"Aku kira kau tidak ada di sini."
Milko juga ikut menangis. Dia teringat saat tubuhnya sangat kecil dan ringkih. Samar-samar dia mendengar suara Reine - manusia yang merawatnya meminta dia bertahan. Menangis membawanya ke vet. Diantara rasa lemasnya dia ingin mengeong. Dia ingin bilang dia takut. Dia ingin terus bersama Reine.
Sekarang Reine berada di sini. Sekarang dia bisa berbicara untuk mengatakan banyak hal. Dia punya tangan yang bisa memeluk Reine juga. Sekarang dia bisa melakukan banyak hal dengannya.
"Tapi kenapa kau dipanggil Yoyo?"
Milko mencoba menjelaskan secara terbata-bata. Artikulasi kata masih agak sulit. Tapi Reine orang yang sabar mendengarkan. Dia bilang jika seorang anak tidak punya nama di kehidupan sebelumnya, maka mereka bisa memilih nama. Dia tidak bisa bicara walau sekeras apapun mencoba. Jadi saat dia diperbolehkan bermain, dia selalu mengambil mainan yoyo kecil. Tidak tahu untuk apa tapi terasa benar, nostalgic. Jadi nenek mulai memanggilnya dengan nama Yoyo.
"Ya, Milko suka memainkan tempat bedak milikku. Tidak sama memang, tapi bentuknya bundar pipih seperti yoyo. Mungkin karena itu."
Milko berpikir sebentar lalu mengangguk. Mungkin saja memang seperti itu. Ingatannya di dunia manusia tidak sejernih pada saat-saat terakhirnya. Saat di mana rasa lemas, sakit dan dingin tidak mau hilang dari tubuhnya. Samar dia ingat menyeret diri keluar untuk menemukan tempat untuk mati. Agar Reine tidak melihatnya saat sekarat. Insting kucing seperti itu bukan. Tidak ingin diketahui jika ajal sudah mendekat.
'Tapi kita hanya berbeda satu hari saat meninggal. Bagaimana kau bisa sudah lama di dunia ini?' ingin Reine tanyakan hal itu. Namun rasanya terlalu menyedihkan.
"Kakak! Kak Reine! Apa Kakak di dalam?!" suara panggilan panik dan gedoran dari pintu.
Milko segera turun dari pangkuan agar Reine bisa berdiri.
"Ada apa?"
Seorang anak kira-kira berumur dua belas tahun terlihat panik.
"Owi! Owi dan Dodo aneh!"
"Aneh?"
"Aku tidak tahu. Aku tidak mengerti. Kak Reine lihat saja sendiri." nadanya begitu takut.
Hati Reine jadi takut. Mereka bergegas ke ruang bermain. Reine begitu kaget melihat kekacauan ini. Semua anak berdiri dipojokan atau bersembunyi di kolong meja. Ada yang menangis. Benda-benda kecil dan besar seperti mainan, boneka, bantal, buku dan kursi kecil berterbangan. Di tengah-tengah ruangan ada Owi dan Dodo yang berteriak kesakitan. Mereka memegangi kepala mereka sambil menangis.
'Telekinesis? Sihir? Mereka kesakitan karena sihir?'
Pelan-pelan muncul bunga es di kaki Dodo. Anak kucing persia itu berteriak lebih keras membuat es beku tajam di dekatnya. Ini pertama kalinya Reine melihat Dodo mengeluarkan sihir. Dia tahu Dodo punya, tapi tidak pernah digunakan.
"Anak-anak, cepat keluar! Cepat ke arah sini! Merapat ke tembok dan bergerak ke sini cepat!"
Mendengar suara teriakan Reine, anak-anak langsung melihat ke arahnya. Reine terus mengucapkan perintah. Ada anak-anak yang terlalu takut bergerak jadi tetap diam. Anak berumur dua belas tadi dan Milko mencoba membantu. Reine mendesis takut saat semua benda yang melayang bersama es baru tadi juga ikut terbang.
"Owi... Dodo... tenang nak tenang. Owi... Dodo. Kakak di sini, kakak di sini..."
Anak-anak lain sudah separuhnya keluar dari ruangan. Tapi intensitas sihir di udara masih tinggi. Reine memberanikan diri mendekati kedua anak itu. Dia terkena hantaman benda-benda melayang yang membentuk tameng. Tapi Reine tidak menyerah sampai mereka dekat dengannya.
Reine tahu dia tidak bisa memegangi mereka satu persatu. Jadi dia sebisa mungkin memeluk kedua anak itu. Keduanya meronta hingga mencakar. Tapi Reine terus memeluknya sambil mengucapkan kalimat-kalimat penenang.
"Sayang, Owi Dodo, kakak di sini. Tidak ada yang bisa menyakiti kalian. Kakak sayang kalian berdua. Tenang... tenang."
Mereka berontak dan berontak hingga akhirnya berhenti. Reine semakin mengeratkan pelukannya dan tanpa henti mengucapkan kalimat sayang. Hingga akhirnya semua benda berjatuhan. Reine menyelipkan mereka ke pelukannya hingga kepala anak-anak itu tidak terkena benda yang menyakitkan.
"Kak... Reine?"
"Iya sayang. Kakak di sini."
"Sorry."
Keduanya ambruk tak sadarkan diri. Reine bernapas lega. Mereka pasti kelelahan karena menggunakan sihir berlebihan.
Seharusnya seperti itu.
Saat malam datang dan jam makan malam sudah dekat, Reine coba membangunkan Owi dan Dodo. Anak-anak lain mungkin masih kaget dan takut, jadi Reine berinisiatif untuk menemani mereka makan di kamar. Reine sengaja menempatkan mereka berdua di satu kamar sementara ini agar lebih mudah mengeceknya. Tapi kedua anak itu tidak bangun. Bahkan saat Reine menggoncangkan tubuhnya. Reine akhirnya memakai cara kasar dengan membasuh mereka dengan kain basah. Mereka tidak bangun juga.
Kali ini Reine panik. Dia takut sudah salah memperhitungkan dan malah lalai melihat keadaan. Terakhir kali dia lalai, nyawa Milko menghilang. Dalam kepanikannya dia menelpon Dokter Frans. Biar bagaimanapun pria itu mengatakan untuk menghubunginya jika terjadi sesuatu.
[Apa mereka bernapas? Apa napas mereka normal? Apa mereka demam atau dingin?]
"Iya mereka bernapas. Mereka terlihat normal seperti orang tidur. Tapi aku sudah mengelap wajah mereka dengan air dingin bahkan mencubit tangannya, mereka tidak bangun juga. Tidak demam, tidak juga dingin."
[Reine, bisa kamu ke kamar Leala. Biasanya dia menyimpan termometer dan oximeter. Kamu tahu oximeter?]
"Tahu dok. Untuk cek saturasi oksigen kan. Aku akan mencarinya."
Reine berlari ke kamar nenek. Dia mengacak-acak laci dan rak untuk menemukan dua benda yang dicari. Setelah dapat, bergegas dia kembali ke kamar anak-anak. Reine mencatat angka termometer dan oximeter. Dia kembali mendial nomor Dokter Frans. Reine menjelaskan keadaan kedua anak itu masing-masing.
[38 derajat normal untuk anak kucing. saturasinya 97 normal untuk kucing. Mereka tidak ada riwayat flu atau kelihatan lemas dan lelah? mecret?]
"Tidak dok. Mereka normal sampai pagi ini. Owi kakinya terkilir, tapi dia masih terlihat sehat. Dodo hanya lecet-lecet kecil dan nafsu makan masih baik."
Dokter bergumam seperti berpikir.
[Reine, apa mereka memiliki sihir?]
Pertanyaan itu membuat Reine bingung. Terdengar tidak berhubungan dengan medis. Tapi Reine yakin mereka kelelahan karena menggunakan sihir.
"Iya dok, mereka bisa sihir."
[Apa terjadi sesuatu hari ini menyangkut sihir mereka?]
"Uh iya dok. Tadi siang mereka seperti.... hilang kendali? Aku tidak begitu yakin. Tiba-tiba semua ruangan berantakan dan mereka berdua berteriak kesakitan. Aku baru mau mengatakannya pada dokter. Tadi setelah tenang, mereka langsung tertidur. Aku pikir mereka tidur karena kelelahan menggunakan sihir. Jadi saat mereka tidak bisa dibangunkan, aku langsung panik. Apa ada hubungannya?"
[Reine, saya sulit mendiagnosis sekarang karena tidak langsung berada di sana. Tapi saya khawatir ini berhubungan dengan sihir yang mereka gunakan. Ketahuilah Reine sekarang keadaan sedang kacau. Ada banyak manusia kucing yang memiliki sihir tiba-tiba jatuh tertidur di tengah jalan. Sejauh ini di rumah sakit ada dua belas kasus. Mereka tidur normal, tapi tidak bisa dibangunkan. Reine, kau coba untuk memberi mereka makan dan minum. Terutama minum agar tidak dehidrasi. Jika mereka belum bangun juga dalam kurun waktu dua belas jam, mereka harus diinfus.]
"Bagaimana kalau dibawa ke rumah sakit saja?" Jantung Reine berdebar keras. Sepertinya masalah belum selesai setelah teror festival lentera kemarin.
[Saya ingin. Tapi di rumah sakit ini saja sudah penuh. Beberapa ada yang terpaksa dirawat di rumah karena kurangnya ruangan. Saya akan berusaha datang ke sana secepat yang saya bisa. Masih ada beberapa pasien di sini yang mesti saya tangani. Saya akan sulit menjawab telpon.]
"Reine mengerti. Reine akan berusaha membuat mereka tidak dehidrasi."
[Jika ada makanan lunak atau cair, berikan dengan suntikan tanpa jarum. Tolong kau juga awasi anak-anak lain yang punya bakat sihir. Jika terjadi sesuatu lakukan hal yang sama seperti tadi. Jika parah panggil warga terdekat untuk membantu.]
"Baik dok. Terima kasih."
Reine berulang kali mengambil napas dalam. Menepuk-nepuk d**a' mencoba untuk tidak menangis. Dia mengusap wajahnya lalu segera bergerak untuk menyiapkan semuanya. Yoyo, maksudnya Milko menunggunya di luar ruangan.
"Milko, bisa bantu aku?"
Milko mengangguk mantap. Reine mengucapkan apa saya yang perlu di siapkan. Milko pergi untuk mengambilnya. Sementara Reine pergi mengecek setiap gedung mencari siapa yang bernasib sama. Reine menangis saat mendapati seorang balita juga memiliki simptom yang sama. Dia tidak bangun walau di pukpuk ringan. Reine menggendongnya dan membawanya ke ruangan Owi dan Dodo.
"Ku mohon cepatlah bangun. Maaf aku lalai. Maaf."