Mereka dibawa ke ruang makan besar. Bermacam-macam makanan tersedia di atas meja. Tentu saja varian ikan dan seafood. Mata Reine langsung berbinar saat melihat udang goreng mentega di meja. Dia sudah lama tidak melihat makanan normal.
"Silakan dinikmati. Jangan malu-malu."
Milko sudah mau menyendok sup ikan. Reine tangkap tangannya karena dia belum melihat raja mengambil suapan pertama. Dia tersenyum kecil meminta maaf. Raja membalas senyumnya. Setelah raja menyuap, Reine baru melepaskan tangan Milko.
"Nona Liem sangat tahu tata cara kerajaan. Nona berpengetahuan luas."
Reine menelan makanannya baru menjawab. "Yang Mulia terlalu memuji. Saya hanya orang biasa yang masih perlu banyak belajar."
Dia hanya membaca beberapa cerita di manga. Pengetahuannya sangat rendah soal adab-adab kerajaan. Setidaknya dia tahu dasar mana yang sopan dilakukan dan mana yang tidak. Selama dia bisa mempertahankannya, dia dan Milko aman.
"Aku dengar Nyonya Leala sakit."
Oh sepertinya raja benar-benar ingin membuatnya bicara selama acara makan ini.
"Benar Yang Mulia. Nenek terluka saat melindungi salah satu anak kucing dari Catyzokan kami."
"Aku sangat sedih saat mendengar kabar itu. Nyonya Leala sangat baik dan mementingkan orang lain."
"Apa Yang Mulia kenal Nenek?"
"Tentu. Dia pernah merawatku lama sebelum aku pergi ke akademi."
'Astaga, Yang Mulia Raja Nekoroyaume berasal dari Catyzokannya nenek!'
Mereka berbincang-bincang ringan. Sesekali Reine mengelap bibir dan pipi Milko yang masih makan berantakan. Dia juga membantu anak itu menuang air, sambil tetap berbincang santai dengan raja. Sejauh ini tidak ada yang mengomelinya. Biar bagaimana juga Reine terbiasa membantu anak-anak saat makan. Rasanya lebih nyaman bicara sambil sibuk seperti ini.
"Kita pindah ke tempat lain agar lebih nyaman duduknya."
Selesai makan Reine dan Milko mengikuti raja ke ruang baca. Dia tidak lagi melihat tuan Guo bersama mereka. Pengacara Park masih mengikuti satu langkah dibelakang raja. Tapi saat masuk ke ruang baca, wanita itu tidak ikut.
Reine duduk dengan tegang dihadapan raja yang dipisahkan oleh satu meja kecil berisi teh. Rasanya seperti tegang mau wawancara kerja. Milko masih disebelahnya sebagai bayangan yang diam. Jika anak itu tidak menempel padanya, dia lupa kalau dia tidak sendiri.
Raja menuang teh untuknya lalu dirinya sendiri. Setelah cawan teh ditaruh, dia mulai bicara.
"Baiklah, kita mulai pembicaraan serius. Nona Liem tidak perlu terlalu tegang."
Reine hanya membalasnya dengan tawa hambar.
"Apa Nona tahu dengan kondisi dunia ini?"
"Kurang lebih saya tahu."
"Aku sendiri belum yakin awal mula masalahnya di mana. Tapi dalam dua tahun ini Nekoroyaume sedang tidak baik-baik saja."
"Dua tahun? Saya kira baru beberapan bulan ini saja!" raja memberinya tatapan tidak senang. "Maafkan saya telah memotong perkataan Yang Mulia."
"Tidak apa-apa. Wajar kau tidak mengetahuinya karena kau baru di sini." angguknya. "Seperti yang saya bilang tadi, dalam dua tahun ini banyak kejadian tidak menyenangkan. Ada beberapa kasus kejahatan dan kekerasan di daerah-daerah kecil. Kasus itu kadang sampai menghilangkan nyawa orang-orang penting dalam menteriku. Selama dua tahun, dua menteri pilihanku meninggal karena kejahatan. Kejahatannya memang jarang. Tapi sekalinya muncul jadi sangat mematikan."
Reine menarik napas dalam. Pembicaraan ini benar serius.
"Untuk dua kejahatan yang menghilangkan nyawa menteriku, pelakunya sudah tertangkap. Namun mereka bunuh diri di sel tahanan. Kami belum sepenuhnya berhasil menemukan dalangnya dan tujuan mereka melakukan ini. Tapi setiap kali ada petunjuk berakhir jalan buntu. Setelah itu dunia aman selama beberapa bulan sampai masalah baru datang. Kemunculan monster-monster tidak wajar menyerang warga. Kau juga mengalaminya."
"Monster tidak wajar... monster kecoa?"
"Salah satunya itu. Umumnya dalam bentuk serang dan tidak pada habitatnya. Kemunculannya sangat random dan bisa di mana saja. Aku memutuskan meminta bantuan para Mage pengelana dan hunter untuk menangani mereka. Dengan bantuan besar ini jumlah para monster berkurang drastis. Sampai kasus di hutan barat muncul. Kasus yang tidak pernah ada selama ratusan tahun lamanya."
"Kasus pembunuhan."
"Benar. Kasus pembunuhan dua orang guru besar dari Klan Mage terkenal. Di bandingkan kasus sebelumnya. Kasus ini sangat tidak biasa. Selain tidak ada kerusakan pada pelindung hutan. Kasus ini berada di ruang tertutup tanpa ada saksi mata. Kami kembali kesulitan mencari pelakunya. Hal aneh lain adalah adanya rumor kasus ini yang disangkutpautkan dengan dirimu."
"Anda tidak mempercayainya?"
"Tentu saja. Kau baru beberapa bulan di sini. Belum tentu kau tahu soal hutan barat. Jika pun memang ada yang harus disalahkan, maka kerajaan yang lebih bersalah karena tidak memasang pasukan militer untuk patroli di sana." nada suaranya menyedihkan.
Reine merasa sedikit lega. Berarti sia-sia sia takut dibawa ke sini karena masalah rumor tidak bertanggung jawab itu. Raja pasti merasa itu juga tidak masuk akal menghubungkan dua hal berbeda. Tapi raja mengatakan dia juga memiliki kesalahan karena tidak memasang militer di sana. Jika raja sendiri tidak terpikirkan ke sana, artinya pelindung tempat itu sangat kuat untuk tidak dikhawatirkan.
"Anda tidak tahu akan ada hal seperti ini. Anda tidak salah."
Raja menghela napas dan memilih mengangkat cangkirnya. "Aku harap demikian." dia melanjutkan. "Kita tidak mendapat progres apa-apa selama beberapa bulan. Lalu festival lentera datang. Semuanya sibuk dengan itu."
Reine menundukan wajah. Festival Lentera seperti mimpi buruk baru baginya. Dia masihh ingat jelas bagaimana Nenek tertimpa kayu-kayu menara sementara dia berada di posisi yang sangat jauh. Reine merasakan tangan kecil menggenggam tangannya. Dia menoleh melihat wajah bulat Milko. Dia tersenyum.
"Selama puluhan tahun aku memerintah aku terlalu percaya diri. Selalu berpikir bisa mengatasi semua masalah sendirian. Aku selalu percaya pada ramalan dari peramal terhebat di kuil utara. Tapi kali ini aku terlambat melakukan banyak hal. Saat utusannya tiba membawa ramalan, semua orang langsung jatuh tertidur."
Ah peramal istana. Reine bisa membayangkan betapa bergantungnya kerajaan seperti ini pada ramalan.
"Bodohnya aku terbawa panik. Aku datang ke kuil utara untuk mengecek sang peramal. Itu kesalahan fatal lain yang kulakukan."
"Apa yang terjadi Yang Mulia?" Reine takut mendengar jika peramal itu juga meninggal.
"Sang peramal meninggalkan lukisan di sebuah buku yang robek. Lukisan itu berbentuk salah satu artefak kerajaan yang sangat berbahaya jika berada di tangan yang salah. Aku meminta orang-orang yang tersisa di istana untuk mengeceknya. Benar saja artefak itu hilang."
Reine mengerutkan kening. Hal wajar jika sebuah kerajaan besar memiliki barang-barang berharga yang rawan dicuri. Raja kucing ini menyebutnya sebagai artefak seakan benda itu berasal dari dinasti lama dan memiliki sihir tersendiri. Tidak aneh juga sih jika kehilangan benda ini ada hubungannya dengan pelaku pembuat Great Sleep. Jantung Reine jadi berdebar. Apa yang raja inginkan dengan menceritakan benda hilang. Bukankah itu harus jadi rahasia istana.
"Artefak apa Yang Mulia?"
"Artefak Kristal Nekomata."
"Kristal Nekomata?"
"Ya, Kristal Nekomata. Tujuan utamaku memanggilmu ke sini Nona, karena aku butuh bantuanmu untuk mencarinya. Aku ingin kau bisa membawanya kembali ke sini."