Bab 24 - The Great Sleep

1541 Kata
Satu hari setelah teror Festival Lentera, Nekono Palais, Prefektur Alpazo Kekacauan di malam festival lentera membuat istana sibuk. Semua divisi dikerahkan untuk menolong warga yang terkena teror. Divisi kesehatan, militer, transportasi, keuangan, penanganan bencana dan lainnya langsung diturunkan. Seluruh daerah yang mengadakan festival lentera terkena dampak serangan. Jadi semua orang sibuk menolong. "Rumah sakit di desa-desa banyak yang kekurangan ruangan untuk perawatan. Divisi militer sudah membangun tenda-tenda darurat di sekitaran rumah sakit. Sampai saat ini peralatan medis masih mencukupi. Hanya keterbatasan dokter, tabib dan perawat yang mengkhawatirkan. Divisi militer sudah menurunkan semua dokter militer yang ada untuk menambah orang." lapor Jendral Besar Alo. "Tabib kerajaan?" tanya sang raja. "Tabib kerajaan hampir semuanya turun. Kami menyisakan dua orang tabib di istana untuk keadaan darurat." jawab pengurus rumah tangga istana. "Saat ini Prefektur paling terdampak adalah Prefektur Cazo. Jumlah korban luka tercatat 1250 orang. Korban meninggal ada tujuh orang. Kami akan memantaunya terus." "Prefektur Cazo?" "Iya Rajaku. Selain ledakan dan serangan kembang api, ada beberapa daerah yang terkena serangan monster. Prefektur Deizo juga mengalami hal serupa, tapi korban di sana lebih sedikit." Cyrille mengelus dagunya. Dia tentu paham dengan Prefektur Cazo sebagai tempat manusia baru tinggal. Jika serangan lebih banyak di sana tidak aneh baginya. "Bagaimana dengan penyelidikan? Sudah ketahuan siapa pelakunya?" "Tuanku, maaf kami belum mendapatkan petunjuk. Tidak ada jejak sihir dari sisa-sisa alat peledak maupun kembang api yang kami temui. Sepertinya mereka menggunakan timer atau remote kontrol jarak jauh untuk mentrigernya. Misalnya ada bekas sidik jari, kemungkinan terbakar dalam ledakan." "Monster?" "Monster yang muncul adalah asli dari wilayah sana. Berbeda dengan kasus sebelumnya yang seperti monster panggilan. Mereka ditarik untuk datang. Tapi tidak juga ditemukan signature sihir pelakunya." Cyrille menggertakkan gigi. Pelakunya orang yang sangat pandai dan lihai. Dia bisa menutupi jejak dengan baik. "Bagaimana bisa semua ini terjadi? Festival Lentera adalah festival rakyat. Semua orang mempersiapkannya dengan gembira dan kita kecolongan!" "Ampuni kami raja... ampuni kami yang mulia... ampuni kami.." Para Jendral dan orang-orang yang termasuk dalam satuan pengamanan festival langsung bersujud. Kejadian semalam benar-benar mencoreng wajah mereka. Semua sudah dipersiapkan dengan matang berikut pengamanan ketat. Tapi teror muncul. Tentu mereka merasa begitu takut dengan kelalaian ini. Osmond Cyrille memejamkan mata mencoba tenang. Tidak akan baik jika dia marah. Dia juga tidak bisa langsung menghukum semua yang bersalah sekarang karena semua orang membutuhkan pertolongan. "Kalian harus mencari tahu pelakunya sampai ketemu. Mereka harus dihukum seberat-beratnya! Kerahkan semua batalion yang tidak membantu medis untuk mencarinya!" katanya berapi-api. "Rajaku, saya sarankan tidak gegabah. Jika semua tentara keluar dari istana maka kekuatan istana akan melemah. Saya khawatir itu yang diinginkan oleh penebar teror ini. Jika istana lengah atau pun terlalu fokus di tempat lain, pelakunya malah mengambil kesempatan untuk menyerang. Mohon Rajaku mempertimbangkan." Penasihat kerajaan bicara sambil berlutut. Raja Osmond menyetujui pemikiran itu. Sangat masuk akal jika orang yang membuat kekacauan sebenarnya ingin mengalihkan perhatian. Apalagi dengan cara meneror seluruh negeri di saat festival besar. Besar kemungkinan dia melakukan itu untuk membuat istana lengah. Walau dia yakin kekuatan istana tidak mudah diruntuhkan. Jika membuat militer sibuk, akan muncul kesempatan untuk menyerang. Strategi yang picik. "Penasihat Dion benar. Kalau begitu para Jendral tolong atur tujuh puluh persen tentara untuk keluar membantu rakyat sambil melakukan penyelidikan. Sisanya tetap di istana." "Siap!" "Masalah insiden hutan barat, apa sudah ada kemajuan?" Kematian kedua Master Mage dari Klan Gi masih belum menemukan titik terang. Tidak ada korban lain selain kedua pertapa dan satu penjaga hutan seakan mereka hanya menargetkan klan itu. Padahal banyak pertapa lainnya yang meditasi di sana dari Klan yang lebih kuat. Kenapa hanya Klan Gi yang diincar? "Belum Raja. Ampuni kami." Raja Osmond hanya bisa menipiskan bibir. Tapi ia mengangguk untuk mengerti. Semua masalah harus diuraikan satu persatu. Jika peneror festival dan pembunuh di hutan barat adalah orang yang sama. Mereka harus segera ditemukan. "Aku rasa cukup rapat pagi ini. Jadi..." "Raja! Raja ku!" Seorang laki-laki dengan pakaian pengawal mendobrak masuk aula rapat. Pengawal itu kelihatan panik. Di punggungnya terdapat seorang wanita berpakaian putih dengan jubah biru bersulam kuning yang digendong. "Apa yang kau lakukan?! Sangat tidak sopan memaksa masuk aula rapat!" geram salah satu Jendral. "Ampuni hamba, ampuni hamba." pengawal itu berusaha membungkuk tapi dengan menggendong seseorang, dia sulit melakukannya dengan baik. Raja mengangkat tangannya agar mereka diam. Dia melihat ke arah wanita yang berusaha turun dari gendongan. Lambang bunga anggrek di dadanya menjadi pertanda dia utusan dari kuil utara. "Anda pengawal dari Lady Miwa. Apa yang terjadi? Apa kalian diserang?" Tidak ada tanda-tanda wanita itu terluka selain dia kelihatan pucat dan lemah. Wanita itu mencoba berjalan mendekat. Kakinya begitu saja ambruk ke tanah hingga pengawal kembali menopangnya. Raja Osmond turun dari singgasananya dan berlutut di depannya. "Tabib!" Tabib istana yang ikut dalam rapat segera mendekat. "Rajaku... My Lady... tolo..ng" Gadis itu mengambil surat dalam jubahnya dengan tangan gemetar. Dia mengangkat tangannya untuk menyerahkan, tapi tidak sampai karena pemilik tangan itu langsung tidak sadarkan diri sebelum menyelesaikan kalimatnya. Raja mengambil surat yang terjatuh. Dia kemudian menyerahkan wanita itu pada tabib. Surat itu tidak bisa dikatakan surat untuk istana yang biasanya. Itu hanya sepotong kertas buku yang dirobek asal. Kondisinya lecek dan tidak beraturan. Saat membukanya, hanya ada dua kata yang membuat raja mengerutkan kening. "Great Sleep" ditulis dengan terburu-buru. Tinta hitamnya melebar kemana-mana. Sangat berbeda dengan tulisan Lady Miwa yang biasanya. Raja Osmond masih coba memikirkan apa maksudnya saat tiba-tiba suara raungan kesakitan dari Jendral Besar dia dengar. "Aaak.. hh.." lalu dia ambruk. "Jendral besar Kin!" Jendral lain berusaha membantu menahan tubuhnya. Tapi mereka malah memegang dad*a mereka sendiri dan ikut ambruk. Satu persatu orang yang ada di ruangan itu jatuh. "Apa yang terjadi?! Tabib!" Tabib yang tadi masih menangani wanita itu juga sudah ambruk menimpa pengawal yang mendobrak pintu masuk. "Raja ku..." suara lirih Penasihat Dion membuatnya menoleh. Mata laki-laki itu berair. "Dion!" Raja menangkap tubuhnya yang lebih kecil. Laki-laki ras kucing ragdoll itu tersenyum sedih. "Aku tidak mau meninggalkan..." lalu dia juga menutup mata. "DION!" Sang raja memandang sekeliling. Seluruh ruangan rapat yang tadinya ramai orang kini dipenuhi orang-orang yang tergeletak di lantai. Hanya ada tiga orang manusia kucing yang tersisa dari menterinya dan satu orang Jendral muda. Mereka terlihat sangat ketakutan hingga terduduk di lantai. Ada yang bahkan menangis. "Pengawal! Pengawal!" Teriakan Raja seharusnya langsung dijawab oleh pengawal di luar ruangan. Tidak ada satu pun yang datang. Raja meletakkan penasihatnya di lantai. Dia keluar dari ruangan hanya untuk mendapati deretan pengawalnya yang bertebaran di lantai. "Great.. Sleep..." ujarnya terbata. "Tidak... bagaimana bisa seseorang melakukan ini... tidak mungkin." Dia bergegas kembali masuk ke dalam. Bermaksud meminta bantuan tiga orang yang tersisa. Tapi tiba-tiba pusat tubuhnya terasa sakit. 'Apa aku juga akan...' Dia berpikir akan mengalami hal yang sama dengan yang lain. Dia berpikir dia juga akan tiba-tiba jatuh dan tidak sadarkan diri. Tapi bukan itu yang tejadi. Dia merasakan sakit di pusat tubuhnya, di core magic miliknya. Dia merasakan satu persatu ada yang putus dari sana. Benang tipis berat yang terus bersamanya sejak dia diangkat menjadi raja. Satu hal yang menghubungkan core-nya dengan keempat pilar. 'Empat Pilar Pelindung. Mereka jatuh!' Dengan rasa takut yang sangat besar dia berlari keluar menuju pusat istana. Dia ke ruangan tempat menyimpan batu pelindung dunia secepat yang dia bisa. Pintu didobrak terbuka. Empat dari lima lentera di sana mati. Hanya meninggalkan satu lentera menyala di pusat tertinggi. Raja membuat segel tangan sambil mengucap mantra. Kemudian menempelkan tangannya yang penuh energi sihir ke batu pelindung Nekoroyaume. Gelombang energi sihir berwarna jingga langsung menyebar ke seluruh ruangan. Rajah-rajah mantra menyala menjawab sihirnya. Mereka bergerak membuat sebuah diagram magic besar. Sihirnya kembali menyalakan empat lentera yang mati. Kelima lentera yang menyala menciptakan cahaya putih terang. Cahaya itu keluar dan ditembakkan ke langit dengan mengandalkan menara yang menutup atasnya. Dari tembakan itu, cahaya menyebar ke seluruh arah membentuk kubah pelindung bagai membuat ozon baru. Setelah tugasnya selesai cahaya itu kembali redup, digantikan dengan cahaya lima lentera yang menyala statis. Raja menopang tubuhnya di batu besar yang mengelilingi batu pelindung. Beberapa tetes keringat turun dari pelipisnya. Dia terengah-engah setelah mengeluarkan energi sihir dalam jumlah besar. Dia dapat merasakan beban berat yang tersambung pada core-nya. Lebih berat dibanding dengan membaginya dengan empat pilar. Osmond Cyrille kembali ke ruang rapat. Di sana masih ada tiga orang yang tadi tersisa. Mereka sedang mengatur orang-orang yang tumbang dalam satu baris agar tidak saling menumpuk. "Jendral Kan." "Ya Raja!" "Periksa seluruh istana. Kumpulkan orang-orang yang masih sadar di lapangan besar istana. Semua orang tidak terkecuali!" Seketika wajahnya pucat. Semua orang berarti dari pintu depan hingga ke tempat pelayan. Itu sangat luas. Tapi tidak mungkin dia membantah. "Siap raja. Laksanakan!" Jendral Kan memberi hormat dan berjalan cepat keluar. "Menteri Ding, hubungi rumah sakit besar Alpazo. Periksa apa mereka terkena dampak. Jika bisa mereka kirimkan beberapa tenaga medis ke sini. Jika tidak biarkan mereka." "Siap Raja!" "Pengacara Park!" "Ya Raja." "Hubungi para media. Tekankan mereka untuk tidak membuat kepanikan sampai kita tahu apa permasalahannya." Tangan pengacara istana gemetar. Menahan media bukan perkara mudah. Jika terlalu lama istana tidak memberikan pernyataan, kepanikan akan semakin besar. "Aku tahu apa yang kau pikirkan. Tolong tahan mereka sebisamu. Setelah semua orang dalam istana terkumpul kita bisa mencari penyebabnya." "Baik Raja. Saya akan berusaha." Dengan kepergian orang terakhir, Raja Osmond kembali membuka kertas surat dari Lady Miwa. "Great Sleep." bisiknya pada ruangan sepi itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN