"Meow."
Suara kucing kecil membuat Reine menoleh ke bawah. Di kakinya ada makhluk kecil berbulu sedang menduselkan kepalanya pada kaki Reine.
"Milko sayang."
Dengan paw kecilnya, Milko meraih celana panjang Reine seakan minta perhatian. Reine semakin mengembangkan senyum mendapat perlakuan manja kucing kecilnya. Dia menunduk dan mengangkat kucing itu kepelukannya.
"Meow"
Milko mencoba menggapai wajah Reine dengan kakinya yang pendek. Reine tertawa. Dia mendekatkan wajahnya dan mengelus ujung hidungnya di hidung Milko. Kucing kecil itu dengan senang hati menempelkan kaki kecilnya di pipi Reine.
"Meow, meow, meow."
Uh Milko sangat manja sekali. Biasanya dia tidak mau digendong. Tapi lihatlah Milko menduselkan kepalanya ke tangan Reine sekarang.
"Apa sayang? Kamu mau dielus? Sini dielus sini."
Reine dengan sayang mengelus bulu putih-cream-hitam Milko. Kucing kecil itu mendengkur senang dan semakin manja. Dia kemudian berlompat-lopat lalu bersembunyi seperti mengajak main. Reine tertawa melihat tingkah lucunya. Dia dengan senang hati menuruti keinginan Milko.
Reine berhasil menangkapnya. Dia berputar-putar sambil sesekali mencium gemas wajah Milko. Hatinya menjadi sangat ringan.
Milko turun dari tangannya. Dia berjalan kecil menuju pintu dengan kaki kurusnya. Walau tubuhnya paling kurus diantara saudaranya, Milko terlihat sangat sehat. Sebelum dia berlari ke pintu depan, Milko memutar badannya ke arah Reine.
"Meow."
Matanya begitu besar seakan sedang menyampaikan sesuatu. Reine tersenyum sayang tapi tetap diam di tempatnya. Kucing itu mengeong lagi sekali sebelum berlari keluar menuju pintu yang terbuka.
"REN! REINE BANGUN!"
Mata hitam gadis itu terbuka. Tubuhnya tersentak kaget di atas tempat tidur. Reine mengedarkan tangannya mencari handphone untuk melihat jam. Samar-samar dia masih mendengarkan teriakan ibunya dari dapur.
"Bangun neng, sudah siang. Jangan mentang-mentang kamu udah gak kerja lagi kamu bangun siang mulu!" teriak ibunya.
"Iya Ma Reine bangun."
Matanya masih lengket efek tidur. Jam menunjukkan pukul tujuh lima belas. Biasanya Reine bablas tidur sampai jam delapan.
Reine sedikit linglung. Tapi kemudian dia bergerak untuk memulai hari dengan bersih-bersih dan merapikan diri. Reine jarang sekali bermimpi dan mimpi kali ini membuat dadanya hangat.
Selesai mandi, dia melihat jam masih setengah delapan. Tangannya dengan gemas memegang ponsel. Klinik hewan baru buka jam sembilan, tapi dia khawatir dengan keadaan kitten-nya.
"Sarapan dulu, beres-beres rumah dulu. Paling gak kamu sapu teras sama bersihin kotoran kucing di pot bunga mama."
"Iya Ma."
Reine menurut tentu saja. Setelah makan dia keluar untuk membersihkan kekacauan yang ada di depan. Seperti biasa Chimoy yang bandel suka membuat kacau tanaman-tanaman hias Mama. Sementara si Xiao Cing entah bertualang kemana. Biasanya dia akan pulang saat lapar.
Tidak terasa sudah jam sembilan lewat saat Reine cukup lenggang untuk memegang handphone lagi. Ada satu pesan baru di pemberitahuan. Tulisan nama Klinik hewan terpampang. Reine dengan tangan gemetar membukanya.
Reine diam cukup lama. Dia berusaha bernapas dengan tenang. Sekali dua kali dia kembali membaca setiap tulisan di layar ponselnya. Dia menatap ke langit-langit rumahnya sambil mencoba mengatur napas. Tapi nyatanya sangat sulit.
Sesak sekali rasanya.
'Selamat Pagi mbak, maaf saya mau mengabarkan bahwa Milko menghembuskan nafas terakhirnya. Kondisinya terus menurun dan sulit merespon pengobatan yang diberikan.
Kami sudah berupaya memberikan suportif bantuan pernafasan berupa oksigen untuk membantu pernafasannya dan terus berupaya menstabilkan keadannya, namun Milko tidak merespon dengan baik.'
Sembilan dua lima adalah waktu pengiriman pesan itu. Sembilan dua lima air mata Reine sudah banjir dari bendungannya. Dia dengan jari yang gemetar dan napas yang sesak berusaha membalas pesan itu. Dia mengatakan akan segera ke sana menjemput Milko.
Reine melihat ke bawah, Chimoy mendekati kakinya dan duduk dengan wajah tanpa dosa. Reine segera mengangkatnya dan memeluk kakak dari Milko.
"Chim, Milko... Milko udah pergi." katanya di sela tangis. "Milko ga akan pulang lagi ke sini."
Chimoy tidak mengerti. Dia awalnya berusaha melepaskan diri dari pelukan gadis yang suka memberinya makan. Namun lama-lama dia diam dan menduselkan wajahnya ke pipi basah Reine. Perlakuan itu membuat hati Reine semakin sakit.
Pergi ke Vet adalah hal yang mudah. Ibunya membonceng dengan motor. Tentu saja Reine tidak bisa dibiarkan sendiri dalam keadaan menangis seperti itu.
Saat petugas klinik membawa jasad Milko keluar, Reine harus mengeratkan giginya untuk menahan isak tangis. Milko dibalut dengan alas medik tebal berwarna biru. Sisi-sisinya diikat seperti seorang manusia yang di pocong. Reine menggendongnya di tangan, terasa berat dibanding tubuh Milko yang kurus.
"Kalau boleh tahu jam berapa dia meninggal?"
"Sekitar subuh Mbak." jawab petugas dengan pelan.
Reine menggigit bibir dengan air mata menetes kecil. Pada jam itu dia bermimpi bertemu Milko dalam keadaan sehat dan bahagia. Menatapnya penuh sayang sebelum pergi ke pintu keluar. Dia tidak tahu jika itu adalah salam perpisahan dari Milko untuknya.
"Mbak, ini karena meninggalnya kena panleukopenia, di rumah semua kandang, tempat makan, bak pasir dan lain-lain yang dipakai Milko tolong disterilin ya Mbak. Karena masa inkubasi virusnya satu minggu. Kalau ada kucing lain, nanti setelah dua minggu atau sebulan dibawa vaksin saja Mbak. Biar mengurangi resiko kena. Kalau dalam satu minggu setelah ini ada yang sakit, konsultasi ke sini lagi gak apa-apa. Kami turut berduka ya Mbak. Sabar ya Mbak."
"Iya Mas. Makasih."
Reine menguburkan Milko di pemakaman umum kompleksnya. Dia hanya menatap sendu saat mamang gali kubur menutup liangnya. Pulang ke rumah Reine bersih-bersih semua peralatan kucingnya. Dia menatap sedih kalung ungu berlonceng yang biasa Milko pakai.
[Halo Reine. Ada apa?]
"Na Milko, kucingku mati Na... hiks."
Reine menelpon Ina, temannya sesama pecinta kucing.
[Eh, kok? Kenapa?]
"Sakit... hiks panleukopenia. Udah dirawat semalam di Vet. Tapi meninggal tadi subuh."
[Ya ampun.]
"Pas subuh aku mimpiin Milko. Dia tuh kurus. Tapi sehat ceria gitu. Terus minta dielus, minta digendong. Biasanya kan gak mau digendong, di mimpi dia mau." Reine semakin keras menangis.
[Oh ya ampun. Mungkin dia mau bilang supaya kamu gak khawatir. Supaya kamu ikhlas. Aduh sabar Ren.]
"Dia masih kecil banget Na. Belum ada enam bulan umurnya."
Ina hanya bisa mendengarkan temannya meluapkan semua emosinya. Dia juga pernah punya kucing dan mati. Rasanya memang sangat sakit.
[Besok kita ketemu ya di Margo. Kita jalan-jalan sebentar. Udah kamu jangan nangis terus. Pelan-pelan diiikhlasin. Kasian Milko nanti sedih tahu kamu begini.] hibur Ina.
"Iya Na. Aku usahain."
[Besok aku jemput ya. Kita ke Margo deh ya. Cari apa gitu ya. Besok kamu mau cerita ngalor-ngidul juga boleh.]
"Iya Na. Aku juga masih ada satu kerjaan ngedit foto. Malam ini aku selesaikan biar tenang besok."
..................
Ina datang keesokan harinya membawa Reine ke Margo, salah satu mall di Depok. Mereka hanya sebentar di sana sebelum melanjutkan perjalanan ke kota. Salah satu teman mereka mengadakan acara kumpul-kumpul. Berhubung niat Ina untuk menghibur Reine, jadi mereka berangkat ke Jakarta. Sejenak hati Reine terhibur saat bertemu teman-teman kampusnya.
Reine pamit pulang karena ditelpon mamanya. Ina mau mengantar, tapi Reine bersikeras pulang sendiri. Dia sudah cukup merepotkan Ina. Akhirnya dia pulang sendiri.
Reine masih berduka saat dia berjalan pulang. Dia berjalan di trotoar samping jalan besar sambil menikmati kesendiriannya. Sesekali dia menemukan kucing kecil seumuran Milko di jalan dan hatinya kembali pilu.
Reine tersenyum kecil saat melihat kucing kecil berlarian di jalan. Sayang kucing itu agak ceroboh. Dia berlari ke arah jalan besar yang banyak kendaraan. Reine tidak memikirkan apa-apa saat dia memilih berlari untuk melindungi kucing itu. Pikirannya membayangkan itu Milko kecilnya yang tersayang.
Sebuah truk besar menghantam tubuhnya. Bunyi decitan keras, suara klakson dan teriakan orang-orang samar dia dengar. Reine tidak ingat apa-apa lagi selain gerakan kecil dari kucing dipelukannya. Reine berpikir setidaknya anak kucing itu selamat. Jadi dia menutup mata dan membiarkan kegelapan menyapanya.
Sesuatu yang basah tapi kasar menyentuh pipinya. Gadis itu mengabaikannya. Tapi semakin dia diam sentuhan itu semakin menjadi, bahkan kini ke hidung dan matanya. Sangat mengganggu.
Reine sangat yakin dia tidak akan selamat. Dia masih mengingat pinggangnya dihantam keras oleh kendaraan besar. Dia mati 'kan? Kenapa rasanya dia masih hidup? Karena keanehan itu Reine membuka mata.
Saat Reine membuka mata, hal pertama yang Reine lihat adalah seorang anak laki-laki dengan telinga kucing dan ekor belang yang bergoyang-goyang. Dia juga merasa basah di pipinya. Anak laki-laki itu baru saja menjilat pipinya.
"Meow." suara anak laki-laki itu.
Reine yakin dia berhalusinasi. Dia sudah mati dan ini pasti di alam setelah kematian. Anak laki-laki dengan telinga kucing itu cemberut ke arahnya. Bocah itu mendekat lalu menggigit hidungnya.
"Aww!"
Reine dengan terkejut segera bangun. Dia merasa kepalanya pusing. Reine menyadari kalau ada yang tidak beres dengan tempatnya berada. Tempat itu seperti sebuah rumah kayu yang hangat, tapi jendela keluar yang terbuka membuatnya bingung. Warna langitnya biru, namun dengan awan hijau yang aneh. Aroma kayu juga terasa menyengat. Tempatnya berbaring terasa lembut, seperti sebuah karpet bulu yang besar.
Reine merasakan pergerakan di belakangnya. Saat dia melihat ke belakang, ada seekor kucing besar mungkin sebesar tiga meter sedang tiduran dengan wajah malas. Reine ternyata sejak tadi sedang berbaring di bulu kucing besar itu.
"A....aa" mulutnya hanya bisa menganga tanpa tahu harus berkata apa.
Tidak lama anak laki-laki yang memiliki telinga dan ekor kucing tadi datang kembali dengan menuntun seorang wanita tua.
"Oh kau sudah bangun nak?" Wanita tua itu berkata. "Selamat datang di Nekoroyaume. Dunia manusia kucing."
"Ha!"