Mansion besar Centaurea berdiri dingin di tengah musim salju. Tidak ada tanda-tanda badai salju selama hampir dua puluh empat jam. Namun salju-salju di sekitar masih masih cukup tebal untuk memberi kesan ethereal pada mansion ini.
Jauh di dalam kamar-kamar mansion Centaurea, berkumpul empat orang manusia kucing dan satu gadis manusia. Pembicaraan mereka diselingi teh hangat courtesy pemilik mansion. Niat tidak membuat percakapan yang panjang jadi terlupa. Layaknya anak-anak yang haus akan cerita di musim dingin, mereka melanjutkan mendengar penutur.
"Kalian tidak salah jika berpikir di masa sebelum generasi ini, ada ksatria lain yang muncul." Dominique memulai lagi. " Masalahnya adalah tidak setiap generasi memiliki semua Seven Flowers Knights. Di beberapa generasi hanya muncul satu-dua. Jarang sekali melebihi tiga orang."
"Kenapa begitu?"
"Ada beberapa hal penyebabnya. Satu karena pedang-pedang para ksatria menyembunyikan diri. Mereka tidak muncul sampai orang yang menurutnya pantas memegang mereka terlahir. Tidak bisa diketahui sampai seseorang menggunakan kekuatannya. Tidak semua orang juga mengerti perbedaannya dengan swordman biasa. Kedua pengaruh zaman. Minat dan trend di setiap masa berubah. Pengetahuan berubah. Apa yang dianggap sebagai sejarah berubah menjadi legenda. Apa yang dianggap legenda dipandang sebagai hal fiktif. Saya tidak aneh jika semakin bertambahnya zaman, tidak semua orang ingat menceritakan legenda dewa pedang atau dewa-dewa lainnya."
Masuk akal kalau dikatakan seperti itu. Permasalahan suatu dunia akan seperti itu. Trend dan minat masyarakat sangat mempengaruhi bagaimana sebuah generasi melewati masanya. Awalnya dia pikir dengan dunia penuh keajaiban ini masalah tersebut tidak akan muncul. Ternyata dia salah. Di manapun tempatnya, masalah itu tetap ada.
"Ketiga, adanya dewa pedang baru." katanya dengan nada tidak suka.
"Tuan hunter pernah mengatakan ini. Tapi Tuan Hunter tidak menjelaskan siapa dewa pedang baru ini."
Earl Centaurea menghela napas. Dia kelihatannya tidak mau membahasnya. Tapi karena cerita ini saling berhubungan, dia juga tidak bisa berhenti di tengah.
"Dewa pedang ini bernama Delvin. Namanya berarti teman yang baik. Sebelum menjadi Dewa, Delvin adalah orang biasa. Dia belajar pada berbagai guru untuk mencari ilmu yang banyak. Dia senang bertarung dengan berbagai golongan mage. Dia senang beradu pedang dengan pendekar pedang. Dia tidak kenal takut. Selalu mencari monster untuk ditaklukkan. Semua yang dilakukannya tidak jauh dari tujuan menjadi yang terkuat. Dia juga pencetus bentuk pengajaran dalam sistem perguruan. Karena ini muncul berbagai sekte dan perguruan sihir. Hal ini bisa dibilang sebagai revolusi."
"Jadi sebelum ada dia, belum ada yang namanya sekte-sekte seperti itu?"
"Belum. Semua orang sama. Tidak terpecah dalam sekte-sekte tertentu. Orang yang mengerti sihir akan mengajarkannya bagi yang ingin belajar. Orang yang mengerti pedang akan melatih siapapun yang mau. Tidak ada kompetisi besar. Hanya saling peduli satu sama lain untuk menciptakan harmoni."
Bahasa Earl Centaurea sangat indah. Dunia tanpa sekat. Dunia sederhana yang ada di masa lalu. Semakin berkembangnya zaman, kesederhanaan seperti itu perlahan memudar.
"Kembali ke Delvin. Saya bisa katakan dia pencipta trend baru dari menambah ilmu untuk berbuat kebajikan menjadi kompetisi untuk menjadi yang terkuat. Ketika dia menghilang banyak yang percaya dia diangkat menjadi dewa. Orang-orang yang menganggapnya hebat, yang memujanya sebagai idola mulai mendirikan kuil untuknya. Mereka mengukuhkannya sebagai dewa baru. Sebagai revolusioner dan sebagai lambang kekuatan."
"Tuan, Anda seolah-olah ingin mengatakan dia sebenarnya bukan dewa." kata Reine hati-hati.
Earl Centaurea berdiri dari kursinya. Dia berpindah ke tempat tidur Leonio. Dengan lembut membantu Leonio untuk membaringkan Milko yang terlelap. Setelah itu dia berpindah ke sisi Leonio yang tidak diisi Milko.
"Saya pribadi tidak menganggap dia dewa. Saya rasa Leonio juga berpikiran sama." katanya dengan nada yang dingin.
"Seorang mortal yang ambisius disamakan dengan Ancient God. Huh, aku rasa orang-orang sudah tidak waras." komentar Leonio setelah sekian lama.
Reine melihat tangan Earl Centaurea mengusap lengan Leonio. Gestur untuk menenangkan seseorang. Mungkin benar mereka bersaudara. Earl Centaurea sangat memperhatikan keadaan emosi Tuan Hunter.
"Itulah manusia hm. Akan mengidolakan apa yang menurut mereka keren." responnya. "Masih banyak alasan lain kenapa kami tidak menganggap dia sebagai dewa. Ajarannya, pandangannya, kepribadiannya, dan hal-hal lainnya. Hal yang paling fatal dari ajarannya akan terlihat pada kasus keluarga kucing iblis puluhan tahun setelah dewa ini terkenal."
Reine merasa mereka masuk ke bagian penting. Dia segera meraup segenggam kue kering dari toples Upuy. Mage itu dengan senang hati membagi kuenya dengan Reine. Dia tidak khawatir karena masih ada toples lainnya menunggu untuk dibuka.
"Siapa nama pesohor kucing iblis?"
"Bong Hui."
"Oh iya, Bong Hui. Dia lahir di Nekoroyaume dari dua orang mage ternama. Bong Xu dan Kanari. Walau dikatakan sebagai mage, orang ini juga belajar ilmu pedang. Gurunya seorang Grandmaster yang berteman dengan salah satu Seven Flowers Knight yang hidup di zaman itu. Ada yang mengatakan itu adalah reinkarnasi dari Duke Gailardia. Gurunya berteman dengan salah satu ksatria. Dia menyaksikan sendiri kehebatan seorang ksatria dan kekuatan dari roh pedang. Sebagai penganut ajaran dewa baru, hatinya terpupuk dengan ambisi untuk menjadi yang terkuat."
"Bong Hui seorang prodigi di generasinya. Dia haus kekuatan dan pengakuan. Dia berlatih dengan tekun. Dia memenangkan setiap kompetisi yang ada. Sampai menciptakan mantra-mantra sihir baru.Sebenarnya ada yang menjadi motivasinya untuk bekerja keras seperti itu. Tebak apa?"
"Um, mungkin dia ingin menjadi hebat seperti ksatria itu." jawab Reine. Earl Centaurea tidak akan membahasnya jika tidak ada hubungannya.
"Jawabannya hampir betul Nona. Bong Hui pernah bertarung dengan ksatria itu. Dia kalah pada pertarungan dan berjanji akan bertambah kuat demi mengalahkannya. Makanya dia mencari petarung lainnya yang hebat untuk dikalahkan sampai dia merasa cukup kuat untuk bertarung dengannya kembali. Keluarganya juga mendorongnya untuk tidak mengecewakan mereka karena mereka berasal dari keluarga ternama di masanya."
Reine akui faktor seperti itu pasti sangat kuat untuk jadi motivasi orang yang ambisius. Bertemu orang hebat dan dorongan dari keluarga membuat orang jadi terdorong menjadi lebih hebat. Dia sedikit teringat ibunya di dunia manusia. Bagaimana ibunya selalu menceritakan anak tetangga mereka yang sukses untuk menjadi cambukan Reine menjadi lebih baik. Sayangnya itu tidak berhasil. Reine terlalu nyaman dengan kehidupan monoton kantornya sebelum dia di phk. Dia tidak mencari jenjang yang lebih tinggi.
"Saat Bong Hui mencari kekuatan, dia masuk ke ajaran gelap yang berbahaya bagi hati dan pikiran. Kekuatannya meningkat drastis. Semua orang segan padanya. Namun tempramennya memburuk. Hal ini juga terjadi pada anggota keluarganya yang lain yang mengikuti ajarannya. Akhirnya saat dia merasa siap untuk bertarung kembali dengan sang ksatria, Bong Hui mencarinya. Saat menemukannya, ksatria tersebut telah meninggal dunia dua hari sebelum kedatangannya."
"Apa?!"
"Ksatria itu mengorbankan diri untuk menghancurkan sebuah portal besar yang membawa para monster dari dunia lain ke sini. Bong Hui yang sepanjang hidupnya termakan ambisi untuk mengalahkan ksatria tersebut begitu kecewa. Dia menjadi hilang arah. Dia mencoba mencari Seven Flowers Knights lainnya tapi tidak bisa menemukan mereka. Dalam pencariannya ini dia melakukan banyak kekacauan. Hatinya yang sudah dikuasai kegelapan memperparahnya. Akhirnya semua orang bersatu untuk mengalahkannya dan sisanya menjadi legenda."
Reine sedikit sedih mendengarnya. Orang ini seperti anak kecil yang kehilangan musuh bebuyutannya dan tidak tahu harus apa. Dia melampiaskannya pada orang lain karena kekecewaannya. Kekanakan sekali. Mungkin karena dia juga mulai tidak waras saat itu jadi rasa patah hatinya begitu besar.
"Setelah masa itu belum ada lagi villain yang sangat kuat. Seven Flowers Knights bermunculan di setiap generasi namun tidak pernah lengkap. Baru di generasi ini Seven Flowers Knights lengkap."
"Jadi siapa saja selain kalian berdua?"
"Archduke Rose dipegang oleh Sir Arion. Beliau adalah ketua dari Paviliun Rosa. Duke Gailardia dipegang oleh Moiz dari Ouluisa. Marquis Calendula dipegang oleh Simba dari Lembah Tabib. Count Cananga dipegang oleh Jojo dari Gunung Qianfan daerah Selatan. Viscount Gloxinia dipegang oleh Kurza dari wilayah panas Orlen. Saya, Dominique sebagai Earl Centaurea dan anak ini." sambil menepuk pundak Tuan Hunter. "Si bungsu, Lord Iris, yang sekarang terkenal dengan julukan Lord Iris Sabre, Leonio, mantan pasukan elit kerajaan yang sekarang jadi serabutn."
"Tuan Hunter anak bungsu?" Reine menatap geli.
"Tentu saja. Dia yang termuda di antara kami semua. Apa bahasa kerennya? Maknae? Maknae selalu yang paling terkenal hn." katanya sambil tersenyum menggoda.
Leonio membalas dengan memutar bola matanya. Reine takjub mata itu tidak lepas dari soketnya mengingat seberapa sering Tuan Hunter melakukannya. Oops jangan sampai dia tahu Reine berpikir seperti ini.