Bab 25 - The Great Sleep 2

1615 Kata
Jendral Kan berhasil mengumpulkan semua orang dalam kurun waktu empat puluh menit. Dia sudah mengecek semua kamar, ruangan dan semua taman untuk mencari orang-orang yang bangun. Napasnya tercekat setiap kali melihat orang yang tergeletak seperti mayat bergelimpangan. Dia sempat mengecek beberapa orang, khususnya bawahannya di batalion. Semuanya bernapas normal seperti orang tidur namun tidak ada yang bangun. Raja datang ke lapangan untuk melihat semua yang tersisa. Hanya sekitar lima puluh orang yang ada. Sepertiga di antaranya dari tentara militer yang kebanyakan masih muda. Sisanya tersebar dari pengurus rumah tangga istana. "Apa yang kau temukan?" Jendral Kan menelan ludah dengan susah payah untuk menjawab. Jabatannya mungkin Jendral, tapi dia yang termuda. Baru beberapa bulan diangkat dan tidak banyak berinteraksi dengan raja. "Lapor Raja. Tujuh belas orang dari pasukan darat, dua orang tabib istana, sisanya pengurus rumah tangga, kebun dan librarian. Tabib yang ada mencoba menemukan kejanggalan pada orang-orang yang tidak sadarkan diri. Tapi mereka belum menemukannya. Mereka masih sangat muda Raja. Saya khawatir mereka..." dia buru-buru membungkam mulutnya takut kelepasan mengatakan tidak kompeten. "Terima kasih kau sudah mengumpulkannya." Bukan dapat amarah malah ucapan terima kasih membuat Jendral Kan melayang. "Lapor raja. Rumah sakit pusat dan rumah sakit lainnya mendapat lonjakan pasien. Mereka juga mengalami hal yang sama." lapor menteri relasi masyarakat Ding. "Lonjakannya mencapai puluhan dan dikhawatirkan akan terus bertambah. Mereka juga mohon bantuan istana." Tangannya raja terasa dingin mendengarnya. Siapa yang punya kekuatan sebesar ini hingga bisa membuat banyak orang tertidur. "Apa ada kabar dari empat pilar?" "Tidak Raja. Saya tidak bisa mencapai mereka." Raja Osmond berpikir keras mencari tahu penyebabnya. Dia turun ke lapangan agar bisa melihat semua orang lebih baik. Semua orang langsung berlutut. Dia menyuruh mereka berdiri. Pikirannya satu, ini pasti ada hubungannya dengan festival lentera. "Bagi yang keluar mengikuti festival lentera semalam, tolong angkat tangan." Dua perempat dari barisan mengangkat tangan. Hanya beberapa tentara dan pekerja dapur yang tidak mengangkat tangan. Raja bergumam dalam hati. 'Sebagian besar pasukan dikeluarkan untuk menjaga keamanan semalam. Mereka yang tinggal di istana seharusnya ada lima puluh untuk berjaga. Tapi kebanyakan orang di sini ikut dalam festival. Berarti bukan.' "Rajaku, mohon izin bicara." seorang laki-laki bertelinga kucing abu-abu bersuara. Dia memakai lambang Jendral Besar Kin di dadanya. Pasti salah satu tangan kanannya karena ada bintang biru di bajunya. "Silakan." "Saya Gama, bawahan Jendral Besar Kin. Saya harap yang saya katakan bukan hal yang lancang dan tidak dianggap rasis. Saya dan rekan-rekan saya yang tersisa di barisan ini semuanya tidak memiliki bakat sihir." Mata Raja terbelalak. "Siapa saja yang tidak memiliki sihir angkat tangan!" Kali ini dua pertiga dari barisan orang yang tersisa mengangkat tangan. "Sisanya?" tanya Raja. "Izin menjawab Raja. Saya Guo dari batalion selatan. Saya dan rekan memiliki sihir." Laki-laki dengan jubah coklat dan baret merah. Dia bawahan Jendral Selatan. Dia terlihat berkeringat dingin. "Jadi bukan karena tidak memiliki sihir?" "Mohon izin menjawab Raja. Saya dan rekan adalah praktisi sihir gelap." "Sihir gelap? Yang lainnya juga?" Orang-orang yang bukan bagian dari militer ikut mengiyakan. Kali ini mata Raja semakin melebar. Dia memegang kepalanya sakit. Raja menoleh ke arah Jendral Kan. Jendral besar itu ketakutan dan langsung bersujud. "Bukan hamba pelakunya. Bukan hamba pelakunya." Jendral Kan adalah satu-satunya praktisi sihir hitam yang diangkat dalam posisi tinggi. Para tentara menyadari ketakutan Jendral itu. Jika hanya praktisi sihir hitam yang masih bis berdiri, maka mereka akn disalahkan dari kejadian ini. Mereka yang merupakan praktisi sihir hitam juga langsung bersujud. "Ampuni kami raja. Ampuni kami." "Diam!" Suara teriakan raja langsung membuat semuanya diam. Mereka masih bersujud tanpa berani mengangkat wajah. Jendral Kan bahkan sudah hampir menangis. Raja Osmond menyuruh mereka semua berdiri. Dia melemparkan energi sihir ke semua orang yang ada di sana untuk meyakinkan hipotesanya. "Menteri Ding, apa manusia biasa juga?" "Saya rasa tidak Raja. Orang yang menjawab telpon saya tadi seorang manusia yang saya kenal." "Pastikan lagi." "Baik." "Hubungi diplomat Kucing Buas. Tanyakan mereka apakah mereka mengalami hal yang sama." "Baik Raja." "Jendral Kan, berdiri!" Laki-laki itu berjengit dipanggil seperti itu. Dia bangun dan masih menunduk takut. "Aku membutuhkanmu untuk menghubungi para praktisi sihir hitam untuk meminta bantuan," "Semua? Tapi..." Tidak semua praktisi sihir hitam itu baik. Banyak di antaranya yang dianggap kriminal dan tidak mau berurusan dengan pemerintah. Setidaknya perguruan tempatnya berasal bukan termasuk ke dalamnya. Guru besarnya masih orang baik walau di penganut sihir hitam. "Tidak. Hanya orang yang bisa kau percaya yang bisa membantu kita." Hal itu membawa napas lega untuknya. Jadi dia tidak perlu berurusan dengan orang-orang i***t menyebalkan yang memuja-muja sihir gelap. Jendral memberi hormat. "Semua yang ada di sini tolong bantu untuk memindahkan orang-orang yang tertidur. Tidak perlu dibawa ke kamar. Pastikan saja mereka tidak di tempat berbahaya untuk di tiduri." "Baik Raja." .................................. Setelah memastikan beberapa hal, Raja ditemani menteri Ding dan Pengacara Park menghadapi wartawan. Korban berjatuhan semakin banyak dalam hitungan jam. Mereka tidak bisa menunda pengumuman. Setidaknya jika Raja sudah muncul ke depan umum akan sedikit meredakan ketakutan mereka. Selesai pengumuman depan media, Raja bergegas pergi. Banyak hal yang harus ditangani sendiri karena sebagian besar petingginya memiliki sihir dan terkena dampak Great Sleep. "Aku harus ke kuil utara. Lady Miwa pasti mengetahui sesuatu." Kedua orang yang bersama hanya bisa mengangguk. Raja sudah selesai membuat pengumuman jadi media sedikit lebih tenang. Tapi tetap saja ditinggalkan raja pergi ke kuil utara selama beberapa jam bukan perkara baik. Tidak banyak pengawal yang tersisa. "Aku akan pergi sendiri dan segera kembali secepat mungkin." "Raja mohon berhati-hati." kata keduanya berbarengan. Hanya Menteri Ding dan Pengacara Park yang tinggal. Jendral Kan tidak ada di sana karena menjadi satu-satunya Jendral yang tersisa, dia sangat sibuk. Pasukan dari batalion lain ada yang mandiri. Tapi tidak sedikit yang bingung karena ketiadaan Jendral mereka. Sudah begitu Jendral Kan bukan tipe yang populer dalam hal baik. Banyak yang meragukannya. "Ada apa menteri Ding? Kau terlihat ingin menyampaikan sesuatu." dia sudah bersiap dengan jubah perginya. "Maafkan hamba. Hamba hanya merasa terguncang. Hamba mendapat pesan dari beberapa Catyzokan bahwa anak-anak di sana juga terkena dampaknya." "Catyzokan?" "Benar Yang Mulia. Semuanya dari balita hingga remaja." Raja Osmond merasa ingin menghancurkan sesuatu. Tidak cukupkan hanya membuat teror. Sekarang Great Sleep ini bahkan melibatkan anak-anak yang belum diajari sihir oleh Master, keterlaluan. "Bagaimana dengan di tempat manusia baru? Nyonya Leala?" "Di sana juga Raja. Ada dua anak usia sembilan tahun dan satu balita yang terkena. Sayangnya Nyonya Leala saat ini sedang koma di rumah sakit Cazo karena insiden festival lentera." Rasa dingin menjalar ke seluruh tengkuk raja. Rasa takut tidak karuan menyergapnya. Sejak tadi bahkan rasa takut dan cemas ini belum juga hilang. 'Nyonya Rena bahkan sampai koma. Bencana macam apa ini?' batinnya. "Aku akan pergi sekarang. Terima kasih telah melaporkan ini." dia harus segera menemui Lady Miwa. Kuil utara sebagai tempat Lady Miwa berdiam dipenuhi kristal putih dan biru pada dindingnya. Pada malam musim dingin, menara-menaranya akan memantulkan cahaya aurora membuat langit gelap semakin indah. Pada hari tertentu Lady Miwa akan memainkan musik bersama para muridnya di bawah cahaya malam. Lady Miwa adalah salah satu dari Empat Penjaga Pilar yang memiliki kemampuan melihat masa depan. Penglihatannya hanya muncul jika akan ada bahaya besar. Selama dua ratus lima puluh tahun hidupnya, sudah ada lima bencana yang diramalkan. Raja Osmond memerintah dalam seratus tahun terakhir. Lady Miwa banyak berjasa untuk menghindari beberapa masalah besar. Walau beberapa bencana tetap terjadi, tetap bisa teratasi. Biasanya Lady Miwa akan memberikan ramalan satu bulan kalender atau satu tahun sebelum bencana terjadi. Tapi kali ini tidak ada surat khusus selain pagi ini. Surat yang ditulis pun berantakan dan terburu-buru. Osmond Cyrille turun dari mobilnya dan berlari ke atas bukit tempat kuil utara berada. Belum sampai di pintu gerbang, perasaannya tidak tenang melihat kuil yang gelap. "Apa ada orang?" suaranya bergema. Lorong menuju kuil utama sepi. Dia sudah bertemu dua penjaga gerbang yang juga tertidur. Tidak bisa menahan diri, dia mengecek seluruh ruangan. Semua tempat yang dia datangi hasilnya sama, orang-orang bergelimpangan di lantai, tertidur bagai mayat. Osmond Cyrille akhirnya berlari ke paviliun utama tempat Lady Miwa tinggal. Dia bahkan masuk ke kamar utama. Kamar itu kosong tidak ada orang. Dia punya pilihan ke perpustakaan atau ke ruang seni. Pada akhirnya dia memilih ruang perpustakaan. Sang raja tahu semua seluk beluk setiap kuil Empat Penjaga Pilar. Setiap tahun dia mengadakan kunjungan bahkan sampai menginap. Dia harus menjaga relasi agar hubungan kepercayaan mereka tetap kuat. Terutama jika ingin menjaga pelindung dunia Nekoroyaume. Raja menemukan Lady Miwa di ruang perpustakaan. Wajahnya tertelungkup di atas sebuah buku. Dari kertas dan bercakan tinta kering di sisinya menandakan itu buku yang sama dengan sobekan kertas yang dibawa utusannya. "Lady, Milady." Dia mencoba membangunkannya tanpa ada respon. Jadi raja menarik tubuh Lady Miwa agar bisa dibaringkan di karpet. Tangan kanan Lady Miwa kotor dengan tinta kuas. Sebagian lengan bajunya juga ikut terkena. Raja akhirnya bisa melihat jelas buku yang disobek Lady. Ada sebuah gambar dengan tinta tercecer. Buku cerita yang dirobek itu digambar di tengahnya dengan tinta hitam yang sama dengan sobekan yang dia terima. Agak kusut juga terlipat tangan. Dia merapihkan lipatan-lipatan kusut itu. Gambar berantakan Lady entah kenapa terlihat familiar. Dia mengambil sobekan kertas bertulisakan Great Sleep yang dia kantongi. Lalu menyatukannya dengan halaman yang robek. Matanya membola dengan sangat besar. Tangannya gemetar dan dingin. Dia mengambil ponsel, memencet tombol cepat lalu mengumpat saat dia ingat kalau pemilik panggilan cepatnya sedang tidak sadarkan diri. Jadi dia menggulirkan nama diponselnya. [Iya Yang Mulia?] "Pengacara Park, kau pergi bawa pengawal yang ada untuk mengecek ruang harta! Cek semuanya! List semuanya apa ada yang hilang!" [Yang Mulia, apa ada yang sedang Anda cari?] "Cek saja semuanya. Aku akan segera kembali." Dia langsung menutupnya. Tangannya meremas buku di tangannya. Dia berteriak kencang meluapkan emosi. Dia memukul kepalanya dengan keras. "Lady, kalau sampai itu dicuri... aku harus apa? Lady..." sesaknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN