"Pengacara Park." ujar Leonio pada wanita di depannya. Dia menganggukkan kepalanya sebagai salam.
Wanita bersetelan blazer dan rok span belah samping itu memberinya senyum profesional.
"Aku sangat senang kau masih bisa menerima panggilan dariku. Aku nyaris putus asa saat tidak ada yang menerima teleponku. Yang lain benar-benar telah..." dengan nada frustasi.
Tanpa diucapkan Leonio juga mengerti. Keadaan Nekoroyaume sangat memprihatinkan. Banyak teman-temannya sesama hunter juga tak sadarkan diri. Banyak yang tidak bisa dibawa ke rumah sakit karena kapasitas penuh. Mereka yang memilih merawat rekan mereka di rumah sebisa mungkin dengan keterbatasan yang ada.
"Aku mengerti keresahanmu. Aku turut bersimpati akan keadaan istana karena kekacauan yang terjadi. Bagaimana jika kita bicara sambil jalan? Aku sudah terlambat bertemu raja karena memarahi anak-anak di sana."
Pengacara Park tertawa kecil mendengar Leonio mereferensikan prajurit dibelakangnya sebagai anak-anak. Umurnya dengan mereka tidak berbeda jauh. Leonio umurnya sekarang paling dua puluh lima atau dua puluh tujuh tahun. Prajurit yang di lapangan tidak jauh dari dua empat sampai tiga puluh tahun. Leonio mungkin merasa secara mental dia terlalu dewasa untuk menangani keresahan anak muda.
"Aku yakin raja tidak keberatan kau terlambat. Biar bagaimana pun kau hunter favoritnya."
Pengacara Park memberikan laporan situasi terkini, kebijakan yang sudah istana lakukan dan masalah baru yang muncul setelahnya. Termasuk masalah hilangnya kristal Nekomata.
"Aku hanya bisa mengantar sampai di sini. Masih ada tugas lain yang harus saya kerjakan."
"Terima kasih Pengacara Park. Good luck with your job."
"I hope so."
Pengacara Park pergi meninggalkan Leonio di depan sebuah pintu ruangan yang besar. Ukiran berbentuk kucing raksasa di tengahnya terlihat megah. Leonio mengetuk dua kali. Pintu terbuka sendiri dengan bunyi kriet yang sangat satisfiying.
Seluruh pintu di istana yang berhubungan dengan ruangan raja harus memiliki bunyi agar raja tahu ada yang masuk. Karena dalam sejarahnya ada kejadian tidak menyenangkan yang melibatkan pintu tanpa bunyi. Seorang pembunuh bayaran berhasil masuk ke dalam istana tanpa terdeteksi. Raja yang berkuasa saat itu hampir kehilangan nyawa jika refleksnya tidak bergerak sepersekian detik. Pengetahuan tentang pintu kerajaan sekarang dijaga rapat-rapat. Bahkan Jendral sekarang belum tentu mengetahuinya.
Pengecualian untuk Leonio. Dia punya hak istimewa.
"Leonio datang menjawab panggilan Yang Mulia." sambil bersimpuh dan menundukkan wajah.
Ruangan yang dia datangi bukanlah ruang singgasana raja. Ruangan itu adalah ruang santai lain untuk menerima tamu. Ada dua guci antik setinggi satu meter sebagai hiasan. Lukisan besar pemandangan kuil utara di tengah dinding. Dua sofa panjang dan satu sofa kecil.
"Kau tidak perlu selalu seperti itu setiap kali kita bertemu. Bangunlah."
"Terima kasih Yang Mulia." dia bangun dari posisinya. "Ini protokol kerajaan. Saya tidak berani meniadakannya."
Osmond Cyrille bergumam, tidak mengiyakan tapi tidak juga menolak. Dia melangkah mendekat ke arah Leonio.
"Angkat wajahmu. Biarkan aku memeriksamu."
Leonio mengangkat wajahnya. Raja Osmond memegang pundaknya. Lalu mencengkram dagu Leonio, membuat dia menolehkan kepalanya ke kiri dan kanan. Matanya menelusuri seluruh wajah sang hunter.
"Kau terlihat baik-baik saja." dia mencubit pipi Leonio sambil menariknya. Pemiliknya hanya diam mempertahankan wajah datarnya. " Kau benar-benar sehat. Duduklah."
Leonio menahan mulutnya untuk mengatakan sesuatu yang menyebalkan.
'Aku tahu umurku tidak ada setengah dari dirimu tuan. Tapi aku sudah bukan anak kecil lagi. Aku sudah dua lima!' gerutunya dalam hati.
Raja mulai membuat teh. Gerakannya penuh perhatian. Rutinitas ringan yang sederhana dan menenangkan. Dia selalu membuat teh untuk pembicaraan yang serius. Daun teh pilihannya selalu disesuaikan dengan suasana. Kali ini aroma camomile. Beruntung mereka sudah tidak lagi berada di dunia manusia. Karena kalau di dunia manusia, teh tidak baik untuk pencernaan kucing.
"Sebelumnya aku ingin berterima kasih atas pidatomu di lapangan tadi. Terima kasih sudah mau repot-repot turun tangan untuk meluruskan mereka."
"Yang Mulia tidak perlu berterima kasih. Saya hanya mengucapkan beberapa kata. Berubah atau tidaknya mereka itu tergantung dari diri masing-masing. Saya hanya ingin meringankan sedikit beban Anda."
Raja tersenyum penuh rasa terima kasih. Leonio mungkin bukan anggota prajurit kerajaan lagi. Tapi hatinya tetap hati seorang prajurit. Sangat berdedikasi tinggi.
"Aku sangat bahagia begitu mendengar kabar dari Pengacara Park kalau kau akan datang. Jujur saja aku terkejut saat tahu kau tidak terpengaruh oleh kutukan itu." sambil meletakkan secangkir teh untuk tamunya.
"Saya tidak mengatakan saya tidak terpengaruh." berterima kasih atas teh yang diberikan. "Teman saya bilang saya sempat tidak sadarkan diri selama delapan belas jam."
"Delapan belas jam?! Lalu bagaimana kau bisa bangun?"
Leonio mengelus cangkir tehnya.
"Saya pikir itu karena roh pedang."
"Roh pedang?" mata raja langsung tertuju pada pedang hitam berukiran silver yang selalu tergantung di pinggang Leonio.
"Saat saya tidak sadar, saya bermimpi. Dalam mimpi itu saya berada di lapangan kosong dengan langit gelap. Ke manapun saya melangkah hanya ada kegelapan. Tempat itu sepi dan hening. Sangat mudah membuat orang putus asa. Saya berpikir saya tidak akan keluar dari sana. Tapi tiba-tiba sebuah cahaya muncul dari tempat yang jauh. Saya mengikutinya hingga saya menemukan sebuah padang bunga."
"Bunga Iris?"
"Ya, bunga Iris ungu. Lili pedang. Ada seseorang berjubah dengan wajah tertutup tudung berdiri di sana. Saya tidak mengenalnya tapi saya merasa familiar. Dia mengulurkan tangannya.
Saya menggapainya dan bangun." dia meletakkan cangkirnya ke meja. "Makanya saya berpikir itu roh pedang."
"Sekarang aku paham kenapa kau begitu istimewa. Tidak semua orang bisa memegang pedang yang memiliki roh."
"Saya tidak istimewa Rajaku. Anda terlalu memuji." katanya sambil menundukan kepala. Berharap pipinya tidak merona karena pujian raja.
Raja tersenyum untuk menahan tawa. Hunter Leonio adalah orang yang keras. Tidak terbiasa mendengar pujian. Bisa membuatnya merona seperti prestasi tersendiri.
"Setelah itu apa ada hal lain yang terjadi? Maksudku apa kau tidak bermasalah saat tidur di jam normal?"
"Awalnya saya sempat khawatir untuk tidur lagi. Saya khawatir jika jatuh tertidur saya akan terperangkap di sana. Teman saya yang seorang praktisi sihir gelap meyakinkan saya untuk mencoba tidur. Dia akan coba bangunkan saya paksa kalau lewat dari waktunya. Tapi ternyata kekhawatiran itu tidak terjadi. Sejauh ini saya tidak kembali ke mimpi itu."
Raja masih penasaran saat Leonio bilang temannya akan mencoba membangunkannya paksa.
"Apa yang akan temanmu lakukan jika kau tetap tidak bangun?"
Leonio diam sebentar.
"Menyetrum saya."
"Apa?!"
"Dia punya senjata spiritual yang bisa menghantarkan listrik. Saya tidak tahu apa dia akan berhasil jika benar coba menggunakannya."
"Listrik? Jika memang bisa digunakan, patut dicoba."
"Yang Mulia, great sleep berbeda dengan kondisi orang yang memiliki gangguan detak jantung. Mereka tidur normal dengan detak jantung normal. Listrik bisa me-restart detak jantung dengan irama tidak normal agar kembali ke normal. Tapi orang yang tidur memiliki irama jantung normal. Mengejutkannya dengan listrik bukan pilihan yang baik." jelasnya cepat. "Teman saya bukan ingin me-restart jantungku ke keadaan normal. Dia ingin memaksa roh saya keluar lalu memasukkannya lagi ke tubuhku."
"Tunggu dulu. Dia ingin membuatmu mati?" raja begitu terkejut hingga air tehnya sedikit tumpah.
"Secara sederhananya begitu. Saya sudah katakan teman saya seorang praktisi sihir gelap. Jadi pemikirannya cukup... ekstrim." katanya sambil cemberut.
Leonio tidak berpikir kalau temannya akan membunuhnya saat orang itu menjelaskan metode ini. Dia hanya terbiasa dengan ide gilanya. Walau terdengar ekstrim, ide gilanya banyak yang berhasil. Makanya dia percaya pada rekannya itu.
"Ah, I see." Raja kembali menuang tehnya. "Aku hanya sedang mencari cara untuk membangunkan orang-orang."
"Jika Yang Mulia ingin coba mendiskusikannya, saya akan bicara dengannya. Cara ini hanya teori kasar. Belum pernah dicoba di lapangan. Rekan-rekan sesama praktisi sihir hitam agak meragukannya karena kemungkinan gagal tetap ada."
"Bantuan dalam bentuk apapun akan sangat aku apresiasi. Jika tidak repot aku ingin bertemu dengannya."
Leonio mengangguk mengerti.
"Baiklah, kita pindah ke pembahasan selanjutnya." kata raja kemudian.