Bab 36 - The Inn

1588 Kata
Archanimia berada di Prefektur Beizo. Prefektur kedua terbesar setelah Alphazo. Posisinya dari ibu kota Biefel berada di arah barat daya kota itu. Tempat itu dipenuhi dengan lembah dan jurang. Kelembapan udaranya sangat tinggi, gelap dan berkabut. Tempat favorit berbagai macam monster aneh. Archanimia bukanlah sebuah desa seperti Gerdinlix. Tempat itu lebih mirip dengan kawasan hutan tak berpenghuni. Sangat jarang dimasuki manusia kucing apalagi manusia. Walau begitu karena tidak banyak aktifitas manusia kucing di sana, Archanimia penuh sumber daya alam yang langka. Tanaman obat, batu-batu sihir dan serangga penuh manfaat ada di sana. Karena itu tempat itu terkenal dikalangan hunter. Hunter yang mengerti hal seperti itu akan datang ke sana untuk mengambil komoditas tertentu agar bisa mereka jual ke pasar atau pengkoleksi. Mereka bisa meraup untung besar dengan perhitungan bahaya yang harus mereka hadapi di sana. "Kedengarannya bukan tempat bagus." Reine berkomentar. Mereka masih berada di mobil. Milko sudah tertidur karena lelah. Dia meringkuk di kursi penumpang. Anak kucing itu sangat wajar banyak tidur. Dengan Milko yang tidur, Reine jadi bisa berbicara walau harus berbisik. "Memang bukan tempat yang bagus untuk tamasya." "Tuan hunter! Aku sedang tidak bercanda." kesal Reine. "Apa aku terdengar seperti sedang bercanda?" Leonio terus memandang jalan di depan. Tidak ada sedikitpun menengok ke arah Reine. Wajah Leonio terlalu serius memang. Bibirnya tidak sedikitpun tersenyum atau membuat smirk. Reine mengerti jika orang itu serius. Tapi pilihan katanya tadi menyebalkan. "Baiklah lupakan. Lalu apa yang akan kita lakukan di sana? Kita tidak sedang mencari laba-labanya kan?" "Kita memang mencari laba-labanya." "Eh, apa?" "Kita akan mencari laba-labanya." "Aku tidak mengerti, sungguh. Tuan hunter bisakah kau menjelaskan padaku kenapa kita harus mencari laba-labanya? Memangnya dia tahu siapa yang mencuri jaringnya? Kau sendiri yang bilang tempat itu berbahaya dan kita harus ke sana. Tidak adakah cara lain mencari tahunya?" "Aku sedang tidak mood untuk menjelaskan." ketusnya. "Kita akan istirahat di desa selanjutnya." Reine cemberut di tempat duduknya. Dia melipat tangannya di dad*. Mereka baru satu hari bersama. Tapi sikap Leonio sulit sekali. Reine yang biasa tidak gampang marah bahkan saat diganggu anak-anak, kini harus terus menahan amarah. Hunter ini seperti tidak senang padanya. Tidak seperti saat di istana. Dia cukup sopan saat berhadapan dengan raja. Sekarang saat mereka sudah jauh dari istana, dia hanya bicara sekenanya. Kalau ditanya maksudnya apa, dia akan diam atau membuat tampang malas. Padahal Reine kira orang ini keren tadi. Kalau jutek begini jadi tidak keren lagi. Mereka sudah berkendara selama sembilan jam. Jalanan panjang dan berkelok membuat mata sakit memang. Mereka butuh istirahat. Reine juga ingin meluruskan pinggangnya yang terlalu lama duduk. Demi menghemat energi dia juga diam. Jika dilihat sisi baiknya, perjalanan ini tidak buruk. Dia bisa melihat berbagai macam kota dan desa. Keluar dari Catyzokan yang selalu menyibukannya. Ada bangunan lucu berbentuk kepala kucing. Ada juga sawah tapi dengan daun berwarna ungu. Dia ingin tahu itu apa, tapi werecat di sampingnya malas menjelaskan. Mereka akhirnya sampai ke desa yang untuk beristirahat setelah berkendara melewati hutan. Desa itu terlihat sepi. Mungkin karena sudah masuk waktu malam. Rumahnya jarang-jarang tidak saling berdempetan. Mereka berhenti di sebuah bangunan plain dari kayu. Bangunan itu hanya satu lantai. Reine mencoba membaca huruf Nekorogrif yang ada di papan depan. Hotel sih tulisannya. Tapi kenapa lampunya hanya menyala di satu jendela? "Milko, ayo bangun. Kita pindah tidur yuk." ajaknya lembut. Anak itu menguap lebar. Reine sampai harus membantu menutupnya dengan tangan. Mereka turun dari mobil. Seketika hawa dingin langsung menjalar di kulitnya yang terbuka. Tempat ini dingin sekali seperti di puncak Bogor. Mereka sudah di daerah tinggi ternyata. Leonio mengunci pintu mobil. Dia memencet remote kecil yang ada di kunci. Lampu mobil menyala. Namun bukan bunyi bip bip tanda mobil terkunci, kendaraan mereka terlipat seperti origami. Bentuknya mengecil dan mengecil hingga seukuran kotak kecil sebesar dua ibu jari. Leonio bahkan memasangkannya langsung ke kunci seakan itu gantungan kunci. Reine melongo melihatnya. "Itu... Bagaimana bisa? Kau... itu mobil bisa begitu?" dia sampai terbata-bata saking kagetnya. "Iya. Memang di dunia manusia tidak bisa?" "Tidak ada perusahaan mobil yang gila sampai bisa membuat seperti itu." Kalau ada yang bisa membuatnya di dunia manusia, mobil itu pasti laku keras. Perusahaannya akan untung besar. Sudah begitu bisa menuntaskan masalah parkir dan pencurian. Inovasi yang luar biasa. "Apa semua mobil bisa dilipat begitu?" "Tidak semuanya mobil punya kemampuan ini. Tapi tentu saja raja tidak akan menyediakan barang murahan untuk kita." katanya sambil menggedikkan bahu. Leonio memimpin mereka masuk ke hotel. Ruangan itu sama gelapnya dengan di luar. Lampu penerangan di dalam sangat remang. Terlalu gelap bahkan dibanding remang. Bau debu dan pengap. Milko merapatkan badannya ke sisi Reine. Dia bahkan sampai memegangi lengan gadis itu. "Um, Tuan Hunter. Kau yakin kita menginap di..." "Sshhh." Leonio menempelkan telunjuknya di bibir. Dia menggoyangkan jarinya dengan gestur agar Reine tidak bicara. Hunter itu kembali melangkah ke dalam. Bunyi langkah sepatu Leonio sangat berat hingga terdengar di seluruh ruangan. Ada meja resepsionis dengan lampu minyak kecil menyala. Leonio menekan bel lonceng yang ada di meja. Dia melihat jarinya yang menekan bel tadi. Tebal sekali debunya. "Ya..." Suara berasal dari belakang mereka membuat Reine dan Milko berteriak. Leonio tidak memberikan respon apa-apa. Dia malah memasang wajah datar. Resepsionis ini sudah berumur. Mungkin sekitar lima puluh tahun dalam umur manusia. Matanya putih sebelah karena katarak. Jarinya keriput memegang sebuah piling berisi lilin. Dia memakai baju hitam dengan tudung. Ada hawa tidak enak dari kakek ini. Seperti hawa penjahat misterius di film horor. "Kami butuh dua kamar untuk menginap." Leonio berucap tegas. Kakek itu perlahan-lahan mengangkat kepalanya. Dia melihat ke Leonio, Reine dan Milko dengan gerakan patah. "Tentu tuan. Silakan ikuti saya." Dia berbicara dengan pelan. Kakek itu berbalik menunjukan jalan. Reine melihat ke arah Leonio. Hunter itu sama sekali tidak terlihat khawatir. Mereka berjalan hingga ditujukan dua kamar yang saling bersebelahan. Dia membuka kamar dengan kunci. Hawa kamar itu sama pengapnya seperti di ruang depan. Bahkan ada sarang laba-laba di langit-langitnya. Ada satu tempat tidur kecil dengan meja dan kursi, minimalis sekali. Kakek menyalakan lampu minyak kecil di meja. Setelah itu ke kamar satunya melakukan hal yang sama. Ruangan itu masih sangat gelap. "Um, maaf tuan. Apa ada ruangan yang lebih terang?" Reine bertanya. Kakek itu berbalik dan memberikan tatapan seram. Reine menggigit lidahnya agar tidak berteriak. Dia mundur satu langkah. "Ah maafkan aku. Ruangan ini bagus. Sangat bagus. Terima kasih sudah menunjukannya." dia tertawa kecil menutupi ketakutannya. Kakek akhirnya pergi dari sana. Setelah itu Leonio menutup pintu. Lampu minyak yang hanya satu di sana menambah suasana tidak nyaman. "Ckckck, Nona ternyata sangat tidak tahu sopan santun." "Aku tidak bermaksud begitu." "Menanyakan kamar lain setelah diberi kamar itu bukan perbuatan yang sopan. Lain kali tolong berhati-hatilah. Kita tidak ingin membuat orang lokal sakit hati." "Iya, maaf." "Reine, lapar." kata Milko sambil menatapnya memelas. "Apa kita bisa memesan makanan?" "Aku tidak merekomendasikan makanan di sini. Makan saja apa yang ada di tasmu." Leonio mulai mengecek sekeliling kamar. Reine membuka tasnya dan memberikan sebuah roti isi pada Milko. Anak itu menerimanya tanpa protes. Reine menghitung jumlahnya sebelum mengambil satu. Dia tidak tahu berapa lama mereka akan pergi dan roti di Nekoroyaume bisa disimpan hingga dua bulan. Setidaknya ada makanan lain selain roti. Tapi untuk lain waktu saja. "Tuan hunter, apa tempat ini aman?" Reine tidak bisa menahan diri karena Leonio begitu teliti mengecek sana-sini. Bahkan beberapa kali mengetuk dinding sambil mendengarkannya. "Apa kau sudah pernah menginap di sini sebelumnya?" "Pernah sekali." jawabnya. Dia mengeluarkan sebuah kuas dari tasnya dan mulai menggambar simbol di dinding. "Sebenarnya desa apa ini? Kenapa aku merasa tidak tenang di sini? Seperti ada sesuatu yang tidak benar." "Desa Pierre tombale. Ini desa terakhir sebelum masuk lembah." "Desa tombale apa? Desa Tumbal?!" "Bukan. Pierre tombale. Desa batu nisan. Kau tidak lihat sepanjang jalan banyak batu-batu alam." "Ba.. batu nisan?" dia merasa berkeringat dingin. "Jangan bilang kau pikir werecat tidak bisa mati? Kalau kita tidak bisa mati, untuk apa ada pergantian raja jika raja sebelumnya tidak mati." ketusnya. "Setiap daerah punya cara pemakaman masing-masing. Tidak semuanya butuh batu nisan. Tapi desa ini terkenal dengan kualitas batu nisannya. Tidak sedikit keluarga yang berpergian ke sini untuk mengganti batu nisan makam kerabat mereka dengan yang lebih baik." "Oh."  Mengejutkan memang. Tapi bisa dimengerti. Sentimental seperti itu ada juga di dunia ini ternyata. "Tempat ini tidak bisa menggunakan lampu terang. Akan mencolok makhluk malam. Mereka menghindari itu. Apalagi dengan posisi mereka di daerah dekat lembah Archanimia. Sebisa mungkin tidak ada cahaya mencolok. Lampu minyak adalah hal paling aman di sini." "Ah jadi begitu. Kenapa tidak jelaskan dari awal." "Nona, kita berjalan selama sembilan jam. Dalam sembilan jam itu kau seperti seseorang yang sedang bermain seribu pertanyaan denganku. Bagaimana aku tidak merasa lelah." Reine mau menyangkalnya. Tapi dia sadar perkataan hunter tidak salah. Nenek bahkan pernah mengomentarinya soal itu. Mau bagaimana lagi kan. Dia banyak tidak tahu soal dunia ini. "Maaf." Leonio merapikan kuasnya. Dia berjalan ke Milko lalu mengacak rambutnya. "Tidur nyenyak. Pastikan gadis ini tidak berkeliaran." "Hei!" "Aku ada di sebelah. Kalau ada apa-apa ketuk saja dinding itu. Aku sudah pasang alarm jika sampai ada yang mengusik. Dan kau Nona, jaga bicaramu di sini." "Aku selalu menjaga kata-kataku." Leonio menaikkan alis menyangsikannya. Tapi dia sudah lelah untuk berdebat. Jadi dia keluar dan menuju kamarnya. Reine masih kesal. Karena sudah malam jadi dia biarkan. Lebih baik tidur selama mereka bisa. Setelah membantu Milko membersihkan diri, dia dan Milko naik ke tempat tidur. Dia mematikan lampu minyak demi keamanan. Tubuh berbaring miring menghadap Milko. Anak itu langsung minta dipeluk. Reine bersyukur karena ada Milko. Suhu tubuh anak kecil sangat hangat. Jadi dia menutup mata untuk tidur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN