Bab 34 - Talk with Tea 2

1076 Kata
"Baiklah, kita pindah ke pembahasan selanjutnya. Mengenai artefak yang hilang. Aku harap Pengacara Park sudah menjelaskannya." Leonio memasang telinga. Dia meletakkan cangkir dan menegakkan duduknya. "Kurang lebih." dia memiringkan kepalanya. "Ada beberapa poin yang saya ingin tanyakan." "Silakan." "Bagaimana cara Anda melindungi ruang harta?" Osmond Cyrille menatapnya tenang. "Ada tiga detektor berlapis yang dipasang di ruang harta. Detektor suara, detektor berat dan detektor panas tubuh. Ketiga detektor itu selalu aktif setiap saat. Detektor itu bisa dimatikan oleh satu kunci yang ada dalam kamarku. Hanya aku, Penasihat Dion dan Pengacara Park yang tahu." "Kemudian ada lima penjaga yang berjaga di depan ruangannya. Aku biasa memilih prajurit milik Jendral Besar. Prajurit itu dirolling setiap empat jam sekali. Kelimanya ambruk saat great sleep menyerang." "Apa detektor mati saat di cek?" "Tidak. Detektor menyala. Pengacara Park tahu prosedur untuk membuka ruang harta. Sebelum dan sesudah di buka harus di foto keadaan alarmnya. Semuanya tidak ada masalah. Waktu aku menyadari kemungkinan ruang harta dibobol itu sekitar jam tujuh malam. Dari waktu pagi jam sembilan saat orang-orang mulai ambruk sampai jam tujuh malam, ada jeda waktu kosong yang panjang." "Hari itu tidak ada orang lain selain penjaga yang melewati tempat itu?" Raja diam sebentar. "Ada. Aku meminta Jendral Kan untuk menyisir seluruh area dan mengumpulkan semua yang bangun di lapangan. Kemungkinan dia lewat sana." "Berapa lama orang-orang berkumpul di lapangan?" "Sekitar lima belas sampai dua puluh menit. Setelah itu aku meminta mereka untuk mengamankan orang-orang yang tidur." Leonio terdiam. 'Rentang waktu kosong terlalu besar. Ada banyak orang yang bisa melewati ruang harta tanpa terdeteksi. Apalagi saat mereka membantu mengamankan tubuh orang-orang yang tidur.' batinnya. 'ini sulit.' "Kamera pengawas?" "Freeze. Dari rentang waktu sembilan sampai empat tiga puluh sore." "Yang Mulia, saya rasa hari itu benar-benar bukan hari baik Anda." "Kau benar. Makanya aku ingin meminta tolong padamu untuk mencarinya. Mencari kristal nekomata dan membawanya kembali ke sini." Wajah Leonio langsung berubah suram. "Yang Mulia. Anda tahu saya bukan pilihan terbaik untuk bertemu dengan kristal itu." Tentu raja tahu. Leonio, walau dia punya sihir putih dan jiwa ksatria yang baik. Dia masih memiliki rasa haus darah yang tinggi. Pekerjaan hunter adalah pelarian untuk menenangkan sisi buasnya. "Karena itu kau tidak sendiri mencarinya. Sudah ada Nona Liem dan tuan kecil Milko di sini. Mereka menunggumu untuk bersiap melakukan perjalanan." "Nona Liem?" "Kau sudah pernah bertemu dengannya kan? Nona Reine Liem si manusia muda dari Gerdinlix. Aku sudah membaca laporanmu tentangnya." Leonio dapat mengingatnya. Gadis muda yang dengan berani menjatuhkan satu kecoa titan di hutan selatan Gerdinlix. Manusia yang terlalu aneh di matanya. "Apa yang bisa dia lakukan?" Berpergian sendiri sebagai hunter mudah. Tapi membawa orang lain terlebih manusia yang tidak memiliki sihir tentu perkara lain. Lalu tadi raja menyebutkan nama satu orang lagi? Siapa? Tuan kecil katanya? "Jangan memasang tampang suram dulu Leonio. Aku bermimpi gadis ini bisa memegang kristal nekomata." "Memegang?" "Ya. Dia memegangnya dengan dua tangan, lalu cahaya putih menyala terang dibelakangnya. Jika aku berani bilang, dia seperti... dewi. Sangat bersinar." Leonio diam mencoba membayangkan. Ah tapi tidak bisa. Dia bahkan agak samar mengingat wajahnya. "Jika itu dari penglihatan mimpi Yang Mulia maka saya tidak bisa berkomentar. Yang Mulia ingin saya menjaganya?" "Rajamu ini ingin kalian menjaga satu sama lain." katanya sambil tersenyum lembut. "Aku tidak ingin ada satupun rakyatku yang mati karena pencarian ini." "Anda sangat baik Yang Mulia." "Oh sama satu lagi! Tuan kecil Milko. Jika Leonio bisa mengajarinya akan lebih baik." "Milko?" "Kau akan segera bertemu dengannya." .................................................................. Reine menatap kesal pada buku di depannya. Selesai sarapan pagi, dia dan Milko ditinggalkan di ruang perpustakaan untuk menunggu. Pengacara Park langsung pergi dan belum juga kembali. Wanita itu menyuruhnya menunggu di sini sampai raja datang. Sekarang sudah dua jam belum ada tanda-tanda Raja Nekoroyaume itu akan mengunjunginya. Jika tahu akan begini lebih baik dia mencari prajurit Guo. Paling tidak dengan begitu dia bisa meminjam ponsel dan menanyakan keadaan anak-anak pada Dokter Frans atau Monez. Dia sangat takut anak-anak panik karena dia tidak kembali. Bagaimana keadaan Owi, Dodo dan Didi bayi? Bagaimana kondisi nenek sekarang? Apa anak-anak makan dengan baik di sana? Sayangnya pertanyaan-pertanyaan itu hanya bisa dia pendam untuk sekarang. Tidak ada yang bisa memberinya bantuan. Milko dikasih alat gambar oleh Pengacara Park. Tapi setelah lima menit, anak itu meninggalkannya. Sepertinya Milko memang tidak tertarik pada kegiatan bermain warna seperti ini. Dia hanya membolak-bolak balik buku cerita bergambar tanpa membacanya. Reine juga mencoba mengisi waktu. Dia ambil satu buku dari rak untuk melihat isinya. Semua tulisannya dalam huruf Nekorogrif. Reine menyerah membacanya. Milko terlihat mulai mengantuk setelah diam cukup lama. Salah Reine juga tidak mencoba mengisi waktu dengan bicara dengannya. Agak sulit mencari topik pembicaraan dengan anak kecil. Biasanya dia hanya mengikuti alur imajinasi anak-anak yang berinteraksi dengannya. Tapi Milko berbeda. Dia sangat pendiam. "Milko ngantuk ya? Mau bobo?" Anak itu menggeleng. Tapi matanya sudah sayu. "Tidak apa-apa. Sini bobo di pangkuan Kakak. Sepertinya masih lama sampai ada yang menjemput kita." Jika saja mereka diperbolehkan berkeliaran sudah Reine lakukan dari tadi. Tempat ini luas dan penuh dengan benda menarik di sepanjang lorong. Dia tahu berbahaya jika berkeliaran tanpa pengawal, jadi dia menurut diam di sini. Baru saja Milko mau memejamkan mata, suara pintu terbuka. Osmond Cyrille dengan segala kegagahannya masuk ke ruangan. Setelan pakaiannya lebih formal dari pada yang semalam Reine lihat. Pakaiannya sekarang lebih cocok untuk acara kenegaraan. Milko langsung bangun dari posisinya. Reine segera menariknya mendekat. Dia masih kesal pada raja ini karena mengikutsertakan anak sepuluh tahun untuk pencarian berbahaya. Sopan santun tetap sopan santun. Reine berdiri untuk menyapa. "Yang Mulia." "Selamat pagi Nona Liem dan Tuan kecil. Saya harap tidur malam Anda berdua nyenyak." "Terima kasih atas kebaikan Anda Yang Mulia. Kami tidur dengan baik." "Maaf membuat Anda menunggu lama. Ada beberapa hal yang harus saya kerjakan sebelum bisa ke sini." "Saya mengerti Yang Mulia." Dalam hati Reine sedang mengatakan sabar, sabar dan sabar dalam jumlah banyak. Dia harus jaga etika di sini. Dia tidak tahu raja di depannya sungguh tipe baik hati atau tipe baik tapi hati-hati di belakang. Lebih baik aman daripada kena getahnya. "Agar tidak banyak basa-basi. Saya langsung saja perkenalkan Nona dengan rekan berpergian Anda nanti. Silakan masuk." Seorang laki-laki tinggi dengan postur tegap masuk. Rambut silver dan mata hijaunya sangat mencolok. Jaket kulit indiana jones, celana tactical dan sepatu boots tebal membalut apik tubuhnya. "Kau...." "Perkenalkan Nona, ini Lord Iris Sabre. Dia yang akan menemanimu selama perjalanan." Laki-laki itu membungkuk sedikit memberi salam. "Mohon kerjasamanya Nona Liem." dengan wajah serius dia berkata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN