"Mungkin sebaiknya kita perkenalan dulu. Karena saya tidak mengenal semuanya. Saya Dominique, pemilik Mansion ini. Orang mengenal saya sebagai Earl Centaurea."
Earl Centaurea memulai perkenalan. Reine dan Carmen bergantian mengikuti.
"Saya Reine Liem." kata Reine singkat.
"Saya Carmen, murid dari Master Liu Fengying. Orang-orang mengenal saya sebagai The Guardian." Carmen memberi hormat.
"Murid Liu Fengying? Berarti kau mengenal Ren Si Tangan Putih?"
"Tentu Earl. Beliau adalah kakak seperguruan saya."
"Ah, pantas itu sebabnya saya merasa Anda mirip seseorang. Tapi saya tidak bisa mengingat siapa." angguk Earl Centaurea. Terjawab sudah kenapa Dominique merasa familiar. "Maaf saya tidak mengenali Anda. Saya mendengar Anda berada di Kota Zenkoi hampir setahun ini. Saya tidak tahu akan bertemu dengannya di sini."
"Ada keperluan yang membuat saya keluar dari kota." senyum Carmen. " Apa Anda pernah bertemu dengannya? Maksud saya Ren kakak perguruan saya?"
"Iya, saya bertemu dengan beliau dua tahun yang lalu."
Semua sudah memperkenalkan nama. Kecuali satu orang yang masih duduk di tempat tidur. Orang-orang menoleh padanya seakan menunggu dia bersuara. Tuan Hunter menaikan alisnya melihat tatapan mereka.
"Haruskah? Kalian sudah tahu namaku." katanya dengan tampang malas.
"Iya, iya. Kami semua sudah hapal namamu. Lord Iris Sabre yang paling terkenal di seluruh negeri." sinis Dominique.
Leonio menanggapinya dengan memutar mata. " Ada hal lain yang lebih penting untuk dibahas. Jangan menungguku menyebutkan namaku sendiri."
Tuan Guardian harus menggigit pipi dalamnya agar tidak kelepasan tertawa. Kenapa sih dia receh sekali. Hanya mendengar kata sarkas dari Tuan Hunter langsung geli sendiri.
"Oke, jadi saya sudah mendengar kurang lebih dari Leonio bagaimana kalian bisa tertimbun di salju. Kenapa kalian bisa berada di sana di saat jelas-jelas ada badai salju?"
"Kami sedang menuju Desa Gorgon untuk mencari guru saya Master Liu. Kami sudah berangkat dua hari sebelumnya dari Kota Zenkoi tapi tertahan badai. Saat kami melanjutkan perjalanan lagi kami tidak menyangka akan dihadang badai kembali. Tidak ada satu pun berita ramalan cuaca yang menyebutkan akan badai."
"Eh?" bingung Reine. Dia tidak menyadari hal ini kemarin. Kebiasaan buruk Reine kalau sudah nyerocos tidak ingat sekitarnya. Dia bahkan tidak mendengarkan radio yang disetel Tuan Hunter.
"Itu benar. Aku tidak mendengar satu pun peringatan badai di radio. Jadi aku paksakan menyetir." tambah Leonio. "Runtuhan salju itu juga tidak wajar. Seingatku tidak ada gunung salju di kanan kiri jalan."
"Memang tidak ada." Dominique mengiyakan. "Wilayah ini hanya dataran tinggi. Bukan pegunungan bersalju."
"Jadi salju sebanyak itu dari mana?" tanya Reine.
Dia masih mengingat jelas kedatangan runtuhan salju dalam jumlah besar ke arah mereka. Belum lagi rasa sakit saat mereka terguling. Saat tertimbun juga, dia rasanya sudah mau menangis. Trauma itu mungkin akan membayanginya selama beberapa hari.
"Bagaimana menurutmu Leonio?" Pertanyaan itu dilontarkan oleh Dominique.
"Portal dari gunung salju."
"Sama seperti pikiranku."
"Portal?"
Bukannya Reine tidak tahu apa itu portal. Tapi selama ini dia pikir portal itu hanya untuk berpindah tempat. Eh kalau dipikirkan masuk akal juga. Portal bisa untuk memindahkan orang dari satu tempat ke tempat lain. Kenapa tidak untuk memindahkan salju sebanyak itu.
"Portal itu seperti pintu ke mana saja. Dapat untuk memindahkan satu benda ke tempat lain dengan memecah ruang dan dimensi. Tapi untuk bisa membuat satu portal, seseorang harus memiliki sihir yang sangat besar. Penggunaannya cukup menguras energi sihir dan fisik. Orang biasany gampang lelah setelah membuatnya sekali." jelas Earl Centaurea.
"Hal yang kita temui, tidak hanya membuat portal saja. Siapa pun orang ini juga punya kekuatan untuk mengirimkan salju dalam jumlah besar dan... memanipulasi cuaca."
"Memanipulasi cuaca?"
"Hanya firasatku saja. Badainya terlalu aneh kemarin."
Earl Centaurea seperti menyadari sesuatu. Dia menoleh cepat pada Leonio.
"Sepanjang daerah kalian hanya ada jalan tanpa pemukiman. Tidak ada korban lain selain kalian dan vegetasi yang ada di sana. Adik, kalian sedang di kejar siapa?"
'Adik?' Reine melihat kedua laki-laki bergantian. Memang sekilas mereka terlihat mirip dari segi rambut yang sama-sama abu-abu. Reine tidak tahu kalau mereka bukan adik kandung.
Leonio memberikan aura tidak menyenangkan. Dia paling tidak suka dipanggil adik oleh orang lain. Biar dia masih muda, panggilan adik seperti menurunkan harga dirinya. Tidak bisa berbuat banyak pada laki-laki yang duduk di seberangnya, dia hanya bisa membalas dengan tatapan sebal.
"Kami mencari orang." bukannya menjawab, Leonio mengalihkan pembicaraan. "Apa kau tahu tentang kasus di Kota Zenkoi?"
"Yang mana?"
"Tentang warga kota menjadi ganas dan kasar."
"Itu sungguhan? Aku kira itu hanya rumor belaka."
"Itu bukan rumor. Seluruh isi kota berantakan. Tuan Hunter bahkan harus babak belur dulu baru bisa menghancurkan pusat masalahnya." Reine merasakan tatapan tajam diarahkan padanya. Tapi dia tidak bohong. Leonio babak belur bertarung dengan Upuy. "Kami sedang mencari tahu pelakunya. Karena itu kami pergi untuk mencari Master Liu untuk mencari tahu lebih banyak."
"Sejauh ini kami hanya tahu namanya saja. Ada dua orang. Satu seorang wanita bernama Jada dan laki-laki bernama Wyman. Saya tahu Wyman seorang mage karena dia mengajak saya bertarung. Apa Tuan pernah mendengar nama mereka?" tanya Carmen.
Dominique berpikir sejenak. "Jika yang kalian maksud mage dengan kekuatan sihir besar, aku tidak pernah mendengar kedua nama ini."
Reine sedikit kecewa. "Berarti kita tetap harus mencari Master Liu." gumamnya.
"Dua nama ini kemungkinan penyebab Great Sleep terjadi." kata Leonio. "Kau yakin tidak pernah mendengar mereka?"
"Aku sangat yakin." wajahnya menjadi tegas. "Bicara soal Great Sleep, apa kau bertemu Sir. Arion sebelum Festival Lentera?"
"Tidak."
"Sebelum Festival Lentera terjadi, Sir. Arion menyambangiku. Dia berpergian mencari para ksatria dan anak didiknya di paviliun rosa yang sudah terpencar. Dia menyuruhku mengunci core sihir orang-orangku agar bisa selamat dari bencana besar."
"Sir. Arion mengetahui ini tapi tidak memperingatkan raja?" tanya Leonio dengan nada tidak percaya.
"Dia tidak tahu pasti kalau akan ada Great Sleep. Dia bilang dia bermimpi banyak kematian pada orang-orang yang memiliki sihir."
Hal ini membuat suasana ruangan menjadi tegang. Reine sampai merasa sulit menelan ludah. Kenapa pembicaraan mereka jadi mengerikan?
"Di mimpi itu dia hanya melihat orang-orang bergelimpangan tanpa melihat pertarungan. Tanpa melihat siapa yang membawa kematian. Tidak ada petunjuk lain dari potongan mimpi itu. Dia juga tidak bisa menjelaskannya lebih baik. Aku tidak tahu kenapa dia tidak memberitahu raja. Mungkin dia berharap bertemu denganmu di jalan agar kau bisa memperingatkan raja."
Earl Centaurea dan para ksatria lainnya tahu kalau Leonio sangat dipercaya Osmond Cyrille. Mereka punya pandangan berbeda-beda akan hal ini. Earl Centaurea sendiri tidak suka adiknya terikat dengan kerajaan. Dia ingin adiknya bebas tanpa menjadi kaki tangan pemerintah. Tapi di saat-saat tertentu, hubungan Leonio dengan kerajaan juga dibutuhkan. Tidak sedikit permasalahan desa terpencil bisa diketahui ketika Leonio melaporkannya. Bantuan akan cepat datang dan permasalahan teratasi.
"Karena peringatannya, aku bisa menyelamatkan sebagian besar orang-orangku dari Great Sleep."
"Sayang sekali saya tidak bertemu dengan Sir Arion." Leonio teringat teman-teman hunternya yang jatuh tertidur. Entah siapa yang mengurus mereka di saat Ned ada di kerajaan melakukan eksperimen. "Tapi mengunci core sihir, kita sendiri tidak bisa melakukannya."
"Benar, para ksatria tidak bisa mengunci core sendiri. Hal itu dapat membahayakan nyawa kita. Sir. Arion juga mengatakan kalau kemungkinan kita... harus bertarung." kata terakhir diucapkan begitu serius.
Raut wajah Leonio bertambah suram mendengarnya. Pertarungan adalah hal biasa. Dia juga sesekali butuh bertarung agar energi Iris Sabre digunakan. Jika seluruh ksatria harus bersiap untuk bertarung dia tidak pernah terpikirkan. Tentu kalau menyangkut Jada dan Kristal Nekomata yang kemungkinan ada di tangannya, tidak aneh kalau mereka semua dikumpulkan.
Kata kode-kodean ini tidak dimengerti Reine. Sebagai gadis yang penasaran tentu saja dia tidak bisa diam. Apalagi kedua orang ini seperti melupakan kalau dia dan Upuy masih ada di ruangan. Milko tidak perlu dihitung karena anak itu sudah tidur lagi.
"Tunggu, tunggu. Ksatria? Sir Arion? Bertarung? Kalian membicarakan apa? Ini masih membahas Jada-Wyman tidak sih?"