sebagian karena ingin memperlihatkan pundaknya. Keadaan ini yang Reine lihat saat gadis itu masuk ke dalam. Seorang laki-laki yang sedang memelorotkan pakaian atasnya di depan laki-laki lain yang duduk bersandar di kasur. Dia buru-buru menutup matanya seakan melihat adegan terlarang. "Aku tidak melihat apapun. Maafkan aku. Aku akan kembali nanti." gadis itu keluar dengan membanting pintu. Carmen merasa bingung kenapa Reine kabur. Dia tidak menyadari aura dingin dari orang lain yang ada di sana. Saat sadar, orang itu sudah melemparnya dengan sihir ke seberang ruangan. Carmen meringis kecil. Dia mengangkat wajah untuk menemukan raut muka Leonio begitu dingin seperti embun beku.  "Keluar." Tuan Hunter tidak pernah menaikan suara saat marah. Satu kata itu diucapkan dengan nada rendah yang membuat kulit menggigil. Carmen menelan ludah. Dia segera keluar sesuai permintaan. Jika dipikirkan lagi posisi tadi akan terlihat salah kalau dari sudut pandang Reine. Carmen mendengus geli. Lebih baik dia mencari Reine untuk meluruskan kesalahpahaman. Carmen kembali ke ruang Leonio dengan Reine di sampingnya dan Milko digendongannya. Tambah satu orang lagi. Earl Centaurea di depan mereka. Tuan besar di depannya sangat berbeda dengan Leonio. Kalau Tuan Hunter memasang aura 'aku malas bicara denganmu' tapi dengan sedikit kesopanan dan keeleganan. Tuan di depannya ini mengeluarkan aura 'sopanlah padaku aku lebih tinggi derajatnya darimu' dengan aura sombong. Tipe-tipe aura tuan muda kaya raya yang merasa dirinya penting. Carmen harus menahan suaranya untuk tidak tertawa dengan pikirannya sendiri. Karena ini wajahnya terlihat terus tersenyum membuat para pelayan Earl Centaurea terpesona padanya. Tidak tahu saja mereka kalau dia bukan tersenyum karena ingin menertawakan tuan mereka. Bisa digorok kalau Earl Centaurea tahu. 'Untung orang di depanku Earl Centaurea. Dia tidak akan bisa membaca pikiranku.' Leonio duduk tegak melihat mereka datang. Matanya langsung terpaku pada anak kecil yang digendong Carmen. Milko bersandar lemas dengan pipi menempel di pundaknya. Anak ini terbangun saat Carmen mencoba bicara dengan Reine. Karena tidak mau ditinggal, Milko dia bawa. "Demamnya sudah turun tapi masih lemas." Reine menjawab pertanyaan tanpa suara Tuan Hunter. Carmen menyadari sedikit demi sedikit Reine mulai bisa membaca Tuan pendiam itu. Pendiam menurut Carmen karena dia sering mengabaikan Reine kalau bertanya sesuatu. Kalau bukan pendiam, mungkin malas bicara. Leonio mengangkat tangannya meminta Milko. Carmen dengan senang hati memberikannya. Berada terus di gendongannya juga tidak nyaman. Milko bergerak dalam pelukan Leonio menyamankan diri. Anak itu kembali menutup mata sambil memegangi pakaian sang hunter. "Oh, kau sudah bisa mengangkat tangan. Kalau begitu tidak masalah kalau kita bicara sekarang. Aku ingin melakukannya setelah kau bisa berdiri. Tapi aku akan sibuk. Kalau tidak sekarang, kapan lagi." kata Earl Centaurea. Dia mengibaskan tangannya hingga muncul tiga kursi empuk. Display kekuatan itu sangat menarik. Tidak banyak orang yang bisa memunculkan benda dari udara kosong. Tuan hunter sendiri masih menggunakan kertas mantra dan hunter gearnya untuk memunculkan sesuatu. Mungkin Earl Centaurea tidak selemah yang orang katakan. Dia tidak sibuk dalam urusan dunia mage maupun swordman bukan berarti dia tidak punya sihir yang mumpuni. Dia mungkin ingin berkecimpung di urusan lain. Carmen tidak banyak mendengar tentang Earl Centaurea. Para mage atau swordman yang pernah adu kekuatan dengan Carmen banyak bercerita kalau Earl Centaurea begitu sombong tidak ingin memenuhi permintaan duel mereka. Bahkan tidak mau menoleh pada mereka. Berbeda dengan lima orang lainnya yang menjadi Seven Flowers Knights. Mereka masih senang berduel dengan orang-orang yang sengaja datang mencari mereka. Bahkan Kepala Paviliun Rosa, Sir Arion pemilik Roh Pedang Rose masih suka berduel dengan orang-orang. Lagipula mana ada orang lemah yang punya roh pedang. Menjaga satu core sihir saja sudah melelahkan apalagi dua sekaligus. Orang yang bilang Earl Centaurea lemah pasti tidak waras. Hanya satu orang yang terkenal tapi juga disegani orang-orang. Lord Iris Sabre tentu saja. Dia tidak hanya terkenal di kalangan mage, swordman dan hunter. Dia juga terkenal di kalangan umum rakyat biasa karena sifatnya yang suka menolong tanpa meminta bayaran. Perilakunya sopan terutama kepada orang tua dan sangat lembut terhadap anak-anak. Dia jadi idola di kemiliteran dan anak-anak muda perguruan pedang. Dia tetap bisa dingin dan kejam pada orang-orang yang bersalah. Tetap bisa sarkas pada orang yang membahayakan diri sendiri dan orang lain. Lord Iris Sabre mudah marah dan kesal. Tapi itu yang jadi daya tariknya, membuatnya semakin keren dan manly. Cerita ini terlalu banyak berseliweran hingga Carmen hafal. Carmen kembali menahan tawa atas pikirannya. Hebat sekali dia bisa membuat deskripsi panjang tentang Lord Iris Sabre. Padahal semua itu kebanyakan dari gosip yang dia dengar. Kalau disejajarkan dengan aslinya, kata-kata itu terlalu lemah. Lord Iris Sabre punya nilai lebih dari itu. Haruskah dia mulai membuat daftar pujiannya? Wajar saja kalau banyak yang mengidolakan Tuan Hunter. "Kalau begitu kita bicara." Lord Iris Sabre berkata. Carmen tahu pembicaraan mereka akan panjang. Jadi dia duduk nyaman di kursi. Mungkin menunggu beberapa menit sebelum mengeluarkan toples kuenya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN