Bab 32 - Unwanted General 2

1331 Kata
"Berisik sekali." Suara bariton seseorang membelah suara bisik-bisik prajurit. "Sepertinya militer sekarang mengalami kemunduran. Sangat berisik." Suara langkah kakinya berat dengan sepatu boots bersol tebal. Suara itu berasal dari barisan belakang para prajurit. Otomatis mereka melihat ke belakang. Seorang laki-laki berambut silver dengan mata hijau terang. Jaket coklat dipadu kaos dalam hitam menambah pesona tubuh atasnya. Bagian pinggangnya dipenuhi gear untuk pemburu dengan sebuah pedang tersampir di pinggang. Dia sedikit mengusak rambutnya yang tidak rapi. "Lord Iris Sabre!" "Hunter-sama!" "Master Leonio!" Berbagai panggilan diucapkan para prajurit. Laki-laki itu hanya berjalan lurus ke depan menuju satu-satunya Jendral yang ada. "Aku kira apel pagi selalu khidmat dan tertib. Hm, aku harus mengubah kesanku sekarang." "Lord Iris Sabre! Lord Iris Sabre Anda datang! dan anda... Anda tidak tidur!" "Jendral Kan, apa itu sapaan bertemu dengan orang lain sekarang?" sindirnya. "Maafkan aku tuanku. aku hanya sangat senang anda dalam keadaan baik." Lord Iris Sabre adalah salah satu orang yang disegani di militer kerajaan. Saat masih tercatat sebagai prajurit, dia seorang prodigi. Punya kekuatan besar dan diberkahi pedang saber istimewa. Dia bahkan dicalonkan sebagai Jendral Besar untuk memimpin pasukan. Namun entah apa yang terjadi Lord Iris Sabre mundur dari kejayaannya sebelum dikukuhkan sebagai Jendral. Sekarang dia menjadi hunter dan pengelana. Sampai sekarang teka-teki tentang Lord Iris Sabre dan pengunduran dirinya masih menjadi misteri. Mungkin hanya dia dan raja saja yang tahu alasannya. Walau begitu pengunduran dirinya secara baik-baik jadi para prajurit militer masih segan terhadapnya. Saat dia masih di sini dia jadi cambukan untuk prajurit lainnya. Sekarang bagi generasi baru prajurit muda, namanya seakan legenda. Banyak yang ingin melihatnya bertarung secara nyata. Lord Iris Sabre berdiri di sebelah Jendral Kan. "Komando saya ambil alih. Seluruh pasukan siap gerak!" suaranya lantang. Semua orang langsung berada dalam posisi siap. Tangan rapi di samping badan. "Hormat gerak! Tegap gerak! Istirahat ditempat gerak!" Setiap instruksinya dilakukan dengan baik. "Saya mungkin bukan orang yang tepat mengatakan ini. Tapi saya sangat kecewa dengan sikap kalian semua di sini." Leonio menyapu matanya dari kiri ke kanan barisan. Orang-orang yang ada di barisan depan langsung menelan ludah kasar. Ada yang sampai mengepalkan tangan dibawah tatapan tajam sang hunter. "Apa kalian tahu apa makna apel pagi?" suara dalamnya membuat jantung deg-degan. "Kau yang barisan paling belakang deret paling kanan, apa makna apel pagi?" "Siap Sir! Disiplin Sir!" Leonio mengangguk kecil. "Ada lagi jawaban lain selain disiplin?" Semua orang diam. Setelah beberapa waktu Leonio baru bersuara. "Makna lainnya tanggung jawab. Tanggung jawab pada diri sendiri, tanggung jawab pada batalion, tanggung jawab terhadap atasan." dia menjeda perkataannya agar semua orang menyerapnya di otak. "Kalian disiplin dalam waktu, disiplin dalam berpakaian, disiplin juga dalam bersikap. Kalian datang ke sini pagi ini untuk mengikuti apel dengan disiplin dan rasa tanggung jawab sebagai seorang prajurit. Kalian berdiri di sini di bawah sinar matahari dengan posisi siap untuk mendengarkan, siap menerima instruksi karena kalian tidak hanya punya tanggung jawab pada diri kalian. Tapi pada atasan kalian dan rakyat. Jendral Kan, berapa jumlah prajurit yang hadir?" "Siap Sir! Lima puluh delapan orang Sir!" Leonio menganggukan kepala. Dia mulai melangkah dengan tangan di belakang. Setiap suara tok tok dari sepatu bootsnya mendekat ke barisan prajurit. "Lima puluh delapan orang dari total tujuh ratus lima puluh tentara di seluruh pasukan militer kerajaan. Kalian tahu apa artinya?" tidak ada yang menjawab. "Itu artinya kalian harus menanggung tanggung jawab enam ratus sembilan puluh dua orang lainnya yang tidak bisa hadir di sini, yang tidak bisa berdiri di sini bersama-sama kalian. Apa kalian pikir mudah menanggung semua itu?" Ada suara kecil dari tengah yang menjawab 'Tidak Sir!' "Tentu tidak." katanya ringan. "Tapi kalian prajurit. Kalian orang-orang terpilih yang berhasil masuk dan berdiri di sini, mengenakan seragam lengkap dan senjata dan berdiri di halaman raja dengan pundak tegap. Kalian bukan remah-remah. Bukan juga lalat yang bising berterbangan ke tempat kotor. Kalian tentara! Kalian tentara yang membawa kehormatan raja seperti kalian membawa kehormatan diri kalian sendiri!" Suara teriakannya membuat beberapa orang berjengit. "Keadaan sekarang sedang genting. Semua rumah sakit penuh dengan warga sipil, dengan anak-anak, orang tua, dengan teman-teman kalian yang tidak beruntung karena terkena kutukan. Kalian melihat para menteri tumbang dalam satu hari. Orang-orang besar favorit kalian tidak bisa bangun, bahkan mungkin orang yang kalian cintai juga harus menderita karena kutukan ini." Beberapa prajurit mulai menahan tangis mengingat orang terkasih mereka. "Dan kalian lihat raja, apa raja mengeluh? Apa kalian lihat raja meratap dan menangis saat melihat satu kabinetnya berjatuhan seperti orang mati dihadapannya?" Sesungguhnya Leonio tidak tahu. Tapi dia cukup mengenal sifat Osmond Cyrille. Amankan dulu semua orang, baru dia cari tahu penyebabnya. "Jendral Kan, kau yang berada di sana hari itu. Katakan apa yang raja perintahkan padamu." "Siap Sir! Raja meminta saya mengecek seluruh istana dan menginstruksikan semua orang yang bangun untuk berkumpul di lapangan. Setelah itu raja bicara pada kami hingga menemukan kemungkinan masalahnya. Lalu kami diminta untuk mengamankan semua orang yang jatuh tertidur." Anggukan Leonio membuat d**a Jendral Kan merasa penuh kebanggaan karena menjawabnya dengan lancar. "Hal pertama yang raja lakukan adalah mengecek kalian. Mengecek keadaan kalian semua aman apa tidak." suaranya tidak naik, tapi terdengar ke seluruh barisan. "Raja bahkan masih berusaha mencari tahu pelakunya, mencari cara untuk mengembalikan keadaan seperti semua. Tidak menyerah walau kekurangan orang. Tapi kalian di sini, di apel pagi memilih bergosip dan mengeluh karena hal sepele." Leonio kembali berjalan melewati sela-sela barisan. Semua yang dilewatinya, terutama yang bicara buruk tadi tidak berani menatap. "Kalian mengeluh karena orang yang ada di depan kalian bukanlah orang yang kalian sukai. Kalian mengeluh karena dia mempelajari ilmu yang berbeda dengan yang kalian pelajari. Kalian mengeluh karena dia punya core yang berbeda. Kalian mengeluh karena orang yang di depan bukan Jendral kalian. Sekarang saya tanya apa ada yang bisa mengkoordinir empat prefektur besar dengan lima belas kota besar dan dua ratus lima puluh delapan desa kecil dengan sisa prajurit yang tidak sampai seratus orang seperti ini? Kalau ada yang menyanggupi silakan maju ke depan. Saya akan minta ke raja untuk mengangkat kalian jadi Jendral." Leonio kembali ke depan untuk berdiri di samping Jendral Kan. "Saya serius. Saya hitung sampai sepuluh untuk maju ke depan. Satu... dua..." Semua orang yang ada di barisan mulai melirik kiri kanan. Entah mereka mencari teman untuk maju atau hanya penasaran menunggu orang yang berani. "delapan... ini tidak ada yang mau maju?" kompornya. " Sembilan... sembilan setengah... sepuluh." dia menepuk tangannya sekali seperti ketokan palu keputusan. " Tidak berani? Takut? Takut tidak bisa mengemban tugas? Tidak ada satupun yang maju ke depan. Padahal saya memberi kalian peluang menjadi Jendral." katanya dengan nada datar. "Karena tidak ada yang berani maju, maka saya anggap kalian sepakat untuk mengikuti Jendral Kan selaku atasan militer yang ada saat ini." Orang-orang mengunci mulut mereka tidak berani protes. "Silakan kalian tidak suka orangnya. Silakan kalian benci dia. Tapi jika sudah berhubungan dengan tugas, dengarkan dia. Ikuti instruksinya selama itu sesuai dengan keselamatan orang banyak. Jika dia berbuat salah silakan tegur. Jika tidak berani langsung di depan orangnya, silakan bilang pada Pengacara Park atau Menteri Ding. Jika kalian lebih berani, silakan adukan pada raja. Tapi ingat tidak boleh memfitnah orang lain. Karena sekali ada fitnah, kalian tidak hanya menghancurkan orang yang kalian tidak sukai. Tapi juga menghancurkan teman dan diri anda sendiri. Kalian mengerti!" "Siap Sir! Mengerti Sir!" jawab semuanya serempak. Jendral Kan rasanya ingin menangis haru dibela seperti ini oleh Lord Iris Sabre. "Dan untuk Anda Jendral Kan..." Telinga kucing Jendral langsung berdiri. "Jaga amanah dan jangan kecewakan saya." ujarnya tegas sambil menatap Jendral Kan tajam. "Yes Sir!" jawabnya berapi-api. "Seluruh pasukan siap gerak!" semua langsung kembali dalam posisi tegap. "Itu saja yang ingin saya sampaikan. Komando saya kembalikan." "Komando saya ambil alih, seluruhnya siap gerak. Hormat gerak!" Leonio membalas hormat seluruh pasukan. "Tegap gerak!" Setelah selesai dia keluar dari lapangan. Sekarang Jendral Kan merasa lebih bersemangat. Dia mengistirahatkan pasukan dan kembali membacakan list grup buatannya dengan lebih percaya diri. Leonio menatapnya sebentar. Kemudian kembali berjalan masuk menuju pintu masuk istana. Pengacara Park sudah menunggunya di bawah bayangan gedung. "Selamat datang kembali Lord Iris Sabre."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN