Reine berharap pertanyaannya tidak salah. Dia hanya ingin tahu lebih jelas agar bisa mengikuti pembicaraan dengan baik. Tuan Hunter dan Earl Centaurea melihatnya dengan intens.
"Kau tidak tahu tentang Seven Flowers Knights?"
"Seven Flo apa?"
Reine mana tahu hal seperti itu. Dia baru beberapa bulan hidup di dunia ini. Sebagian besarnya terisolasi di Catyzokan. Sisanya berada di jalanan bersama Tuan Hunter dan Milko. Kemampuan membaca Nekorogrifnya masih terbata-bata. Bagaimana mau mengerti istilah-istilah aneh seperti itu.
"Kau tidak memberitahunya?"
"Hal semacam itu bukan prioritasku. Aku tidak punya kewajiban untuk menjelaskan semua istilah atau gelar aneh yang ada di dunia ini oke. Kepalaku sudah penuh dengan hal lain yang lebih penting."
"Well, pantas saja Anda tidak terkejut saat aku memperkenalkan diri. Karena Nona tidak tahu apa-apa mengenai kami. Seven Flowers Knights itu..."
"Sudah ku bilang ada yang lebih penting dari ini. Bisakah kita kesampingkan story telling dulu?" sela Leonio.
"Ck, kau ini suka begitu. Aku tahu kau hanya malu. Hal seperti ini juga penting tahu. Siapa tahu kalian nanti bertemu dengan para ksatria lainnya."
Reine semakin penasaran. Ksatria yang sedang dibicarakan ini sepertinya berbeda dengan para prajurit kerajaan. Mungkin ksatria yang ini martabatnya lebih tinggi dari pada prajurit biasa.
"Seven Flowers Knights..."
"...adalah kumpulan orang-orang tidak penting."
"Leonio..." Earl Centaurea menatap Leonio kesal. " Bisakah kau tenang. Setelah ini kita bisa bahas apapun yang mau kau bahas."
Sementara kedua orang ini ribut, Carmen menyenggol Reine. Gadis itu langsung menoleh pada Carmen.
"Apa Reine pernah mendengar kisah dewa pedang?"
"Dewa Pedang Ala.. alacarte? Tuan Hunter pernah menceritakannya padaku."
Carmen tertawa geli mendengar Reine salah menyebutkan nama.
"Kau bilang apa tadi? Alacarte! Astaga! Bagaimana kau menyamakan nama dewa suci kami dengan makanan sampah." Earl Centaurea seperti orang yang sakit jantung. Mukanya pucat dengan mata membola tidak percaya.
"Maaf Tuan. Aku tidak bermaksud menghina. Aku hanya tidak ingat namanya dengan baik."
"Dewa Pedang Adalard. Salah satu Ancient God Nekoroyaume. Seven Flowers Knights ada hubungannya dengan Dewa tersebut." ucap Carmen tenang.
Hal ini mengundang deheman dari arah Earl Centaurea. Dia sepertinya tidak ingin bagiannya diambil orang lain. Carmen yang pengertian mempersilakan Tuan Dominique mengambil alih. Earl Centaure langsung memperbaiki duduknya dan berdehem.
"Apa yang Tuan Guardian katakan memang benar. Seven Flowers Knights ada hubungannya dengan legenda Dewa Pedang Adalard. Dalam legenda, Dewa Adalard sempat terluka dalam pertarungan dengan Monster Naga. Darahnya jatuh ke sungai tujuh warna dan mengalir ke tujuh padang bunga. Darah seorang dewa tentu bukan darah biasa. Padang bunga yang terkena aliran airnya menjadi berbeda dari biasanya. Bunga-bunga itu tidak layu selama seratus tahun walau terkena musim apapun. Dua orang penempa memiliki ide untuk membuat pedang dengan bunga-bunga tidak pernah layu tersebut. Karena bunga yang digunakan sudah menyerap energi dewa selama seratus tahun, setelah ditempa menjadi pedang muncul wujud humanoid dari bunga-bunga tersebut. Dalam dunia swordman mereka disebut roh pedang."
Reine mengingat kembali cerita Tuan Hunter. Laki-laki itu memang sekilas menceritakan tentang asal usul roh pedang. Bodohnya Reine tidak ingat hal seperti itu. Tujuh roh pedang dari tujuh bunga ajaib. Tentu saja Seven Flowers Knights berasal dari sana.
"Tunggu dulu. Kalau itu terjadi ratusan atau bahkan ribuan tahun yang lalu, bagaimana pedang-pedang itu bisa ada sampai sekarang?"
Earl Centaurea yang dipotong ceritanya merasa pelipisnya berkedut kesal. Dia melirik Leonio. Adiknya itu memberikan tatapan yang mengatakan 'jangan bawa-bawa aku. Urus sendiri sana.' Dia berdehem lagi dengan tidak santai.
"Nona, saya sedang bercerita. Bisakah Anda menjadi pendengar yang baik dan mulai bertanya nanti?" katanya penuh kesopanan yang dipaksakan.
"Uh, maaf."
"Oke sampai mana tadi? Oh iya Roh pedang. Tujuh Roh Pedang lahir dari bunga-bunga itu awalnya diberikan kepada tujuh ksatria di zaman itu. Karena dianggap pedang dewa, para ksatria yang memilikinya dianggap utusan dewa. Orang-orang memuja mereka..."
"Yang mana itu sangat bodoh."
"Ssstt." Dominique menatap tajam pada Leonio. "Orang-orang mulai memuja tujuh ksatria itu. Terutama saat sebuah bencana datang. Ketujuh orang ini bahu membahu membantu masyarakat, memusnahkan monster, dan melakukan kegiatan noble lainnya. Mereka diberi gelar oleh Raja pada zamannya. Aku tidak tahu bagaimana raja saat itu menentukan siapa yang akan mendapat gelar apa. Hal itu tidak pernah dituliskan dalam sejarah. Tapi ada beberapa yang mengatakan bahwa raja di masa itu menentukannya dengan urutan warna pelangi."
"Mejikuhibiniu?"
"Iya. Beliau memulainya dengan nama gelar dan nama bunga. Archduke Rose, Duke Gailardia, Marquis Calendula, Count Cananga, Earl Centaurea, Viscount Gloxinia, dan Lord Iris. Mereka melindungi Nekoroyaume selama ratusan tahun sebelum satu persatu mulai berguguran. Sebuah pertempuran besar antara realm lain muncul. Para ksatria awalnya memimpin pasukan untuk berperang. Tapi mereka mulai sadar jika terus dilanjutkan tidak akan ada kedamaian yang muncul. Maka mereka menyatukan kekuatan membangun pilar pelindung Nekoroyaume."
"Empat pilar pelindung?"
"Benar, dengan pelindung ini Nekoroyaume terbentengi. Maklhluk dari dunia lain tidak bisa masuk. Sementara yang masuk dan terjebak di Nekoroyaume akan diadili. Perang usai tanpa ada pemenang. Tapi dunia menjadi lebih baik. Sayangnya bayaran untuk membangun empat pilar sangat besar. Satu persatu Seven Flowers Knights meninggal. Sebelum semuanya gugur, dua ksatria terakhir meminta Raja memilih empat orang untuk menjaga pilar. Dua orang itu adalah Viscount Gloxinia dan Lord Iris. Mereka membantu raja memilih penjaga pilar dari empat golongan. Golongan Mage, Swordman, Seer, dan Elemental."
"Elemental?"
"Mereka mirip seperti mage tapi tidak perlu mengucapkan mantra. Mereka memanggil kekuatan hanya dengan pikiran dan emosi mereka saja."
"Aku mengerti." Reine pikir tidak ada yang seperti itu. Tuan hunter selama ini hanya membahas Mage, Swordman dan Hunter. Ternyata ada kategori lainnya juga.
"Sekitar dua ratus tahun setelah kematian ksatria terakhir, para arkeologi ingin meneliti pedang para ksatria. Sayangnya pedang yang diteliti itu dicuri dari lab peneliti oleh pencari harta. Pedang milik Marquis Calendula. Pedang itu berpindah tangan ke sana-sini sampai jatuh ke salah satu kolektor pedang. Kolektor pedang mencoba Pedang Calendula untuk membunuh musuhnya sesama kolektor. Roh pedang marah saat mengetahui dirinya digunakan oleh orang serakah. Roh pedang melakukan pembantaian pada kolektor itu sebelum menghilang bersama pedangnya. Sejak saat itu satu persatu pedang ksatria menghilang sebelum muncul lagi di generasi kita."
"Eh, jadi dari generasi pertama ksatria pedang, tidak ada lagi yang bisa menggunakannya sampai di zaman kalian? Bagaimana di masa Keluarga Kucing Iblis? Tidak ada Seven Knights di sana?"
Earl Centaurea mengibaskan tangannya. "Aku hanya memotong ceritanya. Kau tidak lihat kucing anggora di sana sudah cemberut terus sepanjang cerita." maksudnya pada Leonio.
"Tapi kalau cuma sepotong, ceritanya tidak lengkap! Aku bisa bayangkan jarak ksatria pertama dan kalian ada jarak seribu tahun. Kalau Keluarga Kucing Iblis saja sudah ada tujuh ratus tahun sebelumnya, berarti peristiwa ksatria generasi pertama lebih jauh dari itu."
"Reine benar. Cerita Anda disingkat dengan kasar sekali tuan. Saya pribadi ikut penasaran apakah selama lebih dari seribu tahun itu ada ksatria lain yang muncul."
"Kalian tidak salah. Di zaman Keluarga Kucing Iblis menjadi teror, ada Flowers Knights yang muncul."