Bab 35 - Treasure Room

1633 Kata
Reine termasuk tipe orang yang mudah melupakan orang lain. Dalam arti jika mereka hanya bertemu sekali lalu berpisah dalam jangka waktu lama, ingatan wajah dan nama orang itu akan hilang. Pengecualian untuk orang-orang yang membuatnya berkesan. Seperti manusia kucing di depannya ini, tidak akan bisa dia lupakan penyelamatnya. "Kakak tinggi!" Milko melompat dari tempat duduknya. Dia langsung berlari dan menubrukkan diri ke kaki laki-laki berambut silver itu. Leonio menangkapnya agar dia tidak berada dengan pedang di pinggangnya. Akan menyakitkan jika kena. "Halo adik kecil. Kau sudah bisa bicara?" tanyanya sambil menepuk-nepuk ringan rambut Milko. "Mn! Bisa!" "Anak pintar." Reine melihat interaksi keduanya. Dia terkejut karena Milko tidak takut maupun waswas terhadap orang ini. Dia terlihat percaya, bahkan meminta dipeluk. Apa yang terjadi waktu itu hingga membuat Milko bisa seperti ini? "Kalian sudah saling mengenal?" Raja bertanya. "Iya Yang Mulia. Kami bertemu di hutan selatan Gerdinlix. Dia sangat berani berlari mencari bantuan untuk Nona Liem sampai menemukan saya. Saat itu dia belum bisa bicara lancar." "Bagus kalau begitu. Kalian sudah saling bertemu satu sama lain. Bukankah ini bisa dibilang takdir." katanya mencoba meringankan suasana. Reine tidak merasa demikian. Siapa saja bisa bertemu. Siapa saja bisa melupakan. Banyak orang di dunia ini saling bertemu tapi berpisah dan tidak bertemu lagi. Reine mencoba fokus pada apa yang ingin dia katakan. Dia masih belum mau menyerah untuk membuat Milko tidak ikut pencarian artefak. "Yang Mulia, saya ingin meminta agar Milko dipulangkan ke Catyzokan. Saya rasa dengan adanya Tuan... Leonio, sudah cukup untuk melakukan perjalanan. Saya yakin Tuan hunter punya skill yang mumpuni untuk melawan bahaya. Akan lebih baik jika dia tidak menjaga terlalu banyak orang. Jadi saya mohon Milko dipulangkan saja." Milko pasti mengerti kata-kata Reine. Dia berteriak. "Tidak mau pulang! Mau ikut Reine!" "Milko..." "Ikut Reine. Milko ikut!" "Milko, perjalanan ini bahaya." Milko memanyunkan bibirnya. Dia menatap ke arah Leonio dengan tatapan memohon. Matanya dibuat sebesar mungkin. Telinganya bahkan turun sedih. Jantung Leonio langsung sakit. "Milko mau ikut hiks..." isaknya kecil. "hiks... mau ikut." satu tangannya mencengkram baju hitam Leonio. Tangan lainnya mengusap matanya yang berair. Reine langsung kelabakan. Baru kali ini dia melihat Milko menangis. Buru-buru dia mendekat dan berjongkok. Dia berusaha menarik Milko yang masih memegangi Leonio. Tapi anak itu malah mengeratkan pelukannya di pinggang Leonio. "Milko... Milko sayang. Dengarkan kakak. Milko... sini lihat kakak." "Reine jahaaat... Milko mau ikut. huwaa!" "Milko..." Raja Osmond menahan mulutnya agar tidak tertawa. Bukannya dia tidak paham, hanya saja dia merasa anak kecil itu akan sangat membantu diperjalanan mereka. Biasanya firasatnya benar. Leonio yang badannya digunakan tameng bagi Milko jadi diam. Sekelebat bayangan masa lalu kembali muncul diingatannya. Dia memejamkan mata erat sebelum mengambil napas dalam. Dia mengangkat Milko untuk digendong. Anak itu sudah berumur sepuluh tahun, jadi sudah terlalu beesar untuk digendong. Tapi tubuh Leonio lebih besar darinya , tidak jadi masalah. "Kau bisa ikut asal jadi anak baik. Sekarang berhentilah menangis." "Tuan!" protes Reine. Leonio balas menatapnya tajam. Reine memberikan tatapan kesalnya. Mereka berdua saling bertatapan lama sampai Milko berhenti menangis. Anak itu masih sedikit merah dan basah airmata. Leonio mengeluarkan saputangan dari katong celananya dan mengelap wajah Milko. "Kalau begitu aku akan minta pelayan untuk menyiapkan perlengkapan kalian." Raja keluar dari ruangan meninggalkan mereka bertiga di sana. Leonio menurunkan Milko dari gendongannya. Milko ingin mendekat ke Reine lagi. Tapi dia tahu mood Reine sedang tidak baik. "Tuan hunter, kenapa kau tidak menolak membawa anak kecil? Saya pikir Anda yang paling mengerti betapa berbahayanya perjalanan ini? Kenapa Anda tidak membantuku untuk merubah pikiran raja?" kesalnya. "Apa aku terlihat punya kekuatan untuk menolak perintah raja?" tanya Leonio dengan nada tidak suka. Reine diam agak lama sebelum menjawab. "Iya." jawabnya singkat dengan dagu terangkat. "Kau terlihat seperti itu." Leonio merasakan pelipisnya berkedut karena kesal. Mereka tidak saling mengenal di luar insiden waktu itu. Tapi gadis ini sudah berpikir seperti orang-orang yang selalu memanggilnya Lord. Dia tidak sehebat itu untuk mempengaruhi keputusan raja. "Asal kau tahu Nona, tidak sepertimu yang manusia biasa. Aku tidak punya kemampuan untuk menolak perkataan raja. Tanganku terikat. Apa yang raja ingin aku lakukan, maka harus aku lakukan. Beliau alpha kami di dunia ini." 'Alpha.' batin Reine. 'Tunggu dulu, ini bukan dunia alpha beta omega kan?' "Apa maksudnya dengan Alpha?" "Alpha ya alpha. Orang yang bisa memerintah dengan suara alpha. Aku belum pernah melihat raja menggunakannya. Beliau sangat berhati-hati dengan kemampuan seperti itu." "Kalau begitu apa ada beta dan omega?" Leonio mengerutkan kening. "Apa yang kau bicarakan manusia? Aku tidak mengerti." 'Oh, berarti berbeda dengan omegaverse.' angguknya kecil. Raja membekali mereka dengan banyak hal. Ada persediaan makanan kering dan instan yang tahan lama. Alat tulis, alat penerangan dan peralatan dasar lain. Juga beberapa lapis pakaian untuk berpergian. Kebetulan Reine dan Milko hanya membawa satu salin karena dia pikir dia tidak akan lama pergi dari Catyzokan. "Saya ingin memeriksa ruang harta Yang Mulia." dan raja mengizinkan. Reine dan Milko ikut ke sana. Dia melongo takjub melihat luasnya ruang harta. Ada rak-rak panjang yang berjejer berisi barang antik. Beberapa etalase kaca dengan lampu sorot. Juga kotak-kotak kaca yang menjaga barang tipe berharga tinggi. "Ini kotak kaca yang menyimpannya. Artefaknya diletakkan di sebuah kotak bermantra lagi. Jadi pencurinya tetap membutuhkan waktu untuk membukanya. Kotak pelindungnya terbuat dari campuran besi dan baja. Tidak bisa dihancurkan paksa." Raja menjelaskan. Leonio mengangguk. Dia mengecek ke sekeliing ruangan termasuk etalase. Dia mengeluarkan satu kotak seukuran kotak korek api dari tasnya. Saat dimiringkan ke telapak tangan bubuk-bubuk hitam berkilauan terlihat. Dia membaca mantra lalu meniup bubuk tadi ke udara. Bubuk itu menyebar hingga ke bagian pojok atas dekat salah satu rak. Leonio memanjat ke atas dengan memanfaatkan rak-rak harta. Reine sampai ngeri melihatnya karena dia begitu berani melakukannya di depan raja. Benda-benda du rak itu berharga. Kenapa dia sangat cuek. Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan dari atas rak, Leonio memanjat turun. Di tangannya tergenggam suatu benang tipis. "Jaring laba-laba Metonomia. Sangat langka dan sulit di dapat." "Jaring laba-laba?" Raja mendekat untuk melihat jaring itu. "Ya, bisa mengangkat benda seberat seratus ton. Saya rasa pencurinya menggunakan ini. Jika tahu cara memanfaatkannya. Dia tidak perlu masuk ke sini untuk mengambilnya." "Tapi bagaimana cara memasangnya? Tempat ini dilidungi mantra penolak teleportasi." "Tidak perlu teleportasi jika ada lemari itu." dia menunjuk sebuah lemari tidak jauh dari mereka."Lemari kembar pinang. Anda hanya perlu menemukan kembarannya untuk bisa mengakses sisi satunya." Wajah raja langsung pucat. Dia mengecek lemari itu. Pintunya sedikit terbuka. Segel di daun pintunya lepas. Dia menarik pintu lemari terbuka. Ada sisa jaring laba-laba di dalam. "Astaga!" Jika Reine berada diposisi raja, dia juga akan mengutuk dirinya karena kecerobohannya sendiri. Menaruh barang berbahaya di dekat pintu ke mana saja. Benar-benar teledor. "Bisakah kita akses sisi satunya?" Leonio mengetuk dinding lemari dua kali. Dia membuat segel tangan. Dari jarinya muncul sinar ungu. Dia mengarahkannya pada lemari. Benda itu bersinar sebentar lalu redup. "Saya khawatir kembarannya sudah dihancurkan. Mereka tidak terkoneksi lagi." katanya menyesal. "Ah." suara raja kecewa. "Setidaknya kita ada petunjuk harus memulai dari mana." Reine tidak tahu harus merasa senang atau tidak mendengarnya. Dengan Leonio mengatakan seperti itu berarti perjalanan mereka benar-benar akan dilakukan. Dia hanya bisa menguatkan hati dan menahan diri agar tidak panik. Tidak ada cara baginya untuk keluar dari tugas ini. .......................................................... "Maafkan aku karena tidak bisa membantu banyak untuk kepergian kalian." Mereka berhenti di hal utama tempat patung dewi berada. Reine kembali melirik ke arah patung dewi. Dia masih tidak bisa melepaskan rasa anehnya saat melihat patung dengan topeng kucing itu. Ada rasa penasaran seperti apa kisah dewi ini di Cat Realm. "Yang Mulia tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Ini semua sudah cukup. Kami hanya minta berkat dari Yang Mulia agar perjalanan kami lancar." Leonio benar-benar tahu cara berbicara di depan raja. Bahasa dan pilihan katanya sangat baik. Saat dia mengucapkan juga tidak terdengar dilebih-lebihkan seperti kesan penjilat. "Nona Liem." "I..iya Yang Mulia?" Raja Osmond mengeluarkan sebuah kotak silver sebesar kotak musik dari jubahnya. "Aku ingin kau membawa ini. Simpanlah dengan baik dan jangan mencoba membukanya. Kecuali pada saat yang benar-benar genting dan kau merasa putus asa." Reine menerima kotak itu dengan kedua tangannya. Ukiran silvernya sangat cantik untuk sebuah kotak biasa. Walau terlihat besar, benda ini tidak berat sama sekali. "Apa ini Yang Mulia?" "Itu hanya bisa kau ketahui saat kau membukanya." senyumnya tipis. Reine mengucapkan terima kasih. Intinya adalah dia tak perlu tahu apa isinya yang penting kau buka saat emergency. Reine berharap ini bukan tipe kotak pandora dengan monster di dalamnya. Reine mulai ngawur lagi pikirannya. Mereka tidak ke lobby utama. Tapi dibawa melalui lift ke basement. Reine merasa kaget saat melihat lift di dunia ini. Dia kira tidak akan ada. Raja tidak mengantar mereka ke basement. Hanya Pengacara Park yang ada. Mereka di antar ke parkiran. Ada berbagai macam mobil di sana. Reine melihat seorang laki-laki berpakaian prajurit menunggu di sebuah mobil hitam. Mobil itu mirip mobil jeep tapi lebih lebar dengan warna chat gelap. "Tuan Guo!" Prajurit Guo mengangguk. "Lord Iris Sabre, Nona Liem, tuan kecil. Saya harap anda semua diberi perlindungan selama perjalanan." salamnya. "Tuan Guo, apa saya bisa minta tolong." "Menghubungi Dokter Frans? Saya akan melakukannya dan mengabarkan kepergian ada. Dokter Frans menitipkan pesan bahwa anak-anak baik-baik saja. Mereka sedih tapi baik-baik saja. Tabib Aile dan Nona Monez sekarang tinggal di Catyzokan." "Terima kasih Tuan Guo." Prajurit Guo menyerahkan kunci mobil. Mereka bertiga masuk ke dalam. Leonio menyalakan mobil dan menjalankannya keluar dari sana. Mobil melewati jalan berkelok di basement istana. Mereka muncul di pinggiran kota, sangat jauh dari posisi istana. Tidak ada tanda-tanda bangunan megah di sana. "Ini..." "Jalan rahasia. Raja ingin kita berhati-hati." Reine mengangguk mengerti. Milko hanya bisa terpana melihat bangunan-bangunan tidak biasa di kanan kiri mobil. Reine tersenyum melihat reaksi Milko. Anak itu tidak tahu dunia luar selain ladang dan kebun di Gerdinlix. "Jadi kita ke mana?" "Tempat laba-laba Metonomia berada. Kita akan ke lembah Arcanimia. Lembah makhluk mengerikan itu hidup."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN