Bab 26 - Palais Guards

1002 Kata
"Yang Mulia!" Pengacara Park bergegas begitu melihat raja kembali. Di belakangnya beberapa pengawal mengikuti. Pakaiannya sudah kacau tidak serapi biasanya. "Yang Mulia, maafkan kami. maafkan kami." ujarnya langsung berlutut. "Apa yang hilang? Katakan!" Osmond Cyrille sedang dalam hari terburuknya. Dia kembali secepat mungkin dari kuil utara tanpa sempat membereskan tempat itu. Dia sempat menumpahkan emosinya di sana sebelum benar-benar keluar menuju mobilnya. Sihirnya mengacaukan tempat itu. Sekarang perpustakaan Lady Miwa lebih kacau dari sebelumnya. Pengacara Park kesulitan berkata. Mulutnya terasa begitu kering dan sakit. Suaranya juga tidak keluar lancar. "Be... benda yang... ti.. tidak ada... ar..tefak... artefak...." Pengacara Park mengucapkannya begitu lirih hampir tidak terdengar. Namun raja adalah kucing terkuat di negeri. Pendengarannya tajam walau dalam kondisi hati yang kacau seperti ini. Setelah mendengar nama artefak yang disebutkan pengacara Park, tubuhnya ambruk. "Yang Mulia! Yang Mulia!" semua orang mengerubunginya berusaha menolong. ................................................ Tiga hari lamanya Reine merawat anak-anak kucing yang tertidur. Mereka tetap tidak bangun juga barang sebentar. Reine cemas, lelah dan takut. Hampir tiap malam dia menahan terisak saat semua anak tidur. Nenek juga belum sadar dari koma. Hal yang menambah kecemasan hatinya. Dia ingin ke rumah sakit untuk melihat nenek. Tapi tidak mungkin dia meninggalkan anak-anak di sini. Dokter Frans datang sehari setelah anak-anak yang memiliki bakat sihi tertidur. Dia membawa banyak perlengkapan medis dan memasang infus pada anak-anak. Dia juga membawa seorang tabib kenalannya untuk tinggal di desa Gerdinlix. "Saya tidak tahu harus bersyukur atau tidak karena di desa ini tidak banyak yang memiliki bakat sihir." kata tabib Aile. Benar katanya karena korban Great Sleep di desa Gerdinlix masih belasan. Jumlah segitu masih bisa dikontrol satu dua tabib. Tabib Aile mengenal Nenek Leala dan Dokter Frans saat masih menjadi murid di perguruan Danau Putih. Saat itu dia sedang melakukan pengabdian masyarakat ke desa Gerdinlix selama lima bulan. Pengabdian masyarakat itu seperti praktik kerja lapangan atau kkn yang dilakukan para murid akademi. Aile adalah satu dari sekian banyak murid Danau Putih yang tidak memiliki kemampuan sihir. Kemampuannya dalam dunia penyembuhan sudah cukup dikenal dan dipercaya. Sekarang murid-murid Danau Putih yang umumnya tabib disebar ke berbagai daerah karena kurangnya tenaga medis yang masih sadar. Istana sudah mengumumkan kalau mereka terkena kutukan 'Great Sleep'. Kutukan yang belum diketahui dari mana asalnya dan bagaimana cara penyebarannya. Tapi dari sekian korban, hanya werecat yang tidak memiliki ilmu sihir, praktisi sihir hitam dan manusia biasanya yang tidak terkena efeknya. "Anda benar. Saya hanya berharap kutukan itu tidak mengenai anak-anak. Mereka tidak bersalah." "Sayangnya orang jahat tidak akan mempedulikan hal itu. Mereka hanya ingin mendapatkan apa yang mereka mau." "Kalau yang merasakan efeknya adalah para manusia kucing yang punya ilmu sihir, lalu bagaimana dengan raja? Apa dia seorang praktisi sihir gelap?" Tabib Aile mengerutkan kening. "Setahu saya raja bukan praktisi sihir gelap. Mungkin kekuatan sihir raja sangat besar hingga tidak bisa ditumbangkan dengan sihir ini." "Kalau begitu kira-kira siapa yang bisa menyihir satu dunia seperti ini? Siapa pelakunya?" "Saya tidak tahu." gelengnya. "Terlalu banyak musuh raja yang tidak kita ketahui. Siapa saja bisa melakukannya jika mereka punya motivasi dan pengetahuan sihir yang tepat." Reine bergumam melihat cangkir minumnya. Rasanya dalam sekejap dunia ini tidak seindah yang nenek ceritakan. Hanya dalam beberapa hari saja semuanya kacau seperti keruntuhan bencana. "Saya tak bisa lama di sini. Sudah waktunya saya berkeliling mengecek pasien-pasien lainnya." Pemerintah menekankan agar pasien rutin dicek. Setiap perubahan yang ada harus segera dilaporkan. Tabib Aile mengecek semua pasien empat kali sehari. Terutama untuk yang memiliki riwayat kesehatan tertentu. Kutukan ini belum ada penangkalnya jadi harus sangat diperhatikan. Sejauh ini belum ada hal buruk lain yang muncul. Reine mengantarnya ke pintu. Setelah itu dia kembali ke dalam untuk membuat makanan. Jam makan siang sebentar lagi akan datang. Sendirian meracik bahan makanan di dapur. Reine baru mau menyalakan kompor saat suara bel pintu depan berbunyi. Buru-buru dia mencuci tangan dan mengelapnya. "Ya..." sambil membuka pintu. Reine berhenti karena terkejut melihat banyak orang berseragam di depannya. Tidak jadi membuka pintu lebar, dia menutupnya sedikit sampai membuat celah kecil. "Um... ada yang bisa dibantu?" "Anda Nona Liem kan? Tolong ikut kami." Reine menelan ludah kasar. Manusia kucing di depannya berbadan besar dan kelihatan berotot. To the point sekali langsung menyuruhnya ikut. Reine teringat pesan Dokter Frans untuk berhati-hati saat menerima tamu. "Umm, kalian siapa ya dan dari mana?" "Kami utusan dari kerajaan. Raja meminta kami untuk membawa Nona ke istana." Reine merasakan kepanikan dalam hatinya. Baru satu jam lalu dia membicarakan raja bersama tabib Aile. Sekarang tiba-tiba datang pengawal kerajaan, mengerikan! Apa mereka memasang cctv di rumah nenek? " Ah em... Ada.. surat perintahnya? Boleh saya lihat?" Orang yang paling depan meraba kantong jubahnya. Dia menyerahkan sebuah gulungan kertas yang disegel pada Reine. Gadis itu memegangnya hati-hati karena takut salah. "Tunggu sebentar." Reine menutup pintu dengan cepat dihadapan mereka hingga suara bruk kencang terdengar. Dia berlari ke gedung bayi untuk mencari Monez atau siapa pun ibu-ibu kucing yang ada di sana. Dia terengah saat tiba. Bahkan lupa mencuci tangan dan memakai sendal rumah. "Reine, ada apa?" Untungnya Monez sedang di sana. Bayi yang dipegangnya sempat kaget. Monez menenangkannya sampai kembali diam. "Maaf, aku, di depan ada... uh Mba Monez tolong cek ini. Apa ini asli?" dia menyodorkan surat tadi. Monez langsung berdiri saat melihat bentuk surat yang diikat tadi segel. Dia menyerahkan bayi di tangannya ke ibu kucing terdekat. Monez menghampiri Reine dan membuka surat itu. Reine memperhatikan reaksi wajah Monez. Dari ekspresi netral kemudian berubah menjadi cemas. Alisnya berkerut dan rahangnya mengeras. Dia seperti membaca ulang suratnya. Bahkan menerawang surat itu di lampu. "Jadi?" "Ini asli. Segelnya asli." Monez menyerahkan lagi suratnya ke Reine. Gadis itu mencoba membacanya membacanya. Begitu melihat tulisannya, kepalanya langsung pusing. Tulisan itu menggunakan Nekorogrif. Reine masih terbata-bata membacanya. Apalagi ada simbol yang dia tidak tahu. "Um, Mba Monez ini isinya apa?" Monez menghela napas. "Isinya perintah untuk membawamu ke istana." "Hanya itu saja? Tidak menjelaskan kenapa?" "Intinya raja memintamu segera datang ke istana hari ini. Tidak ada alasan jelasnya." Monez pasti bisa melihat ketakutan di mata Reine. "Aku akan menemanimu." "Oke." sahutnya lega.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN