Bab 22 - Milko

1468 Kata
Dokter Frans benar-benar mengantar Reine pulang ke Gerdinlix. Sepanjang perjalanan dengan mobil, Reine bisa melihat kekacauan di sekitarnya. Sangat berbeda saat dia ikut naik mobil ambulans membawa nenek ke rumah sakit. Kaca mobil ambulans termasuk tertutup. Banyak alat dan kabinet yang berhubungan dengan tindakan medis. Reine yang panik saat itu juga tidak begitu mempedulikan sekitarnya selain menggenggam tangan nenek yang kritis. Langit gelap dengan hiruk pikuk orang-orang yang terlihat panik. Beberapa kucing dengan pakaian militer sibuk mengarahkan orang-orang ke tempat aman. Sirine ambulans dan sirine kebakaran di jalan semakin menambah kacau situasi. Mereka sempat terjebak macet di jalan utama sebelum lima orang petugas turun mengurai kemacetan. Ponsel Dokter Frans terus berdering di dashboard. Setiap panggilan masuk memiliki dering berbeda menandakan dari orang yang berbeda. Reine semakin tidak tenang. Rasanya dia ingin mengangkatnya atau memencet tombol shut down. "Biarkan saja." Dokter Frans pasti menyadari kegelisahannya. Dia menyetir dengan serius. "Setelah kau aman, akan ku angkat telpon itu." Perjalanan mereka sangat lama. Mereka beberapa kali harus membuka jalan pada para ambulans untuk berjalan lebih dulu. Reine hanya bisa meremas tangannya dengan tegang. Setiap kali ambulans lewat, dia berharap orang di dalamnya akan selamat, sama seperti dia mendoakan keselamatan Nenek Leala. Mereka melewati lapangan tempat Reine menyalakan lentera. Sekarang tempat itu kacau dan ada sisa-sisa bakaran. Dia tidak tahu apakah kepala desa selamat setelah mengenai ledakan tadi. Tiba di Catyzokan, Reine bertemu dengan wajah takut anak-anak. Beberapa diantara mereka meringkuk bersama yang lainnya seperti mencari rasa aman. "Mba Monez, terima kasih sudah berjaga." Monez mengangguk kecil. "Beberapa sudah berhasil ditidurkan. Yang di sini terlalu takut untuk terpisah." "Aku akan mengurusnya." "Nenek?" "Masih di ruang UGD. Aku tidak bisa menunggunya di sana." Monez melihat Dokter Frans dibelakang. Dia mengangguk sebagai salam. "Kalau begitu aku izin pulang. Besok pagi aku akan datang lagi ke sini. Malam Reine, malam dokter." Setelah Monez keluar, dokter Frans menahan Reine untuk bicara. "Reine, dengarkan saya. Kunci pintu dan jangan berikan akses masuk orang yang tidak kamu kenal. Catyzokan dibangun dengan sihir khusus untuk melindungi. Selama kau di sini kau akan aman. Jika ada orang mengaku dari kerajaan, tanyakan mengenai surat perintah. Panggil Monez atau siapapun kucing dewasa yang ada di sini untuk mengeceknya. Kau harus berhati-hati." "Baik dokter." "Aku harus segera kembali ke rumah sakit. Aku akan kabarkan kau lewat telepon mengenai kondisi Leala. Kau tahu cara menggunakan ponsel Leala kan? Ponselnya masih ada di sini kan?" "Izinkan Reine mengeceknya sebentar." Reine masuk ke kamar nenek. Dia membuka laci-laci meja rias hingga menemukan ponsel yang dimaksud. Reine membuka kuncinya. Dia menemukan beberapa panggilan tidak terjawab di sana. Reine tidak bisa menjawabnya. Tapi setidaknya dia mengkonfirmasi kalau ponsel nenek ada di sini. "Ponsel nenek ada dok. Nenek tidak membawanya." "Ah syukurlah kalau begitu. Jika ada apa-apa kau juga hubungi aku jika Leala belum kembali." "Aku mengerti dok. Aku juga akan berhati-hati. Dokter juga mohon hati-hati di jalan." Reine kemudian masuk ke dalam dan membantu anak-anak untuk tidur. Pada akhirnya mereka yang tidak mau tidur di kamar sendiri, tidur bersamanya di ruang bermain yang luas. Mereka tidur hampir saling menempel seperti pepes. Tapi dengan begitu mereka merasa aman. ................................................................... Pagi datang bukan hari baik untuk Reine. Dia bisa melihat semua anak masih waswas bergerak. Owi terus menangis dan menutupi wajahnya dengan selimut. Anak perempuan itu merasa bersalah atas kejadian semalam. Dia tidak mau makan karena bersedih. "Owi sayang, makan ya." "Nenek..." "Nenek baik-baik saja. Dokter akan merawat nenek sampai sembuh. Ingat waktu Kak Reine sakit? Kakak juga dirawat dokter sampai sembuh." "Salah Owi. Owi sorry." "Tidak, Owi tidak salah. Owi terluka dan nenek ingin melindungi Owi. Nenek sangat sayaaaang pada Owi jadi nenek melindungi Owi. Owi sayang nenek juga kan? Owi makan ya sekarang biar sehat dan bisa ketemu nenek." Owi masih menunduk sedih. Tapi untungnya dia masih mau mendengarkan Reine. Anak itu cukup kognitif untuk mengerti kalau nenek menyayanginya. Tapi rasa bersalah dan kejadian semalam akan cukup memberatkan otaknya. Jadi dia masih menangis. Reine menangkup wajah anak itu dan mengelapnya dengan saputangan. Dia mengelap sampai ingus-ingusnya. Sambil tersenyum lembut dia mengelus kepala anak itu seperti yang dilakukan nenek. "Owi sayang nenek." gumamnya kecil. Matanya melirik piring makanan di tangan Reine. "Makan ya. Kak Reine suapi." Owi mengangguk lagi. Dia membuka mulut dengan patuh saat Reine menyendok bubur sedikit ke mulutnya. Baru selesai kunyahan pertama anak itu kembali menangis. "Apa terlalu panas?" Owi menggeleng kecil. "Rasanya... beda dengan biasa." Hati Reine sangat sakit mendengarnya. Selama ini nenek Leala yang memasak untuk seluruh Catyzokan. Bahkan saat Reine membantunya, selalu nenek yang menambahkan bumbu dan lainnya. Reine tidak pernah benar-benar membuat bubur ikan. Dia hanya membantu membersihkan ikan dan mengaduknya di panci sampai matang. Reine tak bisa menahan diri untuk melihat ke atas sambil berusaha menahan air matanya. Tidak baik kalau dia juga kelihatan sedih di depan anak-anak. "Kak Reine yang buat jadi rasanya beda." dia menarik napas. "Kita berdoa semoga nenek cepat sembuh jadi Owi bisa makan bubur buatan nenek lagi. Tapi yang ini Owi makan ya walau sedikit." Owi kembali mengangguk sambil menarik ingus. Reine menyuapinya perlahan tanpa bicara lagi. Hingga tidak terasa bubur di mangkuknya habis. Reine kemudian membantu anak itu untuk mandi dan berganti pakaian. Kaki anak itu masih bengkak karena terkilir, jadi Reine oleskan obat pereda bengkak dengan hati-hati. Selesai menangani Owi dia bergerak mengecek gedung bayi dan gedung balita. Reine tidak terlalu sering ke gedung balita. Tapi saat berada di sana dia merasa tenang. Beberapa ibu-ibu datang membantu, walau jumlahnya lebih sedikit dari yang biasa. Monez menangani gedung bayi untuk saat ini. Dia salut nenek bisa mengurus ketiga gedung ini dengan baik setiap hari. Bicara soal nenek, Reine dapat kabar dari rumah sakit. Dokter Frans mengatakan nenek sudah mengalami masa kritisnya. Tapi karena benturan di kepala dan kondisi nenek yang sudah tua membuat dia koma. Tangan Reine langsung dingin mendengarnya. Dia bersyukur sedang sendirian saat menerima telepon dari dokter Frans. Jadi setelah selesai menelpon dia bisa menangis diam-diam. Akhirnya setelah selesai mengurus hal-hal penting di Catyzokan, dia punya waktu kosong. Dia sudah tahu Yoyo terus mengikutinya sejak tadi. Lebih baik kesempatan ini dia gunakan untuk bicara dengan anak itu. Baik Reine dan mungkin Yoyo sendiri memang ingin bicara. "Yoyo, bisa ikut kakak sebentar?" Tidak perlu diminta Yoyo terus mengikutinya sedari tadi. Jadi mereka hanya berpindah ke ruangan yang lebih tertutup. Ruangan yang dipakai adalah kamar Reine. Karena kalau di ruang baca atau tempat lain mungkin akan ada yang masuk. Tapi anak-anak di sini masih sopan untuk tidak masuk ke kamar orang dewasa seenaknya. "Duduklah." Yoyo duduk di atas kasur. Sedangkan Reine memilih menarik kursi kecil yang dia punya. Berada dalam posisi seperti ini dia seperti melihat Yoyo dalam kondisi yang berbeda. Anak itu tidak terlihat takut atau waswas berdua dengannya seperti ini. Malah sebaliknya Yoyo terlihat tenang untuk seorang anak berumur sepuluh tahun. Sangat aneh tapi Reine mengapresiasinya. Karena dia hari ini sudah terlalu banyak menangani anak-anak yang waswas mendengar suara sekecil apapun. Bahkan takut dia berubah marah karena kejadian semalam. Mereka masih trauma oke. "Yoyo, semalam kau bisa bicara?" Reine masih ingat teriakan jelas semalam. Suara anak kecil yang menggelegar dari jauh menggapainya. Suara itu menyelamatkannya dari bahaya yang datang ke arahnya. "A..ku bisa." agak sedikit terbata tapi cukup jelas didengar. "Sejak kapan? Apa semalam..." "Su..dah lama. Ta..pi tidak be..rani bi..lang." "Oh Yoyo, Kak Reine sangat senang kau akhirnya bisa bicara. Ini benar-benar patut disyukuri. Yoyo bisa bicara lagi." "Bu.. kan." "Bukan? Bukan apa?" "Bu.. kan Yo.. yo." anak itu menepuk dad*anya dengan tangan. "Nama.. bu..kan Yoyo." "Namamu bukan Yoyo? Apa... apa Yoyo ingat nama saat di dunia manusia?" Anak itu mengangguk keras. Dia kembali membuat gestur menepuk-nepuk dirinya. "Na..ma Mil..ko. Milko." anak itu mengulang kata terakhirnya dengan lebih keras. Reine tertegun mendengarnya. "Milko?" suaranya kecil dengan nada tidak percaya. "Milko." sambil menunjuk diri. "Re..ne. Mil... ko." dia menunjuk Reine dan dirinya bergantian. Kepala Reine langsung berdenyut sakit. Otaknya masih tidak bisa memproses. Mungkin bukan tidak bisa, tapi terlalu terkejut. Apa dia pernah mengucap nama itu di depan anak-anak? Seingatnya dia hanya memberitahukan nama itu kepada nenek? 'Apa benar anak ini Milko? Milko ku? Milko kecilku yang pergi meninggalkan ku? Ini mimpi kah?' "Kau benar-benar Milko?" Milko mengangguk cepat. Hidungnya berkerut melihat ekspresi Reine yang masih tidak percaya. Dia seperti mencoba mengingat sesuatu yang membua Reine percaya. "Mommy... Chi..chimy... si cing.." dia agak susah mengucapkan yang terakhir karena susah. "Oh ya ampun. Kau sungguh Milko!" Reine langsung memeluk anak itu. Dia mengangkatnya dan berputar-putar tertawa bahagia. Milko kaget tapi berhasil diam dan berpegangan. "Milko... Milko sayang. Ya ampun Milko. Selama ini kau di sini. Milko..." Reine tak bisa menahan tangis. Bibirnya menghujami ciuman ke rambut dan wajah Milko. Mereka akhirnya tenang untuk kembali duduk di tempat tidur. Kali ini Reine memangku anak itu sambil terus memeluknya. "Aku kira... aku kira aku tidak akan bisa melihatmu lagi." tangisnya. "Aku kira kau tidak ada di sini."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN