Bab 28 - Nekono Palais

1185 Kata
Tepukan di pundaknya membuat Reine membuka mata. Dia mengerjapkan mata beberapa kali untuk menghilangkan kantuknya. Bagian sampingnya terasa berat dari tubuh hangat anak kecil. Milko tertidur juga. "Sebentar lagi kita sampai." kata Guo yang masih terjaga. Reine menoleh ke jendela mobil. Langit sudah gelap dan lampu-lampu dinyalakan. Dia bisa melihat deretan gedung-gedung besar yang sangat berbeda dengan bangunan di Gerdinlix. Tipe bangunan semen yang lebih rapi dibanding Gerdinlix yang banyak bangunan berbahan dasar kayu. Lebih modern seperti kota besar yang dia kenal. Tidak ada mobil di lain yang berpapasan dengan mereka. Trotoar yang terlihat juga sangat sepi dari pejalan kaki. Padahal ada beberapa restoran menarik yang buka. Gedung-gedung semakin jauh. Pohon-pohon besar yang berbaris menggantikannya. Gerbang besi besar terbuka saat iringan mobil mereka masuk. Mobil yang Reine tempati berada di tengah, diapit satu mobil di depan dan belakangnya. Dari gerbang itu mereka masih harus melewati jalan panjang sebelum sampai ke halaman utama. Reine mengelus kepala Milko untuk membangunkannya. Anak itu tersentak kaget dan langsung membuat ancang-ancang untuk bertarung. "Milko, sebentar lagi kita sampai." Milko seperti sedang mengumpulkan nyawanya. Tapi tubuhnya tetap dalam kondisi siaga. Setelah ingat dia di mana dan bersama siapa, Milko langsung memeluk lengan Reine. Anak itu menoleh pada Guo dan kembali menatapnya dengan aura permusuhan. Reine akhirnya bisa melihat wujud istana. Benar seperti kata Nenek Leala, Nekono Palais berbentuk seperti bangunan besar yang panjang bergaya eropa. Ada banyak jendela-jendela besar di sepanjang dinding. Dari sedikitnya penerangan, Reine bisa membayangkan kalau warna cat yang dipakai berwarna putih. Taman istana juga ditata dengan indah. Ada deretan pohon seperti tanaman teh-tehan tapi berwarna merah yang dipangkas rata. Sebuah air mancur besar dipusatnya yang diberi lampu sorot kuning. Jika dalam kondisi terang pasti terlihat indah. Mereka turun di lobby istana. Reine dan Milko mengikuti Tuan Guo yang berjalan di depan mereka. Pintu masuk sangat tinggi untuk ukuran manusia. Dengan tinggi Reine yang hanya 162cm tentu dia terlihat begitu kecil dibandingkan pintu. Di lorong pintu masuk terdapat patung besar setinggi tiga meter. Patung itu berwujud wanita memiliki enam tangan dalam berbagai pose, sembilan ekor, dua kaki, satu kepala dengan topeng kucing di wajahnya. Wanita itu duduk bersila diatas kelopak bunga. Bukan bunga teratai seperti milik Dewi Kwan Im. Tapi bunga yang memiliki kelopak lebih panjang. Reine berhenti di depan patung tersebut. "Ini dewi kucing?" "Iya benar. Itu patung Sang Dewi." Reine mencoba bersikap netral wala dalam hatinya dia meracau. 'Dewi kucing itu manusia dengan topang? MANUSIA PAKAI TOPENG KUCING! Astaga selama ini ku kira wujudnya akan seperti kucing pemanggil hoki yang melambai-lambaikan paw-nya.' batinnya. "Kenapa Nona? Ada masalah?" "Tidak, tidak ada! Saya hanya baru pertama kali melihatnya." "Patung itu dibuat oleh seniman terkenal di Alpazo, Lucas Casio pada tahun 1100 kalender alande. Beliau memberikannya sebagai hadiah untuk Theo Cyrille atas pengangkatannya sebagai raja." Seorang wanita menjelaskan dengan lantang. Suara sepatu haknya menggema di lorong besar pintu utama yang lenggang. Reine berbalik di tempatnya berdiri. Tidak jauh darinya ada seorang wanita bersetelan jas marun dan rok span senada. Rambut ikal berwarna blonde gelap. Dia memberi hormat dengan sedikit membungkukkan badan. "Selamat datang di Nekono Palais Nona Liem. Kami harap perjalanan Anda tidak ada hambatan." "Terima kasih telah menyambut kami, Nona..." "Saya Park Jessi. Pengacara kerajaan." Park Jessi sangat cantik dengan mata kuning gelapnya yang besar. Dua telinga oranye pudar menghias kepalanya. Dia punya bibir dan hidung yang kecil. Ada sedikit freckles di sekitar hidungnya. Mata besar itu bergulir ke tubuh kecil di samping Reine. "Mohon maaf saya tidak mengetahui jika Anda tidak datang sendiri." Perkataannya membuat Reine menarik tubuh Milko mendekat padanya. Dia takut wanita itu akan memisahkan Milko dengan dirinya. Memang dalam surat perintah itu yang disuruh datang hanya Reine seorang. Dia pikir tidak akan ada masalah kalau Milko datang. Lagipula Tuan Guo sudah mengizinkannya. Seharusnya saat berangkat dia memastikannya lagi. Seharusnya tuan Guo sudah menginformasikannya ke orang istana kan. Kecuali kalau Tuan Guo lupa. Laki-laki itu tidak bicara apa-apa selama perjalanan. Dia tidak juga membuka ponsel setelah memberikannya untuk menghubungi Dokter Frans. "Saya yang memintanya ikut. Saya tidak bermaksud menyalahi aturan." ujar Reine mencoba mengalihkan perhatian wanita itu. "Dalam surat perintah raja hanya memanggil Anda Nona. Teman kecil ini bisa menunggu diruang tunggu." "Saya rasa raja tidak akan mempermasalahkannya." Tuan Guo maju selangkah. Tubuh tingginya agak menutupi Reine. "Jika Raja tidak berkenan, saya bersiap menerima hukuman karena saya yang membawanya." suara tegas tanpa ketakutan. Mata Pengacara Park menatap Guo lama seperti sedang memintanya mundur. Tapi sebagai bagian pasukan militer kerajaan, Guo tidak merasa terintimidasi. Wajahnya tetap datar tanpa perubahan air muka. Laki-laki itu mengerti bahwa keamanan kerajaan sedang diperketat setelah kejadian pencurian itu. Sebisa mungkin orang yang berkepentingan saja yang diperbolehkan masuk. Tapi wanita itu bukan praktisi ilmu sihir seperti dirinya, jadi tidak bisa merasakan apapun dari anak kecil ini. "Silakan ikuti saya." katanya tegas. Dia memimpin jalan masuk lebih dalam ke istana. Sepanjang lorong dipenuhi lukisan-lukisan. Reine ingin berhenti untuk mengaguminya jika ada waktu. Sayang mereka sedang terburu-buru. Langkah Pengacara Park sangat cepat dan Reine berusaha menyamainya. Dia merasa tidak enak dengan Milko yang terseret-seret. Mereka tiba di pintu besar lainnya. Ukiran pintunya dipenuhi sulur-sulur canti dengan kepala kucing besar di tengahnya. Pintu itu sebesar pintu pertama. Terlihat berat dan kokoh. Pengacara Park mendorongnya dengan tangan seperti itu barang yang ringan. "Yang Mulia, Nona Reine Liem sudah tiba." dia mengumumkan. Reine menelan ludah takut sebelum maju selangkah. Milko ikut di sebelahnya. Pengacara Park menggeser tubuhnya hingga dia berada jauh di samping kanan. Tidak lagi menutupi tubuh Reine dari pandangan. "Salam Yang Mulia. Reine Liem menjawab panggilan." Dia berharap sapaan ini tidak salah. Jika dalam manga-manga bertema kerajaan yang dia baca, seharusnya sapaan ini sudah cukup sopan. Lagipula Pengacara Park menggunakan panggilan Yang Mulia, jadi tinggal dia ikuti. Dia membungkukkan sedikit tubuhnya. Tidak yakin jika harus langsung berlutut. Milko malah tidak menunduk. Refleks tangan Reine mendorong tengkuknya agar dia membungkuk. "Reine Liem, selamat datang di Nekono Palais. Kau boleh berdiri tegap." suara bariton berat dari Raja. "Terima kasih Yang Mulia." Sekarang Reine bisa melihat sosok raja kucing di depannya. Tubunya tinggi dan besar, lebih besar Tuan Guo yang menjemputnya. Tubuhnya proporsional seperti atlet. Dia punya rahang yang tegas, hidung besar dan mata tajam. Rambutnya dipotong pendek membuat efek manly yang berlipat. Kulitnya termasuk dalam tone kecoklatan. Wajahnya kategori manusia berumur empat puluhan yang tampan. Secara keseluruhan raja sangat wow. "Sepertinya kita juga punya tamu keciil di sini." senyumnya ramah. "Siapa namamu nak?" "Milko." Reine terus memperhatikan ekspresi raja. Sejauh ini tidak ada tanda-tanda dia akan menendang Milko. Boleh Reine tenang sekarang. "Milko? Nama yang unik." "Terima kasih Yang Mulia. Saya memilih namanya saat di dunia manusia." Raja membuat gestur oh, tapi dalam versi manly. Mana ada hal seperti itu! Mungkin hanya mata Reine saja yang mengelabuhi. 'Fokus Reine fokus. Astaga, kau seperti tidak pernah melihat bapak-bapak ganteng saja.' "Kalian berasal dari tempat yang sama?" "Iya Yang Mulia." "Aku yakin kalian belum makan malam. Bagaimana kalau kalian istirahat sejenak, baru kita bicara." Reine menahan senyum lebarnya karena orang ini sangat baik. Dia kira dia akan langsung dibombardir pertanyaan setelah tiba di hadapan raja. Malah sekarang ditawari makanan. 'Oke Reine nikmati saja dulu baru stres belakangan.' batinnya menyemangati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN