"Tidak mungkin. Ini pasti mimpi. Ini pasti mimpi. Iya pasti mimpi. Haha, dunia manusia kucing. Tidak ada hal seperti itu. Aku pasti kebanyakan main game. Mungkin juga karena aku terlalu bersedih karena kematian Milko."
Reine terus meracau sendiri. Bagi orang normal tentu saja tidak akan langsung percaya dengan kata-kata orang asing yang mengatakan dia bangun di dunia lain. Apalagi dunia khayalan seperti dunia manusia kucing. Kepala Reine pasti terbentur sangat keras hingga dia bermimpi aneh seperti ini.
"Anak muda, kau tidak bermimpi."
"Ah um nek. Aku tidak mau bersikap tidak sopan. Tapi manusia kucing itu tidak ada. Mungkin ada kalau di film atau drama. Tapi itu hanya khayalan. Baiklah Nek, izinkan aku tidur lagi dan mencoba bangun. Baiklah Reine tutup mata sekarang, kau bisa bangun dari mimpimu. Ini mimpi dan aku harus bangun sekarang. Bangun Reine bangun!" katanya sambil memejamkan mata.
Alis dan dahinya sampai berkerut menunjukan usahanya berkonsentrasi untuk bangun seakan dia berada dalam mimpi buruk.
"Ayo bangun. Mungkin aku harus mencubit diriku sendiri untuk bangun."
Nenek hanya tertawa kecil melihat sikap aneh gadis muda di depannya yang terus berbicara dengan dirinya sendiri. Nenek kemudian mengelus kepala anak kecil bertelinga kucing yang masih memegangi bajunya. Dia menyuruhnya mendekati gadis itu. Anak kecil itu berkedip bingung. Ekornya bergerak ke kanan dan ke kiri dengan kepala dimiringkan. Nenek dengan jahil membisikan sesuatu, lalu mengedipkan satu matanya memberi kode. Anak kecil itu tersenyum. Langsung berlari riang ke arah Reine.
"Oke bagaimana cara aku bangun dari mimpi? Apa ini tipe mimpi di dalam mimpi? Ini bukan mimpi horor, jadi bukan karena ketindihan. Mungkin aku harus..Aww awww awww sakit! Lepaskan! Lepaskan! Jangan menggigit! Jangan menggigitku!"
Reine meronta dengan panik. Dia mengibas-ngibaskan tangannya agar lepas. Anak kecil yang menggigitnya itu malah semakin keras menggigit. Reine mendorong kepala anak itu agar melepaskannya. Dia ingin memukulnya, tapi ini anak kecil.
"Sakit! Sakit! Sakit!" teriaknya hampir menangis.
Gadis itu melompat menjauh saat lengannya dilepaskan. Dia terjatuh sendiri terselengkat kaki. Reine mengaduh sakit sambil mengusap panta*tnya. Dia juga mengusap lengannya yang digigit. Anak kecil yang menggigitnya hanya menatapnya tidak bersalah.
"Kenapa kau menggigitku?" katanya kesal.
Reine masih meratapi tangannya yang tercetak gigi-gigi kecil yang berjajar. Anak kecil itu tidak main-main tenaganya. Bekas taring di kulitnya sampai masuk ke dalam. Ada luka merah menunjukan bahwa kulitnya hampir berdarah.
"Terasa kan sakitnya." nenek tadi mendekati Reine.
Reine terdiam sambil menatap nenek. Kalau dia merasa sakit di mimpi, tapi tetap tidak terbangun setelahnya, mungkinkah ini bukan mimpi. Reine mengerjap memikirkannya masih tidak percaya. Tapi dia masih merasakan nyut-nyutan di tangan yang digigit tadi.
"Kalau ini nyata... tapi kan..."
"Anak muda, apa hal terakhir yang kau ingat? Bisa kau ceritakan pada nenek apa hal terakhir yang kau lakukan sebelum tiba di sini?" tanya nenek lembut.
Reine meraba-raba ingatannya.
"Aku dan temanku pergi jalan-jalan. Lalu aku pulang duluan. Saat aku dijalan aku melihat kucing kecil dan..." putusnya.
Kucing itu pergi ke arah jalan raya. Kendaraan besar datang. Dia ingat dipikiran hanya satu untuk menyelamatkan kucing itu. Lalu tubuhnya ditabrak. Rasa sakit dari pinggang menjalar ke punggung atas dengan cepat. Dia merasa ngilu diseluruh badan. Ada cairan yang hangat yang mengalir dari kepalanya, lalu semua gelap.
"Anak muda?"
Reine buru-buru bangun. Tangannya langsung mengecek pinggangnya, kepalanya, punggung, dadanya, seluruh tubuhnya. Dia bahkan mengecek warna pakaiannya. Dia terus meraba tubuhnya seperti kehilangan sesuatu.
"Ada apa nak? Apa ada yang hilang?"
"Aku...luka ku... aku tidak terluka?" katanya yang keluar seperti pertanyaan.
"Hm, nenek tidak melihat ada luka."
"Tapi aku... aku tertabrak mobil? atau truk aku tidak ingat. Tapi yang jelas aku tertabrak. Aku ingat rasa sakit pinggangku hingga ke kepala. Lalu semuanya gelap. Aku..."
"Mati." nenek berkata pelan dengan nada kasihan. "Kau sudah mati nak. Hanya orang yang sudah mati yang bisa berada di sini."
Tubuh Reine gemetar. Dadanya sesak dan kakinya lemas. Dia menatap nenek dengan wajah bingung dan takut.
"Aku sungguh sudah mati? Kalau begitu ini..."
Reine ingin bertanya apakah ini surga. Tapi dia tidak berani menyuarakannya. Surga terlalu luar biasa untuknya. Dia merasa tidak sebaik itu untuk bisa langsung masuk ke sana.
"Oh aku tahu apa yang ingin kau ucapkan anak muda. Sayangnya ini bukan surga seperti yang kau bayangkan. Kau hanya berpindah ke dunia lain nak."
"Berpindah ke dunia lain?" yang ada dipikiran Reine, dunia lain adalah dunia para hantu. Kalau begitu dia hantu?
"Ya... seperti yang nenek bilang tadi. Dunia ini adalah Nekoroyaume, dunia para kucing yang bisa mengambil wujud manusia. Jiwamu berpindah ke sini dari tempatmu berasal. Katakanlah itu seperti kau ditransfer ke sini atau bisa kau menyebutnya bereinkarnasi ke sini. Tapi yang pasti kau sudah mati di duniamu."
"Mati..." Reine terduduk lemas.
Gadis itu tahu kalau dia sudah mati. Dia yakin tidak akan selamat dalam kecelakaan itu. Tubuhnya terbanting keras.
"Kucingnya! Apakah kucingnya selamat?"
"Kucing?"
"Aku... aku mencoba menyelamatkan anak kucing yang hampir tertabrak. Apa kucingnya juga..."
"Hm, nenek tidak tahu. Karena kau sendirian saat kami temukan."
"Oh."
Suara erangan besar dari belakang tubuhnya membuat Reine berdiri menjauh. Sebuah cahaya kuning terang menyilaukan menutupi seluruh tubuh kucing besar yang dari tadi ada di belakangnya. Cahaya itu makin mengecil, mengecil, dan semakin mengecil hingga hanya setinggi orang dewasa. Saat cahaya itu menghilang, dihadapannya sudah bukan kucing lagi. Tapi seorang wanita dewasa dengan tubuh ramping dan d**a* yang besar. Rambutnya panjang berwarna hitam ombre pirang. Dia atasnya ada telinga kucing berwarna sama. Kucing besar tadi juga manusia kucing ternyata.
"Kau berisik sekali Hooman, hoam." sambil menguap. "Aku datang ke sini hanya ingin tidur tanpa diganggu. Tapi kalian terus mengobrol seolah aku tak ada."
"Maafkan kami Monez. Kami jadi mengganggu istirahatmu. Terima kasih banyak kau sudah menjaganya sampai anak ini bangun."
'Monez! Tunggu dulu namanya Monez?!' batin Reine.
Nama itu mengingatkan dia pada kucing betina yang ada di gang rumahnya saat dia masih sekolah menengah pertama. Ada satu kucing cantik yang suka tidur di rumah tetangganya. Kucing liar tapi sangat jinak pada manusia. Jika sudah mulai musim kawin, banyak kucing jantan mengejarnya. Karena di zaman itu sangat sedikit betina di daerahnya. Tapi Reine tidak melihatnya lagi saat dia masuk SMA.
"Kau Monez? Moneznya Bu Rohana?" katanya cepat.
"Bu Rohana?" Monez mengerutkan kening. Dia menatap Reine dari atas sampai bawah. "Mungkin." katanya sambil menopang dagu. "Aku tidak begitu ingat masaku di dunia manusia. Itu sudah sangat lama."
"Anak muda, kau kenal Monez?"
"Aku hanya tahu satu nama kucing bernama Monez. Dia suka minta makan di rumah tetanggaku. Warna bulunya juga mirip."
Monez mendekati Reine. Postur tubuhnya yang lebih tinggi membuat Reine terintimidasi. Monez mendekatkan wajahnya. Hidungnya seperti mengendusnya.
"Aku tidak familiar denganmu." katanya sambil mengusap hidung. "Mungkin Monezmu adalah Monez lain. Aku rasa nama seperti itu banyak yang pakai."
"Oh, iya. Um maaf."
Monez mengedikkan bahu. Dia pamit pada nenek dan berjanji akan datang untuk makan malam. Bayaran menjaga Reine selama tidak sadarkan diri katanya.
"Baiklah anak muda. Bagaimana kalau kau ikut dengan nenek ke rumah. Sepertinya akan lebih nyaman jika berbincang-bincang di sana. Ceritakan padaku bagaimana dunia sekarang."
"I..iya."
"Oh bisa kau bantu aku menggendong Yoyo nak? Dia sepertinya sudah mulai mengantuk."
Yoyo atau anak kecil yang tadi menggigitnya sudah menguap sambil mengusap matanya. Ekspresi imutnya membuat hati Reine meleleh. Wajah mengantuknya lucu sekali.
"Tentu saja Nek. Ayo adik kecil, kakak gendong ya." katanya lembut.
Yoyo melihat dulu ke arah nenek meminta persetujuan. Nenek hanya mengangguk kecil sebagai persetujuan. Yoyo mengangkat tangannya minta gendong. Reine dengan senang hati melakukannya. Untung saja anak kecil ini tidak terlalu berat. Mereka pun berjalan keluar dari sana menuju ke rumah nenek.