Bab 27 - Palais Guards

1238 Kata
Mereka kembali ke pintu depan. Sempat melewati ruang bermain anak. Milko pasti melihat mereka bergegas jadi dia mengikuti di belakang. Kali ini Reine membukakan pintu lebar jadi para pengawal kerajaan bisa masuk. Orang yang menyerahkan surat tadi langsung menatap ke arah Monez. "Monez si Randa Tapak Putih, murid Paviliun Rosa. Anda ada di sini?" "Guo si Cakar Hitam. Senang rasanya dikenali murid Master Leo." Reine mengerutkan kening mendengar salam mereka berdua. Wajahnya semakin bingung mendengar julukan keduanya. Kenapa terdengar seperti perguruan pencak silat? "Tunggu dulu, Nona Monez bagaimana bisa kau tidak terkena efek Great Sleep?" "Seminggu sebelum malam festival, guruku datang mengunci seluruh sihirku. Dia mungkin sudah memprediksi akan terjadi sesuatu." "Mengunci sihir? Cara seperti itu bisa dilakukan?" tuturnya kaget. "Jika kau tahu tekniknya, apapun bisa dilakukan." Seorang di belakang laki-laki bernama Guo itu mencolek sikunya. Dia mengingatkan kepentingan mereka datang kemari. "Kami tidak bisa lama di sini. Nona Liem tolong ikut kami sekarang." Kepala Reine dipenuhi bermacam-macam pikiran. Dia bingung kenapa dipanggil. Takut pergi dan meninggalkan tempat ini. 'Jangan-jangan mereka berpikir aku yang menyebabkan kutukan itu!' teringat kata-kata nenek tentang rumor buruk dirinya di luar sana. "Tapi aku tidak melakukan apapun." "Tenang saja Nona. Ini bukan perintah penangkapan. Anda tidak perlu khawatir." Reine melihat ke arah Monez dengan wajah memelas. "Anda yakin ini bukan penangkapan? Jika boleh tahu apa sebenarnya alasan raja memanggil?" "Kami hanya menjalankan perintah." Guo memberi isyarat pada rekannya untuk menarik Reine. Tiba-tiba seseorang datang melompat ke depan Reine. Kedua pengawal yang tadi mau menarik gadis itu langsung melompat mundur. Mereka bersiap menarik pedang. Suara geraman marah dari kucing kecil di depan mereka membuat pengawal itu waspada. "'Milko!" Anak kucing itu menggeram seseram yang dia bisa, mencoba menakuti orang-orang di depannya. Ekor dan bulunya berdiri. Tubuhnya ditinggikan setinggi yang dia bisa. Taringnya keluar dengan menakutkan. "Apa yang kau lakukan? Menyingkir dari sana!" Milko tetap menggeram dengan cakar yang siap ditebaskan. Reine jadi khawatir orang-orang ini akan bersikap kasar pada Milko. Para pengawal itu sudah mulai menarik senjata. "Ku mohon jangan sakiti dia. Dia hanya anak kecil." "Tuan Guo, tolong turunkan senjata Anda!" cemas Monez. Mata Guo tidak melembut. Dia malah semakin awas. Anak kecil di depannya tidak biasa. "Milko..." Reine mencoba menenangkan Milko dengan memeluknya. Bocah itu masih menggeram tidak mau mundur. Tidak lama suara geraman lain datang. Kali ini dari lorong menuju ruangan dalam. Ada banyak anak-anak yang ikut menggeram marah menatap pasukan Guo seakan mereka ancaman. "Oh astaga." Monez menghela napas lelah. Anak-anak pasti mendengar keributan sehingga semuanya datang ke sini. Mereka terpicu kemarahan Milko. Pasukan Guo jadi merasa semakin waswas. Mereka mengacungkan pedang mereka ke arah anak-anak. "Mundur! Mundur kalian semua!" ujar salah satu pengawal yang mulai terpicu kemarahan. "Jangan sakiti mereka tuan-tuan! Mereka anak-anak!" "Tolong turunkan pedang kalian. Kalian membuat anak-anak itu takut." "Kami akan menurunkan pedang kami kalau Nona Liem ikut dengan kami." "Cakar hitam!" marah Monez. "Randa Tapak Putih!" Monez jadi ikut menggeram kesal. Jika saja kekuatannya tidak dikunci, dia bisa menghadapi semua pengawal ini dan menendangnya keluar. "Tolong jangan berkelahi! Jangan berkelahi di sini." melas Reine. "Aku akan ikut. Aku akan ikut tapi jangan sakiti anak-anak!" Suara mengeong frustasi keluar dari mulut Milko. "Kau tidak akan pergi bersama mereka sendirian. Aku akan ikut dengan gadis ini." "Yang Mulia raja memerintahkan kami hanya membawa Nona Liem. Kau tidak bisa ikut Nona." Takut Monez akan melakukan sesuatu yang berbahaya, Reine memotongnya. "Mba... mba, Reine akan baik-baik saja. Mba Monez di sini ya menjaga anak-anak?" Monez menggertakan gigi menatap Reine. 'Si bodoh ini. Aku sedang berusaha melindunginya. Kenapa dia mengatakan hal bodoh?' sambil menatap tajam Reine kesal. Suara geraman anak-anak masih juga tidak berhenti. Mereka terlihat siap untuk menerkam pengawal terdekat dari posisi mereka. "Anak-anak tenang. Tenang ya sayang." Reine masih mencoba menenangkan anak-anak. Sementara mata Guo tidak bisa lepas dari Milko yang masih berdiri di depan Reine. Ada sesuatu yang mengganjal saat melihat anak ini. 'Kemarahannya memicu kemarahan anak-anak lainnya. Jika di tempat berbeda, tidak selalu kucing lain terpengaruh aura permusuhan yang lainnya dengan cepat sampai bisa menarik mereka ke sini. Biasanya kucing lain akan menghindari pertarungan jika mereka rasa terlalu berbahaya. Tapi melihat banyaknya anak-anak yang datang rasanya agak tidak wajar. Mungkinkah anak ini.." "Simpan senjata kalian." perintah Guo pada yang lainnya. Pengawal yang lain meengikuti. Begitu pedang disarungkan, anak-anak sedikit lebih tenang. Reine juga sedikit bernapas lega. Guo mendekati Milko. Hal ini membuat Reine takut. Dia memeluk Milko ke tubuhnya. "Bocah, berikan tanganmu." "Apa yang kau inginkan?" tanya Reine takut. "Memeriksa sesuatu. Aku tidak akan melukainya." Reine meminta persetujuan dari Monez. Wanita itu mengangguk kecil. Reine melonggarkan pelukannya agar Milko bisa lebih bebas bergerak. Tidak menyiakan kesempatan, Guo mengambil tangan Milko dengan cepat. Anak itu menggeram marah mencoba menariknya. Tapi pegangan Guo kuat. Guo meletakkan telunjuk dan jari tengahnya di nadi Milko. Alisnya berkerut sebentar. Mendapat apa yang dicari laki-laki itu mengangguk. "Kau Calico jantan." Reine mengerjapkan matanya bingung. Apa Milko segitu tidak terlihat seperti kucing jantan? "Maksudnya?" "Kalau kau merasa lebih tenang, kau boleh ikut bersama Nona Liem ke istana." "Tuan!" protes rekannya yang lain. "Nona Liem, segera bersiap." "Tapi aku sedang masak. Tak bisakah aku menyelesaikannya dulu?" katanya mengingat hal random. Sebentar lagi jam makan siang anak-anak. "Saya yakin Nona Monez akan menanganinya." Orang yang disebut mendengus. Guo tersenyum miring mendengar dengusan itu. Dia berbalik ke pasukannya. "Tidak membawa apa-apa juga tidak apa. Kami sedang dikejar waktu." Dengan itu Reine dan Milko pergi ke istana. Mereka meninggalkan Catyzokan ke tangan Monez dan warga lainnya. Anak-anak menangis melihatnya dibawa pergi. Tapi pengawal kerajaan ini tidak peduli dengan basa-basi lagi dan mendorong keduanya masuk mobil. "Aku belum menghubungi Dokter Frans." gumamnya di dalam mobil. Milko ada di sebelahnya dan menatap semua orang dengan aura permusuhan. Sebuah ponsel hitam disodorkan ke wajah Reine. Guo menatapnya malas. "Kalau Nona begitu tidak tenang, Nona bisa menggunakan ini untuk menghubunginya." "Sa.. saya tidak hapal nomornya." ujarnya malu. Guo mengambil kembali ponselnya. Dia memencet kontak di layar dan menunggu panggilan diangkat. "Bisa sambungkan aku dengan Dokter Fransiskus dari rumah sakit Cazo." Reine menatap horor Guo yang mengetahui nama asli Dokter Frans dan di mana dia bekerja. Pasukan militer pengawal kerajaan benar-benar mengerikan. Mereka pasti menaruh banyak intel di Catyzokan. Jangan-jangan selama ini dia sudah diawasi oleh kerajaan. "Ada seseorang yang ingin bicara dengan Anda." katanya singkat lalu menyerahkan ponsel hitam itu pada Reine. "Halo Dokter, ini saya Reine." [Reine? Ada apa? Kenapa kau tidak menghubungi lewat ponsel Leala?] "Saya pinjam ponsel milik Tuan Guo, um... pengawal kerajaan." [Pengawal kerajaan!] "Iya. Saya dan Milko sedang dalam perjalanan ke istana." [Oh ya ampun Reine!] "Saya hanya ingin mengabarkan karena saya tidak tahu kapan kembali. Catyzokan akan diurus Mba Monez dan ibu-ibu lain. Anak-anak agak stres saat saya pergi. Saya khawatir mereka... sakit." [Aku mengerti. Aku akan hubungi Tabib Aile untuk berjaga di sana. Aku juga akan berusaha datang ke Catyzokan.] "Jangan repot-repot kalau Anda sibuk." [Tidak repot sama sekali. Kau bilang bersama Milko? Siapa Milko?] Reine lupa kalau Dokter Frans tidak tahu Milko. "Milko itu Yoyo. Saya belum menceritakan pada Anda. Milko bersikeras ikut jadi dia menemani saya." Reine harap sesederhana itu. "Saya akan menjaganya dengan baik." [Hati-hati Reine. Aku berdoa semoga kalian selamat hingga kembali. Jaga diri kalian dengan baik.] "Terima kasih dokter, pasti." Reine mengembalikan ponsel hitam ke pemiliknya sambil berterima kasih. Mereka kembali diam dalam perjalanan. Setelah sekian jam, Reine tidak tahan karena mengantuk. Jadi dia menutup mata dan tidur. Hanya tinggal Milko sendiri yang masih menatap tajam Guo penuh permusuhan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN